Raja Iblis Mencari Permaisuri

Raja Iblis Mencari Permaisuri
Episode. 55


__ADS_3

"Ingat mengembalikan kalung itu kepadaku, aku berbaik hati memberikanya sampai calon istriku berumur seratus tahun" ucap Kai mengingatkan Yuze yang masih mengetatkan rahangnya. Yuze ingin sekali melemparkan Kai kelautan dalam miliknya.


"Jangankan putriku sampai umur seratus tahun, saat istriku tidak membutuhkannya lagi, aku akan langsung mengembalikannya kepada mu," ujar Yuze datar. Permintaan Kai masih terngiang-ngiang di otaknya, membuat kepalanya tiba-tiba berdenyut. Orang tua mana yang mau menyerahkan putri tercintanya kepada laki-laki yang sangat amburadul. Hidupnya penuh dengan kegelapan, tidak ada sedikitpun cahaya yang mengelilingi sosok laki-laki itu, dunianya gelap, segelap pemikirannya.


Kai meninggalkan ruangan itu dengan wajah bahagianya. Meninggalkan penghuni ruangan itu dengan pikirannya masing-masing.


Xi Chen geleng-geleng kepala melihat tingkah laku sahabatnya itu, bukan karena dia mendukung permintaan sahabatnya, melainkan Xi Chen tidak ingin Kai mempermainkan menantunya yang masih berwajah masam itu. Karena Xi Chen yakin sahabatnya tidak akan serius dengan kata-katanya. Dalam hidup sahabatnya itu tidak akan pernah ada yang namanya wanita disisinya apalagi dengan ikatan pernikahan. Hal yang paling dibenci sahabatnya. Walaupun Xi Chen belum tau pasti apa yang membuat sosok laki-laki yang temperamental itu membenci pernikahan. Dan dendam apa yang sebenarnya yang terjadi di antara Kai dengan Dewi Petir ibu kandung menantunya Yuze.


Kai menikmati pemandangan kabut tebal yang ada didepannya. Tanpa sepengetahuan dirinya Dewa Takdir mengikuti Kai diam-diam.


"Syaap.


"Bisakah aku duduk disini?" Tanya Dewa Takdir seramah mungkin.


"Kenapa kau izin kepadaku, sementara kau sudah duduk duluan," jawab Kai malas.


Dewa Takdir terkekeh kecil.


"Ckk, tidak adakah pemandangan yang lebih indah dari ini," Dewa Takdir hanya bisa membatin dalam hati, dia tidak ingin diusir. Matanya pusing melihat kabut hitam pekat yang ada di depanya. Kedua mata indahnya sudah terbiasa melihat hal-hal yang sangat indah, dan baru kali ini kedua bola matanya tercemari oleh kabut hitam nan pekat itu.

__ADS_1


"Katakan, kenapa kau datang kesini," Kai bukan sosok yang suka berbasa-basi.


"Kau ini, tidak pernah berubah, tidak bisakah kau melihatku bernafas sebentar," ucap Dewa Takdir. Dulu dia dan Kai teman dekat, sebelum Kai memasuki dunia kegelapan. Menurut Dewa Takdir Kai masih sama seperti dulu, hanya saja temperamen laki-laki itu yang cepat berubah-ubah, tidak seperti dulu yang masih memiliki kelembutan dan kesabaran tanpa batas.


"Apa kau serius dengan ucapan mu tadi?" Tanya Dewa Takdir sedikit cemas, pasalnya laki-laki yang disampingnya itu tidak pernah berniat untuk menikah.


"Itu bukan urusanmu," ucap Kai ketus. Dia kira hal penting apa yang hendak di bicarakan Dewa notulen itu, tau-taunya tentang candaannya yang tidak bermutu tadi.


"Aku harap kau serius dengan ucapanmu tadi," guman Dewa Takdir sendu. Membuat Kai mengerutkan keningnya.


"Apa maksud mu? Berbicaralah yang jelas, aku tidak memiliki kejeniusan seperti para sahabat mu itu," Kai berkata sinis.


