Reborn As Villain

Reborn As Villain
Side Story 1 : POV Vanessa Sera Ingrid.


__ADS_3

Aku cantik. Dan aku tahu itu.


Pernah ada seseorang yang berteriak "Putri Vanessa Secantik Malaikat".


Sayangnya, aku tidak suka hal itu, karena. Dibandingkan Malaikat, aku jauh lebih cantik.


Itu terbukti bagaimana sikap Ayah dan Ibu kepadaku. Mereka lebih menaruh perhatian yang lebih.


"Vanessa, kau sungguh putri kami yang cantik".


Itulah yang sering mereka katakan kepadaku, bukan hanya mereka tapi semua orang di seluruh staf yang bekerja di Istana mengatakan hal yang serupa.


(Aaahhh..... Senangnya, dipuji-puji seperti itu. Benar, aku ini yang tercantik, nomor satu di dunia dan yang paling di cintai oleh semua orang).


Sejak saat itu, aku memanfaatkan kelebihan ku ini untuk mendapatkan perhatian orang lain dan apa yang aku mau.


Tapi, untuk menyempurnakan itu semua aku harus belajar berbagai etiket yang biasa di pelajari oleh gadis bangsawan.


Demi bisa mempertahankan reputasi baikku di hadapan semua orang, aku pun memutuskan untuk belajar semua itu mati-matian.


Dari mulai belajar dansa, berjalan anggun, belajar piano dan semua hal yang dibutuhkan untuk menjadikan diriku sebagai perwujudan "Putri yang Sempurna".


Nilai-nilai yang aku dapatkan juga sangat memuaskan, bahkan aku juga disebut jenius oleh semua pengajar ku.


Iya, itu wajar karena selain cantik aku ini juga jenius. Aku bisa mempelajari semuanya dengan sangat cepat.


Berbeda dengan Ritzia Nee-sama yang sulit dalam setiap pembelajaran etiket nya. Meski kami ini bersaudara, nyata kami tidak pernah dekat satu sama lainnya.


Masing-masing dari kami memilih untuk memilih jalur yang berbeda. Bahkan saat di Istana kami jarang berpas-pasan dan berbicara.


Iya, aku tahu banget kok. Alasan kenapa Ritzia Nee-sama menjauh dariku. Karena aku selalu mendapat lebih banyak perhatian semua orang dari pada dirinya.


Wajar, jika dia membenciku. Dan juga aku tidak mau berurusan dengannya juga.


Terlepas dari hubungan buruk ku dengan Ritzia Nee-sama. Aku sadar bahwa hanya belajar etiket saja, itu masih belum cukup untuk meningkatkan reputasi ku di khalayak publik.


Karena tujuanku buka hanya untuk mendapatkan perhatian dari para bangsawan Kerajaan ini saja. Aku juga harus mendapatkan perhatian dari masyarakat secara keseluruhan.


Karena itu, aku sengaja menyertakan diri untuk ikut andil dalam acara sosial yang diadakan oleh para Bangsawan.


Rencana itu sukses besar.


Aku membaca berita di koran kota yang menuliskan artikel tentang diriku di halaman depan. Dan orang-orang mulai memuji ku sebagai "Putri Berbudi Luhur".


Jujur saja, aku tidak suka gelar itu karena kesannya terlalu norak untuk diberikan kepada Putri cantik dan sempurna seperti diriku.


Yah, tapi aku harus menahannya dan tetap tersenyum lembut jika ada yang memanggil ku seperti itu.


Berkat itu juga, aku jadi punya banyak pendukung di dewan menteri Kerajaan, para bangsawan juga banyak yang berusaha untuk mengajukan lamaran kepadaku. Begitupun dengan bangsawan dari luar Kerajaan.


Rupanya, pencapaian ku yang gemilang ini sudah terdengar sampai ke Kerajaan lain. Meski sebenarnya ini diluar rencana awal ku.


