RATU YANG TERBUANG

RATU YANG TERBUANG
Bab 76 - Pembicaraan Leonardo dan Aaron


__ADS_3

“Apa yang kalian cari di rumah ini!”


Kata-kata itu sontak membuat keduanya menoleh ke arah sumber suara. Freya berbalik, senyumnya semakin mengembang melihat sosok tersebut.


“Kakak kau kembali, aku pikir aku tidak akan pernah bertemu denganmu lagi,”


Ia langsung memeluk sang kakak. “Kakak di mana ibu dan ayah? Kenapa mereka tidak mendengar panggilanku.”


Bereda dengan Freya, sang kakak tak terlihat senang melihat Freya, ia menatap sinis sang adik, meski telah lama tak bertemu.


“Kau ingin tahu di mana ibu dan ayah, mari kutunjukkan.”


...****************...


Di saat bersamaan, Aaron telah datang ke Lezarde, dan kini akan menemui Leonardo di istananya, ya mungkin tepatnya di istana permaisuri.


Saat Aaron di arahkan ke kamar Permaisuri, ia dapat melihat Leonardo yang duduk termangu, menatap pemandangan di luar jendela.


Aaron terdiam melihat kamar yang tak berubah sejak 10 tahun yang lalu, bahkan cat di dinding pun mulai pudar.


Menyadari kedatangan Aaron, Leonardo menoleh ke arahnya, dan tampak senyum di wajah Leon.


“Selamat datang sahabatku.”


"Apa perjalananmu lancar?"


“Leon, di mana Freya, kau bekerja sama dengannya kan?”


“Aku tidak mengharapkan ini darimu Leon, jangan ikut campur dengan urusanku.”


“Sekarang di mana dia, serahkan dia padaku!”


Berbeda dengan Aaron yang kesal, wajah Leonardo tampak tenang. “Freya dia manusia, bukan boneka, Aaron.”


“Kau tidak bisa mengatur manusia lain sesukamu.”


“Aku di sini tidak untuk mendengar ceramahmu Leonardo.”


“Aku tidak sedang menceramahimu, aku mengatakan kebenarannya.”

__ADS_1


“Sekarang katakan padaku apa dia ada di Tibelia?” tanya Aaron yang tak peduli.


“Ya, dia memang ada di Tibelia, kau bisa mendatanginya, tapi jika kau membawanya dari Lezarde, kau berhadapan denganku,” ucap Leonardo dengan wajah yang berubah serius.


“Leonardo kau sahabatku, kenapa kau malah membelanya?”


“Justru karna kau sahabatku aku melakukan ini.”


...****************...


Kembali ke Tibelia, Freya tak dapat mempercayai apa yang dilihatnya, dua kuburan bertuliskan nama kedua orangnya, membuat kesenangannya sirna ketika.


Freya tertawa hampa, “Ha, ha, tidak mungkin, tidak. Kakak ini tidak mungkin kak, katakan padaku!”


“Inilah kenyataannya.”


Mendengar kata-kata sang kakak, Freya merasa sesak, dunianya seolah hancur seketika itu, ia terduduk di depan makam kedua orangnya, menangisi nasibnya yang begitu buruk.


“Tidak, ini ... tidak mungkin,”


“Tidak.”


“Ayah, ibu, kenapa kalian meninggalkanku?”


“Kenapa!”


“Kenapa nasibku seburuk ini!”


“Mereka tidak meninggalkanmu, kaulah yang meninggalkan mereka.”


“Berkali-kali aku mengirimkan surat jika mereka sedang sakit, tapi kau tak pernah menjawabnya.”


“Di saat mereka membutuhkanmu, kau malah mengirim uang dan surat agar tidak menghubungimu lagi.”


“Freya mereka hanya membutuhkan kehadiranmu di sisa-sisa kehidupan mereka, tapi kau tak pernah ada, sebegitu baikkah menjadi seorang pelayan di sana? Sampai kau melupakan kedua orang tuamu?”


Di sela-sela tangisnya, Freya menggeleng, “Aku tidak pernah mendapatkan suratmu kakak.”


“Aku juga tidak pernah membalas suratmu seperti itu.”

__ADS_1


"Tidak pernah sama sekali bahkan."


Freya mulai mengingat masa-masa ia berada di istana, dan menyimpulkan dengan cepat siapa pelakunya. Kebencian akan Aaron kini memenuhi Freya.


Aaron aku tidak pernah menyesali kepergianku, aku akan selalu membencimu. Freya.


Aku tidak akan pernah memaafkan perbuatanmu. Freya


Di saat bersamaan, tepatnya di Lezarde, Aaron masih berbicara dengan Leonardo.


“Jangan sampai kau menyesalinya Aaron.”


“Tidakkah kau melihat bagaimana diriku sekarang?”


“Leonardo, Freya bahkan diuntungkan dalam pernikahan ini, dia menjadi permaisuri dan mendapatkan banyak kekayaan.”


“Hal itu tidak bisa membuat seorang yang menyukai kampung halamannya bahagia. Aaron aku pun pernah mengatakan ini dulu, dan lihat apa yang terjadi.”


“Dia wanita baik, meski dia tahu berasal dari desa, ia tetap belajar dengan keras menjadi seorang permaisuri, dia berusaha menerimamu meski kau tak menganggapnya.”


“Tapi aku membayarnya dengan kekuasaan, di hidup nyaman di istana dari pada di desa kecil itu.”


Leonardo tertawa kecil, “Tapi kau juga lupa menanyakan perasannya terhadapmu, kau lupa memperhatikan dirinya, seolah-olah dialah yang menginginkan posisi tersebut.


“Aku salut padanya yang mau bertahan dengan seorang pria yang tak ia cintai selama 10 tahun lamanya.”


“Bahkan rela mengandung anak dari pria yang tidak ia cintai itu.”


Ekspresi Aaron berubah mendengar kata terakhir Leonardo. “Dia hamil?”


Leonardo mengangguk, “Kau tahu keinginan terbesarnya apa? Membesarkan anaknya sendiri tanpa campur tangan istana, kau tahu maksudnya itu.”


“Aku persilakan jika kau ingin pergi ke Tibelia, silakan bertemu dengannya, tapi jika kau membawanya dari sini kau berhadapan denganku.”


Aaron mengingat surat-surat yang dikirim oleh kerabat Freya, pasti kini ia telah tahu tentang kematian kedua orang tuanya, dan Aaron tidak perlu menebak lagi bahwa Freya pasti sangat marah dan membenci dirinya.


“Jangan kau mengikuti jejakku Aaron, dulu kau benci akan perbuatanku, tapi kini kau mengikutinya.”


“Kau sudah sangat jelas melihat akhir dari kisahku, apa kau ingin mengikuti akhir yang sama?”

__ADS_1


Aaron terdiam, ia tak dapat membalas perkataan Leonardo. Niatan ingin menjemput Freya ia urungkan, benar apa yang dikatakan sang sahabat, dan Aaron tidak ingin mengambil langkah yang salah.


__ADS_2