
"Selamat Pagi. Nii-san".
Keesokan pagi harinya, Filaret menerobos masuk kedalam kamar yang ditempati Dylan dengan seragam sekolah Akademi Estonia.
Dylan yang langsung bangun dan sempat menengok ke arah pintu. Selang beberapa saat dia kembali tertidur sambil menaikkan selimutnya.
"Oh, cuma Fira.... Aku kirain siapa?".
"JANGAN TIDUR LAGI!!!.... Apa Nii-san lupa, bahwa hari ini adalah hari pertama kita bersekolah..... Cepat bangun, mandi dan pakai seragam mu".
"Eh? Seriusan? Sekarang? Sialan? Kenapa mereka ngak melakukan nya seminggu lagi".
"Tidak usah mengeluh cepat mandi sana".
"Iya, iya ngak usah dorong-dorong".
Filaret dengan sangat kasar memaksa Kakaknya untuk bangun dan lekas berganti baju. Walau dengan berat hati Dylan segera mandi dan berganti baju seragam.
Selesai bersiap Dylan dan Filaret segera berjalan bersama menuju aula dimana upacara penyambutan siswa baru akan di selenggarakan.
"Oh ya Nii-san.... Apa Sonia sudah memberi tahu mu..... Kalau Nii-san akan berpidato sebagai siswa khusus yang mendapat rekomendasi dari Yang Mulia?".
"Iya, sudah kok....... Sialan, kenapa juga aku harus repot-repot berpidato segala".
Tadi malam, setelah Dylan kembali dari urusan "Bisnis" dengan Shadow Crow. Dylan mendapatkan informasi dari Sonia, bahwa besok dia akan berpidato sebagai siswa khusus yang mendapat rekomendasi dari Raja Conrad di depan para siswa baru.
Mendapatkan kabar itu, seketika Dylan tidak bisa menyembunyikan rasa jijiknya lagi, yang menandakan dia benar-benar tidak mau berpidato di depan semua orang.
Apalagi dia tidak tahu harus ngomong apa.
"Sudah, sudahlah.... Aku yakin Nii-san bisa melakukannya.... Kalau Nii-san bingung harus ngomong apa, katakan saja apa yang Nii-san pikirkan".
"Hmmmm..... Baiklah, akan aku lakukan.... Terimakasih atas saran dan dukungannya, ya Fira".
"Hehehe..... Sama-sama".
Tak berselang lama keduanya tiba di aula untuk upacara penyambutan. Begitu mereka masuk, sudah banyak siswa yang duduk menunggu dimulainya upacara.
Dylan dan Filaret segera mencari tempat duduk kosong dan segera menempatinya. Setelah beberapa saat, para guru yang menjadi dewan pengajar Akademi Estonia muncul dan berbaris rapi di atas panggung.
"Dengan ini, upacara penyambutan siswa baru Akademi Estonia di mulai".
Orang yang menjadi pembawa acara dalam upacara penyambutan siswa baru adalah Olga Marie Annimusufia. Orang yang menjadi guru penanggung jawab tes sihir.
__ADS_1
"Nah, tanpa basa-basi lagi. Mari kita dengarkan sambutan hangat dari kepala Akademi Estonia.... Beri tepuk tangan yang meriah".
Kemudian, seorang pria tampan berambut kuning maju berdiri di depan podium. Setelah melihat ke sekeliling dia mulai berbicara.
"Selamat pagi. Dan selamat datang para siswa ajaran baru sekalian..... saya adalah kepala Akademi Estonia ini, Leon Sera Belmont.... Aku sungguh berterimakasih, atas kesempatan untuk menyambut kalian semua..... Dulu ada ungkapan yang dikenal dengan "Royal Obligation"...... Artinya, mereka yang terlahir dengan berkat bertarung, sihir dan gelar tinggi punya kewajiban untuk melindungi mereka yang tidak memiliki ketiga hal itu..... Tapi, sekarang banyak bangsawan yang memutar balikkan dan menyalah gunakan istilah tersebut........ Mendidik dan mengembalikan makna sesungguhnya dari "Royal Obligation" itu adalah tujuan Akademi ini di didirikan..... Kalian yang berada disini, adalah orang-orang yang terpilih untuk melindungi yang lemah dan tak berdaya...... Aku ingin kalian mengingat hal ini.... Bukan hanya saat belajar disini saja..... Tapi, juga mengingat itu selama seumur hidup kalian..... Sekian sambutan dariku..... Sekali lagi, aku ucapkan.... Selamat datang di Akademi Estonia".
Leon selaku kepala sekolah Akademi Estonia selesai dengan pidato penyambutannya dan segera pergi meninggalkan podium. Sambutannya tadi segera dimeriahkan oleh tepuk tangan dari para siswa.
"Sekarang, kita mari kita sambut pidato dari perwakilan siswa baru.... Putri kedua Kerajaan Ingrid, Vanessa Sera Ingrid".
Vanessa segera naik ke panggung dan berdiri di depan podium, dia sempat mengeluarkan selembar kertas dan mulai membacanya.
"Salam hangat kepada kalian semua.... Para rekan siswa tahun pertama..... Saya Vanessa Sera Ingrid merasa sangat terhormat bisa menjadi perwakilan dari tahun pertama..... Dihari yang indah ini, dimana awan gelap berada di atas kepala kita..... Kita bangga, bisa mengikuti upacara masuk ini, dan menjadi siswa baru di Akademi Estonia ini...... Dengan tanggung jawab ini, kita akan menjaga dan sadar dengan sepenuh hati kami...... Akan terus berusaha untuk memenuhi tanggung jawab itu.... Sekian dulu dari sambut dari saya".
