
"Ayah aku ikut," rengek Lian sambil menghelanyut manja di lengan ayahnya. Dia telah di kasih tahu ayahnya barusan, bahwa ibu dan ayahnya itu akan pergi untuk sementara waktu dan paman Kai juga ikut.
"Chang'er ayah dan ibu tidak pergi keliling alam semesta, tapi ayah dan ibu mau kedunia bawah," ucap Xi Chen berharap putrinya yang sedang hamil itu mengerti.
"Kamu tidak bisa ikut nak, Ayah takut terjadi apa-apa kepada mu dan calon cucu ayah," sambungnya kembali dengan suara lembutnya.
"Ada ayah yang akan melindungi ku, atau ayah takut tidak bisa melindungi ku dan cucumu ini? " Lian memicingkan matanya.
"Ckk, kau menyepelekan kekuatan ayah. Ayah masih sanggup melindungi mu hanya saja_" netra Xi Chen melirik menantunya yang masih diam saja.
"Ayah jangan pedulikan suamiku, dia pasti mengizinkanku pergi," jawab Lian membuat keputusan sepihak. Yuze mengerutkan keningnya saat dia mendengar perkataan istri kecilnya itu.
"Sejak kapan istriku ini ku ijinkan keluar," batin Yuze dalam hati.
"Aku akan ikut jika ayah membawa istriku," ucapnya Yuze datar. Dia tidak mau jauh-jauh dari istrinya.
"Aku dan kakak Lie Zhu juga ikut kakek,"teriak Ba Xi'O. Ba Xi'O juga tidak ingin jauh dari kedua orang tuanya. Walaupun dia dan kakaknya memiliki kekuatan, sejatinya mereka hanyalah anak kecil yang selalu ingin dekat dengan kedua orangtuanya.
"Dan seperti biasa, aku akan mengikuti kemanapun Dewi Phoenix pergi," Dewa Takdir ikut menimpali," membuat kepala Xi Chen hampir pecah mendengar rengekan-rengekan manja dari mulut putrinya dan juga cucu kembarnya.
Xi Chen tidak mau membawa semua keluarganya kedunia bawah. Dia tidak ingin putri dan cucunya yang masih polos itu mengetahui kehidupan di dunia bawah yang terkesan liar. Xi Chen hanya menyelesaikan masalahnya dengan para tetuanya saja disana ,tapi kenapa putrinya dan cucunya kembali berdrama seperti biasanya.
"Aku bukan pergi berpetualang apalagi liburan." Lirihnya dalam hati.
__ADS_1
"Tidak," Xi Chen menolak tegas putrinya itu.
"Ibu," Lian berubah haluan, mencoba merayu ibunya dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Siap menumpahkan lelehan bening itu dan benar saja Fang Yin tidak tega melihatnya, apalagi putrinya saat ini sedang mengandung calon cucunya. Fang Yin tidak ingin cucunya tertekan didalam sana.
"Sayang mereka ikut saja ya? Aku berjanji akan menjaga chang'er sampai kamu menyelesaikan urusanmu," ucap Fang Yin dengan suara lembutnya. Suara yang begitu lembut sehingga menari-nari di Indra pendengaran Xi Chen membuat telinganya terasa di gelitiki, apalagi dengan panggilan sayang yang keluar dari bibir lembut istrinya membuat Xi Chen ingin membungkamnya.
"Baiklah," ucap Xi Chen pasrah, dari pada dirinya kena amukan istrinya dan lebih parahnya tidak mau melayaninya. Xi Chen tidak ingin hal itu terjadi, sehingga dirinya mengalah dan membiarkan putrinya serta yang lainnya ikut.
Karena hari sudah malam, terpaksa Xi Chen mengundur kepergian mereka. Mereka akan berangkat besok. Putrinya dan juga yang lainnya juga sudah kembali kekerajaan langit.
Jun Hui merasa senang karena dirinya akhirnya ikut.
"Berhentilah kau tersenyum seperti orang gila," cibir Kai yang merasa muak melihat tingkah kekanak-kanakan Jun Hui.
