Raja Iblis Mencari Permaisuri

Raja Iblis Mencari Permaisuri
Episode. 76


__ADS_3

"Kau belum bisa melupakannya, harus kah aku jujur kepadamu? Tapi aku takut kau semakin merasa bersalah," guman sosok itu yang tak lain Dewa musim. Dia tidak akan bisa menggapai hati istrinya. Walaupun dia bisa memiliki raga wanita itu tapi tidak dengan hatinya. Hati wanita itu telah tergembok kuat dan kuncinya di bawa pergi oleh seorang laki-laki yang pernah hadir di masa lalunya.


"Syaap.


Kai muncul didepan Dewa Musim mata tajamnya menatap Dewa Musim penuh dendam.


"Kenapa kau pijakan kaki kotormu itu kedalam tanah istanaku." Ucap Kai dingin. Dewa Musim menatap sosok laki-laki yang pernah mengikutinya berpetualang.


"Masihkah kau menyalahkan ku? Bukankah kau tau sendiri kenapa aku melakukannya?" Dewa Musim menatap Kai dengan sendu.


Kai mendengus. "Apapun alasanmu tetap saja istrimu penyebab kakak ku meninggal." Kai meninggalkan Dewa Musim begitu saja. Dia tidak ingin lepas kendali seperti sebelumnya jika sudah melihat Dewa Musim, sosok penyebab kematian kakaknya. Kai memasuki sebuah istana yang menjadi saksi bisu pertumbuhan dirinya dan juga kakak kesayangannya. Aura istana itu penuh dengan kesedihan. Mata tajam Kai berkaca-kaca mengingat masa lalunya yang penuh dengan kehangatan. Jika saja Dewi Petir tidak pernah hadir di hidup kakaknya mungkin kakaknya Dewa Naga putih tidak akan meninggal dengan membawa luka yang teramat dalam. Cinta kakaknya yang begitu besar kepada wanita itu membuat kakaknya kehilangan kewarasan sehingga mengorbankan darah murni nya untuk menaikkan derajat wanita itu.


"Kakak." Kai memanggil Dewa Naga putih dengan serak. Air mata yang tidak pernah lagi mengalir kini membasahi wajah tampannya, Kai rapuh. Semenjak kepergian kakaknya dia kehilangan arah. Bahkan Kai bersedia bekerja sama dengan raja iblis terdahulu untuk menghancurkan kerajaan langit. Sudah ribuan tahun Kai hidup dalam kesepian dan kesesakan.


Xi Chen mengerutkan keningnya saat melihat sahabatnya dengan wajah muramnya, yang membuat Xi Chen mengerjap matanya saat melihat wajah sahabatnya yang terlihat sembab.

__ADS_1


"Kau menangis?" Xi Chen terkejut. Sahabatnya yang tidak punya hati itu bisa mengeluarkan air mata juga. Jika menantunya dijuluki Dewa es balok maka sahabatnya ini dia juluki iblis batu. Kai memiliki hati yang sangat keras seperti batu. Hati Laki-laki itu tidak akan bergerak sedikit pun jika melihat kematian yang mengenaskan. Hati Laki-laki itu terlalu keras sehingga pedang yang tajam sekalipun tidak dapat menembusnya.


Kai menepis tangan sahabatnya yang hendak menyentuh wajah tampannya.


"Jangan coba-coba menyentuhnya." Ucap Kai ketus.


"Cihh." Xi Chen mendengus. Dia tau Kai paling tidak menyukai jika wajahnya di sentuh. Akan seperti apa reaksi laki-laki ini jika suatu saat istrinya menyentuh wajahnya yang menjengkelkan itu. Xi Chen membatin dalam hati. Dia juga berpikir sahabatnya itu juga tidak pernah berniat membina hubungan. Apalagi sampai meminang wanita hal yang tidak pernah ada di kamus laki-laki itu.


Kai pergi meninggalkan Raja iblis yang masih melamun. Melamun kan masa depan Kai.


"Sayang, dari pada memikirkan perjaka tua itu bagaimana jika kita membuat anak sebanyak-banyaknya." Xi Chen mengedipkan matanya membuat bulu kuduk Fang Yin berdiri.


