Reborn As Villain

Reborn As Villain
Chapter 36 : Ekspedisi Dungeon part 2.


__ADS_3

Di atas menara Jam kota Algrand.


Berdiri seorang gadis bertudung hitam yang tersenyum lebar. Jika diperhatikan lebih seksama gadis tudung ini adalah orang yang sama persis dengan gadis bertudung yang menonton pertarungan antara Dylan dan Oscar.


"Bocah Irregular kesayangannya Sonia-chan ada di Dungeon, ya..... Sekarang, aku musti gimana, ya?....... Jujur saja, aku gabut banget akhir-akhir.... Dan kebetulan aku ingin sekali anak itu menghiburku lagi..... Tapi, gimana caranya membuat dia bisa menghiburku, ya?.... Hm....".


Gadis itu tampak berpikir keras, selang beberapa saat dia sepertinya menemukan sebuah ide, itu terlihat dari ekspresi senang nya meski tertutup tudung.


"Ah, pas benget..... Kebetulan "dia" juga ada di Dungeon itu.... Baiklah, aku giring saja si bocah Irregular itu bersama rekan-rekannya menuju ke arah "dia".... Ah, Tapi, sebelum itu.....".


Lalu, dia mengarahkan tangan kanannya kedepannya, kemudian menjentikkan jarinya. Hanya ada suara hentikan yang bergema. Setelah itu dia tersenyum dan kembali berbicara.


"Akan aku buat supaya Sonia-chan tidak ikut campur..... Nah, sekarang aku harus cari sport bagus untuk duduk santai dan menonton....... Tolong hibur aku, ya.... I-rre-gu-lar-kun".


Setelah mengatakan itu, sosok gadis tudung itu menghilang begitu saja tanpa meninggalkan jejak apapun.


Bersamaan dengan itu, Sonia yang sedang menyetrika pakaian Dylan segera tersentak. Dia langsung menghentikan aktifitas nya dan pandangan teralihkan ke arah luar jendela. Perasaan yang tadinya tenang, tiba-tiba berubah menjadi gelisah dalam sekejap.


"Dylan".


Seketika sosok Sonia juga menghilangkan entah kemana setelah memanggil nama Dylan. Apapun itu, Sonia merasa ada sesuatu hal buruk yang akan menimpa tuannya itu.


Sementara itu.


Puas menjelajah dari lantai 1 sampai lantai 8. Dylan dan rekan-rekannya yang berhasil membawa banyak karung besar berisi banyak baru kristal di masing-masing karung memutuskan untuk kembali.


Selama perjalanannya tampak raut wajah senang yang mereka perlihatkan bahkan sampai bersenandung ria.


🎵Anda butuh uang? Kami juga sama🎵


🎵(Anda butuh uang? Kami juga sama...)🎵


🎵Serem banget liat dompet, isinya koin perunggu doang🎵


🎵(Serem banget liat dompet, isinya koin perunggu doang ..)🎵


🎵Sewangi-wangi parfum, lebih wangi uang🎵


🎵(Sewangi-wangi parfum, lebih wangi uang...)🎵


🎵Hidup itu jangan banyak gaya, tapi banyak uang🎵


🎵(Hidup itu jangan banyak gaya, tapi banyak uang...)🎵


🎵Uang itu kaya mantan, cuma mampir doang🎵


🎵(Uang tuh kayak mantan, cuma mampir doang....)🎵


🎵Uang itu benda padat, tapi kok cepat menguap🎵


🎵(Uang itu benda padat, tapi kok cepat menguap...)🎵


"A-Ano.... Dari tadi kalian semua itu, nyanyi lagu apa?"


Sylvia yang tidak ikut bersenandung merasa heran dengan lagu yang sedang rekan-rekannya nyanyikan.


"Oh,... Ini lagu ciptaan kami semua yang berjudul "Uang"... Gimana? Keren, kan?"


"Heeeee....."


Sylvia hanya bisa tersenyum menanggapi pertanyaan dari Ornest yang tersenyum lebar. Mereka terus bersenandung ria sampai mereka sampai ke lantai 2.


Tapi, senandung ria mereka segera terhenti.


Bukan tanpa alasan, alasan kenapa mereka berhenti bersenandung ria adalah Dylan dan rekan-rekannya mereka melihat rombongan siswa lain yang baru saja tiba di lantai kedua.


Melihat rombongan siswa lain itu membuat Dylan dan rekan-rekannya langsung menatap terkejut. Hal ini bisa terjadi adalah karena mereka saat ini sedang melihat rombongan siswa lain terutama kelompok Reiner.


Yang saat ini, sedang bersusah payah melawan sekelompok goblin. Tampak jelas para siswi itu sangat ketakutan dan merasa jijik. Itu terbukti dengan mereka yang menunduk di pojokan.


Sementara Reiner dan beberapa siswa laki-laki mencoba melawan mereka. Tampak jelas, meski melawan goblin koordinasi mereka sangatlah buruk.


