
Tidak ada yang tahu bahwa raja iblis didalam gua yang diatas gua itu terdapat pasir hidup yang bisa menelan mangsanya sewaktu-waktu. Para penghuni langit tidak akan ada yang tau karena tempat itu juga bisa menekan Aura. Bahkan Dewa Tinggi sekalipun tidak akan tau bahwa raja iblis dan pengikutnya yang setia telah dipenjara rakyatnya sendiri.
"Hahahaha," pemimpin pemberontak itu merasa bahagia karena rencananya berjalan mulus.
Xi Chen, Kai dan Jun Hui hanya menatap para penghianat itu dengan datar.
"Jika paman keluar dari sini aku akan membuat kakek bau tanah itu menjadi adonan," bisik Kai. Jun Hui mengerutkan keningnya.
"Apa paman lupa penjara ini dikhususkan kerajaan langit untuk kita para alam iblis," Jun Hui menggertakkan giginya saat mengatakan itu. Jika saja ibunya yang tidak memohon kepadanya untuk kembali kekerajaan alam salju Jun Hui tidak akan sudi bagian dari kerajaan langit.
"Cihh, paman tidak lupa hal itu, tapi kau juga harus ingat, bukankah kedua Dewa pengecut itu masih didalam kreta kuda?" Kai melirik kreta kuda yang sunyi senyap. Jun Hui melihat kreta itu. Dia melupakan bahwa menantu kesayangan gurunya masih didalam kreta. Yaitu Heng Yuze sosok Dewa Tinggi Putra Mahkota kerajaan langit.
"Untung paman langsung mengatakan itu kepadaku, setidaknya aku bisa tenang," ujar Jun Hui mencari posisi nyaman untuk tidur didalam penjara iblis. Bibir Kai berkedut melihat tingkah bocah ingusan yang pernah di curinya itu. Kai juga mengikuti Jun Hui yang duduk santai sambil bersandar. Untung saja para penghianat itu tidak mencuri penjara iblis yang menghasilkan petir ungu, jika tidak, Kai yakin mereka akan gosong dalam sekejap.
Pemimpin pemberontak itu memicingkan matanya saat melihat kedua pengawal setia Xi Chen malah bersantai ria didalam penjara iblis.
"Bagaimana Xi Chen, apa kau bersedia menyerahkan tahtamu kepadaku," ucap laki-laki paruh baya itu dengan seringai liciknya. Dia semakin memanas-manasi Xi Chen. Xi Chen tetap diam, dia menganggap kakek tua itu seekor tikus yang berkoar-koar.
"Kalian didalam saja, ibu akan keluar menyelamatkan ayahmu," ucap Fang Yin bergetar , dia mencoba untuk tidak lemah demi menyelamatkan orang-orang yang disayanginya terlebih suami tercintanya.
"Ibu," Lian ingin menghentikan ibunya tapi Yuze melarang istrinya untuk bertindak gegabah.
"Nene, ibu, anak. Sama saja sama-sama gegabah," batin Yuze.
"Kenapa kamu melarang ku mencegah ibu," Lian menatap tajam suaminya. Bahkan suaminya hanya diam saja, sementara ayahnya dan pamannya sedang disandera .
"Apa kau meremehkan kekuatan ayahmu? " Yuze menatap lekat netra yang sudah berkaca-kaca itu. Membuat Yuze menghembuskan nafas beratnya.
"Percayalah, ayahmu bisa menyelesaikan masalah ini tanpa aku atau kau turun tangan."
__ADS_1
"Tapi_" Lian tidak melanjutkan kata-katanya karena Yuze sudah menaruh telunjuknya di bibirnya.
"Setidaknya beri ayahmu kesempatan untuk mempertahankan harga dirinya," Sambung Yuze.
"Tapi ibu?"
"Ayah akan semakin kuat jika melihat ibumu," ucap Yuze sambil memeluk istrinya yang sudah menangis.
"Lepaskan suamiku," suara nyaring dan sedikit bergetar memenuhi ruangan yang kedap suara itu.
Para penghianat itu sontak melihat Fang Yin. Pemimpin itu menyeringai.
"Jadi dia wanita yang baru kau nikahi Xi Chen, tidak salah lagi kau menikahi reinkarnasi istrimu dimasa lalu," ucap pemimpin penghianat itu dengan sinis.