Awalnya, ketika aku menginjak usia 14 tahun nanti. Dengan memanfaatkan kejeniusan ku, aku ingin meminta Ayah untuk menjadikan diriku sebagai diplomat ke luar negeri.


Tapi, reputasi ku sebagai "Putri Berbudi Luhur" lebih dahulu tersebar sampai luar negeri.


Yah, mana pun tidak masalah buatku. Jika pada akhirnya berakhir sama.


(----------)


Hari ini, aku Vanessa Sera Ingrid sudah tiba di kota Linic. Pusat dari wilayah Arcadia.


Kenapa aku memutuskan untuk pergi ke daerah ini?


Beberapa hari yang lalu aku sedang mengingat soal aktivitas sosial ku di berbagai wilayah di Kerajaan Ingrid.


Bukan tanpa, alasan aku melakukannya. Semua ini kulakukan untuk semakin meningkatkan reputasi baik ke seluruh penjuru Kerajaan Ingrid.


Hampir semua wilayah sudah aku kunjungi, dan aku selalu mendapat kesan dan perlakuan yang istimewa dari semua tuan tanah dan rakyat di wilayah itu.


Sekarang, tinggal 1 wilayah yang belum aku jamah yaitu wilayah perbatasan yang berdekatan dengan Laut dan di kelilingi pegunungan, Arcadia.


Karena itu, aku meminta izin kepada Yang Mulia untuk pergi menuju wilayah itu. Tapi, ada yang sangat aneh.


Ayah biasanya akan panik jika aku meminta untuk pergi berkunjung ke wilayah lain. Namun, entah mengapa saat aku bilang ingin pergi ke Arcadia, Ayah menjadi sangat bersemangat dan bahkan mengizinkan ku tanpa banyak alasan.


Yah, apapun alasan dibalik itu semua aku tidak peduli. Yang penting adalah tindakanku sekarang.


Jujur, begitu aku sampai di kota Linic pusat wilayah Arcadia. Tempat ini tidak terlalu istimewa seperti wilayah-wilayah lain yang pernah aku kunjungi.


Bangunan biasa saja, jalannya pun biasa walau cukup bersih. Dan fasilitas di kota ini terlalu standar.


Belum sampai disitu saja, cuaca di wilayah ini sangatlah buruk. Terik sinar matahari yang terpancar langsung membuat kulitku yang cantik, putih, bersih, dan mulus terasa terbakar.


Dan meskipun dekat dengan laut, angin yang berhembus terasa panas dan sangat kering.


Bagaimana orang-orang ini bisa hidup santai di lingkungan yang seperti ini?


Saat aku mencoba mencari tahu, rupanya wilayah Arcadia tidak seperti semua wilayah lain di Kerajaan Ingrid.


Di wilayah lain termasuk ibukota mengalami 4 musim yaitu musim semi, musim panas, musim gugur dan musim dingin setiap tahun nya.


Sementara wilayah Arcadia hanya mengalami 2 musim yaitu musim panas dan musim hujan setiap tahunnya. Dan yang lebih aneh wilayah ini akan tertutup salju hanya selama bulan Desember saja.


Rasanya aku ingin cepat-cepat pulang saja.


Tapi, aku harus menahan diri.


Semua ini demi bisa meningkatkan reputasi baikku di khalayak publik dan mendapatkan dukungan dari tuan tanah dan para warganya.


Sehari setelah istirahat di Penginapan yang kami sewa, dan sambil menunggu waktu untuk bertemu dengan tuan tanah Arcadia. Aku memutuskan untuk jalan-jalan sebentar di kota Linic.


Aku putuskan keluar tanpa membawa pengawal, dan agar aku tidak di perhatikan semua orang yang berlalu-lalang. Ku putuskan untuk menggunakan tudung agar dapat tersamarkan.


Aku berjalan sambil terus memperhatikan sekitarnya. Untungnya, tidak ada yang benar-benar mengenaliku berkat kudung ini.


Dan karena aku asik berjalan tanpa tahu arah, tanpa aku sadar aku malah berakhir tersesat di sebuah gang kosong.


