
'Crack!'
Kembali ke Lezarde, Calista sangat terkejut saat dia menengok ke belakang dan melihat Leonardo dengan panah tertancap di punggungnya.
Calista menatap Leonardo, dan pria itu juga menatap Calista. Meskipun dia diam, matanya seolah-olah menjelaskan segalanya pada Calista.
“Leon!”
“Leon, panah di punggungmu!”
“Calista, ini hal terakhir yang bisa kulakukan untukmu.”
Leonardo langsung melepas anak panah di punggungnya dan roboh.
“Leon.”
Panah itu dilumuri racun oleh Elena, tapi bukan hanya racun biasa, ini adalah racun yang lebih mematikan. Meskipun Leonardo tahan dengan racun, dia tak bisa bertahan dari racun itu.
“Leon, Leon, sadarlah, Leon,” panggil Calista sambil menepuk pipi Kaisar.
Perasaan Calista berubah tak terkendali saat melihat Leonardo seperti itu. Untuk kedua kalinya, Calista melihat Leon menyelamatkan dirinya.
“Leon, tolong sadarlah.”
Setelah menyadari bahwa panahnya mengenai Kaisar, Elena merasa senang dan kembali melepaskan anak panah ke arah Calista.
“Bagus, kau datang di saat yang tepat, Kaisar.”
Namun, kali ini panah itu tidak mengenai Kaisar sama sekali. Selene muncul dan melindungi keduanya dengan perisai.
Wajah Selene penuh dengan amarah saat dia menatap Elena dengan kebencian.
Elena tertawa melihat Selene muncul, lalu keluar dari persembunyiannya dan mendekati Selene.
Kini, bukan busur panah melainkan pedang yang Elena genggam di kedua tangannya.
“Saudaraku, aku datang menepati janjiku. Bagaimana, kau suka dengan kejutan yang kuberikan?”
“Berani-beraninya kau menyentuh orang-orangku!” teriak Selene.
“Elena, aku tidak pernah mengharapkan ini darimu!”
“Aku pun juga tidak pernah mengharapkan kau membunuh keluargaku, Selene!”
“Kau membunuh ayah ibuku tanpa belas kasihan. Apa kau pikir aku akan diam saja?”
Selene tertawa, “Aku tidak akan mungkin membunuh tanpa sebab. Kau berbicara seolah-olah kau korban, Elena.”
“Aku membuatmu berada di posisi yang sama denganku, menyaksikan sendiri kematian kedua orang tuamu di depan mata. Bagaimana? Membahagiakan, bukan?”
“Tapi ayah dan ibuku masih membiarkanmu hidup dan memberimu tempat di istana!” teriak Elena.
“Begitu juga, aku yang membiarkanmu hidup!”
“Elena, aku tidak pernah mengharapkan ini darimu. Kaulah yang memulainya, maka aku akan mengakhirinya.”
Elena tertawa,“Silakan jika kau bisa.”
Keduanya terlibat pertarungan sengit, saling menatap dengan kebencian, dan denting pedang terdengar.
"Aku akan membalaskan kematian ayah dan ibuku Selene!"
“Aku tidak pernah melakukan sesuatu tanpa sebab, Elena.”
Saat itu, Trishan, Theodore, dan Isabela tiba. Mereka berhasil mengalahkan para pasukan pemberontak. Trishan dan Isabela menyaksikan pertarungan itu, sementara Theodore segera menghampiri Calista dan Leonardo.
“Ibu, apa yang terjadi pada ayah?”
“Ayahmu terkena panah beracun, Theo.”
“Kita harus segera membawanya setelah semua ini berakhir.”
Meskipun Theodore sangat khawatir, dia tetap berusaha tetap tenang. “Ayah pasti akan selamat, Ibu, jangan takut.”
‘Trang...!’
Pedang Elena terjatuh, dan Selene menggunakan kesempatan itu untuk menusuk Elena dengan pedang yang sama dengan yang digunakan untuk membunuh pamannya. Selene juga menggunakan pedang itu untuk Elena.
"Selama sisa hidupmu kau akan menyesal Selene!" teriak Elena
‘Track...!’
__ADS_1
Dengan amarah membara, Selene menancapkan pedangnya berkali-kali ke tubuh Elena.
“Selene, cukup! Jangan biarkan amarah menguasai dirimu!” teriak Calista yang tidak dapat menahan tangisnya melihat situasi ini.
Selene melemparkan pedangnya ke sembarang tempat dan berbalik, wajahnya yang penuh amarah berubah menjadi sedih bercampur rasa bersalah dan penyesalan, terlihat noda merah memenuhi tubuhnya.
“Aku adalah orang yang penuh dosa, jangan mendekatiku, Trishan,” ucap Selene saat melihat Trishan mendekatinya.
...****************...
Di Axios, meskipun Aaron mendapatkan luka tusuk dari Anastasia, dia masih bisa bertarung dan membunuh Anastasia dengan mudah. Walaupun pasukan pemberontak dikalahkan, Aaron juga mengalami luka berat di bagian lain.
