
Di Mansion Keluarga Duke Kedrick, Calista terbangun kala mendengar suara keributan di bawah. Karena penasaran, wanita itu pun pergi ke lantai bawah.
“Paman, apa yang terjadi? Kenapa kalian begitu ribut?” tanya Calista yang melihat wajah panik para pelayan.
“Yang Mulia, para pemberontak menyerang Lezarde, dan kini tengah menyerang istana. Kita harus bersiap.”
“Apa? Istana diserang?”
Wajah Calista berubah panik.
“Yang Mulia, kami sudah menutup kediaman Duke. Anda dan Putra Mahkota harus pergi ke tempat yang lebih aman sekarang.”
“Kita tidak akan tahu akhirnya. Saya mendapatkan kabar dari para bangsawan lain bahwa mereka sudah mulai pergi dari Ibukota.”
“Sebaiknya Anda dan putra mahkota bersiap pergi dari ibukota. Jika terus di sini, mereka bisa saja menyerang kita, Yang Mulia.”
Calista menggeleng, “Tidak, paman. Aku akan tetap di sini. Aku akan pergi ke istana membantu Kaisar.”
“Tapi, Yang Mulia, Anda—“
“Paman, kau harus percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja.”
“Paman, siapkan para kesatria keluarga Duke. Aku akan pergi ke istana!” perintah Calista.
Wanita itu kemudian berlari menuju kamar putranya. “Theo, Theodore!"
“Theodore, buka pintunya, Nak!” teriak Calista sembari menggedor pintu.
“Ibu, ada apa? Kenapa ibu terlihat panik begitu?”
“Istana diserang, Theo. Ayahmu dan Lezarde dalam bahaya. Ibu akan pergi ke istana membantu ayahmu.”
Betapa terkejut Theo akan berita tersebut, “Ibu, sungguh, kalau begitu biar aku saja yang pergi. Ibu di sini saja.”
“Tidak, Theo. Ibu akan ikut. Ibu tidak ingin terjadi hal buruk pada ayahmu dan Lezarde ke depannya.”
“Apa yang terjadi nanti jika Lezarde jatuh ke tangan yang salah.”
“Baiklah, ayo kita pergi bersama, ibu.”
...****************...
Di sisi lain, para pasukan Anastasia pun telah memasuki istana. Mendapatkan serangan dari luar maupun dalam tentu membuat kesatria Axios kalah. Anastasia tertawa bahagia melihat kericuhan tersebut, bagaimana para pelayan pergi ke sana kemari, dan para bangsawan meninggalkan Ibukota.
Aaron yang mendengar istananya diserang langsung turun tangan, apalagi saat ia tahu dalang di balik semua itu adalah Anastasia. Sedangkan Viona, ia segera melarikan diri menuju Mansion sang ayah untuk meminta bantuan.
Satu persatu, Aaron mengalahkan para pemberontak tersebut, bahkan dalam jumlah banyak sekalipun ia mampu melumpuhkannya. Kini, amarah memenuhi diri pria tersebut, orang yang ia percaya sejak kecil ternyata berani menghianatinya.
“Aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri, Anastasia!”
Suasana begitu mencekam malam itu, suara denting-denting pedang berpadu dengan kobaran api yang mulai melahap bagian-bagian istana.
__ADS_1
Sesampainya di Mansion, Viona segera menemui sang ayah dan memeluknya.
“Ayah, kumohon bantu kaisar. Istana diserang, ayah.”
“Kumohon.”
“Viona putriku, tenanglah, Nak.”
“Ayah akan membantu kaisar. Itu adalah hal yang pasti. Ayah tidak tahu jika Anastasia bisa sejahat itu.”
“Sekarang, kau di sini saja, biar ayah dan pasukan kesatria keluarga kita yang akan membantu.”
“Kau mengerti, putriku.”
Viona menangguk. “Maafkan aku, ayah, jika aku pernah berteriak nyaring padamu.”
“Tidak, Papa. Sekarang, masuklah. Di luar sangat tidak aman untukmu."
Viona mengangguk. Setelahnya, Duke dan pasukannya pergi ke istana. Sedangkan Viona yang berada di Mansion, memutuskan untuk mencari Freya. Ia mendengar kabar bahwa wanita itu datang ke Axios. Beruntung, pelayan pribadi yang ia bawa mengetahui di mana Freya tinggal di Axios. Meski keadaan di luar cukup berbahaya, Viona tetap pergi mencari Freya.
...****************...
Calista dan Theodore membantu di Istana. Keahliannya dalam menggunakan pedang cukup membantu. Saat Leonardo melihat istri dan anaknya, ia begitu senang. Ia pikir mereka tidak akan membantunya.
“Fokus saja, Yang Mulia. Biar aku dan Theo yang mengurus bagian di sini.”
“Ya!”
Ketiganya kembali berpencar, Leonardo mengurus bagian barat istana, sedangkan Calista dan Theodore mengurus bagian timur. Akan tetapi, pasukan Elena tak ada habisnya. Selalu bermunculan terus-menerus.