Aku mencoba melihat memeriksa sekitar, berusaha mengingat jalan yang baru saja aku lewati.


Di saat aku sedang berpikir keras, tiba-tiba aku merasakan kehadiran 2 orang dewasa dari arah belakangku.


Dan benar saja, ketika aku berbalik. Aku melihat 2 orang laki-laki dewasa dengan tampang garang dan badannya yang berotot sedang tersenyum lebar ke arah ku.


"Bro, kayaknya kita dapat mangsa empuk ini".


"Yah, kau benar. Bukan hanya empuk tapi kwalitas bagus. Kalau dijual pasti harganya sangat mahal".


Eh? Tunggu? Siapa yang kalian maksud? Jangan bilang kalian mengincar ku.


Aku mulai ketakutan dengan kedua orang ini, yang terus saja tersenyum lebar kearah ku. Lalu salah satu dari mereka meraih tanganku dan menggenggam nya dengan sangat erat.


"Hei, gadis kecil. Ikutlah dengan kami".


"Tenang saja, kami tidak mengigit, kok".


Aku yang ketakutan berusaha untuk melawan mereka.


"Lepaskan!!! Aku tidak mau ikut kalian!!!".


Dengan sekuat tenaga aku mencoba untuk melepaskan cengkraman tangan dari pria itu.


"Hei, hei, sudah tidak usah melawan".


"TOLONG!!!! SIAPAPUN TOLONG AKU!!!!".


"HEI, BERHENTI TERIAK-TERIAK ATAU AKAN AKU PATAHKAN TANGANMU INI!!!".


Aku tidak peduli bila tanganku akan dia patahkan oleh kedua orang ini. Jadi, aku putuskan tidak berhenti berteriak meminta bantu.


"TOLONG!!!!! TOLONG AKU!!!! TOLONG SELAMATKAN AKU!!!!!".

__ADS_1


Sambil terus memberontak aku terus berteriak-teriak meminta pertolongan. Meski, tidak ada yang datang.


Sayangnya, tindakanku ini malah membuat salah satu dari orang itu mulai marah.


"GADIS, SIALAN!!!! KAU TIDAK MEMBERIKU PILIHAN--".


Belum bisa menyelesaikan apa yang dia katakan, dari arah belakang muncul sesosok bayangan hitam yang langsung menghantam kepalanya.


"SIALAN!!! SIAPA--".


Melihat rekannya yang di hantam, pria satu segera menoleh untuk mencari tahu siapa yang menyerang rekannya itu. Tapi, sama halnya dengan rekannya dia langsung mendapat hantaman dari sosok bayangan itu.


Berkat hantaman itu, tangan pria itu melepaskan genggaman nya. Di saat itu aku memperhatikan sosok bayangan yang sudah menolongku.


Dia anak laki-laki yang tampaknya berusia sama dengan ku dengan rambut hitamnya lebat dan sedikit acak-acakan.


"Kau pergilah, akan aku tahan orang-orang ini".


Tanpa menoleh sedikitpun, dia dengan menyuruhku untuk pergi. Sadar adanya kesempatan aku putuskan untuk segera pergi tanpa mengucapkan apapun padanya.


Setelah itu aku tidak tahu apa yang terjadi, aku terus berlari sambil ketakutan tanpa peduli lagi dengan anak laki-laki yang menolong ku.


Merasa aku sudah cukup jauh, aku akhirnya bisa bernafas dengan lega karena berhasil lolos dari orang-orang itu.


Aku berencana untuk kembali ke penginapan dan beristirahat. Dan soal anak laki-laki itu? Yah, aku tidak peduli juga.


Namun, saat aku hendak melangkah. Tiba-tiba saja aku merasa tidak nyaman dengan semua ini. Belum lagi gambaran anak laki-laki itu terus muncul di dalam pikiranku.


