
Aaron memutuskan untuk kembali ke Axios hari itu juga, ia batalkan niatnya membawa Freya.
Kuharap dia baik-baik saja. Aaron.
Ia tahu sudah beberapa kali istrinya itu kehilangan calon bayinya, kata-kata Leonardo dan kondisi sang sahabat yang kini memprihatinkan membuatnya tersadar.
Mungkin dengan memberikan waktu untuk sang istri, Freya dapat kembali dengan sendirinya.
“Kita akan memulai semuanya dari awal Freya, maafkan aku.”
Aaron memasuki kapal, Leonardo lah yang melepas kepergiannya.
Setelah kapal Aaron pergi, pria itu memutuskan untuk pergi ke kediaman Kedrick. Ia berniat memberitahu fakta tentang Calista. Sesampainya di sana, Leonardo di sambut hangat oleh para pelayan.
Tak beberapa lama menunggu di ruang tamu, Kedrick pun datang menemui Leonardo, wajah pria itu juga tampak pucat.
“Selamat datang di kediaman saya yang mulia, apa yang Anda cari di sini?”
“Maaf jika aku mengganggu waktumu, Ayah. Aku ingin berbicara denganmu, ini tentang Calista.”
Mendengar itu Kedrick pun duduk, “Apa yang ingin Anda bicarakan tentang putri saya?”
“Ayah, Calista dan putraku masih hidup, mereka hidup bahagia di salah satu desa Axios.”
Raut wajah Kedrick masih tak berubah, ia menghela nafas panjang dan kembali menatap Leonardo, “Anda sudah tahu, saya sudah menduganya saat Anda pergi ke Axios.”
“Jadi selama ini Ayah tahu, berarti senjata yang saat itu kau beli untuk Theodore?”
Kedrick mengangguk.
Leonardo tersenyum, meski ia merasa sakit mendengar pernyataan sang ayah mertua, tapi ia senang bahwa Theodore masih diperhatikan oleh seseorang.
“Ayah karna kau sudah tahu, sepertinya tidak ada yang bisa aku bicarakan lagi padamu.”
“Baguslah, kalau begitu salam untuk Anda, semoga hari Anda menyenangkan Yang Mulia.”
Kedrick langsung beranjak dari duduknya, namun bersamaan dengan itu Kedrick hampir kehilangan keseimbangan, yang sontak saja membuat Leonardo ikut berdiri.
“Ayah kau sakit?”
“Saya tidak papa, Anda tak perlu menghawatirkan saya.”
Menyadari Kedrick membatasi diri darinya, membuat Leonardo perlahan mundur.
“Baiklah, jaga kesehatan Ayah, aku tahu Ayah masih benci padaku, aku minta maaf padamu Ayah.”
...****************...
Sudah beberapa minggu, Aaron di Axios, sekembalinya ia dari Lezarde, banyak yang berubah darinya. Pria itu lebih banyak diam dan menghabiskan waktunya bersama Alexa.
Viona awalnya senang, ia pikir posisi permaisuri akan segera ia dapatkan, namun meski Freya telah pergi, Aaron tetap menjadikan Viona sebagai selir.
__ADS_1
Viona kesal, tapi jika dibandingkan dengan anak dalam kandungannya, posisi permaisuri tak lagi penting. Ia lebih ingin bayinya lahir dengan keadaan sehat dan Aaron menyayanginya.
“Kapan yang mulia akan mengangkatku menjadi Permaisuri, padahal Freya tidak ada lagi di sini.”
Sembari mengelus perutnya, Viona berjalan mengelilingi taman. “Tidak peduli kau seorang putra atau putri, ibu ingin kau lahir dengan sehat, dan menjadi anak yang baik.”
Anastasia yang berdiri berjalan di belakangnya membalas, “Tapi akan sangat lebih baik jika yang lahir adalah seorang putra.”
“Dia akan menjadi penerus di Axios kelak.”
Viona tertawa, “Aku tidak berharap dia akan menjadi penerus Axios, cukup ibunya saja yang gila akan kekuasaan, tapi anaknya tidak.”
“Jika anak Anda menjadi penerus, itu pasti akan menguntungkan Anda juga.”
“Entah lah Anastasia, setelah aku mengandung, rasanya hanya bayi ini yang paling penting dari segalanya.”
...****************...
Di Rodelis, kehidupan Calista berjalan seperti biasa, tapi kini wanita itu sering sekali melamun. Sejak bertemu kembali dengan Leonardo, ingatannya terus saja memutar saat pria itu berlutut di hadapannya.
Calista benar-benar merasa aneh pada dirinya sendiri, dia masih membenci pria itu, tapi entah mengapa terus saja memikirkannya.
Theodore yang melihat sang ibu duduk diam di serambi rumah tanpa pikir panjang menghampirinya.
