
Pagi yang tampak mendung di Tibelia, tepatnya di sebuah rumah sederhana, seorang wanita tampak senang akan kelahiran dua putra kembarnya, meski wajah keduanya benar-benar mirip dengan Aaron, tidak menjadi alasan bagi Freya untuk membenci anaknya sendiri.
Sang kakak, Lidra, juga senang akan kelahiran keponakannya, tapi ketika melihat Freya yang tengah mengayun kedua putranya, membuat wajah Lidra berubah iba.
Ia tidak bisa menutup mata, bagaimana para warga desa mencemooh sang adik sebagai wanita tak baik.
‘Wanita yang baru kembali setelah tahu hamil dari pria tidak jelas’
‘Wanita tidak tahu diri.'
‘Wanita tidak tahu malu.'
'Dia hanya mempermalukan Tibelia.'
'Setelah 10 tahun dia baru kembali kemari, sudah jelas dia wanita yang tidak baik.'
Awalnya Lidra juga berpikir sama seperti warga desa, tapi setelah mendengar penjelasan Freya ia merasa bersalah, Lidra awalnya juga tak percaya jika sang adik seorang permaisuri di kerajaan tetangga. Tapi Violet dan penjelasannya menjadi bukti nyata.
“Kau baik-baik saja dengan semua ini Freya?”
Freya mengangguk, “Lantas ingin seperti apa lagi, setidaknya aku punya kau, Lidra.”
“Freya aku tidak menyangka jika kehidupanmu seperti itu di Axios.”
“Aku hanya mendengar kata-kata ayah dan ibu jika kau menjadi seorang pelayan di sana, karna di suratmu pun juga tertulis begitu.”
“Ya, walaupun kami tahu pun, kami yang rakyat kecil ini tidak bisa berbuat apa-apa untukmu.”
Freya tersenyum, “Karna aku tidak ingin ayah dan ibu khawatir tentangku. Tapi ternyata akhirnya malah seperti ini.”
“Aku menyesal, tidak pernah ada untuk mereka di detik-detik terakhir. Tapi aku bersyukur kakak ada untuk merawat mereka.”
“Sebenarnya aku pun juga tidak sepenuhnya menjadi anak yang baik, aku baru kembali setelah sadar di bodohi oleh pria gila itu.”
“Itu pun mereka masih mau menerimaku, dari hadiah yang sebenarnya mahar itu, kami menggunakannya untuk membuka toko roti, dan seperti yang kau lihat sekarang, menjadi toko paling sukses di Tibelia.”
“Freya apa yang akan kau lakukan selanjutnya dengan anak-anakmu? Apa kau akan membesarkannya di Tibelia?”
“Ya, aku membesarkan mereka di sini kakak, tidak masalah orang-orang desa mencemoohku, toh beberapa tahun yang akan datang mereka akan lupa.”
__ADS_1
Lidra melihat ke arah dua putra Freya. “Semoga kalian berdua tumbuh menjadi anak yang baik, dan tak seperti ayah kalian.”
“Freya, apa kau sudah menentukan nama untuk mereka?”
“Belum, aku masih memikirkan nama yang bagus untuk mereka berdua.”
Tak lama Violet datang sembari membawa nampan berisi teh untuk adik dan kakak itu.
“Terima kasih Violet.”
“Sama-sama Nona Lidra.”
“Kenapa memanggilku Nona? Panggil saja Lidra aku bukan seorang bangsawan.”
“Violet, apa kau masih ingin ikut bersamaku? Aku tidak punya apa-apa lagi sekarang, bahkan untuk beberapa bulan ke depan tidak bisa menggajimu lagi.”
“Tidak masalah Yang Mulia, saya akan terus bersama Anda, meski Anda tidak menggaji saya sekali pun.”
“Lalu bagaimana dengan adik-adikmu?”
“Tidak perlu khawatir mereka hidup dengan baik di Axios, mereka juga tahu jika saya ada di Tibelia.”
“Ya, saya ingin.”
“Kalau begitu, selamat bekerja di toko roti Hilis. Mulai sekarang panggil aku Lidra dan dia Freya, mengerti?”
Violet kembali mengangguk.
“Freya kau tak usah memikirkan masalah biaya, kita bisa sama-sama bekerja di roti ayah dan ibu.”
“Terima kasih kakak.”
...****************...
Di Lezarde, tepatnya di Mansion keluarga Duke Kedrick. Leonardo tengah menjenguk ayah mertuanya yang terbaring sakit.
“Sudah saya katakan pada Anda berkali-kali untuk tak perlu datang dan menyusahkan diri Anda sendiri.”
Sembari terbatuk-batuk Kedrick berusaha duduk dan Leonardo membantunya.
__ADS_1
“Hati-hati ayah.”
“Saya baik-baik saja, jangan susahkan diri Anda untuk selalu datang menemui saya.”
“Tidak papa, aku sama sekali tidak merasa susah.”
Tak seperti sebelum-sebelumnya, kini Kedrick mau menerima kehadiran Leonardo. Hampir setiap hari pria itu menjenguk dirinya, ya, sejak dua bulan yang lalu kesehatan Kedrick mulai memburuk.
Sejak itu pula Leonardo selalu datang untuk melihat keadaan Kedrick, meski awalnya pria tua itu benar-benar tidak mengharapkan kehadiran Leonardo di rumahnya, tapi lama-kelamaan ia akhirnya terbiasa dengan kedatangan Leonardo.
“Ayah apa kata dokter tentang kondisimu?”
“Sama seperti sebelumnya. Saya juga tidak tahu sampai kapan terus begini.”
“Aku yakin kau akan sembuh Ayah, ingatlah bahwa kau masih memiliki Calista dan Theodore.”
Kedrick terdiam, dan setelahnya pria tua itu tampak tersenyum.
“Jika pun tidak ... masih ada Anda yang akan menjaga putri saya dan Theodore.”
“Selama ini saya dipenuhi akan kemarahan, dan menutup mata akan penyesalan Anda. Saya lupa bahwa setiap manusia tentu punya kesalahan, tinggal bagaimana ia menyikapinya, ingin berubah atau terus melakukan kesalahan yang sama."
Kedrick meraih tangan Leonardo dan memberikan cincin miliknya.
“Saya berikan ini untuk Anda. Kaisar terdahulu memberikannya pada saya, sekarang mungkin sudah saatnya cincin ini kembali pada pemiliknya”
“Saya tidak merasa usia saya akan panjang. Bahkan untuk bangkit dari tempat tidur saja rasanya begitu sulit.”
“Ayah jangan berkata begitu, aku yakin kau akan sembuh.”
“Jangan menyemangati saya seperti itu, saya sudah begitu tua.”
“Bisakah Anda menggantikan saya menulis surat untuk Calista? Katakan padanya bahwa saya baik-baik saja, dan tak perlu khawatir akan saya.”
“Ayah aku bisa menulis surat untukmu, tapi akan menyampaikan fakta dalam suratnya bukan kebohongan, Calista sendiri pasti tidak akan suka Ayah membohonginya.”
Kedrick kembali tersenyum, “Baiklah, Anda bisa menulis suratnya menggantikan saya, dan berikan saja ke kepala pelayan, dia akan mengirimnya pada Calista."
Leonardo mengangguk.
__ADS_1