Karena aku tidak tahu harus bagaimana. Aku putuskan untuk pergi ke pos para penjaga dan memberitahu semua yang aku alami dan meminta mereka untuk membantu anak laki-laki yang menolongku tadi.


Para ksatria mengikuti ku ketempat dimana anak laki-laki itu berada. Dan ketika kami sampai disana, anak laki-laki itu sedang dihajar habis-habisan oleh kedua orang tadi.


Melihat hal itu para ksatria yang aku bawa segera meringkus kedua orang itu dan segera membawa anak laki-laki itu untuk mendapatkan pertolongan medis.


Sesampainya di penginapan aku menggunakan Protas untuk menghubungi ayahku. Dia memintaku untuk segera kembali ke Algrand.


Dan hari itu juga, aku segera berangkat kembali ke Ibukota.


Selang beberapa hari setelah insiden itu, ayah memberitahu aku sesuatu hal yang penting bahwa anak laki-laki yang menolongku itu berhasil selamat walaupun masih belum sadarkan diri.


Tapi, yang membuatku terkejut saat aku diberitahu bahwa anak laki-laki itu adalah Dylan van Arcadia. Putra dari Earl Hyoga van Arcadia yang mengelola wilayah itu.


(-----------)


Beberapa hari setelah insiden itu.


Aku mendapat kabar dari ayah bahwa Dylan sudah sadar dari komanya.


Tentu saja aku lega mendengarnya. Dengan dia yang kembali sadar maka aku tidak perlu bertanggung jawab.


Yah, meski dia dengan sangat baik hati karena mau menolongku. Itu juga salahnya sendiri karena berlagak sok kuat melawan 2 orang pria yang 3 kali lebih besar dari badannya.


Dan semua kejadian ini tidak semuanya 100 persen salahku, kan?


Ditengah kelegaan yang aku rasa ayahku tiba-tiba mengatakan sesuatu yang sangat mengejutkan diriku ini.


"Vanessa, ada hal lain yang ingin Ayah sampaikan kepadamu selain kondisi Dylan-kun".


"Apa itu ayah?".


Aku mencoba tersenyum sambil melihat ayah yang entah bagaimana tampak sangat bersemangat.


"Vanessa, ayah putuskan untuk menjodohkan mu dengan Dylan-kun".


Eh?


"Ayah sudah menyampaikan niat baik ini ke ibumu dan ibu tiri mu, kedua sangat setuju dengan ide ini".


Tunggu sebentar, Ayah.


"Ayah memang belum memberitahu kedua orang tua Dylan soal pertunangan ini. Dan karena itu, beberapa hari lagi kau akan pergi ke wilayah Arcadia sebagai perwakilan ku untuk menyampaikan kabar baik ini.".


Aku ini putri. Putri Kerajaan. Kenapa ayah menjodohkan ku dengan putra bangsawan yang hanya bergelar Earl. Seharusnya, tunangan ku itu pangeran atau minimal berpangkat Duke.


Tapi, tampaknya ayah tidak peduli dengan semua itu. Entah mengapa dia sangat antusias dengan hal ini.


Selama perjalanan, aku terus kepikiran apa alasan ayah sampai menjodohkan ku dengan Dylan. Aku yakin ini bukan hanya sekedar ucapan terimakasih saja. Pasti ada maksud lain.


Namun, kalau aku pikir baik-baik ini seharusnya juga menguntungkan bagiku.


Seperti yang kalian tahu, sebagai putri yang paling cantik dan reputasi baik seperti diriku. Aku terus mendapatkan banyak surat lamaran pernikahan dari semua bangsawan, baik yang mereka yang berasal di Kerajaan atau mereka yang berasal dari Kerajaan lain.


Jujur, aku risih dengan semua surat lamaran itu, dan aku juga benci cara mereka yang mencoba merayu dengan berbagai cara. Selama ini aku bingung mencari cara untuk menolak mereka semua.


Dan sekarang aku punya sebuah ide.


