
"Wah rasanya badan sedikit lebih lebih ringan" ucap Yu Wang tersenyum cerah.
"Iya..dosa-dosamu yang banyak itu sudah diangkat otomatis badanmu akan terasa ringan" ucap Fang Yin sambil cekikikan. Yu Wang yang mendengar perkataan sahabatnya menatap tajam sahabatnya itu. bisa-bisanya sahabatnya itu mengatakan dirinya memiliki dosa yang banyak.
"Salam kepada Dewa dan Dewi" ucap seorang wanita yang berparas tegas, wanita itu seperti kesatria panglima perang saja, membuat Yu Wang terpana sesaat.
"Salam Dewi" ucap Fang Yin sedikit kaku karena baru kali ini mereka di sapa dengan sebutan dewa dan dewi. Fang Yin menyiku sahabatnya itu yang hanya diam sambil memandangi Dewi yang di depan mereka. Fang Yin yakin sahabatnya itu pasti terpesona melihat Dewi itu.
"Namaku Jia Li, panggil saja Jia, aku dari alam hukum" terang wanita itu sedikit bangga.
"Wahh..jadi nona Dewi dari alam hukum?" Tanya Yu Wang antusias. Yu Wang sudah lama mengagumi sosok dewa hukum.
"Iya tuan aku dari alam hukum" wanita itu memperjelas sekali lagi sambil tersenyum manis. Membuat Yu Wang semakin klepek-klepek.
"Kapan-kapan bawalah aku ke alammu, aku sangat mengidolakan dewa hukum" ucap Yu Wang dengan semangat empat lima. Fang Yin yang mendengar itu acuh tak acuh, hampir semua dewa yang ada di kerajaan langit di idolakan sahabatnya itu. Terutama para dewa-dewa tinggi, Fang Yin yakin jika saja ada di antara mereka yang mau menjadikan Yu Wang dewa pengawal maka sahabatnya itu akan langsung menerimanya tanpa berpikir panjang.
Mereka memasuki Akademi Teratai. Sepanjang jalan Yu Wang dan teman baru mereka yang bernama Jia Li tidak berhenti berbicara, membuat telinga Fang Yin memanas. Gimana tidak memanas sahabatnya Yu Wang asik tertawa terbahak-bahak dengan suara keras, bahkan mereka jadi pusat perhatian para murid-murid teratai yang lainnya.
"Kita berpisah disini saja karena kamar laki-laki dan perempuan terpisah, jika saja laki-laki dan perempuan bisa satu kamar maka aku akan mengusulkan diriku satu kamar denganmu" goda Yu Wang sambil mengedipkan matanya kepada Jia Li, membuat wajah wanita itu bersemu merah. Sementara yang menjadi obat nyamuk sejak tadi memutar bola matanya jengah, Fang Yin semakin percaya bahwa sahabatnya itu sudah berubah total.
__ADS_1
"Apa karena kejadian dia di lempar Xi Chen sampai sekarat makanya dia berubah seperti orang gila" batin Fang Yin karena setahunya sahabatnya itu mulai berubah sejak kejadian itu. Kejadian yang membuat sahabatnya hampir menyusul alam kematian, jika saja tidak di tolong langsung oleh putrinya Lian. Fang Yin yakin laki-laki itu sudah menjadi hantu gentayangan saat ini.
"Aku tidak menyangka Yu Wang Ternyata sangat lucu" ucap Jia Li tersenyum saat keduanya menuju kamar mereka masing-masing. Fang Yin mengerutkan keningnya, biasanya laki-lakilah yang mengatakan wanita lucu ini terbalik, teman barunya itu memuji sahabatnya Yu Wang dengan mengatakan laki-laki itu lucu. Entah dimananya yang lucu, pikir Fang Yin
"Kamu menyukainya?" Fang Yin melihat Jia Li yang langsung mengangguk.
"Wanita ini sungguh sangat jujur, dia langsung mengiyakan, biasanya wanita akan malu-malu jika menyukai seseorang ternyata dia termasuk wanita yang sangat langka". Batin Fang Yin dalam hati.
