
"Paman jangan mengejek suamiku," Fang Yin mengerucut.
"Apa paman salah? kenyataannya memang seperti itu, suamimu sedikit gila. Apa kau tidak pernah melihatnya marah dan menggila?" Tanya Dewa Agung. Fang Yin langsung menggeleng.
"Ckk, jadi kau belum pernah melihatnya gila? Tapi syukurlah setidaknya mentalmu masih terjaga sampai sekarang," Dewa Agung berbicara santai.
Fang Yin mengerutkan keningnya. Dia tidak menanggapi Dewa Agung lagi. Baginya perkataan Dewa Agung tidaklah penting.
"Paman aku pergi dulu." Fang Yin pergi dari sana meninggalkan Dewa Agung yang kembali melakukan meditasinya. "Ckk, aku jadi gagal karena Fang Yin," gerutu Dewa Agung yang tidak bisa lagi fokus melakukan meditasinya.
Di istana Xi Chen. Laki-laki itu sedang dirundung kesepian yang tak jelas. Istrinya baru satu hari meninggalkanya sudah membuat dirinya uring-uringan. Kai yang baru kembali entah dari mana merasa terkejut melihat sang Raja iblis itu bagaikan patung bernafas. Posisi Xi Chen, duduk di kursi kebesaranya dengan pandangan kosong kedepan.
"Kau kenapa?" Kai duduk disebelah Xi Chen. Dirinya ingin beristirahat tapi melihat sahabatnya yang hidup segan mati tak mau akhirnya dia menemani sebentar sahabatnya itu.
"Pergilah, jangan menggangguku." Xi Chen mengusir Kai membuat Kai ingin memakinya langsung. Tapi karena sahabatnya itu sepertinya sedang menduda Kai mengontrol emosinya. Kai pergi dari hadapan Xi Chen. Kai tidak perduli lagi walau sahabatnya itu nangis darah sekalipun akibat ditinggal istri tercintanya.
"Paman sudah pulang?" Jun Hui melihat pamannya yang hendak memasuki kamarnya.
__ADS_1
"Kau sudah lihat paman disini, itu artinya paman sudah pulang,"
"Braakkk," pintu kamar itu tertutup rapat dengan bunyi yang memekakkan telinga. Jun Hui mengerutkan keningnya, dia hanya menunjukkan perhatiannya malah kena omelan pamannya di pagi-pagi buta.
"Dasar perjaka Tua," umpat Jun Hui. Dia memasuki ruang tamu, dia melihat gurunya sepertinya sedang tidur karena kedua mata merah itu sedang tertutup rapat.
"Guru, lebih baik guru beristirahat dikamar," Jun Hui menyentuh pundak gurunya dengan pelan. Xi Chen langsung menepis tangan Jun Hui.
"Jangan ganggu Guru pergi sana," Xi Chen berucap berat membuat Jun Hui yang kesal mendadak merinding sepertinya gurunya sedang menahan amarahnya.
"Ckk, kenapa guru dan paman marah-marah pagi ini?" Guman Jun Hui merasa jengkel. Dua sosok yang paling berpengaruh di alam iblis itu sedang sensitif. Karena Jun Hui tidak ingin menjadi sasaran empuk dua sosok yang kejam itu dia memilih menghilang dari sana. Bersembunyi sejenak.
"Ibu sebentar lagi akan kembali ke tempat nenek," ucap Fang Yin.
"Kenapa ibu kembali lagi kesana? Ibu seharusnya kembali ketempat ayah," Lian berkata dengan wajah tak sukanya saat ibunya kembali meninggalkan sang ayah.
"Ibu masih ingin jalan-jalan. Ibu belum puas, lagian masih satu hari ibu meninggalkan ayah," jawab Fang Yin. Dia merasa cemburu pada suaminya lantaran putrinya lebih memihak kepada Xi Chen. Sementara Heng Yuze dan kedua putranya sebagai pendengar setia. Dewa Tinggi Putra Mahkota sedikit lega lantaran istrinya tidak meniru sifat ibu mertuanya yang suka berpergian. Dia tidak ingin nasibnya seperti ayah mertuanya.