“Ibu kau melamun lagi, masalah apa yang kau pikirkan?”
Calista yang tersadar dari lamunan lantas tersenyum ke arah Theo.
“Dia bilang berkat Ayahmu dia bisa kembali ke Tibelia.”
“Yang menandakan dia benar-benar berubah Theo, dulu ayahmu tidak ingin ikut campur dengan masalah yang tidak ada kaitannya dengan istana, tapi sekarang...”
“Jadi apa keputusan ibu, apa ibu ingin kembali dengan ayah?”
Calista kembali tersenyum sembari mencubit pipi putranya, “Kau ini, ibu belum selesai berbicara.”
“Theo ibu rasa apa yang dikatakan bibi Sarah benar, sepertinya ibu harus memberikan kesempatan kedua untuk ayahmu.”
“Mungkin dengan itu hubungan kami bisa lebih baik, tapi untuk kembali bersama ... sepertinya tidak, Theo. Ibu tahu ayahmu berubah, tapi ibu tidak bisa melupakan apa yang ia lakukan dulu pada ibu “
“Setiap mengingat bagaimana ayahmu berlutut, rasanya ibu ingin memaafkannya langsung saat itu juga, tapi di saat bersamaan ibu teringat akan apa yang ia lakukan dulu.”
“Tapi kata-kata Theo membuat ibu menjadi semangat untuk mengambil keputusan apa pun.”
“Ibu senang terhadapmu, Theo. Ibu bangga padamu yang menyayangi kami berdua, meski kami bukan orang tua yang sempurna untukmu, kau tetap ingin kami bahagia.”
“Theo, ibu harap kehidupanmu bahagia sayang, segala jalan yang kau ambil dipermudah, dan kau selalu menjadi orang yang menghargai siapa pun terlepas dari siapa dia.”
Theodore mengangguk, “Terima kasih ibu.”
“Jadi apa ibu akan kembali ke Lezarde?”
__ADS_1
Calista terdiam sesaat, “Mungkin nanti, tapi tidak sekarang, Theo. Ibu malah berharap kaulah yang pergi ke Lezarde, membawa surat balasan untuk kakek dan meminta maaf pada ayahmu.”
“Aku ingin saja pergi meminta maaf pada ayah karna sikapku, tapi siapa yang akan menjaga ibu di sini selama aku pergi?”
“Tidak masalah, ibu bisa menjaga diri sendiri.”
...****************...
Dua bulan kemudian...
Di istana, Leonardo lebih banyak merenung, Selene dan Trishan yang telah tahu bahwa Leonardo telah bertemu dengan Calista hanya bisa diam, mereka tak lagi berani untuk berkomentar.
“Padahal sudah dua bulan lebih sejak ia pulang dari Axios, tapi dia masih saja begitu,” keluh Trishan.
“Kita memang berhasil mempertemukan mereka, tapi bukan berarti itu bisa menyelesaikan masalah mereka Tuan.”
“Aku pikir sekarang Leonardo semakin banyak memikirkan kesalahannya dulu,” ucap Trishan lagi.
“Anda benar, semoga Yang Mulia bisa kembali seperti dulu, juga hubungannya dengan permaisuri dan putra mahkota bisa kembali membaik.”
Sesaat setelahnya, Leonardo datang ke ruang kerja, mendapati Trishan dan Selene ada di sana, ia menyapa.
“Trishan, Selene, sudah beberapa hari aku tidak melihat kalian, apa kalian sedang merencanakan pernikahan?”
“Apa yang kau bicarakan, Leon. Kami pergi ke Tibelia, Selene memintaku untuk ikut ke sana.”
“Oh, Selene, bagaimana kabar Freya, dia baik-baik saja?”
“Dia baik-baik saja, bayinya sudah lahir, ia mendapatkan dua putra kembar.”
“Sungguh?”
Selene mengangguk, “Saya dan tuan Trishan menjenguknya, kedua bayi itu mirip sekali dengan ayahnya.”
“Dan dia juga menitip salam untuk Anda, dia sangat berterima kasih atas batuan Yang Mulia.”
“Tungga tapi kenapa dia cepat sekali melahirkan? Saat dia kemari, perutnya tidak terlalu besar.”
“Ya, dulu saya pernah mendengar dari orang-orang, bahwa bayi bisa mengerti perasaan ibunya. Mungkin saat di istana Freya ingin kehamilannya tidak terlihat oleh siapa pun, dan putranya mengerti akan itu.”
“Memangnya bisa seperti itu?”
“Dulu saya tak percaya, tapi melihat faktanya langsung membuat saya percaya “
.
.
.
.
__ADS_1
Sekedar info dari Kleo, novel ini kemungkinan bakal tamat di bab 80 an ke atas, jadi cuma tinggal beberapa bab lagi.