RATU YANG TERBUANG

RATU YANG TERBUANG
Bab 83 - Perjalanan menuju Axios


__ADS_3

Malam harinya di Tibelia, Violet yang tengah membantu Lidra di toko kue keluarga Hilis tampak khawatir. Lidra yang melihatnya seperti itu pun datang menghampirinya.


“Violet ada apa?”


“Aku baru saja mendapat surat jika keduaku sakit.”


“Sungguh?”


“Ya, aku khawatir, katanya adikku sakit parah.”


“Kalau begitu tunggu apa lagi cepat pergilah ke Axios.”


“Tidak papa jika aku meninggalkan toko dan nyonya Freya?”


“Astaga kau ini, kau bisa kembali lagi ke sini jika adikmu sudah sehat.”


“Ayo cepat jangan membuang waktu, cepat bersiap-siaplah pergi, kebetulan masih ada kapal menuju Axios di sini.”


Violet mengangguk, wanita itu segera berlari pergi ke rumah Hilis, di sana ia segera mengemas barang-barangnya.


Melihat Violet tergesa-gesa, sontak membuat Freya bertanya.


“Violet kau ingin pergi ke mana?”


“Yang Mulia, saya izin untuk pergi ke Axios, adik kedua saya sedang sakit parah di sana.”


“Benarkah dia sakit, kalau begitu aku ikut bersamamu.”


“Yang Mulia tapi bagaimana dengan keselamatan Anda? Pergi ke Axios adalah hal yang bahaya bagi Anda sekarang.”


“Aku tidak akan pergi ke istana, aku menyewa penginapan.”


“Sudah lama aku memikirkan ini Violet, aku ingin mengurus perceraian dengan Kaisar.”


Violet terbelalak, “Sungguh, benarkah?”


“Yang Mulia saya pikir Anda tidak akan pernah mengambil langkah berani seperti ini.”


Freya tersenyum, “Ya, aku ingin benar-benar terlepas darinya dan memulai kehidupan baru di Tibelia, Violet.”


“Dan aku juga ingin menjenguk adikmu, aku harap dia baik-baik saja, aku ingat ketika dia bermain di istana bersama Alexa.”


Untuk sesaat Violet melupakan kesedihannya, “Saya akan mendukung penuh Anda yang Mulia.”


Akhirnya Freya dan Violet memutuskan untuk pergi ke Axios bersama, ia ingin hubungan antara diri dan Aaron cepat usai. Sebenarnya ada rasa takut bagi untuk kembali, tapi ia yakin Leonardo akan melindunginya.


“Kakak aku pergi, mungkin bulan depan aku baru kembali kemari.”


Lidra mengangguk, “Ya, sebenarnya aku takut jika kau kembali ke Axios, tapi jika kau ingin membereskan semuanya apa yang bisa kuperbuat.”


“Berhati-hatilah di sana, ya, jaga kedua keponakanku itu dengan baik.”

__ADS_1


“Ya, pasti.”


...****************...


Keesokan paginya, lewat merapati putih milik Selene, Calista mendapatkan surat dari Freya. Ia mulai merasa khawatir kala membaca isinya


Calista menghela nafas panjang, “Semoga dia baik-baik saja.”


“Apa pun itu keputusanmu, aku akan mendukungmu Freya.”


Di saat bersamaan kepala pelayan datang menghampiri Calista,


“Permisi Yang Mulia, maaf jika pertanyaan saya lancang, Anda akan menetap di sini kan? Jika iya, biarkan saya menyiapkan kamar Anda dan putra mahkota.”


“Maaf, paman. Tapi aku dan Theo tidak akan menetap di sini, kami akan kembali ke Rodelis.”


Wajah kepala pelayan berubah sedih, “Tapi bagaimana dengan Mansion dan peninggalan Duke, jika Anda pergi siapa yang akan mengurusnya?”


“Aku akan mengurus semuanya dari sana, Paman. Jadi jangan khawatir.”


“Yang Mulia, kami baru saja senang atas kedatangan Anda, kami bahagia bahwa Anda masih hidup, rasanya untuk membiarkan Anda pergi lagi adalah hal yang berat.”


“Maafkan aku paman, tapi tenang saja, aku dan Theo akan berada di sini lebih lama, aku harus mengurus beberapa hal sebelum pergi, mungkin selama satu bulan ini akan tetap berada di Lezarde.”


“Tapi tetap saja kan, Anda akan pergi lagi, bisa tidak jika Anda tinggal di sini saja?”


Calista tersenyum lalu menggeleng. “Maaf paman aku tidak bisa tinggal di sini.”


“Oh, iya, apa paman melihat Theodore?”


“Sungguh? Dia pergi tanpa membawa ibunya.”


“Sekarang seperti apa keadaan Lizel, Isabel mengatakan padaku jika tempat itu semakin maju benarkah?”


