Raja Iblis Mencari Permaisuri

Raja Iblis Mencari Permaisuri
Episode. 46


__ADS_3

"Aku sedang kesal, putramu kembali membuat keributan dan kali ini kepada kakek Dewa Agung dan juga kepada nenek. Putramu itu sangat nakal sayang ," adu Lian dengan suara manjanya.


"Bukankah dia putramu juga," Yuze menarik pinggang istrinya dan mendudukkannya di pangkuannya.


"Aku sedang marah, lagi tidak selera begituan," lirih Lian, yang mengira suaminya akan menerkamnya.


"Memangnya aku mau ngapain sayang, hm? Aku hanyla ingin memelukmu seperti ini, jadi berhentilah berfikir mesum," kekeh Yuze gemas.


"Itu gara-gara kamu yang mengajari aku setiap hari begitu, makanya pikiranku ini jadi mesum terus," gerutu Lian yang tidak mau di salahkan.


"Baiklah, kalau begitu ayok kita lakukan lagi, aku ingin menjenguk putriku," lirih Yuze dengan suara seraknya dan langsung mengangkat istrinya untuk memulai peperangan yang biasa di lakukan suami istri yang sudah halal itu.


Di istana raja iblis, Xi Chen mengembuskan nafas beratnya saat melihat istrinya tidur bagaikan mayat hidup. Bisa-bisanya istrinya itu tahan tidur seharian. Hari sudah malam tapi istrinya masih betah tidur dan tidak menyadari kehadirannya sama sekali.


"Apakah dia masih kelelah?" Guman Xi Chen sambil memandangi wajah cantik istrinya.


Xi Chen membaringkan tubuh jenjangnya disampingi Fang Yin, menghirup aroma khas dari tubuh wanita itu.

__ADS_1


"Aku masih lelah," guman Fang Yin dengan serak, saat tangan kokoh itu kembali menjelajahi tubuhnya.


" Aku saat ini sedang lelah, jadi aku butuh asupan untuk memulihkan tenagaku," balas Xi Chen seenaknya tanpa menghentikan tangan nakalnya. Fang Yin mengerutkan keningnya saat dirinya mendengar perkataan aneh dari suaminya itu. "Jika sedang lelah istirahat saja," batin Fang Yin dalam hati. Bukankah suaminya itu semakin kelelahan jika berhubungan, pikirnya kembali. Fang Yin membuka kedua matanya saat jari-jari ramping itu menyentuh area sensitifnya.


"Berhentilah menatapku seperti itu sayang," ucap Xi Chen dengan suara beratnya, Xi Chen menindih istrinya, bermain sambil menyentuh area-area sensitif milik istrinya. Malam ini Xi Chen akan mengisi full dayanya, mengingat besok dia akan membawa istrinya ke alam Phoenix. Xi Chen yakin ibu mertuanya itu akan menceramahinya sepanjang waktu seperti biasanya.


Xi Chen tidak habis pikir kenapa mertuanya itu memiliki sifat yang bertolak belakang dengan istrinya. Istrinya dulu terkenal dengan sifat pendiam dan juga sedikit angkuh. Tapi jika di pikir-pikir sifat mertuanya itu juga sedikit mirip dengan putri kesayangannya yaitu Chang Lian, sama-sama cerewet dan sedikit bar-bar.


Suara-suara yang saling bertautan kembali memenuhi kamar pengantin baru itu. Xi Chen tidak pernah berhenti melakukan penyatuan itu bersama istrinya Fang Yin. Xi Chen tidak perduli jika harus punggungnya yang menjadi sasaran empuk atas kemarahan istrinya karena dirinya tidak mau berhenti.


"Apa kau ingin membunuhku?" Fang Yin menatap tajam suaminya itu saat telah menyembur benihnya untuk yang kesekian kalinya ke rahim Fang Yin, dan laki-laki itu masih betah di atasnya.