Fang Yin masuk kedalam kamarnya, setelah menata ulang kamar itu sesuai keinginannya barulah Fang Yin merasa puas, Akademi itu telah melengkapi semua kebutuhan setiap murid, termasuk pakaian, karena para murid akan menggunakan pakaian yang di sediakan Akademi.
"Tok..Tokk"
Ketukan di pintu mengurungkan niat Fang Yin yang mau mandi.
"Xi Chen" pekik Fang Yin menutup mulutnya.
Xi Chen masuk kedalam kamar istrinya.
Fang Yin beberapa kali mengerjap matanya memastikan penglihatanya terhadap laki-laki yang berdiri di depannya itu. Fang Yin terkejut bukan karena laki-laki itu datang mengunjunginya tapi dia terkejut karena baru kali ini laki-laki itu datang dengan cara yang sopan mengetuk kamarnya, bukan seperti biasanya datang dan pergi semau laki-laki itu.
__ADS_1
"Jangan melihatku seperti itu, aku tau aku sangatlah tampan" ucap Xi Chen penuh percaya diri.
"Bukankah kamu yang mengatakan kepadaku jika muncul di depanmu harus bilang dulu? untuk itu aku muncul di depan kamarmu dan mengetuknya dulu supaya kamu tidak terkejut" Terang Xi Chen santai sambil merebahkan tubuhnya di tempat tidur Fang Yin.
"Sinilah jangan berdiri disitu, bukankah seharusnya kamu memberiku hadiah? Xi Chen menatap Fang Yin dengan senyum menggodanya. membuat Fang Yin bergidik.
"Hadiah" Fang Yin mengerutkan keningnya, pasalnya dia tidak memiliki barang yang berharga untuk di berikan kepada laki-laki itu.
"Aku tidak mempunyai sesuatu yang berharga yang bisa kuberikan kepadamu" ucap Fang Yin sambil duduk di samping suaminya.
"Aku tidak meminta barang berharga, karena aku sudah memiliki semuanya, aku hanya minta kamu cium" ucap Xi Chen menatap lekat wajah cantik istrinya. Fang Yin menghembuskan nafas beratnya, jika dia tidak menuruti kemauan laki-laki itu maka laki-laki itu akan memaksanya seperti biasa.
Akhirnya Fang Yin menundukkan kepalanya mencium laki-laki itu di tempat yang di inginkan laki-laki itu.
Xi Chen membalas ciuman Fang Yin, awalnya istrinya yang memimpin permainan kaku itu. Tetapi karena Xi Chen yang tidak sabar akhirnya dia yang menuntun istrinya. Mereka bermain lama disana sehingga Fang Yin tidak sadar posisinya sudah di bawah.
"Ujian Nirwana mu sudah lewat, apakah aku bisa melakukan? Pinta Xi Chen dengan wajah yang menahan gairah dan sesak di bawah sana, sudah lama Xi Chen tidak melakukanya. Fang Yin menggeleng.
"Aku belum siap" lirih Fang Yin, walaupun semua orang mengatakan dia Reinkarnasi Dewi Phoenix dan laki-laki yang di atasnya itu adalah suaminya. Fang Yin tetap belum bisa menerimanya sepenuhnya. Apalagi pernikahan itu sudah berlalu sangat lama, Fang Yin ingin melakukan pernikahan ulang kembali. Walaupun pernikahan itu tidak ada artinya bagi Xi Chen karena sejatinya pernikahan abadi mereka hanya sekali seumur hidup. Tetapi bagi Fang Yin hal itu sangat berarti mengingat dirinya telah melupakan pernikahan mereka dulu.
__ADS_1
Xi Chen menghembuskan nafas beratnya.
"Baiklah, aku akan tetap sabar sampai kamu bersedia melakukannya." Xi Chen mengangkat tubuhnya lalu tidur di sebelah Fang Yin dengan membelakangi wanita itu. Xi Chen sekuat tenaga menahan hasrat yang sudah di ubun-ubun. Akhir-akhir ini Xi Chen selalu saja meredamkanya sendiri karena istrinya belum bersedia berhubungan intim dengan dirinya.