Raja Iblis Mencari Permaisuri

Raja Iblis Mencari Permaisuri
Episode. 54


__ADS_3

Wajah Fang Yin merah bak kepiting rebus, dia malu, semalu-malunya, apalagi yang mendengar bukan cuma putrinya saja, melainkan ada menantunya Heng Yuze dan juga dewa takdir. Telinga suci kedua cucunya juga ternodai akibat perkataan absurd suaminya.


Dewa Takdir pura-pura gila. Dia sibuk mengusap-usap rambut hitam Lie Zhu membuat sang empunya langsung menepis tanganya.


"Ckk, baru juga sekali elus," guman Dewa Takdir.


"Entah kenapa aku terjebak di dalam keluarga ini," batinya dalam hati, dia melirik Kai yang tidak terpengaruh sama sekali dengan ucapan raja iblis.


"Atasan dan bawahan sama saja," monolognya kembali.


Sementara Lian, wanita muda itu jangan ditanya lagi, dia sangat senang mendengar perkataan ayahnya. Itu artinya calon adiknya sedang on the way . Lian tidak perduli adiknya laki-laki atau perempuan dia hanya ingin menjadi sosok kakak yang baik dan akan lebih dewasa nantinya. Keinginan yang sudah lama tersimpan di lubuk hatinya yang terdalam sejak dulu, bahkan sejak dirinya berinkarnasi di zaman modern.


Yuze menatap istrinya yang begitu bahagia mendengar kata "adik" keluar dari mulut mertuanya. Raut wajah istrinya seakan lebih bahagia mendengarnya di bandingkan mendengar kehamilannya sendiri.


"Ibu lapar, apa putri ibu sudah makan?" Tanya Fang Yin.


"Sudah ibu," jawab Lian sambil mengangguk.


"Ibu kedalam dulu ya sayang, ibu belum sarapan, bahkan jadwal sarapan pun sudah lewat, semua gara-gara ayahmu," keluh Fang Yin sambil mengusap wajah mungil putrinya. Dia hanya bisa mengaminkan perkataan suaminya. Fang Yin tidak ingin melihat wajah kecewa putrinya.


"Baik ibu, makan yang banyak ibu, biar calon adik Chang'er segera datang," bisik Lian. Membuat Fang Yin terkekeh geli.


Setelah ibunya masuk kedalam, Lian menghampiri pamannya Kai. Membuat Kai sedikit was-was. Apalagi tatapan Dewa Tinggi Putra Mahkota Heng Yuze kepadanya seakan ingin menerkamnya habis-habisan.

__ADS_1


Sejak pesta penyambutan sang mertua, Istrinya terus-terusan mengomel, bahkan dirinya tidak diizinkan menyentuhnya padahal Yuze sudah sangat ingin menjenguk putrinya didalam sana. Setiap hari dia tidak pernah absen untuk menyentuh istrinya, tapi semenjak paman Kai meninggalkan istrinya begitu saja di perjamuan itu, membuat istrinya bersungut-sungut sepanjang hari. Akibat ulah pamannya itu Yuze yang kena getahnya. Dan disinilah dirinya berada di istana mertuanya. Mengikuti istri kecilnya kemanapun pergi termasuk menemui pamannya Kai. Yuze tidak ingin istrinya terlalu dekat dengan Kai, selain cemburu Yuze tidak mau putrinya yang masih di kandungan itu terlalu mendambakan sosok Kai yang notabene berbeda alam dengan mereka.


"Paman, bisakah chang'er meminta mata kalung kecil itu," tunjuk Lian pada leher Kai dengan wajah memelasnya. Kali ini dia akan mewujudkan keinginan putrinya. Semenjak di acara perjamuan kedua orangtuanya, Lian sudah menyukai kalung hitam bermata Rubi yang bergantung cantik di leher Kai.


"Aku tidak mau," tolak Kai mentah-mentah. Dia memegang kalungnya seakan takut di ambil wanita hamil itu.


Mata kalung miliknya bukanlah mata kalung biasa, didalamnya ada jiwa hewan Spritual miliknya yaitu Naga putih. Ya, sejak dirinya memasuki dunia kegelapan, jiwa hewan Spritual memisahkan diri dari raganya, itu hukuman langit bagi Dewa yang melanggar aturan.


