RATU YANG TERBUANG

RATU YANG TERBUANG
Bab 81 - Kematian Kedrick


__ADS_3

Saat hari menjelang malam barulah Calista dan Theodore sampai di Lezarde. Keduanya tak membuang waktu dan memilih cepat pergi ke kediaman Duke.


Para pelayan terkejut akan kedatangan Calista dan Theodore yang dikabarkan telah wafat 10 tahun yang lalu. Mereka segera menyambut kedatangan tuannya itu walau dengan perasaan campur aduk.


“Selamat datang kembali di Lezarde, yang mulia permaisuri.”


“Kami tidak menyangka bahwa Anda berdua masih hidup.”


“Paman ada di mana Ayah?” tanya Calista pada kepala pelayan.


“Tuan Ada di kamarnya Nona, Apa Anda ingin saya Antarkan?”


“Tidak perlu, biar aku sendiri yang pergi menemuinya paman.”


Calista berlari menaiki anak tangga, begitu juga Theodore yang mengikuti sang ibu dari belakang. Sesampainya di kamar sang ayah, Calista langsung berlutut dan memegangi lengan sang ayah.


“Ayah maafkan putrimu ini yang baru kembali sekarang.”


“Maaf baru menemuimu sekarang,” ucap Calista sembari menempelkan tangan sang ayah ke pipinya.


Betapa terkejut Kedrick menyadari kedatangan Calista dan Theodore.


“Calista kapan kau datang Nak, kenapa kau menangis?”


“Ayah kenapa kau tak pernah memberitahukan kondisimu padaku?”


“Kenapa ayah harus mengatakannya padamu, ayah baik-baik saja, ayah tidak ingin membuatmu khawatir.”


“Justru karna ayah tidak mengatakannya yang membuatku khawatir.”


“Ayah jika Leonardo tidak mengatakannya padaku, aku mungkin tidak akan tahu kondisimu, tolong jangan lakukan itu lagi, orang tua yang kumiliki hanya kau, Ayah, hanya kau yang tersisa.”


Kedrick tersenyum, ia berusaha bangkit dari tidurnya dan menyandarkan tubuhnya di dinding, itu pun dengan bantuan sang putri.


“Ayah jika kau tidak sanggup jangan paksakan dirimu untuk duduk.”


Kedrick menggeleng, “Aku masih sanggup untuk duduk, rasanya lebih nyaman berbicara jika begini.”


Pria tua itu lalu mengelus lembut rambut putrinya. “Kau tahu bahwa ayah tak lagi muda, putriku. Sudah puluhan tahun sejak ibumu meninggalkan kita.”


“Hanya tinggal menunggu saatnya bagi ayah untuk pergi dari dunia ini.”


Calista menggeleng, “Ayah jangan berkata begitu, apa ayah ingin meninggalkan putrimu ini sendiri?”


“Abella, masih ada Theo dan Leonardo sebagai pengganti ayah.”


“Anak dan suamimu akan melindungimu menggantikan ayah.”


“Lihatlah cucuku sekarang, betapa gagah dan tampannya dia, Theo jika kakek tidak ada, kau akan menjaga ibumu kan?”


“Kakek, aku selalu menjaga ibu sampai kapan pun.”


“Lihat ada putramu dan Leon yang akan selalu berada di sampingmu Abella.”


“Ayah, Leon bukan lagi suamiku, dan dia, dia hanya orang asing bagiku ayah.”


“Abella, aku tahu kau begitu sakit karna perlakuannya, tapi ayah harap kau bisa memaafkannya dan memulai hidup baru bersama Leonardo.”

__ADS_1


“Ayah dulu begitu menolak kehadirannya, tapi kau tahu sejak ayah sakit, hampir setiap hari Leonardo menjenguk ayah.”


“Saat dia di sini, saat ayah melihat wajahnya, hanya ada raut penyesalan yang terpampang di wajahnya Abella.”


Calista hanya diam, tak mampu ia membalas perkataan sang ayah.


“Ayah kita pikirkan itu nanti, sekarang istirahatlah, kondisi ayah akan memburuk jika terus begini.”


...****************...


Keesokan harinya di Tibelia, Aaron dan Alexa yang telah menginap sehari di rumah keluarga Hilis, akhirnya memutuskan untuk kembali ke ibukota.


“Ibu bisakah aku kemari lagi nanti?”


“Tentu saja, ibu akan menanti kedatangan Alexa kemari, adik-adikmu juga pasti akan senang.”


“Freya aku dan Alexa pergi jaga dirimu baik-baik, dan kumohon jangan tolak pemberianku lagi.”


Freya mengangguk, setelah keduanya pergi menaiki kereta Lidra dan Violet datang.


“Kaisar Axios sudah pergi?” tanya Lidra.


“Ya, mereka sudah pergi.”


“Syukurlah, kau tahu para warga desa mulai berbicara buruk lagi tentangmu. Bahwa kau hamil dengan seorang pria beristri.”