Sang kepala pelayan mengangguk, “Ya, Yang Mulia, sekarang Lizel menjadi daerah paling maju dari daerah lainnya.”


“Dan menjadi tempat yang sering kali dikunjungi baginda kaisar.”


...****************...


Di pasar ibukota Lezarde, tampak Isabela yang menjual bunga-bunganya di antara para padangan dan orang-orang yang berlalu lalang.


Di tengah keramaian tersebut, Isabela yang berniat kembali pulang setelah bunga-bunga yang ia jual tinggal beberapa, tak sengaja bertemu dengan Theodore.


Saat mata keduanya saling bertemu, tanpa pikir panjang Theodore langsung menghampiri Isabela, ia tersenyum melihat Isabela


“Isabela.” Panggil Theodore.


“Ya,”


Tak dapat dipungkiri Isabela pun terkesima akan ketampanan Theodore, perpaduan sempurna antara permaisuri dan kaisar membuatnya seolah seperti boneka hidup.

__ADS_1


“Apa kau masih mengingatku?”


Isabela mengangguk, “Tentu saja saya ingat, siapa yang tidak mengenal putra mahkota dengan mata merahnya yang khas.”


Theodore menggeleng, “Bukan sebagai putra mahkota, tapi Theodore, sahabatmu.”


Mendengar kata-kata pria tersebut sontak membuat Isabela mengingat masa kecilnya, jika Calista datang ke Lizel, ia pasti akan bermain dengan Theodore, meski singkat hal tersebut begitu melekat dalam ingatan Isabela.


Isabela tersenyum, “Saya pikir Anda akan melupakan hal kecil seperti itu, ternyata Anda masih ingat.”


“Tentu saja, mana mungkin aku melupakan sahabatku.”


“Sahabat, Anda masih menganggap saya yang rakyat kecil ini sebagai sahabat Anda? Sepertinya itu tidak pantas,” balas Isabela.


“Kenapa kau berbicara seperti itu, sudah kubilang aku Theodore, dan kini aku pun juga bukan seorang putra mahkota, jangan berbicara formal padaku,”


Isabela kembali tersenyum, “Tapi Anda putra kaisar, mana mungkin saya lancang.”


Theodore menghela nafas, “Tidak bisakah kau menganggapku sebagai Theodore saja? Aku akan sangat senang jika kau bisa menganggapku seperti itu.”


Isabela tertawa kecil, “Baiklah, Theo sahabatku.”


“Oh, iya kau ingin pergi ke mana?” tanya Isabel.


“Niat awalnya aku ingin pergi ke Lizel, tapi melihat Lezarde yang begitu berubah aku jadi mengitari banyak tempat, lalu tak sengaja bertemu denganmu di sini.”


“Kalau begitu ingin pergi bersama-sama? Kebetulan aku juga ingin pulang.”


“Dengan senang hati.”


Isabela dan Theodore berjalan bersama menuju Lizel, selama perjalanan keduanya berbincang tentang hidup masing-masing dan bagaimana kaisar sering kali mengunjungi Lizel.


“Terakhir kali Baginda kemari adalah saat di hari ulang tahunmu Theo, meski dia berhasil melanjutkan hidup, aku tidak pernah melihatnya tersenyum.


“Saat itu kulihat wajahnya tampak lebih sedih dari kunjungan sebelumnya, beberapa kali baginda menghela nafas saat aku menjelaskan tentang Lizel.”


“Apalagi saat dia memberi nama seorang bayi di Lizel, Baginda terdiam cukup lama memandang bayi tersebut, saat itu aku menyadari bahwa Kaisar merindukanmu.”


“Sungguh, ayahku memberikan nama seorang bayi?”


Isabela mengangguk.


“Kau tahu, saat aku masih tinggal di istana dulu. Ayah tidak pernah mau memberikan nama seorang bayi, meski para bangsawan memohon padanya untuk memberi nama anak mereka, ayah tetap tidak pernah mau,” jelas Theodore.


“Jika iya, berarti Cale adalah anak pertama yang Baginda kaisar beri nama,” balas Isabela.


Ya, hal itu bukan tanpa alasan, di Lezarde sendiri jika seorang kaisar atau permaisuri, mau memberikan nama untuk seorang anak, orang-orang percaya kebahagiaan dan kesuksesan dalam segala hal akan mengikuti anak tersebut.


“Cale, namanya cale?”


“Ya, baginda memberikan nama itu, memangnya kenapa?”

__ADS_1


Leonardo tersenyum, “Sepertinya ayah benar-benar menyesal akan apa yang ia perbuat. Cale adalah nama yang dulu aku inginkan jika bisa memiliki seorang adik.”


“Aku tak menyangka jika ayah masih mengingat kata-kataku.”


__ADS_2