"Paman," rengek Lian dengan matanya yang sudah berkaca-kaca. Yuze yang tidak sanggup melihat wajah sedih istrinya ikut membantu membujuk laki-laki keras kepala itu.


"Paman, bisakah paman memberikanya kepada istriku," pinta Yuze dengan suara tegasnya yang tidak ingin menerima penolakan. Tapi jangan harap Kai akan menurutinya. Kai bukanlah penghuni kerajaan langit yang selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk sosok Dewa yang maha tinggi itu. Kai hanya akan menuruti dan mematuhi semua perintah atasannya yaitu Xi Chen. Dan jika rajanya itu meminta kalungnya, Kai belum tentu mau memberikan, karena dia berhak menolak. Kai juga tidak takut menghadapi Dewa dingin itu.


"Paman jangan pelit-pelit, nanti kuburannya sempit," ucap Ba Xi'O dengan wajah nyengirnya, berharap paman Kai nya luluh setelah melihat wajah gemasnya. Tapi sayang laki-laki itu tidak akan pernah luluh sampai kapanpun. Bahkan tingkah Ba Xi'O barusan membuat Kai mual.


Yuze berusaha membujuk istrinya, dia juga tidak ingin merampas mata kalung itu dari Kai, dia sebagai Dewa Tinggi harus menjaga wibawanya.


"Paman, aku minta tolong berikan mata kalung paman dipinjam istriku," suara Yuze sedikit merendah hal yang tidak pernah dilakukanya selain kepada istrinya.


Kai tidak merespon, Kai bahkan merutuki kebodohan Yuze. "Padahal dia bisa membuat kalung seperti milikku ini," guman Kai dalam hati.


"Aku akan menuruti permintaan paman, jika paman bersedia meminjamkan mata kalung itu kepada istriku," Ucap Yuze kembali.


Kai menghentikan langkahnya dan menyeringai, setelah mendengar nada memohon dari Dewa Tinggi itu, apalagi Dewa itu bersedia menuruti kemauannya.

__ADS_1


"Aku akan meminjamkan mata kalung ini, bukan cuma matanya saja, aku akan meminjamkan rantainya juga, tapi dengan satu syarat," ucap Kai tersenyum licik. Membuat Yuze dan yang lainnya sedikit was-was. Yuze takut Kai meminta hal gila kepadanya.


Lian langsung mengangguk, apapun persyaratan pamannya itu akan di turutinya yang penting kalung yang sudah di Incarnya itu bisa dimilikinya.


" Jika putrimu lahir, berikan dia kepadaku, karena aku akan menjadikanya istriku suatu saat nanti," Ucap Kai santai.


"Braakk,"


Bunyi gebrakan itu berasal dari meja Lian. Lian memukul mejanya.


Lian menghampiri Kai dan langsung merampas kalung yang sudah bergantung indah di jari tangan Kai.


"Aku setuju paman jika putriku menjadi istrimu," ucap Lian antusias membuat Kai mematung ditempat.


Sementara Yuze dan yang lainnya tertekun dengan permintaan yang lebih gila dari dugaannya.


"Aku tidak setuju dengan syarat mu dan aku melarang keras," tolak Yuze sambil mengepal tanganya, netra legamnya menatap Kai seakan menenggelamkan laki-laki itu kelautan dalam.


"Kalau begitu sini kalungnya chang'er," Kai menengadahkan tanganya kearah Lian.


"Aku tidak mau," Lian langsung menyembunyikan kalung yang sudah digantungkannya di lehernya dan memasukkan kalung itu kedalam bajunya, supaya pamannya itu tidak bisa mengambilnya lagi.


"Kau lihat, istrimu tidak mau memberikannya kepadaku, itu artinya syarat ku berlaku, Haha-haha," Kai tertawa puas melihat wajah naas Dewa Tinggi Putra Mahkota, tidak perlu adu kekuatan Dewa Tinggi yang dipuja alam semesta itu kalah telak.

__ADS_1


__ADS_2