__ADS_1
"Baiklah ibu akan pergi sekarang," Fang Yin yang sudah merasa puas menghabiskan kebersamaannya dengan putri dan cucunya pergi dari istana Dewa Tinggi Putra Mahkota. Fang Yin tidak ingin melihat wajah putrinya yang memelas memintanya untuk pulang. Fang Yin masih ingin menjelajahi alam phoenix.
"Kau sudah pulang nak? Mantan ratu phoenix itu langsung menyambut kedatangan putrinya. Dimana Lie Zhu? Apa dia tidak ikut? "
"Lie Zhu tidak ikut ibu, karena hari ini jadwalnya berlatih dengan paman Dewa Agung," Fang Yin duduk tidak semangat.
"Ckk, kenapa dia masih berlatih pada Dewa Agung? Berlatih sama ibu saja sudah cukup," omel mantan ratu phoenix yang tidak ingin cicitnya terlalu dekat dengan laki-laki dimasa lalunya.
"Sudahlah ibu, itu bagus untuk Lie Zhu. Lie Zhu sebagai calon putra Mahkota di alam Phoenix harus memiliki wawasan yang luas," Fang Yin tau ibunya masih belum bisa akrab dengan Dewa Agung. Padahal Fang Yin pernah menerima laporan dari putrinya bahwa ibunya sempat bekerja sama dengan Dewa Agung sewaktu mencari dalang dibalik kehilangan putrinya semasa bayi. Fang Yin yang mendengar itu sempat senang karena dia merasa sebentar lagi ibunya akan merajut cinta yang sempat hilang bersama Dewa Agung. Tapi melihat ibunya yang saat ini acuh tak acuh kepada sang penguasa dunia manusia itu bahkan berusaha menjaga jarak dengannya membuat Fang Yin jadi tidak yakin ibunya mau bersama lagi. Mantan ratu phoenix mengembuskan nafas panjangnya. Dia melihat wajah putrinya seperti memiliki beban. "Kamu kenapa sayang?"
"Chang'er memintaku cepat kembali ibu. Chang'er takut ayahnya tidak ada yang mengurus." Fang Yin memijit pelipisnya yang kaku. Hatinya terbagi dua saat ini. Antara mau pulang dan masih ingin menjelajahi alam phoenix.
Mantan ratu phoenix menepuk pelan punggung putrinya. " Semua terserah kepadamu, ibu senang kau menghabiskan masa muda mu. Ibu juga senang jika kau ingin berbakti pada suamimu, apalagi kau sudah meninggalkan Xi Chen lebih dari seribu tahun. Waktu yang cukup lama bukan?."Fang Yin diam, yang dikatakan ibunya memang benar. Sata Fang Yin larut dalam pikirannya seorang Dewi pengawal menghampiri mereka.
"Yang Mulia ada undangan dari alam rubah," Dewi pengawal menyerahkan sebuah undangan bercorak merah dan bertinta emas. Diatasnya terdapat kepala rubah yang sedang mengaum.
Mantan ratu phoenix menerima undangan itu. Walaupun putrinya pemimpin alam Phoenix saat ini tapi dirinyalah yang paling banyak berperan lantaran putrinya jarang melakukan tugasnya sejak dinobatkan sebagai ratu phoenix. Fang Yin sebenarnya ingin melakukan tanggung jawabnya tapi suaminya yang mesum itu selalu mengurung dirinya dan tidak mengijinkan dirinya keluar. Laki-laki itu memiliki keegoisan yang tinggi membuat Fang Yin sedikit tidak suka. Sosok yang dia cintai saat ini telah berubah, tidak seperti dulu lagi hangat dan penuh pengertian.
__ADS_1
"Pergilah menghadiri perjamuan yang diadakan mantan Dewi Rubah, sesekali kau harus berbaur dengan mereka." Mantan ratu phoenix memberikan undangan itu kepada Fang Yin. Fang Yin mengangguk. Dia sedikit cemas karena belum pernah menghadiri perjamuan seperti ini. Dulu pun dia jarang hadir di acara perjamuan karena ada sang ibu yang menghandle semuanya.
Fang Yin menggunakan jubah kebesarannya. Jubah Ratu Dewi Phoenix yang begitu elegan dan menawan. Fang Yin menuju alam Phoenix sedikit tertekan, perasaanya sedikit tidak aman karena takut suaminya datang kealam itu.