
Saat membaca surat dari Leonardo betapa terkejutnya Calista, ia tak mengira jika sang ayah kini sakit parah, karna di surat sebelumnya Kedrick sama sekali tak memberitahu kondisinya.
Perasaan Calista kini berubah tak karuan setelah selesai membaca isi surat, ia senang Freya telah melahirkan dua bayinya dengan selamat, tapi di sisi lain ia sedih mengetahui kondisi sang ayah.
Belum lagi Leonardo yang meminta maaf lewat surat, membuat dirinya dilema, antara memaafkan atau tidak.
Memikirkan semuanya membuat air mata Calista mengalir begitu saja, ia tak tahu harus berbuat apa sekarang.
“Ayah, kenapa kau harus berbohong padaku.”
Theodore yang berniat pergi ke pasar, mengurungkan niatnya kala melihat sang ibu yang tampak cemas. Ia tanpa pikir panjang segera menghampiri Calista.
“Ibu ada apa?”
Calista menatap Theodore dan memberikan surat dari Leonardo. “Theo, kakekmu sakit parah.”
“Kakek sakit parah, tapi di surat sebelumnya dia tidak mengatakan apa-apa tentang kondisinya.”
“Itulah Theo, dia menyembunyikannya dari ibu.”
Calista beranjak dari duduknya dan menatap ke luar jendela, ia terdiam beberapa saat memikirkan keputusan apa yang akan ia ambil.
“Theo, sudah memutuskan, kita akan kembali ke Lezarde.”
“Ibu tidak bisa diam saja di sini. Ibu khawatir tentang kondisi kakekmu.”
Theodore mengangguk, “Ya, jika memang itu keputusan ibu, aku akan terus mendukung, lagi pula kembali ke Lezarde bukan pilihan yang buruk.”
Mendengar jawaban sang anak, tampak guratan senyum di wajah Calista, wanita itu menghampiri sang anak dan memeluk Theodore.
“Theo, kau adalah hadiah untuk ibu, kau adalah kekuatan ibu, terima kasih telah menjadi kebahagiaan ibu.”
...****************...
Akhirnya Aaron dan Alexa sampai di Lezarde, keduanya terlebih dahulu datang mengunjungi Leonardo, pria itu menyambut hangat kedatangan sang sahabat.
“Selamat datang di Lezarde, Aaron.”
“Dan selamat datang juga untukmu, gadis manis.”
Alexa tersenyum, “Terima kasih, atas sambutan hangat Anda, kaisar Lezarde.”
Setelah berbincang-bincang beberapa saat, keduanya memutuskan untuk pergi ke Tibelia hari itu juga. Alexa benar-benar semangat menuju Tibelia, ia begitu merindukan Freya dan begitu penasaran melihat wajah baru saudara sepupunya.
“Paman kapan kita akan sampai ke Tibelia?”
“Kita baru setengah perjalanan Alexa, besok kita akan sampai ke Tibelia.”
“Aku benar-benar tidak sabar melihat ibu lagi. Bisakah kita mempercepat perjalanannya?”
“Alexa kereta kuda ini sudah sangat cepat, jadi bersabarlah, ya.”
“Ya, baiklah, paman,” balas Alexa tak semangat.
...****************...
__ADS_1
Sesampainya di Tibelia, Aaron yang masih mengetahui rumah Freya, segera pergi ke rumah tersebut bersama Alexa. Awalnya Aaron bimbang untuk mengetuk pintu, setelah semua yang ia lakukan masihkah Freya mau melihatnya.
Pria itu semakin erat memegang lengan Alexa.
“Paman, ada apa?
“Oh, tidak, tidak papa.”
“Apa ini sungguh rumah ibu?”
Aaron mengangguk.
“Benarkah, paman tidak salah rumah?” tanya Alexa lagi yang melihat wajah Aaron tampak ragu.
“Tidak ini benar rumah ibumu.”
Di saat Aaron mencoba mengetuk pintu, tiba-tiba pintu terbuka, menampilkan seorang wanita yang tak asing bagi keduanya, wanita itu juga tampak terkejut akan kedatangan mereka, tapi berubah saat melihat senyum Alexa yang merekah.
“Ibu!” Alexa langsung memeluk Freya.
“Alexa, putri ibu, bagaimana kabarmu sayang kau baik-baik saja kan?”
“Aku baik-baik saja, aku sangat merindukanmu ibu.”
Freya tersenyum dan kembali memeluk sang keponakan, “Ibu juga merindukanmu.”
Mata itu kemudian menatap Aaron, Freya melepaskan pelukannya dari Alexa dan menyuruh sang keponakan untuk segera masuk.
“Alexa, apa kau ingin melihat adik-adikmu?”
“Kalau begitu masuklah.”
Setelah Alexa masuk ke dalam, Freya mulai berbicara dengan Aaron.