Fang Yin langsung menghilang dari hadapan Xi Chen membuat Xi Chen menggertakkan giginya. Istrinya sudah mulai membangkang. "Sepertinya aku terlalu lembut kepadamu sayang." Xi Chen menyeringai, jangan panggil dia raja iblis jika dia tidak bisa menundukkan istrinya. Alam kegelapan saja dia tundukkan apalagi wanitanya. Itu hal yang mudah bagi Xi Chen.


Lima ratus tahun kemudian.

__ADS_1


Kerajaan langit dan alam iblis lagi panas-panasnya lantaran Ratu Dewi Phoenix sedang mengandung. Wanita itu saat ini sedang meringis kesakitan dan berteriak membuat Guntur di langit saling bertautan. Xi Chen dan Kaisar Langit tidak tau anak yang di kandung Fang Yin apakah memiliki darah iblis atau darah murni. Apakah calon anak Xi Chen memiliki inti Api iblis atau tidak. Xi Chen meringis mendengar rengekan istrinya. Mengandung saja wanitanya sudah kesakitan apalagi melahirkan nanti.


"Apa tidak lebih baik kita menyingkirkan anak itu, aku sungguh kasihan melihatmu." ucap Xi Chen dan langsung mendapatkan tatapan tajam dari para Dewa Tinggi yang ada di ruangan itu.


"Ckkk, bahkan aku tidak diberi wewenang untuk mengambil keputusan." ujar Xi Chen kesal.


"Aku tidak mau menyingkirkan anakku sekalipun aku menghadapi alam kematian." Fang Yin berucap dingin membuat Xi Chen membeku. Xi Chen paling benci jika kata-kata terkutuk itu keluar dari bibir mungil istrinya. Beberapa hari ini Xi Chen dan istrinya selalu saja perang dingin. Fang Yin akan sensitif bila menyangkut calon anak mereka. Anak itu sudah ditunggu Fang Yin selama ratusan tahun. Dan saat diberi langit bisa-bisanya Xi Chen memintanya untuk di lenyapkan lantaran Xi Chen tidak tega melihat kesakitan istrinya, apalagi saat pertama kali anak itu hadir di rahim sang istri. "Baiklah." Xi Chen mengalah. Dia tidak akan menang melawan wanita itu.


"Aku harus melakukan apa biar ibu tidak kesakitan?" Chang Lian tidak tega melihat ibunya. Lian sejenak berpikir. Apakah ibunya itu merasakan hal yang sama saat mengandungnya? Wajah ibunya terlihat pucat, tubuh ibunya yang dulunya sedikit berisi kini terlihat kurus.


"Ibu baik-baik saja." Fang Yin mengukir senyum teduhnya. Dia tidak ingin melihat putrinya bersedih. Hal yang wajar jika seorang ibu merasakan kesakitan saat mengandung anaknya. Hal itu sudah menjadi takdir seorang wanita.


"Mana Annchi? Kenapa aku tidak melihatnya?" Fang Yin mengalihkan pembicaraan putrinya. Lian mendengus, bola mata indahnya melirik Dewa Tinggi Putra Mahkota. Suaminya itu tidak memperbolehkan putri kecilnya ikut karena suaminya tidak ingin putrinya terus-terusan menempel pada paman Kai. Selain menjaga perasaan putrinya yang semakin hari semakin dalam, suaminya juga menjaga kemurkaan Kai. Laki-laki itu pernah memarahi putri kecilnya karena putri kecilnya mengikuti Kai bahkan sampai ke dunia bawah. Dunia para iblis.


"Annchi di istana langit ibu." Lian memijit-mijit pelan kaki ibunya. Jari-jari lembutnya melancarkan peredaran darah pada kaki putih Fang Yin.

__ADS_1


"Ibu, Ayah adikku yang berhati mulia itu telah kabur." Adu Ba Xi'O dengan bibir mengerucut. Anak itu telah tumbuh menjadi pangeran muda yang tampan, namun sifat kekanak-kanakannya masih saja belum hilang dan hal itu hanya dia tunjukkan didepan orang-orang yang dia sayangi.


__ADS_2