
"Dasar tidak punya modal," mantan ratu phoenix melewati menantunya itu begitu saja sambil mengucapkan kata-kata keramatnya. Bibir Xi Chen berkedut saat mertuanya itu mengatakan dirinya tidak bermodal. Apakah ibu mertuanya itu masih sama seperti dulu? sedikit materialistis. Xi Chen bukanya tidak sanggup memberikan lebih kepada Fang Yin tapi Xi Chen sengaja ingin memberikan istana itu kembali karena berharap istrinya bisa mengingatnya secara berlahan. Karena istana itu saksi cinta matinya kepada istrinya itu. Bahkan dia menumpahkan keringat dan juga darahnya untuk membentuk istana yang mempunyai pondasi kokoh itu.
"Sayang," Xi Chen menarik tangan istrinya dengan lembut.
"Apa yang kamu rasakan saat melihat istana ini," tanyanya dengan suara beratnya.
"Aku. Aku merasa istana ini begitu familiar," ucap Fang Yin jujur. Memang itulah yang saat ini dirasakannya.
"Kamu tau sayang, istana ini adalah bukti cintaku kepadamu. Istana ini dulu kuberikan kepadamu sebagai mahar untukmu, dan aku berniat kembali memberikan istana ini kepadamu. Tapi sebelumnya aku ingin mengubah warna istana ini, tapi sebelum hal itu terlaksana ibu sudah membawa kita kesini duluan bahkan mengundang banyak Dewa dan Dewi yang seumur-umur belum pernah memijakkan kaki mereka di istana ini ," ucap Xi Chen sambil menundukkan wajahnya. Xi Chen merasa kecewa dengan ibu mertuanya, karena berani mengundang para Dewa dan Dewi ke istananya tanpa meminta persetujuannya. Dulu istana itu tertutup dari dunia luar, tidak pernah sedikitpun Xi Chen membiarkan para Dewa dan Dewi memijakkan kakinya di istana itu. Jika Xi Chen dulu mengadakan perjamuan maka dia akan melakukanya di istananya yang lain yaitu istana sewaktu dirinya menduduki posisi Dewa Naga Hitam. Karena bagi Xi Chen istana yang di berikan nya kepada istrinya adalah istana khusus tempat tinggal mereka dan anak-anaknya nantinya. Xi Chen ingin memisahkan istana dunia kerjanya dan istana pribadinya. Tapi hari ini semua rencananya telah hancur, keinginannya ingin menghabiskan waktu yang tenang dengan istrinya tidak bisa di lakukanya lagi. Semua Dewa dan Dewi sudah tau keberadaan istana yang dulu sempat menghebohkan seluruh alam semesta. Dimana Dewa dan Dewi sangat penasaran dengan istana megah yang dipersembahkan Dewa Naga Hitam untuk istrinya Dewi Phoenix.
Fang Yin mengusap lengan kekar suaminya dia tau, suaminya pasti kecewa kepada ibunya. Walaupun Fang Yin tidak terlalu paham. Tapi Fang Yin mengerti maksud dari perkataan suaminya terlebih apa yang dirasakan suaminya saat ini. Baru kali ini Fang Yin melihat wajah tegas itu murung.
"Bisakah kamu memaafkan ibu? Mungkin ibu ingin kamu memberikan kepadaku mahar yang lain. Tapi yakinlah, aku tidak meminta mahar yang melebihi kemampuan mu. Justru aku senang kamu belum mengubah istana ini karena aku ingin melihat istana yang dulu kita tempati bersama." Terang Fang Yin. Menurut Fang Yin istana itu lebih baik tidak di ubah karena Fang Yin ingin menyentuh setiap dinding istana itu. Dan berharap Fang Yin bisa merasakan dan mengingat kehidupan bahagianya dimasa lalu di istana itu.
"Benarkah?"
__ADS_1
Xi Chen menatap netra emas kesukaanya itu. Dia bisa melihat wajah istrinya yang menyiratkan kebahagiaan.
Fang Yin mengangguk sambil tersenyum.