"Mereka berbicara seperti itu karana kehadiran Kaisar Axios dan keponakannya itu."


"Oh, aku sampai tak habis pikir dengan para warga desa yang suka sekali ikut campur."


“Ya, seharusnya kau mengasihani kami, karna kaisar itu, aku dan Violet terpaksa tidur di toko dan mendengar semua ocehan dari para warga desa itu."


“Ya ya, maafkan aku kakak.”


“Freya apa yang kaisar itu katakan tentang anak-anakmu?”


“Dia begitu senang atas kelahiran mereka dan memberikan dua putraku nama.”


“Oh, syukurlah, aku pikir dia akan marah dan memaksamu pulang ke Axios bersamanya, tapi untunglah dia sadar akan perbuatannya.”


Di sisi lain, tepatnya di istana Lezarde, Leonardo dikejutkan akan kabar tentang kondisi Kedrick yang memburuk.


“Lapor yang Mulia, kami mendapatkan kabar tentang kondisi tuan Duke yang semakin parah, kini beliau hanya bisa berbaring tanpa bisa duduk atau makan.”


“Apa!”


“Cepat siapkan kereta kuda, kita akan pergi ke mansion Duke!”


Leonardo segera beranjak, ia tinggalkan pekerjaan yang ada di atas meja, dan bergegas pergi.


Sesampainya di kediaman Duke Kedrick, Leonardo semakin terkejut kala melihat sang anak yang menyambut kedatangannya.


“Theo, kapan kau datang ke Lezarde, Nak? Kau baik-baik saja kan?”


Theodore mengangguk, “Aku baik-baik saja ayah, aku dan ibu sampai di sini kemarin malam.”


“Ayah, aku minta maaf atas apa yang kukatakan padamu di Rodelis, aku tidak bermaksud untuk menyakiti hatimu.”

__ADS_1


“Aku hanya ingin baik antara kau dan ibu sama-sama bahagia dan tidak ada yang menyakiti satu sama lain, maafkan aku.”


Leonardo tersenyum, betapa bangganya ia akan sosok putranya itu. “Tidak masalah, yang terpenting kau tak menyakiti ibumu.”


Calista kau selalu membuatku takjub, kau berhasil mendidik putra kita menjadi anak yang baik. Leonardo.


“Lalu bagaimana dengan kondisi kakekmu Theo, ayah mendengar kabar tentang kondisinya yang memburuk.”


“Justru karena itu aku menunggu Ayah, kakek ingin bertemu denganmu.”


“Baiklah, ayo kita pergi menemuinya.”


Theodore mengangguk.


Di kamar itu Leonardo dapat melihat Kedrick yang terbaring lemah dan Calista yang berlutut di sisi ranjang sembari memegangi tangan sang ayah.


Suasana sedih sangat terasa di kamar yang sering Leonardo kunjungi itu. Kedrick tersenyum mendapati kehadiran sang menantu dan cucunya.


“Leonardo kemarilah,”


Kali ini Kedrick tak lagi menggunakan bahasa formal, bahkan memanggil pria itu dengan nama.


Leon menuruti, ia ikut berlutut di samping Calista, sedangkan Theodore berdiri di belakang kedua orang tuanya.


“Leonardo, maukah kau berjanji padaku?”


“Tentang apa ayah?”


“Leon, aku merasa hidupku tidak akan lama lagi. Aku sudah tidak bisa menjaga Calista dan Theodore, tolong jagalah mereka untukku.”


“Ayah, apa yang kau katakan, tolong jangan bicara seperti itu,” pinta Calista yang tak dapat lagi menahan tangisnya.


“Abella p, pu, putriku, aku merestui j, jika kalian memang ingin menikah kembali, aku akan selalu mendukung kalian berdua,” ucap Kedrick lagi sembari menyatukan tangan Calista dan Leonardo.


“Ka, kalian berdua, jadilah orang tua uang baik untuk Theodore, dan kuharap kalian bisa memperbaiki hubungan kalian berdua.”


“Leonardo berjanjilah padaku kau akan menepatinya.”


Leonardo mengangguk, “Aku akan selalu melindungi Calista dan Theodore ayah, aku akan melindungi mereka.”


Kedrick kembali tersenyum, mata pria tua itu perlahan menutup dan beberapa detik berikutnya Kedrick tak lagi bernafas.


“Ayah!”


“Ayah!”


“Ayah, tidak, jangan tinggalkan aku dan Theo.”


“Tidak, tidak Ayah, jangan pergi!”


“Ayah!”


Tangis histeris Calista memecah suasana ruangan yang tadinya begitu sunyi, Leonardo yang melihat Calista seperti itu tanpa sadar memeluknya.


“Leon, ayah, ayah, dia pergi meninggalkan kita.”


Leonardo yang juga merasa sedih mengelus punggung Calista, mungkin dengan begitu Calista bisa sedikit tenang.

__ADS_1


__ADS_2