Sampai saat mata Leonardo melihat wanita itu dari kejauhan hendak memanah Calista. Saat panah itu mulai melesat, Leonardo segera berlari ke arah Calista. Calista yang sibuk melawan seorang pemberontak tak menyadari panah yang melesat ke arahnya.
“Calista, awas!”
‘Craak…!’
Di saat bersamaan, hal sama terjadi pada Aaron. Saat ia tengah melawan lima pemberontak di depannya, Anastasia yang entah muncul dari mana langsung menghunuskan pisau dari belakang.
‘Craak…!’
Entah apa yang akan terjadi selanjutnya saat dua kaisar kini menghadapi kisah yang sama.
...****************...
“Jadi begitulah akhir dari kisah mereka."
Wajah anak perempuan berusia 11 tahun itu mengernyit, “Ayah, kenapa akhirnya kisah mereka begitu?”
“Cerita dongeng yang ayah buat kurang memuaskan. Jujur, aku tidak pernah mendengar dongeng yang seperti ayah ceritakan, tapi sayang aku tidak suka dengan akhirnya.”
“Hei, sekarang bukan itu yang penting. Ayah ingin kau mengambil pelajaran dari kisahnya. Katakan pada ayah pelajaran apa yang kau dapat?”
__ADS_1
Alice menjawab dengan malas, “Ya, aku mengerti tentang dongeng yang ayah ceritakan. Jangan pernah menyia-nyiakan orang yang mencintai atau menyayangi kita dengan tulus, dan kejahatan pasti akan selalu berakhir buruk.”
“Lalu, apa lagi? Ayah rasa banyak yang bisa diambil dari kisah yang ayah ceritakan.”
“Baiklah, tapi katakan dulu padaku akhir dari kisah mereka, kenapa ayah membuat ceritanya menggantung?”
Sang kaisar tertawa melihat tingkah laku putri semata wayangnya. Pria itu kemudian membuka tirai jendela yang menghadap langsung ke kolam. Namun bukan kolam yang menjadi fokus utama, melainkan dua orang yang tengah duduk sambil memandangi kolam tersebut.
Wajah sang putri berubah senang, "Kakek, Nenek ayah, kenapa kau tidak bilang jika mereka datang!"
Alice langsung keluar dari kamar, meninggalkan sang ayah sendirian. Saat anak itu membuka pintu, ia berpapasan dengan sang ibu yang ingin masuk.
"Alice, kau ingin pergi ke mana? Kenapa putri ibu terlihat terburu-buru?" tanya sang ibu.
"Ibu, kakek dan nenek ada di istana. Kenapa tidak katakan padaku sebelumnya?" sahut Alice.
"Alice, ibu baru saja ingin mengatakannya, tapi rupanya putri ibu sudah tahu lebih dulu."
"Baiklah, ibu. Sekarang aku ingin pergi menemui mereka," jawab Alice yang langsung berlari.
"Alice, hati-hati. Perhatikan langkahmu dan jangan berlari!" peringatkan sang ibu.
Melihat kelakuan putri semata wayangnya membuat permaisuri hanya bisa menghela nafas. Wanita itu kemudian mendekati sang suami yang masih diam sambil memandang keluar jendela.
Wanita itu mengikuti arah pandangan sang suami dan tersenyum. "Apakah kau menceritakan kisah ayah dan ibu padanya, Theodore?"
"Ya, dengan begitu putri kita bisa mengambil pelajaran, Isabel."
Isabela menyandarkan tubuhnya di bahu sang suami sambil ikut memandang keluar jendela. "Kau melakukan langkah yang benar."
Alice yang telah berada di hadapan sang kakek dan nenek lantas langsung berlari memeluk keduanya. "Kakek, Nenek, aku merindukan kalian!"
"Kakek, apa kau merindukanku?"
"Nenek, apa kau merindukanku?"
"Katakan, apa kalian berdua merindukanku?"
Mendapatkan pertanyaan bertubi-tubi membuat sang nenek tak dapat menyembunyikan senyum. Ia mencubit pipi sang cucu, "Ya, kakek dan nenek sangat merindukan cucu kesayangannya ini."
"Ha ha, aku juga merindukan kalian. Kakek, Nenek, kalian tahu ayah menceritakan dongeng untuk hadiah ulang tahun ke sebelasku."
"Tapi kalian tahu, putra kalian itu malah membuat akhir ceritanya menggantung. Ayah malah menunjukkan kalian berdua saat aku bertanya akhirnya. Aneh, bukan?" tuturnya.
Mendenar itu, Calista dan Leonardo saling pandang, mengerti bahwa sang anak menceritakan kisah mereka berdua, sehingga keduanya tak dapat menahan tawa.
"Hei, kenapa kakek dan nenek tertawa? Apanya yang lucu?" tanya Alice.
"Tidak, tidak ada yang lucu. Alice, ayahmu menunjukkan kami sebagai simbol bahwa akhirnya mereka kembali hidup bersama dan bahagia," jawab Leonardo.
"Tapi aku tidak bahagia."
__ADS_1
"Kenapa? Apa yang membuat cucu kakek tidak bahagia?"
"Di dalam dongeng ayah ada dua kisah bahkan tiga. Jika salah satunya berakhir hidup bahagia, lalu bagaimana dengan kisah lainnya?"