Raja Iblis Mencari Permaisuri

Raja Iblis Mencari Permaisuri
Episode. 53


__ADS_3

Jun Hui sangat menghormati Xi Chen. Bukan karena sosok itu sang raja iblis tapi Xi Chen telah dianggapnya sebagai figur seorang ayah yang tidak pernah didapatkannya dari Dewa Salju, ayah kandungnya sendiri. Selain mengajarkan hal yang buruk baginya, Xi Chen juga mengajarkan hal yang baik. Walaupun Jun Hui tidak pernah menerapkan hal baik itu dalam hidupnya.


"Nanti sore kita berangkat ke dunia bahwa, aku harap kedatangan kita dirahasiakan, aku ingin melihat sendiri para kakek tua itu yang ingin melawanku," ucap Xi Chen dengan penuh amarah. Cukup sudah kesabaran Xi Chen selama ini menghadapi para penatua yang sudah bau tanah itu, apalagi mereka terang-terangan ingin menurunkan Xi Chen sebagai raja iblis setelah mengetahui identitas asli Xi Chen yang terjebak di raga sang raja iblis terdahulu yaitu Xue Chen.


Dengan langkah gontai Jun Hui memasuki kamarnya.


"Ckk, tidak bisakah wajahmu itu kau singkirkan, sungguh raut wajahmu yang sekarang ini terlihat menyebalkan," ucap Kai sinis. Bagaimana dia tidak marah melihat raut wajah Jun Hui yang seakan di putuskan para wanitanya saja.


"Paman tidak bisa diam, suara paman membuat telingaku berdengung," balas Jun Hui kesal.


"Brakkk," pintu kamar itu langsung tertutup. Kai tersentak, untung saja dia masih memiliki jantung yang kuat, jika tidak Kai yakin akan pergi dari dunia ini dengan tidak hormat.


"Dasar bocah sialan," rutuknya.


Xi Chen memasuki kamarnya, dia melihat istrinya sedang merapikan tempat tidur.


"Jangan terlalu lelah biar aku saja yang melakukanya," ucap Xi Chen sambil menarik pinggang istrinya. Sekali jentikan jari kamar itu rapi sempurna. Xi Chen mendudukkan Fang Yin dipanggkuanya dia mengusap wajah istrinya yang baru bangun itu, kedua netra kesukaanya itu masih terlihat mengantuk. Xi Chen maklum karena dia menerkam istrinya habis-habisan satu malam ini.


"Aku dan Kai akan turun kedunia bawah, ada pekerjaan yang harus kuselesaikan, jadi yang menjagamu selama aku pergi murid terkuatku yaitu Jun Hui, laki-laki yang menemani semalam," terang Xi Chen sambil mengendus-endus leher jenjang istrinya.


"Berapa lama?" Tanya Fang Yin sambil menikmati sentuhan lidah nakal suaminya.


"Aku tidak tau beberapa lama sayang, tapi aku janji akan segera kembali," Xi Chen menahan geramanya yang ingin sekali menyatukan dirinya dengan Fang Yin.


"Aku ikut," guman Fang Yin serak, kepalanya mendongak keatas guna memberi akses kepada Xi Chen untuk menjelajahi lehernya.

__ADS_1


"Kamu tidak bisa ikut sayang, perjalanan kali ini sedikit rahasia, aku tidak ingin rakyatku mengetahui kedatanganku," ucap Xi Chen sedikit jujur.


"Lagian kamu harus berlatih lebih giat lagi untuk bisa menjadi Dewi Tinggi seperti putri kita Lian," timpalnya. Xi Chen menatap wajah istrinya yang sudah dipenuhi kabut gairah.


"Aku tetap ingin ikut," Fang Yin masih bersikukuh.


"Sayang," Xi Chen melihat wajah istrinya dengan serius, berharap istrinya itu mengerti.


Fang Yin menghembuskan nafas beratnya.


"Kalau kau pergi aku akan menghilang lagi," ucap Fang Yin sambil membalas tatapan suaminya. Bibir Xi Chen berkedut mendengar ancaman istrinya itu. Istrinya itu sudah berani mengancamnya.


Karena Xi Chen tidak mau menggila lagi seperti dulu akibat kehilangan istrinya, akhirnya dia mengalah dan mengizinkan Fang Yin ikut. Xi Chen juga ingin mengenalkan istrinya tentang dunia kegelapan yang sedang di gelutinya saat ini .


