RATU YANG TERBUANG

RATU YANG TERBUANG
Bab 88 - Estra Bab


__ADS_3

Trishan dan Selene, yang kini telah menjadi sepasang suami istri, tampak bersiap-siap untuk pergi ke Istana Axios di mana Charlie akan segera dinobatkan menjadi Kaisar.


“Bagaimana penampilanku, Selene?” tanya Trishan.


“Apa aku terlihat tampan?”


Selene tersenyum memandangi Trishan, pria yang begitu setia menunggunya bahkan sampai akhir dan tak keberatan jika Selene tak dapat memberikannya seorang anak.


Selene memeluk suaminya dan mereka ikut berkaca di cermin. Dilihatnya wajah-wajah mereka yang tak lagi muda dan uban sudah mulai memenuhi rambut keduanya.


“Trishan, apakah kau tetap menyayangiku meski aku tak dapat memberikanmu seorang anak?” tanya Selene.


“Selene, bahkan jika kita tetap tak bisa memiliki anak, aku akan tetap mencintaimu.”


“Lalu siapa yang akan meneruskan gelar Duke milikmu?” tanya Selene lagi.


“Mudah saja, jika Isabela melahirkan anak lagi, maka dia yang akan kita jadikan penerus, karena tidak mungkin dua anak yang menjadi pemimpin kerajaan.”


“Sekarang jangan pikirkan hal-hal yang membuatmu jatuh sakit, mengerti?”


“Karena sampai kapan pun aku akan tetap mencintaimu.”


Wanita itu tersipu malu mendengar kata-kata sang suami. Cinta yang diberikan Trishan begitu tulus padanya. Seringkali Selene membandingkan hidupnya dulu dan sekarang. Dia tak menyangka dirinya yang dulu dianggap hina, kini diperlakukan istimewa oleh orang lain.


Bagai mimpi bagi Selene bisa mendapatkan cinta yang sama seperti cinta yang diberikan ayah dan ibunya dulu padanya.


Ayah, ibu, dan guru, aku tidak menyangka bahwa ada seseorang yang memperlakukan aku begitu istimewa setelah semua yang terjadi. Selene


Kalian mengajarkanku banyak hal dan mengajarkanku arti dari sebuah ketulusan. Terima kasih, ayah, ibu, guru. Kini putri kalian bahagia dengan hidupnya. Selene


“Selene, Selene, kau baik-baik saja, istriku?” tanya Trishan.


“Ah, ya. Aku baik-baik saja,” balas Selene yang tersadar dari lamunannya.


...****************...

__ADS_1


Kereta kuda milik Duke berhenti tepat di halaman Istana, saat Trishan dan Selene turun, mereka dapat melihat halaman Istana yang begitu luas dan para bangsawan lain yang mulai berdatangan.


“Mari, Selene,” ajak Trishan melihat sang istri yang terdiam.


Saat mereka masuk ke aula pesta, tampaklah Theodore dan sang istri juga hadir bersama putri semata wayang mereka. Keduanya segera menghampiri sang cucu.


“Oh, lihat siapa ini cucu nenek yang begitu cantik,” ucap Selene.


“Tentu saja aku, nenek,” balas Alice sembari berputar di depan Selene dan Trishan.


“Trishan, lihatlah cucumu, kini dia sudah beranjak dewasa. Padahal dulu dia masih sangat kecil,” ucap Selene.


“Ya, Alice, dengarkan kakek, jika kau tidak ingin menjadi penerus ayah dan ibumu, kau jadi penerus kakek saja, ya.”


Alice membuang muka. “Tidak ingin, kakek tidak membelikan aku banyak mainan.”


“Hei, kau sudah beranjak dewasa, masih ingin bermain boneka?” tanya Theodore.


“Tentu saja, jika perlu boneka yang terbuat dari emas. Ah, itu bagus, kakek hadiahkan aku saat ulang tahun ke-17 nanti, ya.”


“Hei, kau ini ada-ada saja. Mana ada boneka yang terbuat dari emas?” ucap Trishan.


Mereka semua tertawa, betapa sang suami suka sekali bercanda dengan Alice, bergurau seakan tidak mengenal usia.


Tak lama, Calista dan Leonardo bergabung dengan mereka. Penampilan mereka pun sekarang sama seperti Trishan dan Selene di mana uban mulai tumbuh dan wajah mulai mengeriput.


Setelah beberapa saat, acara penobatan Charlie dimulai. Freya terlihat bahagia setelah para tetua mendoakan putranya. Apa lagi saat Charlie dimahkotai dan resmi menjadi Kaisar Axios.


“Ibu, jangan menangis. Kakak tidak akan menunggalkanmu,” ucap Cadee menenangkan.


“Benar, i, i, ibu, bukan hanya melindungi ibu, tapi juga Axios,” kata Cecil menambahi.


Freya mengangguk, dikelilingi putra-putri yang menyayanginya adalah hal yang paling membahagiakan bagi wanita itu.


Pesta pun dimulai. Freya asyik berbincang dengan Selene, Calista, Isabela, dan Alexa.

__ADS_1


Leonardo juga terlihat menikmati pesta bersama Trishan dan putranya. Sedangkan anak-anak mereka, Alice, Charlie, Cadee, dan Cecil, juga tampak akrab. Alice menceritakan kembali dongeng pada Charlie, Cadee, dan Cecil.


“Dan, kakak tahu akhirnya, ayahku malah menunjukkan kakek dan nenek. Katanya, akhirnya mereka seperti itu.”


“Yah, sayang sekali, padahal cerita dongeng yang ayahmu buat begitu seru, sayang sekali akhirnya tidak terlalu jelas diceritakan,” balas Cadee.


“Ya, kan. Sampai sekarang aku masih penasaran akan cerita itu, tapi ayah tidak mau menceritakannya lagi.”


“Jika itu terjadi di dunia nyata, pasti akan sangat seru,” kata Cadee.


Cecil memukul tangan Cadee dan berkata, “K, k, kakak, itu akan sangat mengerikan jika terjadi di dunia nyata.”


“Syukurlah jika itu hanya cerita dongeng. Kita tidak bisa membayangkan betapa sakitnya setiap perasaan karakter di sana jika itu terjadi di dunia nyata,” kata Charlie.


Ketiganya mengangguk setuju. Lidra yang mendengar pembicaraan mereka tersenyum.


Andai kalian tahu jika ini benar-benar kisah nyata. Lidra.


Di sisi lain, Freya dan Calista menatap Alice dan yang lain.


“Semua sudah berakhir, kisah kita tidak akan terulang lagi,” ucap Calista.


Freya mengangguk setuju. “Tidak akan pernah, sama sekali tidak akan."


*


*


*


*


*


Oke, kembali ke Kleo. Sesuai janji, Kleo menyelesaikan cerita ini hingga Tamat. Maaf bila agak telat daripada yang dijadwalkan. Soalnya di real life Kleo banyak kerjaan. Bahkan up bab tamat dan bab ekstra memakan waktu lebih lama karena Kleo ketiduran.

__ADS_1


Oh iya, Kleo ingin mengucapkan terima kasih kepada pembaca yang sudah setia menunggu, memberikan vote, dukungan, dan komentar-komentar yang masuk. Kleo membaca semua komentar tersebut dan merasa terharu serta senang membaca respons yang diberikan pembaca. Kleo merasa berhasil menyampaikan tema dan cerita yang ingin Kleo bawa.


Sampai jumpa di novel Kleo selanjutnya, See you😘.


__ADS_2