
"Jun Hui sudah bertambah gemuk akibat ulah cucuku." Xi Chen menimpali perkataan istrinya. Lian dan Fang Yin mengangguk.
"Kenapa kau biarkan dia pergi, salju sedang turun lebat." Suara Xi Chen berubah menjadi berat.
"Annchi di temani Dewi pengawal ayah."
"Kau yakin cucuku itu tidak kabur lagi sama seperti sebelumnya?"
Lian mengangguk setengah yakin.
"Ayah, aku ingin berbicara dengan ayah berdua saja." Yuze tiba-tiba bersuara.
Xi Chen memicingkan matanya kemudian mengangguk. Xi Chen mengajak menantunya kesebuah ruangan yang tidak bisa di tembus atau didengar oleh orang lain karena ruangan itu sudah dilapisi sihir.
"Apa yang ingin kau bicarakan?"
Xi Chen langsung berbicara ke intinya .
"Tidak bisakah ayah menjauhkan paman Kai dari Annchi." Yuze mengungkapkan isi hatinya. Wajah Heng Yuze menyiratkan permohonan pada mertuanya. Hanya mertuanya yang mempunyai wewenang untuk menekan Kai. Awalnya Yuze berniat menjodohkan Annchi dengan Dewa perang kaisar langit tapi Yuze kembali berpikir, dia tidak ingin mempermalukan putrinya di kemudian hari.
"Kenapa aku harus menjauhkan Kai? Walaupun kau menantuku, kau tidak ada hak mengatur alamku." Xi Chen berucap dingin.
"Aku hanya tidak ingin melihat Annchi semakin terobsesi kepada paman Kai ayah." Yuze menunduk, dia tau di telah lancang. Walaupun dia Dewa yang di puja seluruh alam semesta, tapi Yuze tidak memiliki ambisi untuk melenyapkan Kai sekalipun dia mampu bahkan sangat mampu menghilangkan laki-laki itu. Tapi Yuze tidak ingin melakukan hal yang bisa membuatnya menyesal seumur hidup. Dia juga tidak ingin menanggung kebencian dari putrinya kesayangannya.
Cinta tidak salah, kita juga tidak tau pada siapa hati kita berlabuh. Cinta Tidak mengenal kekuatan ataupun kedudukan. Cinta itu suatu anugerah hanya saja putrinya mencintai sosok yang sangat jauh dari kata sempurna. Laki-laki itu hanya memiliki wajah yang tampan rupawan tapi tidak dengan sifat dan masa lalunya. Laki-laki itu sampah bagi semua alam.
"Baiklah." Setelah berpikir sejenak Xi Chen langsung menuruti kemauan menantunya. Kai juga sudah seharusnya mencari pengalaman yang lebih luas karena Xi Chen berniat pensiun dan memberikan tahtanya pada sahabatnya itu. Hanya Kai yang pantas meneruskan tahtanya.
__ADS_1
Xi Chen memasuki istananya, dia melihat Jun Hui yang sedang menikmati harinya. Xi Chen melirik kue kukus buatan putrinya di makan murid kesayangannya itu. Xi Chen mengembuskan nafas beratnya.
"Panggil Kai keruang kerja." Xi Chen mengeluarkan suara pimpinannya.
"Baik Guru." Jun Hui mengangguk walau dia sedikit bingung. Dia tidak merasakan kehadiran gurunya sehingga dia berani bersantai ria.
"Paman di panggil guru." Jun Hui mengetuk pintu kamar Kai. Jun Hui yakin laki-laki itu belum di alam kematian sehingga dia hanya mengetuk sekali lalu pergi dari sana. Jun Hui takut pamannya murka jika dia terus-terusan mengetuk pintu kamar Kai.
Kai membuka pintu kamarnya, dalam sekejap dia sudah duduk tenang di hadapan Xi Chen.
"Aku tidak suka berbasa basi, di dunia bawah sedang terjadi kekacauan, aku ingin kau membereskan masalah itu kesana dan memimpin dunia bawah itu selama aku tidak menarik perintah ku." Xi Chen berucap tegas.
"Baik yang Mulia." Kai bersujud ala-ala bawahan. Rajanya saat ini sedang berada di posisi serius jadi Kai harus menempatkan posisinya.