"Aku akan memberitahukan satu rahasia kepadamu Kai, dan aku harap kau bisa menyimpan rahasia ini untuk selama-lamanya. Dan juga aku sangat berharap kau mempertimbangkan perkataan mu tadi yang ingin menjadikan calon Dewi yang masih dikandungan chang'er menjadi istrimu. Karena aku sudah menerima catatan takdir milik calon Dewi itu dari langit langsung. Calon Dewi itu akan melalui kehidupan yang sangat menderita, bahkan dia akan memiliki suami yang mempunyai puluhan istri sah dan puluhan selir, lain lagi puluhan gundik. Aku tidak bisa membayangkan nasibnya nanti di tangan laki-laki itu. Dan lebih parahnya lagi, calon Dewi itu akan menjadi gundik dari laki-laki itu. Sungguh malang nasibnya." Ucap Dewa Takdir dengan wajah sedihnya. Dia tidak bisa membayangkan kehidupan dari calon Dewi yang masih di kandungan ibunya.


"Cihh, apa urusnya dengan ku, aku bukanlah orang yang ditakdirkan denganya untuk bertanggung jawab," ucap Kai cuek.


"Justru karena itu, aku ingin kau langsung menikahinya di umurnya yang keseribu tahun," ucap Dewa Takdir antusias.


"Apa kau gila? kau menyuruhku menikahi gadis yang masih ingusan, kau tidak tau umurku sekarang berapa, hah? Aku bukanlah Dewa Tinggi Putra Mahkota yang menikahi Chang'er yang masih muda, bahkan umurnya masih seribu tahun waktu itu" Ucap Kai menatap Dewa Takdir emosi.

__ADS_1


"aku tau umurmu. Saat ini umurmu memasuki enam belas ribu tahun, belum terlalu tua, wajahmu juga masih sangat tampan dan badanmu masih sangat kokoh. Kau masih bisa mengajak calon Dewi nanti petak umpet," ucap Dewa Takdir sambil tertawa kecil. Membuat Kai menatapnya tajam.


"Maaf, walaupun aku terkesan bercanda, yang kukatakan barusan benar, kau masih sangat tampan, bahkan ketampanan mu mengalahkan calon mertuamu sang Dewa Tinggi Putra Mahkota," Dewa Takdir berkata jujur. Kai sosok laki-laki tertampan seantero di alam iblis dan di kerajaan langit. Dewa Takdir yakin calon Dewi yang akan lahir itu pasti klepek-klepek melihat wajah tampan Kai.


"Aku tidak mau, cari saja laki-laki yang mau menikahi gadis ingusan itu, dan untuk perkataan ku tadi, itu hanyalah candaan ku untuk membuat Heng Yuze kesal," ucap Kai jujur. Dia tidak ingin memperumit hidupnya yang sudah sangat rumit itu.


"Kau tidak mau menuruti perintahku? Kau pilih mana rahasiamu ku bongkar atau kau menikahi calon Dewi?," Dewa Takdir menatap Kai dengan wajah seriusnya, dia tidak pernah main-main dengan ancamannya.


"Braaakkk"


"uhukk.. uhukk," darah segar keluar dari mulut Dewa Takdir.


"Jangan sesekali mengancam ku," Kai Meninggalkan Dewa Takdir begitu saja, yang masih posisi telungkup diatas tanah.


"Kai, aku tidak menyangka kau berubah menjadi sosok yang tidak berperasaan, bahkan sahabat mu sendiri kau lukai," teriak Dewa Takdir dengan mata yang berkaca-kaca. Dia sangat terkejut mendapatkan perlakuan buruk sahabatnya. Dia tidak sempat mengelak karena tubuhnya tiba-tiba saja melayang diudara.


"Ckk, entah kenapa aku terlalu berharap dengan laki-laki iblis itu," gerutu Dewa Takdir sambil menghapus air matannya yang menetes satu tetesan di wajah kalamnya. Dalam sekejap jubahnya telah berubah bersih dan luka di bibirnya sudah mulai sembuh walaupun masih terasa perih. Dewa Takdir tidak menyangka sosok yang dulunya memiliki panjang sabar itu, sekarang memiliki kesabaran setipis kertas.


"Aku akan mengadukan ini kepada Dewa Agung," batinya dalam hati. Hanya sosok itulah yang bisa membuat sahabatnya itu bisa berpikir jernih.

__ADS_1


Xi Chen mengerutkan keningnya saat melihat wajah Kai yang sedang menahan amarah.


"Kenapa dia, bukankah tadi wajahnya pergi dalam keadaan bahagia," batin Xi Chen dalam hati.


__ADS_2