“Anda pasti sudah mendengar kabar tentang saya dari Yang Mulia, kan?”
Melihat Aaron hanya diam Freya tertawa, “Jangan diam saja, silakan masuk Tuan, saya bukan wanita yang akan memisahkan anak-anak dari ayahnya.”
Freya menunjukkan dua putra kembarnya pada Aaron dan Alexa.
“Wah, ibu mereka adik-adikku?”
Freya mengangguk.
“Mereka begitu lucu.”
Aaron terlihat senang melihat dua putranya, ia tak menyangka akan memiliki dua putra kembar. Melihat Aaron yang sangat ingin menggendong putranya, membuat Freya memberikan salah satu ke tangannya.
Pria itu tersenyum memandang wajah bayi mungil yang tertidur pulas di tangannya.
“Siapa nama kedua anak kita Freya, sudahkah kau memberikan nama untuk mereka?”
Freya menggeleng. “Jika Anda ingin memberi nama untuk mereka berdua maka silakan.”
“Bolehkah?”
__ADS_1
“Mereka berdua adalah putra Anda, tentu saja boleh.”
Wajah Aaron tak henti-hentinya tersenyum, Ia menamai anak pertamanya Charlie dan putra keduanya Cadee.
“Charlie Ryan Beatrix dan Cadee Ryan Beatrix, kelak kalianlah yang akan menggantikan ayah memimpin kerajaan.”
“Semoga kalian tumbuh menjadi anak-anak yang baik dan selalu mematuhi perkataan ibu kalian.”
“Wah ayah, itu nama yang bagus. Charlie pasti akan menjadi pemimpin yang hebat nanti,” ucap Alexa.
“Oh, ya, ibu belum membuatkan camilan untukmu dan paman, tunggu sebentar, ya, Alexa,” ucap Freya sembari meletakan Cadee ke ayunannya
“Iya, ibu, biar aku yang akan menjaga mereka berdua.”
Freya segera pergi menuju dapur dan membuatkan teh untuk Aaron dan putrinya, saat itulah Aaron datang menyusulnya.
“Freya,” panggil Aaron pelan.
“Ya, apa yang ingin Anda butuhkah?” tanya wanita itu tanpa menengok
“Freya aku ... Aku minta maaf.”
“Saya sudah memaafkan Anda jauh sebelum saya pergi dari Axios.”
“Jadi tak perlu minta maaf, karna hubungan saya dan Anda sudah berakhir sekarang.”
Ada rasa sakit yang Aaron rasakan saat mendengar ucapan Freya. Hal terburuk yang tidak pernah ingin Aaron dengar dari sosok Freya, akhirnya diucapkan wanita tersebut.
“Dan saya tegaskan pada Anda bahwa saya tidak akan kembali ke Axios,” ucap Freya lagi secara terang-terangan
“Ya, aku mengerti perasaanmu, aku mengerti, maafkan aku. Jika kau tidak ingin kembali ke Axios pun tidak masalah.”
“Tapi tolong jangan tolak segala pemberianku, selama kau di Tibelia, kau selalu menolak apa yang kukirimkan padamu.”
“Ya, aku tahu aku salah, aku benar-benar minta maaf.”
“Hanya itu yang aku minta darimu, mau bagaimana pun aku masih tetap suamimu dan kau juga anak-anak itu adalah tanggung jawabku.”
“Aku sadar selama ini memperlakukanmu begitu buruk, aku sadar bahwa aku bersalah atas semua penderitaanmu, untuk itu aku terima jika kau tidak ingin kembali ke Axios.”
“Aku memang orang yang egois, aku ingin menjadi orang yang satu-satunya memilikimu, aku takut kau akan pergi dariku dan karena itulah aku tidak pernah mengizinkanmu pergi ke Lezarde.”
“Aku tidak pernah merasa jika perbuatanku adalah hal yang salah, dan itu membuatku tak pernah mengerti akan penderitaanmu, maafkan aku.”
Freya berbalik dan menatap sosok Aaron sembari tersenyum, “Kenapa baru sekarang Anda merasa bersalah?”
“Kenapa tidak sejak dulu?”
“Anda tahu, saat Anda menikahi saya secara paksa, saya berusaha menerima Anda sebagai suami saya yang Mulia.”
“Andai Anda bisa memperlakukan saya dengan baik dan membebaskan saya pergi ke mana pun, saya pasti tidak akan berpikir untuk meninggalkan Anda.”
“Tapi apa, Anda membuat saya terkurung dalam sangkar emas.”
“Lalu apa tujuan Anda menikahi saya? Ya, untuk mengambil simpati rakyat dan menekan para bangsawan, saya tidak masalah untuk alasannya, tapi cara Anda memperlakukan saya adalah masalahnya.”
__ADS_1
“Saya masih menerima Anda di sini hanya untuk kedua putra kita, tidak lebih yang Mulia.”