"Baiklah kamu ikut, tapi berjanjilah akan selalu di sampingku," ucap Xi Chen sambil mengecup bibir ranum istrinya, bermain disana cukup lama sehingga membangkitkan kembali gairahnya. Fang Yin pasrah dan mengikuti permainan suaminya yang akan membawanya ke puncak tertinggi. Posisi Fang Yin masih sama, masih di pangkuan suaminya.


"Ughh," Fang Yin kembali mengeluarkan suara seksinya, posisi mereka saat ini sungguh membuat tubuh keduanya bergetar. Xi Chen tersenyum puas saat mimpi-mimpinya dulu dan sang istri memadu kasih dengan berbagai posisi kini terlaksana.


"Kamu sungguh sangat cantik sayang," pujinya sambil mengerakkan pinggangnya sesuai irama yang diinginkannya.


"Ahhh," keduanya melakukan pelepasan masing-masing. Xi Chen langsung mengangkat Fang Yin ketempat tidur dan mengangkat kedua kaki istrinya ke pangkuannya, dengan posisi Fang Yin yang telentang. Berharap benih yang barusan di taburnya akan berhasil, karena Putri kecilnya sudah merengek minta segera diberikan seorang adik.


Xi Chen membantu Fang Yin membersihkan tubuhnya. Membantu dengan adegan plus-plus.


"Aku lapar, cepatlah," rengek Fang Yin.

__ADS_1


"Sebentar lagi sayang," Xi Chen masih mengerakkan pinggulnya di dalam air yang ada di kolam jernih itu dengan posisi istrinya membelakanginya.


"Aahhh," kali ini Xi Chen yang ngos-ngosan. Kakinya lumayan pegal menopang tubuh istrinya. Xi Chen tidak menyangka posisi kali ini sungguh sangat menantang, kapan-kapan dia akan Melakukannya lagi dengan Fang Yin.


Selesai mandi plus-plus itu, kini Xi Chen dan Fang Yin keluar dari kamar dengan wajah cerah.


"Ckk, lama sekali pengantin baru ini keluar," gerutu Kai setelah tiba didepan pintu kamar Xi Chen. Niatnya ingin mendobrak pintu kamar pengantin baru itu batal karena kedua insan itu sudah keluar dengan wajah sumringahnya. Membuat Kai jengkel.


"Kau mengintip kami," Xi Chen menatap nyalang sahabatnya itu. Apakah sahabatnya itu memiliki hobi yang baru sekarang? pikir Xi Chen.


"Cihh, kau tidak terlalu penting untuk kuintip," sinis Kai.


" cepatlah kalian ketaman belakang, sudah datang keluargamu satu kerajaan berkunjung," ucap Kai berlalu pergi dari hadapan sepasang pengantin yang sedang di mabuk cinta itu. Dia bisa gila bila lama-lama melihat pengantin baru itu.


"Aku bersumpah, aku tidak akan mau seperti Xi Chen, menjadi laki-laki bodoh akibat terlalu mencintai wanita." cibir Kai sepanjang jalan menuju taman belakang.


Sementara Xi Chen dan Fang Yin mengerutkan kening. Mereka tidak mengerti apa yang dikatakan Kai. Karena tidak mau mati penasaran Xi Chen mengajak Fang Yin untuk pergi ketaman belakang.


Xi Chen melebarkan bola matanya saat melihat siapa saja yang duduk santai di taman belakang miliknya.


Putrinya Chang Lian, kedua cucunya, menantunya sibalok es Heng Yuze dan sidewa notulen.


"Ayah.. ibu," pekik Lian.


"Kenapa ayah dan ibu lama sekali bangunnya, lihat putri kalian yang cantik ini menjadi semakin tua karena menunggu ayah dan ibu terlalu lama ," omel Lian dengan memanyunkan bibirnya.

__ADS_1


Fang Yin malu sendiri, jika saja suaminya itu tidak meminta jatahnya lagi putrinya tidak akan marah seperti saat ini.


"Ayah dan ibu tadi sedang fokus membuat adikmu," ucap Xi Chen santai dan langsung mendapatkan cubitan gemas dari istrinya.


__ADS_2