
Leonardo kembali ke istana, ia segera mengikuti apa yang diinginkan oleh Kedrick dan itu kali pertama dirinya menulis surat untuk Calista.
Ia begitu sulit untuk menulis suratnya, bingung kata-kata apa yang harus ia tulis.
......................
...Calista aku Leonardo. Aku menulis surat ini menggantikan dirinya, kesehatannya memburuk sejak dua bulan yang lalu, bahkan kini ia tidak bisa bangkit dari tempat tidurnya.
...
...Ayah menyuruhku untuk menulis surat ini dan mengabarkan kondisinya. Calista kuharap kau dan putraku baik-baik saja di sana, kau tahu bahkan sekarang Freya telah melahirkan dua putra kembar, dia sudah bebas dari Axios.
...
...Saat dia berada di Lezarde bulan lalu, Freya banyak bercerita tentangmu, kau yang begitu baik dan menjadi pemimpin di Rodelis membuatku takjub. Memang, di mana pun bintang berada dia akan selalu bersinar.
...
...Maaf jika dulu aku menutup sinarmu, maaf aku tidak bisa menjadi suami yang baik, dan menutup mata tentang segala kesulitanmu.
...
...Calista jika pun ada kesempatan bisakah aku mengunjungimu di sana? Walau memang hubungan ini mungkin tidak bisa diperbaiki, bisakah aku menjadi sahabatmu?
...
......................
Leonardo hampir tak sanggup menulis kata-kata terakhir, hubungan mereka adalah hal yang sulit bagi sang kaisar, menjadi sahabat setelah semuanya mungkin adalah hal yang mustahil.
Pria itu segera melipat surat dan memasukkannya ke amplop, tak lupa dengan segel penutup di tengahnya.
Selanjutnya sang kaisar menulis surat untuk Aaron, ia berniat mengirim keduanya sekaligus.
......................
...Aaron kuharap hidupmu di Axios baik-baik saja, aku ingin memberitahu kabar baik untukmu, bahwa Freya telah melahirkan. Ia melahirkan dua putra kembar yang mirip denganmu.
...
...Aaron kau bisa mendatangi Freya, tapi ingatlah bahwa kau tidak bisa membawanya pergi tanpa persetujuanku, dan aku berharap kau mengerti.
...
__ADS_1
...Hanya itu yang bisa aku sampaikan padamu Aaron, akan kutunggu kedatanganmu di Lezarde.
...
......................
Surat singkat untuk sang sahabat ia masukan juga ke amplop, ia menyuruh pelayannya mengirim dua surat tersebut.
Kesunyian kembali melanda, di ruangan itu Leonardo beranjak dari duduknya dan menatap pemandangan dari jendela, kolam tempat di mana Calista pernah terjatuh terlihat jelas.
“Andai dulu aku menolongmu dengan cepat, bukannya malah diam hanya karena ego.”
“Aku malu mengakui diriku mencintaimu, hanya karena kau wanita yang dijodohkan oleh ayah dan ibuku.”
“Aku kesal, terus-menerus harus mengikuti kemauan mereka. Aku ingin membuktikan bahwa pilihan mereka salah, tapi nyatanya ... Akulah yang salah.”
“Aku begitu mencintaimu, tapi aku tidak pernah mau mengakui hal itu.”
"Beribu-ribu kali pun aku mengelak, tapi tetap saja tak bisa, aku benar-benar mencintaimu sampai akhir."
...****************...
Beberapa minggu kemudian..
Surat yang dikirim Leonardo akhirnya tiba di Axios, betapa senangnya ia mendengar kabar tersebut. Aaron tanpa pikir panjang langsung memberitahu Alexa.
“Alexa maukah kau ikut bersama paman menemui ibu dan adik-adikmu.”
Alexa mengangguk cepat, “Ingin, aku sangat ingin paman, aku ingin melihat adikku juga, paman.”
“Ya, kalau begitu kau harus segera berkemas, kita akan pergi menemui ibumu.”
Viona yang mendengar kabar itu tampak terkejut sekaligus tak senang, bagaimana bisa Freya tiba-tiba melahirkan, itulah pikirnya.
“Bukankah wanita itu mandul, bagaimana dia bisa tiba-tiba melahirkan?"
“Jadi selama di istana dia juga sedang hamil, lalu apa alasannya menyembunyikan itu?”
“Baikah, aku tidak boleh panik, sebisa mungkin aku harus tenang, anak ini juga akan dicintai oleh kaisar.”
“Aku yakin dia juga akan disayangi.”
Viona membanting semua benda di meja riasnya, ia begitu kesal.
__ADS_1
“Kenapa selalu Freya!”
“Kenapa dia selalu merebut semuanya dariku!”
“Akulah yang pantas menjadi permaisuri, tapi dia merebutnya.”
Viona menangis, “Kenapa, kenapa semuanya tidak berjalan lancar untukku?"
...****************...
Di sisi lain, seorang wanita tengah berlatih pedang, matanya selalu membara dengan api kemarahan. Dia begitu keras berlatih untuk mencapai tujuannya.
“Elena!”
“Elena!”
Seorang wanita tua memanggilnya, ia berdiri di tengah kegelapan, memandang bangga pada sosok Elena.
Elena yang namanya dipanggil menoleh, dan datang menghampiri wanita tersebut.
“Ada apa?”
“Kau tahu, sebentar lagi apa yang kau inginkan akan terwujud.”
“Kau bisa membalas dendam, pria tua yang menjadi pahlawan di Lezarde itu kini terbaring lemah di ranjangnya.”
Elena tertawa mendengar berita tersebut, “Ha, ha, ha, aku akan membalas kalian semua, dan aku akan menjadi ratu.”
“Selene aku akan membalas semua perbuatanmu, ha, ha, ha!”
“Aku akan menuntut balas atas yang kau lakukan pada kedua orang tuaku.”
“Wanita tidak tahu diuntung, kau akan mendapatkan balasannya.”
“Dengar kau juga harus bersiap-siap, kau harus mengawasi Axios.”
“Baiklah, kau tenang saja, kerajaan-kerajaan itu harus runtuh, hanya kau yang berhak menjadi penguasa Elena, hanya kau.”
Elena tersenyum, matanya dipenuhi amarah dan ambisi, “Kita akan menyerang Axios dan Lezarde secara bersamaan.”
“Dua kaisar itu harus mati, mereka yang bekerja sama menghancurkan kerajaan Trodeim, mereka harus mendapatkan balasannya.”
“Tenang saja, sekarang sudah saatnya kau mulai berkemas dan melakukan perjalanan ke Lezarde, aku akan mengirimmu surat untuk memulai pemberontakan nanti.”
__ADS_1
“Ingat, jangan sampai terlihat, menyamarlah seperti rakyat yang lainnya,” ucap Wanita tua itu memperingatkan.
“Itu mudah, aku bisa melakukannya, kau pikir bagaimana aku bisa hidup sampai saat ini jika tidak begitu.”