
"Tenanglah, dia tidak akan mendengarnya," Xi Chen berkata dengan suara paraunya.
Begitu juga di tempat Dewa Tinggi Putra Mahkota. Lian sejak tadi menyingkirkan tangan ramah suaminya.
"Ayolah sayang, aku belum mendapatkan jatahku sejak pesta ibu dan ayah di gelar," keluh Yuze dengan wajah memelasnya.
"Aku lelah sayang, tidak kamu lihat perutku sudah besar, aku juga merasa sesak," terang Lian tidak sepenuhnya berbohong. Selain malu didengar pamannya Dewa Takdir, Lian juga merasa sedikit sesak karena perutnya sudah menonjol kedepan sehingga menekan pernafasannya.
Tapi aku ingin melakukannya disini sayang," ujar Yuze entah kenapa dia tertantang melakukan hubungan suami istri di kreta kuda yang berjalan mulus itu.
Tangan nakal Yuze sudah mulai meraba-raba tubuh istrinya, membuat Lian pasrah, dia juga bersalah karena tidak memberikan jatah suaminya yang memang setiap hari menyentuhnya.
Kai dan Jun Hui sekuat tenaga menahan tawanya, mereka yakin wajah Dewa Takdir pasti sangat mengenaskan saat ini, karena Dewa itu pasti mendengar dua pasang suami istri itu yang sedang memadu kasih saat ini. Kai dan Jun Hui sudah terbiasa mendengar hal-hal seperti itu, bahkan mereka sering melihatnya secara langsung didepan kedua mata mereka jika mereka sedang melakukan tugas. Hal seperti itu sudah sering terjadi di alam mereka yang memang hidup bebas.
Sementara di tempat Lie Zhu dan Ba Xi'O mereka tidak tau apa yang terjadi, karena mereka telah tidur pulas. Lie Zhu memasang sihir di tempat mereka, karena dia malas mendengar keluhan pamannya Dewa Takdir yang tidak berhenti.
Akhirnya Xi Chen beserta rombongannya berhenti di sebuah restoran yang ada di dunia bawah. Dewa Takdir sedikit lega, dia akhirnya memasang sihirnya karena tidak mau otaknya terlalu lama tercemari akibat mendengar suara-suara sumbang itu.
Fang Yin yang belum pernah keluar dari alam matahari dulu, terkesima melihat restoran yang cukup mewah
.
"Aku akan memesan kamar untuk kita beristirahat," ucap Kai.
Para pengunjung restoran merasa penasaran siapa gerangan pemilik dari kreta kuda besar itu. Sebagian penghuni restoran itu memiliki niat jahat untuk merampok kreta itu beserta isinya. Selain itu, mereka cukup terkejut pasalnya kreta itu tidak ada kusirnya, semua penghuni kreta itu keluar dari dalam tidak ada satupun diluar yang menuntun kuda liar itu.
__ADS_1
Semua pasang mata melihat Xi Chen keluar dan menuntun istrinya. Begitu juga Heng Yuze dia memapah istrinya kerena istrinya memang sudah mulai susah bergerak, apalagi saat ini kekuatan mereka tidak bisa sembarangan diperlihatkan.
"Wahh, makan enak kita kak," ucap Ba Xi'O girang, melihat restoran itu yang seakan menyediakan menu-menu lezat.
"Kalian makanlah sepuasnya," ucap Xi Chen yang merasa senang melihat raut wajah cucunya itu. Walaupun cucunya Lie Zhu terkesan datar Xi Chen yakin cucunya yang dingin itu juga pasti senang.
"Ayok, paman ingin istirahat," bisik dewa takdir kepada Ba Xi'O, mereka berdua bergandengan tangan memasuki restoran itu layaknya ayah dan anak. Dewa Takdir ingin mengandeng Lie dengan tangan yang satunya lagi tapi anak kecil yang berwajah datar itu melewati tangannya begitu saja.
"Aku bukan anak kecil," ucap Lie Zhu membuat bibir Dewa takdir berkedut. Yuze hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah laku putra sulungnya itu.