"Fang Yin," Xi Chen mengeraskan rahangnya saat melihat istrinya berdiri tegak didepan parah penghianat itu, bak pahlawan kesiangan untuk menyelamatkan dirinya.
"Istri guru cari mati paman," bisik Jun Hui. Mengejek kekonyolan Fang Yin. Karena bagaimana pun Fang Yin hanyalah manusia abadi yang belum menerima kekuatan langit dan dia masih berguru di akademi teratai.
"Hentikan mulut kotormu itu kakek tua," ucap Xi Chen dengan menggertakkan giginya membuat sang pemimpi itu semakin senang melihat kemarahan Xi Chen yang tidak bisa di salurkan.
"Hahaha," sudahlah Xi Chen mati saja dengan tenang ikhlaskan istrimu untukku, aku masih sanggup untuk memuaskannya, hahaha," tawanya semakin nyaring.Tanpa menyadari sosok wanita mungil itu telah menatapnya dengan berapi-api. Tangan Fang Yin mengepal kuat siapa melayangkan cambuknya yang digenggamnya dengan erat.
"Jeduuarr,"
"Braaakkk,"
"Uhuk-uhuk " pemimpin tua itu terkapar tak berdaya, tubuhnya terbakar habis. Semua orang yang disana terkejut batin. Bukan Xi Chen atau dewa Tinggi Putra Mahkota yang melakukannya. Tapi sosok wanita yang sudah berubah dan saat ini menggunakan jubah kebesaran Sang Dewi Phoenix.
"Ibu," lirih Lian.
__ADS_1
"Sayang," tubuh Xi Chen bergetar tatkala istrinya telah berubah menjadi sosok jati dirinya seperti dulu. Wanita yang memiliki temperamen yang sedikit angkuh dan juga tak tersentuh.
Fang Yin melayangkan cambuknya kearah para penghianat itu.
"Jedduuaar, Duarr". Para pemberontak itu menjerit kesakitan saat cambuk Phoenix itu dilayangkan ketubuh mereka. Rasa sakit dan panas yang mendominasi mampu mengoyakkan kulit mereka yang saat ini langsung melepuh karena terbakar habis. Tidak sampai disitu Fang Yin melayangkan cambuk Phoenix miliknya bersamaan dengan api murni Phoenix miliknya.
"Tidak, ampuni kamu Dewi," para pemberontak masih berusaha meminta pengampunan. Mereka tidak menyangka sosok Dewi Phoenix yang dulunya hilang kini berdiri tegak dihadapan mereka dan siap membinasakan mereka semua. Fang Yin tidak menghiraukan permohonan para penghianat itu, dia akan mengembalikan para manusia terkutuk itu keasalnya.
"Jika kau berbuat kesalahan seharusnya kau memikirkan konsekuensinya, dan mulai saat ini kalian tidak ku izinkan berinkarnasi,". Ucapnya tegas.
"Duaaar," suara ledakan dari api Phoenix menggema di dalam gua, membuat gua itu bergetar hebat. Dalam sekejap para penghianat itu berubah menjadi debu dan tidak akan bisa berinkarnasi lagi. Itu adalah kekuatan yang sesungguhnya dari api murni Phoenix.
Fang Yin melihat suaminya.
"Maaf aku__" belum sempat dirinya menyelesaikan perkataannya Fang Yin langsung jatuh pingsan.
"Sayang,"
"Ibu,"
Lian berlari menuju ibunya membuat Yuze kalang kabut dibuatnya.
"Sayang hati-hati," teriakan Yuze.
"Ibu..ibu bangun, jangan tinggalkan Chang'er lagi ibu," Lian menangis sejadi-jadinya membayangkan ibunya pergi lagi membuat Lian sedih dan tertekan.
"Chang'er, lepaskan ayah dulu," Teriak Xi Chen yang sangat cemas melihat istrinya yang tergeletak tak berdaya.
"Bluuurr," penjara iblis itu langsung hilang. Yuze memulangkannya ketempat asalnya.
__ADS_1
"Kenapa lama sekali, tidak tau ayah sedang cemas," Xi Chen marah kepada menantunya itu. Yuze terkejut, dia lama karena dirinya masih membuka kekuatanya yang sempat tersegel sebelum datang kedunia bawah.