"Ayo masuk," Fang Yin membawa suaminya masuk kedalam istana karena yang lain sudah masuk duluan. Semua Dewa dan Dewi yang berada di dalam aula istana itu memberikan ucapan selamat datang serta selamat berbahagia kepada Xi Chen dan juga Fang Yin. Xi Chen meresponnya walau setengah hati. Dia belum ikhlas istananya yang di jaganya selama ini dan juga di datanginya diam-diam sekedar melepaskan rindunya kepada istrinya itu, kini telah dimasuki oleh Dewa dan Dewi. Bahkan sesekali tangan-tangan ramah itu menyentuh dan mengetuk-ngetuk dinding hasil ukiranya. Mungkin Dewa dan Dewi itu memastikan keaslian giok yang diukir itu.
"Cihh, akan kupastikan istana ini bersih dari bekas tangan-tangan jelek itu," batin Xi Chen dalam hati.
"Nenek, apakah yang nenek lakukan itu tidak keterlaluan?" Tanya Lian kepada neneknya. Lian melihat wajah ayahnya sepertinya tidak ikhlas istananya di masuki oleh Dewa dan Dewi kerajaan langit.
"Jadi kau menyalahkan nenek? Jangan salah, itu juga berkat dukungan kalian semua, coba kau dan cicitku yang nakal ini tidak mendukung nenek, mungkin nenek tidak berani melakukannya," gerutu mantan ratu phoenix.
"Tapi aku tidak menyangka akan melihat wajah tampan kakekku yang sangat sedih nenek buyut," timpal Ba Xi'O dengan wajah polosnya membuat bibir mantan ratu phoenix berkedut. Dia tidak tau lagi harus bilang apa lantaran semua kesalahan dilimpahkan kepadanya. Giliran seperti ini, cucu dan cicit kesayangannya itu lepas tangan.
"Ckk..dasar cucu dan cicit tidak setia," kesalnya.
__ADS_1
Sementara Dewa Tinggi Agung dan Kaisar langit tertawa terpingkal-pingkal melihat wajah naas mantan ratu phoenix itu. Wajah yang seumur hidupnya belum pernah dilihatnya, karena mantan Dewa Agung itu selalu menunjukkan wajah sombongnya. Kali ini mantan ratu phoenix itu kena getahnya sendiri.
"Sepertinya kalian sangat senang melihat nenek mertuaku itu menderita," ucap Yuze dengan wajah datarnya. Telinganya panas mendengar kedua sosok petinggi kerajaan langit itu tertawa seperti anak kecil.
"Apa menurutmu tidak lucu?" Tanya Dewa Agung yang masih cekikikan.
"Tidak ada yang lucu," balas Heng Yuze cuek.
"Ckk, harusnya kau tertawa karena istrimu telah berhasil mengalahkan mantan ratu phoenix yang sombong itu," ucap Dewa Agung sedikit bangga, karena selama ini belum ada yang bisa mengalahkan mantanya itu dari segi berdebat, karena mulut mantanya itu sangatlah berbisa. Baru kali ini mantan ratu phoenix itu mempunyai lawan yang seimbang.
Yuze melirik wajah istrinya yang terlihat menggembungkan pipi montoknya dan sesekali melirik ayah dan ibunya. Yuze tersenyum gemas melihat istrinya, dia yakin istrinya itu pasti merasa bersalah karena telah membuat laki-laki kesayangan itu bersedih.
"Ckk, giliran melihat wajah istrimu baru kau tersenyum," Dewa Agung memutar matanya malas.
Di istana bagian timur, tempat berkumpulnya keempat dewa jomblo sejati itu, sedang berbincang-bincang dan kadang tertawa.
__ADS_1
"Jika aku mengambil giok yang memiliki mata air ini apakah raja iblis itu tahu?" tanya Dewa bintang kepada ketiga sahabatnya itu.
"Aku juga ingin mengambil bunga hidup ini dan meletakkannya di istanaku, biar istanaku tidak bau buku-buku kehidupan," timpal Dewa Takdir antusias karena menyukai wangi semerbak yang di keluarkan bunga berdaun Rubi itu. Dewa Matahari dan Dewa Hukum geleng-geleng kepala melihat tingkah kedua sahabatnya.