Vanessa menundukkan kepala sebagai bentuk penghormatan dan segera turun dari panggung. Kemudian para siswa dan guru bertepuk tangan untuk nya.
"Putri Vanessa benar-benar cantik, ya".
"Ah. Andai aku bisa sekali saja berkencan dengan dia..... Aku bisa mati dengan tenang".
"Woi, berhenti lah berkhayal".
Dylan yang mendengar percakapan kedua orang di belakangnya hanya bisa menunjukkan ekspresi jijik.
"Selanjutnya, mari kita sambut pidato dari satu-satunya seorang siswa khusus yang mendapatkan rekomendasi langsung dari Yang Mulia Conrad sendiri.... Silahkan naik ke podium, Dylan van Arcadia".
"Etto...... Salam kenal semuanya..... Namaku Dylan van Arcadia.... Kalau boleh jujur, sebenarnya..... Aku ogah banget masuk ke Akademi ini..... Jika disuruh memilih.... Aku jelas memilih untuk rebahan di kamar tanpa melakukan apapun..... Dan aku selalu bertanya-tanya, kok bisa ya aku direkomendasikan oleh Yang Mulia sendiri...... Yah, aku sebenarnya ingin menolaknya.... Tapi, karena ada istilah "terlanjur basah, Ya sudah mandi saja sekalian" jadi aku ikuti saja apa maunya..... Yah, walau begitu. Aku tidak ada niatan untuk kalah dari kalian semuanya..... Para amatiran yang tidak tahu apa itu "Medan perang"..... Jadi, karena aku sudah terlanjur disini.... Maka aku...... Akan merebut posisi puncak.... Itu saja".
Semua orang seketika terdiam, terkejut dan terperangah saat mendengar pidato selengean dari Dylan yang tanpa ragu menunjukkan ekspresi malasnya.
"Ah, aku lupa...... 3 tahun ke depan.... Mohon bantuannya".
Sesaat sebelum pergi, Dylan kembali untuk melanjutkan ucapannya yang lupa dia katakan.
Kemudian.
"DASAR BAJINGAN!!!".
"KEPARAT!!!".
"APA-APAAN ITU?!!!!".
"MEMANGNYA DIA PIKIR.... DIA ITU SIAPA?!!!!".
__ADS_1
"BERANI-BERANINYA DIA MERENDAHKAN KITA!!!!".
"MATI SAJA KAU BRENGSEK!!!".
"LENYAP SAJA KAU DARI DUNIA INI!!!!".
Seketika aula menjadi sangat ricuh dikarenakan para siswa yang merasa tidak terima dan terhina dengan pidato selengean dari Dylan dan bahkan mereka juga melemparinya dengan bola kertas sebagai bentuk kejengkelan mereka.
Filaret sendiri hanya bisa tertunduk malu setelah mendengar pidato selengean dari Dylan yang dengan tanpa berdosa mengejek para bangsawan yang ada disana
Di satu sisi, Awin hanya bisa terkejut setelah mendengar pidato Dylan.
Dalam hati kecilnya, dia merasa kalau Dylan itu sangat mirip sekali dengan sosok Kakak laki-laki di kehidupan sebelumnya. Bukan hanya saat tes bertarung saja. Sikap santai dan nada datar Dylan saat pidato benar-benar mirip dengan Kakak laki-lakinya.
Meski begitu, Awin masih belum yakin dengan firasatnya. Tapi yang jelas, dia bertekad untuk mencari tahu lebih banyak kemungkinan dari asumsinya itu.
Bahwa Dylan adalah Kakak laki-laki Awin di kehidupan sebelumnya.
(----------------)
"Fiuh.... Leganya..... Akhirnya aku bisa mengungkapkan apa yang aku rasakan selama ini..... Yah, tapi aku terkejut karena mereka yang langsung berubah riuh seperti tadi".
Setelah selesai berpidato Dylan segera pergi kearah belakang dan bergumam tentang reaksi semua orang.
Dylan tidak merasa ada yang salah pada pidato singkat nya. Tetapi, mereka yang mendengarnya tidak bisa menyembunyikan rasa jengkel nya karena merasa dihina oleh Dylan.
Dan dengan bodohnya Dylan tidak merasa bersalah atas semua yang dia katakan tadi dan mengira orang-orang sangat antusias dengan pidatonya.
"Itu tadi adalah pidato yang aneh.... Namun, sangat berani di waktu yang bersamaan".
Dylan segera menghentikan langkahnya, tubuh nya langsung mematung, matanya juga terbelalak setelah melihat dan mendengar dari seseorang yang tampak sangat familiar di depannya.
"Aku benar-benar salut dengan keberanian mu itu... Tidak banyak orang yang berani berkata seperti itu kepada para bangsawan".
Dylan tetap dengan kondisi nya dan tidak bisa menjawab apapun.
"Ah, maaf. Kau pasti bingung karena aku tiba-tiba berbicara denganmu tanpa memperkenalkan diri.... Itu semua karena aku sangat terkesan dengan keberanian mu..... Dan aku berpikir untuk tidak kalah".
Pria berambut pirang emas yang muncul tiba-tiba di depannya itu, sangat antusias berbicara dengan Dylan yang masih saja tetap diam mematung.
"Oh ya. Perkenalkan, namaku Reiner fou Stenly.... Salam kenal, Dylan-san..... Orang yang punya ambisi yang sama dengan mu..... Untuk berada di puncak".
"....... Salam kenal juga...... Reiner".
__ADS_1
Pria tampan didepannya memperkenalkan dirinya sebagai Reiner fou Stenly, sang pahlawan dan karakter utama dari game "Long Life Brave".
Disaat itulah, untuk pertama kalinya sebuah momen terjadi. Dimana Reiner sang Pahlawan bertemu dengan Dylan sang Penjahat.