Yang tidak disadari oleh Aaron adalah bahwa pisau yang digunakan Anastasia untuk menyerang dilumuri racun. Meskipun Aaron dapat bertahan dengan luka, dia tidak bisa bertahan dari racun itu.
Aaron merasakan kepalanya yang semakin berat, tapi dia masih berusaha keluar dari istana yang mulai terbakar hampir di setiap bagian.
Saat Aaron hampir sampai di depan pintu keluar, dia merasa tubuhnya semakin sakit dan kakinya tidak sanggup untuk melangkah lagi. Dia pun roboh di tanah, dan menyadari bahwa usianya tidak akan lama lagi. Di tengah kobaran api, dia menatap keluar.
Terlihat Freya yang datang sembari memapah Viona, berniat ingin menolong sang kaisar. Sesaat mata keduanya bertemu, Aaron tersenyum ke arah Freya.
“Maafkan aku, Freya.”
“Maafkan aku," lirihnya.
‘Brak...!’
Tiba-tiba pilar istana itu jatuh dan menutupi pintu masuk ke istana. Viona berteriak histeris melihat hal tersebut.
“Tidak, Yang Mulia!”
“Yang Mulia!”
Viona terduduk dan meratapi apa yang terjadi. Sedangkan Freya tidak percaya akan apa yang dilihatnya.
Ada rasa sakit yang begitu menyayat di hatinya, bersamaan dengan senyuman terakhir yang diberikan Aaron padanya.
Freya tidak bisa menahan tangisnya, baru beberapa hari lalu dia bertemu dengan Kaisar, dan Aaron baru bertemu dengan putranya sekali. Freya merasa tidak bisa menerima hal itu.
Dia tidak percaya bahwa Aaron telah pergi dari mereka. Dia hanya bisa diam, tidak percaya dengan kenyataan yang harus dihadapinya.
...****************...
Seorang wanita mengenakan gaun berwarna hitam memandangi dua kuburan dengan sedih di depannya. Wajahnya tampak murung dan penuh kesedihan.
“Sudah 14 tahun berlalu, dan anak-anak kita sekarang sudah beranjak remaja.”
“Aku tidak pernah menyangka kisah kita akan berakhir seperti ini.”
“Tapi jangan khawatir, mereka tumbuh dengan baik. Sekarang, mereka adalah kebahagiaanku.”
Freya kemudian meletakkan setangkai mawar di tengah-tengah dua kuburan tersebut. Nama Aaron dan Viona tertera di nisannya. Lama Freya memandangi makam suaminya sampai seorang wanita dan tiga anak mendekatinya dengan tatapan sendu.
Wanita itu menepuk bahu Freya. “Ibu, ayo kita kembali, sudah lama ibu berada di sini.”
Freya menatap Alexa, “Maafkan ibu, baiklah ayo kita kembali.”
“Ibu, i, ini, a, ayah?” tanya putri Freya.
“Ya, putriku, ini kuburan ayah dan ibumu.”
Namun anak perempuan itu menggeleng, “Ibu, ha, hanya ibu.”
Freya tersenyum dan mengelus rambut putrinya, “Ya, ibu tahu, tetapi dia juga ibumu.”
Cecil menegaskan, “Tidak, ha, ha, hanya, i, ibu.”
“Cecil, jangan begitu, ibu mengajarkan kita untuk tidak membenci siapa pun kan?” ucap Cadee.
“Jadi, selalu berbuat baiklah dan jangan membenci siapa pun.”
Wajah Cecil berubah sedih, “Maafkan, a, a, aku, ibu,” ucapnya sembari memeluk Freya.
Ya, Cecil adalah putri Viona. Ia dilahirkan beberapa hari setelah Freya dinobatkan menjadi ratu. Kala itu hubungan antara Freya dan Viona telah membaik. Bahkan wanita itu yang membantu Freya naik takhta.
Namun sayang, setelah melahirkan putrinya, nyawa Viona tak tertolong. Ia menitipkan bayinya yang baru lahir itu pada Freya.
'Freya aku titip dia untukmu, hanya kau satu-satunya harapanku Freya. Maaf atas segala kesalahanku, maafkan aku.'
“Ya, Sayang, lain kali jangan begitu.”
__ADS_1
Freya lalu membawa keempat anaknya pergi. Meski harus kehilangan suaminya dan mengurus anak dari orang yang ia benci, wanita itu tak menyalahkan keadaan. Malahan ia bahagia melihat putra dan putrinya hidup rukun. Walaupun Cecil memiliki kekurangan dengan cara bicaranya yang gagu, Freya tetap menyayanginya.
Sejak kematian Aaron, banyak hal yang berubah di Axios. Freya dinobatkan menjadi ratu menggantikan suaminya, dan Alexa kini telah menjadi seorang Duchess yang sering datang ke istana untuk membantu sang ibu mengurus kekaisaran.