"Kau tidak bertanya." Xi Chen menghentikan langkah Kai yang hendak keluar dari ruangan itu.
"Kenapa aku harus bertanya dengan perintah mutlak yang kau berikan." Kai berucap datar, dia bukan sosok yang bodoh sehingga dia tidak tau apa yang sedang direncanakan sahabatnya sekaligus rajanya itu.
"Aku ingin kau mencari pengalaman yang lebih luas. " Xi Chen berucap tenang walaupun hatinya sedikit tertekan. Kai tertawa sinis.
"Aku tidak butuh pengalaman, karena kau tau sendiri bagaimana pengalamanku selama ini. Dan untung saja kau memberikan perintah ini setidaknya aku bisa hidup tenang." Kai berbicara penuh penekanan. Kai meninggalkan Xi Chen yang mematung mendengar perkataannya.
Sahabatnya itu terlalu jenius, dia belum mengatakan yang sebenarnya tapi dia sudah mengerti maksud dirinya memberikan tugas itu.
Kai memasukkan barang-barang penting miliknya ke ruang di mensi. Jun Hui terkejut melihat paman Kai yang seperti akan pindah dalam waktu yang cukup lama.
"Paman mau kemana?" Jun Hui bertanya heboh.
__ADS_1
" Mulai sekarang aku akan tinggal di dunia bawah alam iblis. Jagalah istana ini, sudah seharusnya kau memiliki tanggung jawab." Kai berucap datar dan masih membereskan barang-barangnya tanpa menghiraukan Jun Hui yang terkejut batin.
"Paman, kenapa harus paman yang pergi? Walaupun dunia bawah sering terjadi kekacauan, tapi guru tidak pernah mengirim paman kesana. Jika paman pergi siapa yang menemani ku." Jun Hui mulai merengek layaknya anak kecil. Jun Hui belum bisa mengemban tugas yang akan diberikan kepadanya. Hidup Jun Hui selama ini terbilang santai karena masih ada Kai yang mengontrol kehidupan alam iblis.
Kai melihat Jun Hui dingin. Bocah kecil itu terlalu hidup enak selama ini.
"Berhentilah mengeluh, wajah jelek mu itu tidak cocok mengeluh." Kai berucap datar. Jun Hui mendengus, paman Kai sungguh membuatnya tidak berkutik.
"Aku ikut dengan paman."
Kai memicingkan matanya.
"Siapa yang melindungi gurumu yang bodoh itu jika kau ikut."
"Masih banyak pengawal yang melindungi guru. Pengawal A dan D Juga sudah selesai dari tugasnya. Mereka saat ini hidup santai." Jun Hui berbicara serius.
"Hanya Kau yang di percayai guru selain aku, jadi berhentilah mengoceh. " Kai langsung menghilang dari ruangan itu. Meninggalkan Jun Hui yang tiba-tiba merasakan kesepian.
"Paman tidak tau saja, Dewi kecil akan tetap menunggu paman. Paman laki-laki pengecut" Guman Jun Hui kesal yang menganggap paman Kai sengaja pergi hanya untuk menghindari Dewi Annchi.
Fang Yin melihat wajah dingin suaminya.
"Apa kau sedang memiliki masalah besar?" Fang Yin bertanya hati-hati pasalnya Fang Yin sudah mengetahui apa yang terjadi pada suaminya dan juga Kai. Kai sosok yang setia pada Xi Chen, tapi dalam sekejap suaminya menjauhkan Kai dari kehidupan tenangnya.
"Aku melakukannya untuk cucu kita." Mulut Xi Chen bergetar. Kai sahabatnya yang selalu menemaninya dalam suka dan duka. Walaupun mereka sering selisih paham tapi persahabatan mereka di mulai dari kehidupan sebagai Dewa yang suci sampai keduanya masuk ke dunia ke gelapan.
Fang Yin memeluk suaminya dengan erat. Tidak mudah memang mengambil keputusan. Tapi suaminya harus bertindak sedikit lebih kejam. Apalagi ini juga demi kenyamanan Kai yang selalu saja tidak suka jika di ganggu cucu tersayangnya yaitu, Annchi.
__ADS_1