"Apa aku seperti itu juga, begitu menyebalkan?," batin Yuze bertanya dalam hati.
Xi Chen dan keluarganya menikmati hidangan restoran itu di lantai dua, diruangan privat. Sampai mereka tidak sadar bahwa kreta kudanya telah dipreteli oleh para perampok yang di bawah. Para perampok itu menggerutu karena isi didalam kereta itu kosong, tidak ada satupun barang berharga selain tempat duduk yang terbuat dari kristal dan atap kreta kuda yang terbuat dari emas murni. Padahal mereka tadi sudah memastikan bahwa penghuni kreta itu tidak ada membawa satupun barang-barang.
Mereka meninggalkan kreta kuda yang sudah tidak berbentuk itu lagi, mereka hendak membawa kudanya tapi kuda itu seakan menatap mereka dengan tajam membuat para perampok itu bergidik ngeri dan meninggalkan kuda itu begitu saja. Sementara penghuni restoran yang dilantai satu acuh tak acuh melihat kejadian itu. Hal itu sudah terbiasa di alam mereka.
"Kreta apa yang kau maksud? Jika kau sudah kenyang sana istirahat, kau jangan berbicara yang aneh-aneh," ucap Kai, karena dia merasa tidak memiliki kreta kuda. Mungkin karena dirinya belum pernah menggunakan benda itu sehingga dia lupa.
"Paman, coba lihat kebawah," Ba Xi'O menunjukkan sebuah kreta yang begitu naas, tinggal rodanya dan juga beberapa tiang kreta itu, kudanya berdiri dengan tenang sambil menatap Kai seakan mengatakan "Tuan tolong aku."
"Shiiit, berani-beraninya manusia ingusan itu mencuri barang ku," ucap Kai geram.
Kai menghilang dari ruangan itu di ikuti Lie Zhu, sementara Dewa Takdir dan Jun Hui duduk santai, masih menikmati hidangannya.
Ba Xi'O jangan di tanya lagi yang penting tugasnya untuk memberikan pekerjaan untuk paman dan kakaknya itu telah selesai. Selama ini Ba Xi'O dan Lie Zhu seperti itu. Ba Xi'O yang akan membuat onar dan Lie Zhu yang akan menyelesaikannya.
__ADS_1
"Syaap"
Kai berada di tiga persimpangan.
"Syaap"
Lie Zhu mengerutkan keningnya saat melihat penampilan Kai yang tidak biasa.
"Kenapa? Apa pamanmu ini terlihat tampan kau lihat," puji Kai yang melihat Lie Zhu tidak berkedip menatapnya.
"Ckk, apa paman buta, bagaimana bisa orang lain menganggap paman tampan sementara wajah paman tertutupi. " ucap Lie Zhu datar.
"Paman pilih jalan mana? Aku akan memilih jalan yang lain," tutur Lie Zhu, dia malas meladeni pamannya itu.
"Kau dari kiri, paman dari kanan, kita bertemu di tengah," ucap Kai menyeringai, dia yakin jalan sebelah kiri pasti jauh. Dia pasti yang akan menang dari Lie Zhu untuk menangkap para perampok itu.
"Baiklah," Lie Zhu langsung menghilang dari sana.
Kai juga menghilang dari tempat itu, dia tidak ingin dikalahkan bocah kaku itu.
"Syaap"
Lie Zhu menatap datar saat melihat atap kreta kuda pamannya yang hendak di hancurkan oleh para perampok.
"Kita akan berbagi emas ini dengan rata, jadi aku akan mengukurnya dulu lalu memotongnya," ucap salah satu perampok itu dengan antusias.
__ADS_1
"Lakukanlah dengan cepat, aku ingin segera pulang dan menikmati hasil kerja kita hari ini, hahaha," ucap salah satu perampok yang satu lagi sambil tertawa disusul temanya yang dua lagi juga ikut tertawa. Hari ini mereka menang banyak.
"Tunggu," Lie Zhu menghentikan aksi perampok itu yang ingin memotong atap emas itu. Mungkin mereka ingin menjadikannya serpihan supaya lebih mudah di bawa dan di sembunyikan.