Charlie dan Cadee juga beranjak remaja. Keduanya begitu mirip dengan Ayah mereka, rambut berwarna putih dan mata berwarna senada yang khas. Namun sifat keduanya jauh berbeda dari sang Ayah, mereka begitu penyayang dan berbakti pada sang ibu. Begitu pula dengan Cecil, rupanya begitu mirip dengan Viona, rambut pirang, hidung mancung, dan mata berwarna hijau, juga mengambil sifat Jenius sang ibu.
...****************...
Sesampainya di istana, Lidra dan Violet menyambut kedatangan ibu dan keempat anaknya itu.
“Bibi!” ucap ketiganya bersamaan sembari berlari memeluk Lidra.
“Hei, kalian bertiga, kalian merindukan bibi?” Mereka bertiga mengangguk.
“Bibi, kapan kau datang?” tanya Charlie.
“Saat kalian pergi ke pemakaman, bibi sudah sampai di sini.”
“Bibi, kau membawa hadiah untuk kami?”
“Tentu saja, tebak apa yang bibi bawa untuk kalian?”
“Permen?” tanya Cadee.
Lidra menggeleng, “Usia kalian sudah 14 tahun, bukan masanya lagi memberikan permen, coba tebak lagi.”
“Hmm, lalu apa bibi? Setiap kali kemari, kau selalu memberikan kami permen,” balas Cadee lagi.
Freya dan Alexa tertawa kecil. “Kalian seperti tidak tahu bibi. Bibi ini bekerja sendiri, dan butuh banyak biaya.”
“Makanya bibi tinggal di istana saja bersama kami, di sini sangat menyenangkan,” balas Charlie.
“Kalian ini, bibi harus bekerja, tidak boleh berpangku tangan pada orang lain.” Lidra mengeluarkan dua cincin perak dari kantongnya, lalu memasangkannya pada dua keponakannya.
“Cantik, bukan? Bibi membeli ini dengan uang tabungan, jadi jaga baik-baik.”
Charlie dan Cadee mengangguk.
“Sekarang pergilah ke meja makan, bibi membuatkan pai apel khas Tibelia untuk kalian.”
“Benarkah, bibi, ayo Charlie!” Cadee langsung menarik lengan kakaknya dan berlari menuju ruang makan.
Sementara Cecil masih berdiri di tempatnya, memandang Lidra penuh harap.
“Maaf, Cecil, sayangnya bibi sudah tidak punya hadiah lagi.”
Wajah Cecil berubah sedih, “Sungguh?”
“Ya, maafkan bibi, ya.”
“Ti, tidak apa-apa, bibi. Y, ya, yang penting, bibi bisa sampai di sini dengan selamat.”
Lidra tertawa melihat ekspresi Cecil, ia kemudian mengambil sebuah kalung berbentuk hati dengan permata berwarna biru di tengah, persis seperti cincin milik Charlie dan Cadee. “Bagaimana, kau senang?”
Cecil mengangguk, “Terima kasih, bibi,” balasnya sambil memeluk Lidra.
“Sekarang pergilah dan susul kedua kakakmu. Kau tidak ingin makan kue pai?”
“Ingin, bibi.” Cecil segera berlari meninggalkan Lidra.
“Maaf aku tidak tahu kau datang kakak,” ucap Freya.
“Tidak masalah, tapi ke mana permaisuri dan kaisar terdahulu Lezarde? Apa mereka sudah kembali ke Rodelis?”
Setelah menikah kembali, Calista dan Leonardo memilih untuk menetap di Rodelis. Leon memutuskan turun takhta lebih awal dan ingin hidup tenang bersama Calista. Namun, mereka seringkali datang ke ibukota untuk membantu Freya memimpin Axios dan menuntunnya menjadi pemimpin yang baik.
“Permaisuri Calista dan kaisar Leonardo pergi menemui putranya di Lezarde.”
“Oh, begitu.”
“Sebentar, Alexa, bibi juga punya hadiah untukmu.”
“Benarkah, aku juga dapat hadiah dari bibi?”
“Tentu saja, kau kan putri pertama adikku,” balas Lidra sambil memberikan tiga permen kepada Alexa. Hal tersebut sontak mengundang tawa ketiganya. Bahkan, Violet pun ikut serta tertawa melihatnya. Pembantu setia Freya itu kini menjadi kepala pelayan di istana.
'Aaron kini putra dan putrinya hidup bahagia. Sekarang, mereka hampir beranjak dewasa. Hanya beberapa tahun lagi, di mana Charlie akan naik takhta.' Freya.
Freya tersenyum memandang langit yang begitu cerah, secerah perasaannya hari ini. Saat ini ia bisa melihat putra dan putrinya tumbuh di depan mata, dan hal itu menjadi kebahagiaannya.
Semoga kisah mereka tak akan pernah terulang kembali. Freya.
__ADS_1