*
*
Keesokan harinya Xi Chen dan rombonganya telah bersiap-siap untuk melakukan perjalanan kedunia bawah tanah. Heng Yuze dan yang lainnya menutupi aura kedewaan mereka.
"Kita naik kreta kuda kakek?" tanya Ba Xi'O polos. Melihat kreta kuda yang besar terparkir didepan istana kakeknya.
"Jadi maksudmu kita naik apa?" Lie Zhu masuk duluan kedalam kreta besar yang sudah di modif itu, entah dari mana paman Kai mengambilnya, Kakeknya Xi Chen hanya terima beres saja.
__ADS_1
"Sayang kita akan menuju dunia bawah, disana orang-orang beraktivitas seperti manusia pada umumnya. Mereka akan curiga jika kita tiba-tiba saja datang dan menghilang begitu saja," terang Lian memberi penjelasan kepada putranya.
"Oh," Ba Xi'O mengangguk tanda mengerti.
"Kau jadi kusirnya," tunjuk Kai kepada Dewa Takdir membuat Dewa Takdir terpelonggok.
"Apa kau tidak salah menyuruhku?" Tanya Dewa Takdir menunjukan dirinya sendiri.
"Paman Kai tidak salah, jadi ngapain paman ikut jika hanya duduk diam saja," ujar Jun Hui mendukung pamannya Kai.
"Aku ikut karena tugasku saat ini untuk mendampingi Dewi phoenix. Aku tidak mau jadi kusir, bisa-bisanya Dewa Takdir yang berwibawa seperti aku ini kalian suruh menjadi kusir. Aku tidak mau," tolak Dewa Takdir mentah-mentah, dia masuk kedalam kereta itu dengan wajah yang kesal, mengikuti sikembar masuk kedalam.
"Ciihh, kau kira ini kerajaan langit, yang bisa berbuat sesuka hatimu? Dasar tidak tau malu, sudah menumpang, tidak mau lagi disuruh, cihh, dasar Dewa tidak punya modal, ingin gratis saja ," Cibir Kai merasa jengkel. Semalam dia sudah bekerja keras membuat kreta kuda itu. Mengubahnya sedemikian rupa. Supaya mereka bisa tinggal didalam kreta dengan tenang sekalipun datang hujan badai dan angin topan yang mengganggu perjalanan mereka.
Karena tidak ada yang mau menjadi kusir akhirnya Kai sendiri yang mengerakkan kuda itu dengan kekuatanya, sesekali dia akan membuat kreta kuda itu terbang untuk mempersingkat waktu perjalanan mereka kedunia bawah, dan hal itu tidak bisa dilihat oleh orang lain karena Kai menggunakan kekuatan sihir transparan miliknya.
Baru kali ini penghuni didalam kreta kuda itu melakukan perjalanan dengan menggunakan kreta kuda yang sangat lambat menurut mereka. Apalagi Dewa Takdir, sejak menaiki kreta kuda itu dirinya sudah mengeluh dan menggerutu sepanjang jalan. Bukan karena dia tidak suka, tapi telinganya sungguh sangat ternodai mendengar kelakuan dua pasang berbeda gender itu. Dewa takdir berada ditengah-tengah kedua pasangan yang sedang dimabuk cinta. Didalam kereta hanya ada batas tirai saja yang memisahkan setiap penghuni kreta.
Xi Chen dengan istrinya Fang Yin, Heng Yuze dengan istrinya Chang Lian, Ba Xi'O dan Lie Zhu, Kai dan Jun Hui, dan tinggallah dia sendiri. Dewa Takdir merana di tempatnya sambil mendengar suara-suara sumbang samping kanan dan kirinya.
"Tidak bisakah yang dua pasang ini memasang sihirnya kedap suaranya? sungguh telingaku yang suci ini bergitu ternodai mendengar des ahan mereka," gerutu Dewa Takdir dalam hati. Ingin sekali dirinya memasang sihirnya, tapi dia juga penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya pada kedua pasang manusia abadi itu.
"Bisakah kau diam? apakah kau tidak malu di sebelah kita ada Dewa Takdir," bisik Fang Yin yang mencoba menepis tangan nakal suaminya.
__ADS_1