Akan aku terima pertunangan ini dan menjadikan Dylan sebagai tameng ku dari orang-orang seperti mereka. Dan jika ada orang yang ingin melampiaskan kebencian kepadaku maka biar Dylan lah yang menggantikannya untukku.


Aku akan terus memanfaatkan nya sampai aku bosan dan setelah itu tinggal aku buang dia seperti yang sering aku lakukan.


Yah, mungkin ini balasan yang kejam untuk orang yang sudah menolongku. Tapi, jika kalian berpikir objektif sepertiku. Ini ibarat menembak burung dengan satu batu.


Sebenarnya ada satu masalah kecil yaitu pertunangan ini tidak akan terjadi apabila salah satu dari kami ada yang menolak.


Tapi, buatku itu bukan masalah. Karena aku yakin Dylan tidak akan menolak pertunangan ini.


Aku 100 persen yakin akan hal itu.


(----------)


Keesokan harinya, setelah aku beristirahat dari perjalan di penginapan.


Aku dan beberapa pengawal ku segera pergi menuju Mansion milik keluarga Arcadia.


Begitu aku melangkah turun dari kereta, yang menyambut ku adalah Dylan sendiri di temani oleh seorang Maid cantik berdada besar.


"Selamat datang, Nona Vanessa. Saya dengan senang hati menyambut anda di Mansion milik keluarga saya".


"Iya terimakasih atas sambutannya, Tuan Dylan!? Saya sangat tersanjung, sampai anda sendiri yang menyambut saya".


Aku mengungkapkan terimakasih, sambil menunduk badan ke depan seperti etiket bangsawan pada umumnya.


Dan Dylan juga membalasnya dengan melakukan hal yang sama.


Setelah aku perhatikan baik-baik, rupanya dia cukup tampan untuk ukuran putra dari Earl yang tinggal di perbatasan.


Tapi, entah mengapa. Meski dia menyambut ku dengan sangat baik. Aku malah merasa bahwa dia seperti tidak tertarik atau bahkan seperti malas melihatku.


"Karena rasanya tidak sopan membiarkan anda berada disini. Mari ikuti saya ke taman belakang, para pelayan sudah menyiapkan meja, teh dan beberapa cemilan untuk kita".


"Aku menerimanya dengan senang hati".


Bahkan cara dia untuk mengajakku pergi ke taman saja. Tampak seperti orang yang baru saja bertemu dengan orang yang sangat menyusahkan dan merepotkan.


(----------)


Di taman belakang Mansion.


Dylan dan aku duduk saling berhadapan di sebuah meja, dan depan mereka terdapat banyak makanan ringan dan secangkir Teh.


Setelah menyeruput teh masing-masing. Aku mulai berbicara basa-basi dengannya.


"Tuan Dylan, bagaiman kondisi anda?".


".... Kondisiku sudah semakin membaik".


"Syukurlah, kalau begitu".


Nah sekarang aku harus menarik perhatiannya dan membuatnya berpikir kalau aku orang yang tulus.


Lalu, aku dengan sengaja menundukkan badanku dengan tujuan untuk "meminta maaf" dan mendapat rasa simpatinya.

__ADS_1


"Maafkan aku atas apa yang terjadi!?.... Andai saja tidak ada anda yang mencoba berusaha menolong saya!?.... Anda tidak perlu mengalami semua ini!?.... Sekali lagi saya mohon maaf yang sebesar-besarnya".


"Soal itu,.... anda tidak perlu khawatir Nona Vanessa!?.....Sudah sewajarnya, kita saling tolong menolong!?...... Dan anda tidak perlu sampai minta maaf...... apalagi sampai menundukkan kepala kepada orang seperti saya ini".


"Begitu ya!? Aku sangat senang mendengarnya".


Aku menunjukkan ekspresi lega saat mendengar perkataan dari Dylan. Yang berarti aku berhasil mendapatkan perhatiannya.


Bagus!? Sekarang saatnya untuk langkah kedua. Namun, seketika aku dibuat terkejut oleh kata selanjutnya yang diucapkan Dylan.


