Raja Iblis Mencari Permaisuri

Raja Iblis Mencari Permaisuri
Episode. 61


__ADS_3

"Sabarlah, terkadang tidak selamanya ayah mertua itu bersikap baik, bisa juga dia marah-marah untuk melampiaskan emosinya," ucap Kai sambil berlalu.


Bibir Yuze berkedut, sejak kapan juga aku dan ayah mertua akrab, pikirnya.


"Apa paman juga akan seperti itu dengan Dewa Tinggi Putra Mahkota?" tanya Jun Hui penasaran.


"Maksudmu?"


" Ckkk, Apa paman lupa, bahwa paman sudah meminang putrinya yang masih dikandungan. Ckk, dasar sudah Tua ". Umpat Jun Hui menjadi tidak selera menggoda pamannya.


"Kau," Kai merasa geram mendengar kata "Tua " dari mulut Jun Hui yang licik itu.


"Lagian aku tidak serius dengan perkataan ku kemarin," guman Kai. Dia menuju kreta kuda. Dirinya masa bodoh melihat rajanya yang menangis tersedu-sedu, mengeluarkan air mata buayanya.


"Ayah, lebih baik kita membawa ibu kedalam kreta," Lian memberikan saranya.


Akhirnya Fang Yin dibawa kedalam kreta kuda dan mereka dalam sekejap menghilang dari gua itu. Gua itu langsung hancur dan pasir hidup itu kini berubah menjadi pasir biasa karena makhluk yang mengendalikan pasir itu telah musnah akibat api Phoenix yang dikeluarkan Fang Yin.


Fang Yin membuka netranya yang masih menyala-nyala. Dia mengerutkan keningnya saat dirinya berada ditempat yang asing. Tempat itu hanya ruangan kosong tanpa ada celah sedikitpun. Sebuah bola kristal mengambang tepat dihadapannya, bola itu berputar-putar dan menunjukkan cahaya yang menyilaukan. Fang Yin yang penasaran menyentuh bola kristal itu.


"Bluuurr," kekuatan bola kristal itu menyatu ditubuhnya.


Samar-samar Fang Yin mendengar sesuatu, tapi dirinya tidak bisa melihat dimana letak suara itu.


"Bao-yu, Bao-yu, Hei sayang," Fang Yin mencengkram kuat kepalanya yang mendadak berdenyut nyeri saat suara berat itu memanggil-manggil nama yang tidak asing baginya.


"Bao-yu, sayang, aku mohon jangan diamkan aku seperti ini." Suara berat itu masih bergema, membuat Fang Yin menjerit kesakitan.


"Tolong hentikan, siapapun, tolong berhentilah bersuara, kepalaku rasanya ingin pecah," lirih Fang Yin sambil menahan sesak didadanya.

__ADS_1


"Sayang, kemarilah, duduk di pangkuanku," Laki-laki itu terus bersuara. Mengeluarkan suara beratnya yang membuat dada Fang Yin terasa sesak dan nyeri.


"Aaahhhh," Fang Yin berteriak histeris, kali ini kepalanya akan benar-benar pecah.


Fang Yin terduduk lemas, kilasan-kilasan familiar terlintas dibenaknya layaknya sebuah drama kehidupan.


"Sayang, hei, kamu marah karena aku lama pulang?"


"Iya, aku sangat merindukanmu, hiks,"


"Bao-yu dengar, aku melakukan tugas sebagai Dewa sayang bukan bermain-main."


"Tapi aku sangat merindukanmu,"


" Baiklah, sini aku peluk," Laki-laki tampan dan gagah itu memeluk erat tubuh mungil istrinya. Memberikan kecupan hangat keseluruhan wajahnya dan berlabuh dibibir yang menjadi candunya itu.


Kilasan-kilasan itu terus berputar-putar.


"Iya, aku akan menyelamatkannya tapi berjanjilah jangan pergi, aku mohon tetaplah bersama, sayang hiks," air mata laki-laki kokoh itu mengalir deras di rahang tegasnya, membuat wanitanya merasa bersalah. Kebahagiaan yang penuh canda tawa serta di lengkapi dengan calon buah hatinya yang masih bersemayam di rahimnya kini hancur untuk selama-lamanya. Peperangan tidak bisa dielak lagi, kematian sudah digariskan sang langit.