"Ssttt, tidak baik berbicara seperti itu sayang," Xi Chen membungkam bibir yang sudah sangat bengkak itu, lantaran bibir itu berbicara hal yang sangat di benci Xi Chen. Fang Yin kembali memukul dada bidang suaminya saat suaminya itu dengan ganas menerkam kedua bibirnya, menjelajahinya sampai kedalam. Bibir Fang Yin terasa kebas, dirinya tidak bisa lagi merasakan permainan ganas dari suaminya itu.


"Kau lebih cantik jika seperti ini," Xi Chen menatap wajah Fang Yin. Pandanganya turun kebawah memperhatikan hasil karyanya untuk yang kesekian kalinya di leher putih itu. Tubuh istrinya juga penuh dengan tanda kepemilikannya. Xi Chen sangat bangga, apalagi melihat bibir Fang Yin yang begitu bengkak dan warnanya semakin mengkilat membuat Xi Chen ingin kembali mencicipinya.


"Cukup," Fang Yin menutup bibirnya, karena melihat gelagat suaminya itu yang hendak menciumnya kembali.

__ADS_1


"Oh. Ya sudah," Xi Chen akhirnya menenggelamkan kepalanya kembali kedalam bukit kembar itu, bermain dan menarik-narik pucuk kecil itu dengan mulut seksinya membuat Fang Yin kembali mengeluarkan suara manjanya. Fang Yin hanya bisa pasrah saja saat suaminya itu kembali membawanya memadu kasih.


"Aku berjanji setelah ini aku akan menghilang sejenak dari laki-laki buas ini," batin Fang Yin dalam hati. Sungguh dia tidak sanggup jika setiap hari suaminya itu menerkamnya. Bisa-bisa Fang Yin patah tulang dan tidak bisa berjalan dibuatnya. Saat ini saja tubuhnya sudah sangat remuk, apalagi dengan tanda cinta yang di berikan suaminya itu di dada dan ditubuhnya yang lain membuat Fang Yin bergidik ngeri melihatnya.


"Huuff," terimakasih sayang," bisik Xi Chen di telinga Fang Yin. " Istirahatlah, aku janji tidak akan menganggu tidurmu," Xi Chen mengusap peluh yang membanjiri pelipis istrinya. Fang Yin mengangguk patuh saja. Fang Yin merasa lega karena suaminya itu masih punya hati untuk membiarkanya tidur, karena satu malam ini Xi Chen menghajarnya habis-habisan sampai matahari terbit kembali baru laki-laki itu berhenti. Fang Yin sudah membulatkan tekadnya untuk menjauh dari laki-laki itu walau hanya sebentar.


Xi Chen duduk santai di temani pengawal sekaligus sahabatnya itu, saat ini Xi Chen sedang membahas tentang kepemimpinannya selanjutnya dialami iblis.


"Aku menolak, aku tidak ingin terikat, aku ingin bebas." Tolak Kai mentah-mentah.


"Jadi maksudmu aku juga tidak ingin hidup bebas bebas? Apalagi aku dan Fang Yin sudah menikah, aku ingin fokus membuat adik untuk Chang'er." ucap Xi Chen tak tau malunya, membuat Kai melongok.


"Jadi dia mengundurkan diri menjadi Raja iblis hanya ingin fokus main kuda-kudaan dengan Fang Yin? , batin Kai dalam hatinya.


" Aku tetap tidak mau apapun alasanmu" tolak Kai dengan tegas dan langsung menghilang dari tempat itu, membuat Xi Chen merasa frustasi.


Ingin sekali dirinya hidup tenang dengan Fang Yin tetapi Xi Chen tidak bisa. Xi Chen memiliki tanggung jawab yang mungkin sangat hina bagi orang lain, tapi tidak dengan Xi Chen . Walaupun dia harus menjadi raja dari alam kegelapan Xi Chen tetap harus melindungi rakyatnya dengan baik. Jangan sampai ada pertumpahan darah sesama alamnya seperti dulu. Xi Chen ingin alamnya hidup tentram dan bisa hidup berdampingan dengan alam lain.

__ADS_1


__ADS_2