"Kalau begitu, jika hanya itu yang ingin anda sampaikan maka biarkan aku.... ".


Tunggu dulu, kenapa dia berbicara seolah-olah ingin mengusirku? Aku harus cepat mengatakannya.


"Etto.... Maaf, tapi bukan hanya itu saja alasanku kemari".


Dylan menaikan salah satu alisnya mendengar apa yang akan aku katakan.


Dan inilah saatnya.


"Begini,.... Aku sudah meminta saran pada Yang Mulia. Soal apa yang harus aku lakukan untuk meminta maaf darimu, lalu mereka bilang bahwa permintaan maaf saja tidak akan cukup. Jadi,.... Yang Mulia menyarankan agar aku dan kau untuk bertunangan sebagai balasan atas semua yang sudah terjadi".


Nah, sekarang bagaimana? Terkejut, kan? Terpana, kan? Kau pasti tidak menyangka dan terkesan kalau kalau putri paling cantik di Kerajaan datang jauh-jauh hanya untuk mengajukan proposal pertunangan denganmu.


Aku bisa tahu dari senyuman yang kau tunjukkan. Tapi, sayang sekali aku hanya ingin menjadikanmu sebagai tameng saja tidak lebih dan tidak kurang. Dan begitu kau sudah tidak berguna lagi, aku pasti akan membuang mu.


Namun, aku yakin setidaknya kau akan senang kedepannya karena "pernah" menjadi tunangan Putri paling cantik di Kerajaan Ingrid.


Di saat pikiranku sangat senang mengira semua berjalan sesuai dengan keinginanmu. Kenyataan malah berkata sebaliknya.


Dylan yang terus memasang wajah datar tersenyum sesaat, kemudian berdiri dan membungkukkan badannya dan mulai berbicara. Tentu saja tindakan nya itu membuatku terkejut.


"...Sebelumnya aku minta maaf pada anda Nona Vanessa,..... meskipun niat anda dan keluarga anda sangat baik........ Tapi, saya dengan berat hati harus menolaknya".


"Eh?"


Tunggu, apa? Aku tidak salah dengar, kan?


"Tuan Dylan boleh aku tahu apa alasannya?".


Aku meminta penjelasan kepada Dylan alasan kenapa dia menolak proposal pertunangan yang aku ajukan padanya.


"..... Kita baru saling kenal satu sama lain, ...rasanya sangat aneh tiba-tiba saja kita bertunangan tanpa tahu kebiasaan dan kepribadian kita masing-masing...... Maupun itu sikap yang baik atau sikap yang buruk..... Akan lebih baik kalau kita mulai dengan saling mengenal satu sama lain...... Agar kedepannya baik saya maupun anda tidak ada yang kecewa atau tersakiti".


Alasan yang sungguh tidak terduga.


Dia menolaknya, karena kami ini tidak saling kenal satu sama lain? Hanya itu? Hanya itu alasannya?


Apa dia bodoh? Menolak bertunangan dengan ku hanya dengan alasan absrud seperti itu?


Aku benar-benar terpaku, tidak menyangka dan hanya bisa terdiam saat mendengar alasan Dylan barusan.


"Jadi menurutmu kita harus memulainya dengan saling mengenal satu sama lain, kah?..... ".


Aku berdiri dengan wajah mendung, sebagai tanda aku sedang diliputi oleh emosi.


".... Kalau begitu Tuan Dylan, saya undur diri dahulu".


"..... Maka, biar aku antar anda kembali ke kereta".


Aku memutuskan untuk pergi dan Dylan mengantarkan ku sampai kembali ke kereta kuda.


Selama perjalanan kembali.


Aku benar-benar sangat kecewa bercampur jengkel dengan penolakan yang Dylan lakukan.


Ini pertama kalinya aku benar-benar ditolak mentah-mentah oleh orang lain.


Aku terus memancarkan aura marahku sampai aku tidak berhenti menggigit ujung kuku ibu ku.


