RATU YANG TERBUANG

RATU YANG TERBUANG
Bab 85 - Rencana Perceraian


__ADS_3

Keesokan paginya Freya mendatangi istana seorang diri, ia menitipkan kedua putranya pada Violet. Mendengar bahwa Freya datang ke istana, sontak saja membuat Aaron segera menyuruh para pelayan membawa Freya ke ruang kerjanya.


“Freya aku tidak tahu jika kau kembali ke Axios, kenapa kau tidak memberitahuku sejak awal, kita bisa pergi bersama kemari.”


“Dan di mana kedua putra kita?”


“Saya tidak membawa mereka, tujuan saya kemari untuk..”


“Dengar Yang Mulia, saya tahu Anda orang yang baik dalam memimpin rakyat, Anda bertanggung jawab untuk kehidupan saya. Tapi saya tidak bisa melanjutkan pernikahan ini lagi bersama Anda, saya ingin kita bercerai.”


Bagai tersambar petir di siang bolong, Aaron diam membeku mendengar kata-kata Freya, seolah ada sesuatu yang menusuk dan menghunjam dadanya, seketika ia ingat kata-kata Leonardo


‘Bahkan rela mengandung anak dari pria yang tidak ia cintai.’


“Yang Mulia, apa Anda mendengar perkataan saya?”


“Yang Mulia?”


“Freya, selama 10 tahun pernikahan kita, apa kau mencintaiku?”


Freya terdiam sesaat mendapati pertanyaan Aaron, ia kemudian memandang kembali sang suami


“Jika saya membenci Anda saya tidak akan berpikir dua kali untuk mengakhiri hidup saya sendiri.”


“Di tengah apa yang Anda lakukan pada saya, saya mencoba menerima Anda, tidak membenci tapi juga tidak mencintai Anda.”


“Sekarang mungkin adalah akhir dari kisah antara saya dan Anda, Yang Mulia.”


“Freya bisakah kau memberikan aku kesempatan untuk berubah, biskah kita memulai kehidupan baru bersama?”


Freya menggeleng pelan, “Maafkan saya Yang Mulia, 10 tahun adalah saksi saya berkali-kali memberikan Anda kesempatan untuk berubah, tapi sedikit pun Anda tidak pernah menyadarinya.”


Freya tersenyum, “Kita akhiri ini dengan baik Yang Mulia.”


Aaron tak membalas, ia beranjak dari duduknya dan terdiam cukup lama sembari memandangi Freya.


“Baiklah, tapi aku butuh waktu, tidak sekarang.”

__ADS_1


Freya menyetujui hal tersebut. “Jika itu yang Anda inginkan, saya akan menunggu.”


“Sekarang saya permisi, maaf mengganggu waktu Anda.”


Aaron hanya diam melihat kepergian Freya, “Kapan, sejak kapan kita menjadi seasing ini?”


“Freya a-aku tidak sanggup untuk menceraikanmu.”


Malam dengan cepat kembali datang Aaron yang berada istananya sama sekali tak dapat tidur pikirannya terus saja tertuju pada Freya, ia ingat masa-masa dulu saat berada di Tibelia.


Mengingat tawa dan senyum Freya dulu membuat dadanya semakin sesak, semilir angin dan suasana malam seolah memeluknya dalam kerinduan.


“Freya, maafkan aku.”


Di saat bersamaan Freya pun juga tak dapat tidur, ia duduk di jendela sembari menatap malam. Memikirkan kembali kata-katanya pada Aaron, dan pada akhirnya jatuh pada kebimbangan.


“Aku tidak pernah menyesal dengan keputusanku, ya, aku tidak akan menyesal.”


...****************...


“Kau akan benar-benar pergi dari sini,”


Calista menangguk.


“Lalu bagaimana dengan harta keluarga Duke dan urusan lainnya?”


“Saya akan mengurusnya dari sana.”


“Calista, jika kau kembali ke sana, bisakah aku mengunjungimu?”


“Tentu Anda bisa mengunjungi saya kapan pun yang Anda inginkan.”


“Dan Calista bisakah aku berbicara hal lain denganmu?”


“Ya, apa yang ingin Anda bicarakan?” tanya Calista sembari menarik kursi dan duduk di hadapan Leonardo.


“Maaf jika aku lancang dan tidak tahu malu, Calista maukah kau menjadi permaisuri lagi?”

__ADS_1


Calista tai menjawab, apa yang dikatakan Leonardo sama saja mengajaknya untuk kembali menikah.


“Anda tahu bahwa saya akan kembali ke Rodelis, maaf, saya tidak bisa menerima penawaran Anda.”


“Oh, ini sudah malam, sepertinya saya harus segera pergi ke kamar, besok akan ada banyak pekerjaan yang menunggu saya,” balas Calista sembari beranjak dari duduknya.


“Maaf Yang Mulia, saya permisi.”


“Bisakah kau memberiku kesempatan Calista?”


Calista tersenyum, “Saya sudah memberikan Anda kesempatan, tapi untuk kembali bersama, itu tidak mungkin Yang Mulia.”


“Ketahulah bahwa aku masih sangat mencintaimu Calista, sangat-sangat mencintaimu, dan itu tidak akan pernah berubah!” ucap Leonardo yang ikut berdiri dari kursinya.


“Dulu hanya kata-kata itu yang saya ingin dengar dari Anda Yang Mulia, sangat-sangat ingin, tapi hanya kebencian yang saya dapat. Saya ingin memulai lembar baru dengan Anda, tapi tidak sebagai suami maupun istri.”


“Karna saya tidak ingin sakit untuk kedua kalinya, Yang Mulia.”


Wanita itu kemudian pergi meninggalkan Leonardo. Ia tidak sanggup mendengar kata-kata Leonardo, itu membuat perasaannya campur aduk antara sedih, senang, dan marah di saat bersamaan.


Memikirkan itu membuat Calista bimbang atas segala keputusan yang ia ambil.


“Tidak, aku tidak boleh bimbang, keputusanku sudah benar dengan meninggalkan Lezarde.”


...****************...


Setelah melewati hutan belantara, Elena dan pasukannya akhirnya sampai di Lezarde. Kala itu hari sudah sangat larut, tak ada aktivitas sama sekali di kotanya.


Tanpa menunggu waktu lama, Elena dan para pasukannya bergerak menuju istana, amarah dan dendamnya kembali membuncah.


“Selene aku akan membunuhmu, aku akan menghancurkan Lezarde.”


Di saat bersamaan hal sama terjadi di Axios, Anastasia mempersiapkan para pasukan untuk menyerang, bukan hanya di luar istana tapi di dalam istana.


Anastasia menyusupkan mereka menjadi kesatria Axios.


“Sudah saatnya kita menyerang, bersiaplah!”

__ADS_1


__ADS_2