Sebenarnya, Dylan dan yang lainnya ingin mengabaikan hal itu dan berniat meninggalkan lantai 2.


Namun, jika mereka pergi dan meninggalkan mereka. Ditakutkan nantinya, mereka akan di mintai pertanggung jawaban.


"Cih.... Guys.... Ayo kita bantu mereka".


"Hah? Serius?".


"Yaelah ngerepotin amat".


Perintah Dylan sempat mendapat pertentangan dari Garcia dan Ornest. Tetapi, mereka tetap melakukan apa yang Dylan katakan.


"Kalian, para gadis.... Lindungi para siswi yang ketakutan".


""""Ok"""".


Dengan instruksi Dylan, kelimanya segera melesat kearah segerombolan goblin itu untuk membantu Reiner dan kelompoknya.


Meski terlihat berlari lurus, sebenarnya Dylan melakukan tebasan pedang yang lebih cepat dari suara dengan bentuk zig-zag. Yang seketika itu juga langsung memenggal kepala para goblin yang dia lintasi.


Sama halnya dengan yang lainnya, seperti Awin memainkan senjatanya, Ornest yang tanpa ampun membelah mereka, Arnold yang memblokir dan lalu melakukan serangan balik. Dan Garcia yang melompat sambil terus menembaki setiap goblin.


Hasilnya, dalam waktu sekejap. Mereka berhasil membasmi tuntas para goblin yang ada di sana. Adegan itu tentu saja, di saksikan oleh para siswa dan siswi yang lainnya.


"Hei, dari mana saja kalian?".


"Kenapa kalian baru muncul sekarang?".


"Apa kalian ingin kami mati?".


"Kami sangat kesusahan melawan para goblin itu tahu?".


"Kalian seharusnya membereskan lantai ini, sebelum kami datang".


Bukannya berterimakasih, para rombongan siswa itu malah menyalahkan Dylan dan yang lainnya karena dianggap datang terlambat untuk membantu mereka.


Belum sampai disitu saja, bahkan beberapa dari mereka juga menyalahkan Dylan dan rekan-rekannya karena tidak benar-benar membasmi bersih para monster yang ada di lantai 2.


"Huh?..... Kalian itu ngomong apa..... Dasar lemah?".


"Kalian saja yang payah karena tidak bisa melawan satu goblin pun".


"Jangan bertindak seolah-olah kami ini adalah pengawal kalian".


Merasa bantuan mereka tidak di hargai Dylan Awin dan Arnold segera menatap tajam kearah para rombongan siswa yang berbicara tadi.


Ketegangan meningkat diantara mereka, karena rombongan siswa itu tidak terima dengan balasan ejekan dari Dylan, Awin dan Arnold.


"SUDAH CUKUP SAMPAI DI SITU!!!!".


Suara teriakan Ritzia menghentikan ketegangan antara Dylan, Awin, Arnold dan para siswa lainnya. Kemudian dia melangkah maju diantara mereka dan berbicara.


"Kalian semua seharusnya merasa malu pada diri kalian sendiri, karena tidak bisa mengatasi satu goblin pun..... Dan bukannya berterimakasih, kalian malah menyalahkan rekan-rekan ku karena datang untuk menolong...... Justru kalianlah yang datang terlambat.... Saat kami sudah masuk kedalam dan kembali, kalian malah baru sampai ke lantai 2..... Lalu, kalian menyalahkan kami karena datang terlambat alasan macam apa itu?".


"Sudah cukup, Nee-sama..... Itu bukanlah kata-kata yang seharusnya di ucapkan anggota Kerajaan".


Ritzia yang berusaha membeberkan fakta, terhenti karena tiba-tiba saja Vanessa ikut dalam pembicaraan.


"Vanessa.... Kau adalah bagian dari kelompok ini, kan? Lalu kenapa kau tidak bisa mengkoordinasi mereka dengan sangat baik..... Dan bahkan menyalahkan Dylan dan yang lain".


"Nee-sama.... Tolong wajarlah akan sikap mereka.... Saat ini, rombongan kami baru saja lolos dari maut..... Ketakutan mereka membuat mereka emosi dan ingin mengeluarkan amarahnya".


"Hou...... Dan kau pikir itu bisa jadi alasan.... Untuk melampiaskan emosi mereka ke kami semua yang sudah mau repot-repot membantu kalian?".


Kemudian Ritzia menunjukkan jari telunjuk kanannya kearah Vanessa dan kemudian kembali berbicara..


"Apapun alasannya.... Itu tidak merubah fakta, bahwa kalian memang menyuruh kami pergi duluan bukan hanya untuk memancing para monster saja..... Tapi, kami disuruh untuk membersihkan jalan untuk kalian semua terkhususnya untuk mu".