(----------)


Di Istana.


Rasa jengkel itu masih terasa, aku benar-benar di hina oleh Dylan. Sampai detik ini aku masih tidak paham kenapa dia menolak ku begitu saja.


Bangsawan maupun orang biasa, pasti sangat senang saat tahu bahwa dirinya akan menjadi tunangan dari seorang Putri yang paling cantik di Kerajaan sepertiku ini.


Tapi, kenapa dia berbeda.


Lalu aku mulai kembali merenungi semua nya dengan sangat hati-hati. Sampai aku mengambil sebuah kesimpulan.


Bahwa dia menolak pertunangan dengan ku tidak lain karena dia "gugup".


Iya, gugup. Pasti itu.


Jika dipikir lagi itu memang hal yang wajar saja. Siapapun pasti akan gugup apabila seorang Putri cantik datang dan mengajukan pertunangan padanya.


Perkataan nya soal "kita harus saling mengenal satu sama lain" hanya dalih untuk menyembunyikan kegugupannya.


Baiklah, untuk membuat nya tidak gugup dan menerima pertunangan kami. Aku putuskan mulai dari sekarang akan sering bertukar surat dengannya.


Aku mulai mengambil beberapa lembar kertas, alat tulis, sempel dan amplop. Aku mulai menulis apa yang aku pikirkan dan mengirimnya.


Dengan surat yang aku kirim, dia pasti akan senang dan mulai berpikir ulang tentang pertunangan kami.


Tapi, kenyataan kembali tidak memihak ku.


3 surat sudah aku kirim, belum ada balasan. Aku rasa dia masih gugup mendapat surat pribadi yang langsung ditulis sang Putri.


30 surat.


Dia mungkin masih sibuk dengan pelajarannya.


50 surat.


Kenapa dia belum mengirim balasan kepadaku.


100 surat.


Aku mulai merasa jengkel karena dia tidak membalasku. Meski begitu aku masih tetap mengirimnya.


Seiring berjalannya waktu aku mencoba bersabar sekuat mungkin sambil terus menahan emosiku.


Dan begitu surat yang aku kirim menginjak angka 600. Aku sudah tidak bisa menahan lagi emosiku.


"BRENGSEK!!!!! APA-APAAN DIA ITU?!!!!! SUDAH TOTAL 600 SURAT YANG AKU KIRIMKAN TAPI TIDAK ADA SATUPUN YANG DIA BALAS!!!! Sialan sebenarnya apa sih maunya?".


Lalu aku punya sebuah ide, dengan mengirim salah satu pelayanku untuk bekerja di Mansion Arcadia sambil terus mencari alasan kenapa Dylan tidak membalas surat sama sekali


Setelah 2 tahun terlewatkan, total sudah lebih dari 1000 surat yang aku kirimkan. Saat itulah aku tahu kenapa Dylan tidak membalas satupun surat dariku.


Dari laporan pelayan yang ku suruh kerja disana. Ternyata setiap surat yang aku kirim langsung dia robek atau dia bakar bahkan tanpa melihat apa isinya.


Ketika dia ditanya Dylan malah menjawab. "Aku males banget berurusan dengan cewek super duper narsis, caper, ruwet dan ribet seperti dirinya".


Mendengar semua ejekan yang dia lontarkan untukku. Membuatku tidak dapat lagi menahan emosi.


Akhirnya, aku melampiaskan dengan mengacak-acak semua barang yang ada di kamar ku sampai hancur berkeping-keping.


Ini pertama kalinya aku merasa terhina.


Ini pertama kalinya ada orang yang menolak ku.


Ini pertama kalinya aku benar-benar sangat murka.


Ini pertama kalinya aku benar-benar diabaikan.


Ini pertama kalinya... Aku tidak mendapatkan apa yang aku mau.


"Keparat kau Dylan van Arcadia.... Suatu hari nanti aku pasti akan membalas mu..... Dan membuatmu bersujud di hadapanku".

__ADS_1


__ADS_2