"Maaf, maafkan aku jika aku belum bisa menjadi istri yang sempurna untukmu, tetaplah jalani hidupmu Xi Chen." Wanita itu berusaha dengan lemah dan menutup matanya untuk selama-lamanya.


"Tidak-tidak, Bao-yu, aku mohon sayang kembalilah, jangan tinggalkan aku dan anak kita, kembalilah sayang aku mohon. " Jerit laki-laki itu dengan suara yang memilukan."


"Ahhh," Teriak laki-laki itu menahan rasa sakit dari tubuhnya yang dipaksa terpisah dari raganya.


 Bluuuurr," laki-laki itu mengeluarkan darah murni dewanya dan mengangkat calon anak mereka yang didalam rahim istrinya, menggenggam buah hatinya dengan sangat erat. "Ingatlah ibu dan ayahmu nak, kau bukti dari kisah cinta kami yang belum usai," Ucap laki-laki itu dengan suara yang bergetar serta dialiri air mata yang begitu deras.


"Hiks, hiks, maafkan aku, maafkan aku sayang," Fang Yin menangis tersedu-sedu dalam mimpinya membuat Xi Chen memeluknya dengan erat. Xi Chen tau istrinya itu pasti sedang mengingat masa lalu mereka yang begitu menyakitkan karena sinar Phoenix yang di kening istrinya telah muncul dan bersinar terang. Itu pertanda bahwa istrinya telah kembali menjadi seorang Dewi.

__ADS_1


"Aku disini," Xi Chen berbisik ke telinga istrinya.


Fang Yin membuka netranya, bola matanya penuh dengan genangan air mata, bibirnya bergetar tatkala melihat laki-laki yang sangat dicintainya sedang memeluknya dengan erat.


Fang Yin menyentuh wajah kokoh suaminya.


"Aku kembali sayang, bisakah kau memaafkan kanku," ucapnya dengan bibir bergetar hebat menyentuh wajah sempurna suaminya dan langsung mencium bibir suaminya. Xi Chen membalas ciuman lembut istrinya menyalurkan segala hasrat kerinduannya kepada istrinya. Xi Chen menekan bagian kepala belakang istrinya untuk memperdalam ciumannya yang semakin menuntut dan menggebu-gebu hingga tirai yang menjadi pembatas itu kembali menutupi kedua insan itu dengan sempurna.


Lian tersenyum haru melihat ayah dan ibunya.


Yuze menghapus air mata istrinya yang masih mengalir di wajah montoknya itu.


"Sudah, jangan menangis lagi, ibu sudah mengingat semuanya," Yuze membawa istrinya kedalam pelukanya.


Kai langsung menutup tirai milik calon mertuanya itu. Bibir Dewa Takdir berkedut saat Sang Dewa Tinggi Putra Mahkota mengikuti jejak mertuanya. "Ckk, tidak taukah dia, sebentar lagi istrinya akan melahirkan," guman Dewa Takdir yang merasakan kreta kuda itu bergoyang.


"Shiiit," dasar suami istri mesum," umpat Kai. Untung saja sikembar sedang tidur, entah apa yang dilakukan ayah mereka sehingga sosok yang dua itu kebanyakan tidur.


"Aahhh, paman Kai," jerit Lian. membuat seisi kreta kuda itu tersentak.


"Sayang kamu kenapa?" Yuze bertanya cemas, hampir saja dia menyatu dengan istrinya. Yuze yang melihat istrinya menjerit kesakitan sambil memegangi perutnya langsung menghentikan aktivitasnya.


"Apa sayang mau melahirkan? Aku mohon sayang jangan di kreta kuda ini," pinta Yuze. Walaupun mereka tidak didunia bawah lagi tapi Yuze tidak ingin putrinya lahir di kreta sempit itu.


"Diamlah, panggil paman Kai, putrimu maunya dia," bentak Lian karena merasakan sakit diperutnya. Yuze mencoba mengelus-elus perut besar istrinya agar putrinya yang didalam bisa tenang sedikit.


Yuze melihat sekelilingnya ternyata Kai tidak ada.


"Apa dia kabur," batinya dalam hati.

__ADS_1


"Kenapa harus dia, aku yang membuatnya dan kenapa istriku memanggilnya," Yuze membatin sambil menatap istrinya nanar. Dirinya yang berjuang siang malam membuat putrinya kenapa malah laki-laki lain yang dicari istrinya itu.


__ADS_2