Vanessa untuk pertama kalinya tidak bisa membalas apa yang di katakan Ritzia. Melihat Vanessa yang terdiam panik, Dylan tersenyum tipis dan mengumpat dalam hati.


(Tuh, rasain).


Tak berselang lama, seorang gadis dengan setelan armor berdiri diantara keduanya berusaha melindungi Vanessa.


"Nona Ritzia.... Perkataan anda sungguh kasar untuk seorang putri Raja.... Saya bisa memahami kejengkelan anda........ Meski begitu, anda tidak seharusnya berbicara seperti itu terutama kepada adik anda sendiri".

__ADS_1


"Siapa yang memperbolehkan mu untuk ikut campur ke masalah antara aku dengan Vanessa huh? Stella?".


Ritzia semakin menunjukkan emosinya setelah melihat Stella dengan kurang ajarnya, ikut menyela pembicaraan mereka.


"Aku tahu sikapku ini sangat kurang ajar.... Tapi, saya adalah orang yang ditugaskan untuk mengawal putri Vanessa.... Karena itulah, saya tidak bisa membiarkan Anda berkata kasar kepada Putri Vanessa".


"Kalau kau bisa seenaknya ikut campur..... Berarti aku juga bisa dong".


Dylan tanpa ragu berdiri di depan Ritzia seolah-olah ingin melindungi dan memberikan tatapan mengejek kearah Stella.


"Tuan Dylan...... Saya adalah pengawal nona Vanessa jadi wajar bagi saya untuk ikut ambil andil dalam hal ini.... Tapi, anda bukan pengawal atau bahkan bawahan nona Ritzia.... Jadi anda tidak bisa seenaknya ikut campur".


"Itu mustinya aku katakan kepadamu...... Aku memang bukan pengawal atau bawahannya..... Tapi, aku adalah kapten Kelas 1-S sekaligus sahabat Ritiza..... Jadi, aku tidak akan tinggal diam apabila salah satu teman baikku di ganggu oleh orang "semacam" dirimu dan Putri Narsis yang sedang berusaha kau jilat itu...... Fakta kalian itu hanya sekelompok orang lemah tidak bisa di bantah lagi".


"Sikapmu yang mengatakan kami lemah itu benar-benar berlebihan, Tuan Dylan.... Dan itu bukan sikap seorang ksatria".


"Lemah ya lemah aja....... Bukankah buktinya ada di depan kalian? Lupakan soal siswa yang lain, kau sendiri tidak berani melawan para goblin itu dengan dalih "aku adalah pengawal nona Vanessa".... Tapi, melawan satu dari mereka itu saja kau tidak bisa.... Dan kau masih punya keberanian untuk mengaku sebagai pengawalnya.... Oh, sungguh betapa tidak tahu dirinya kau itu, dasar penjilat".


"Ucapa mu itu sudah tidak bisa aku toleransi lagi..... Apa kau mau kita bertarung di sini?".


Stella yang terprovokasi dengan perkataan Dylan mencoba untuk menarik pedangnya.


"Aku sih ngak keberatan, ya...... Hanya saja aku khawatir, jika nantinya aku "tidak sengaja" membelamu jadi 2 bagian sebelum kau sadar".


Sementara itu, Dylan dengan nada santai dan mengejek semakin memprovokasi Stella dengan memberinya tatapan mengejek. Ketegangan terjadi diantara keduanya dalam waktu yang lama.


Sampai akhirnya, Ritzia memegang pundak Dylan dan menyuruh nya untuk mundur.


"Dylan, tolong jangan buang tenaga mu untuk meladeni mereka..... Lebih baik kita lupakan ini dan segera kembali saja..... Sama halnya dengan mu Stella".


"Baiklah, baiklah.... Jika itu mau mu.... Kali ini aku akan mundur".


"Baiklah..... Aku juga hampir kehilangan kehormatan ku sebagai seorang ksatria".


Ritzia yang tidak mau berdebat terlalu lama memutuskan untuk lebih baik mengalah saja. Dan mengajak yang lain untuk segera kembali ke permukaan.


Tapi, hal itu tidak terjadi.


Karena tiba-tiba saja Flora mengalihkan pandangannya kearah sebuah batu kristal yang tertanam di dinding Dungeon.


"Flora.... Ada apa?".


Reiner yang khawatir dengan kondisi Flora mencoba bertanya.


"Reiner-san, apa kau tahu kristal itu? Sangat mengkilap dan berkilau".


Sambil menunjuk kearah Kristal yang menarik perhatiannya, Flora mencoba bertanya kepada Reiner.


"Oh, itu Kristal Grants... Dan kristal besar itu sangat langka..... Kristal itu tak punya sifat khusus..... Tapi, karena kilaunya yang indah, kristal itu menjadi populer di kalangan bangsawan".


"Indahnya".


Reiner menjelaskan Kristal apa yang di tunjuk oleh Flora. Dan dia mendengar itu benar-benar sangat terkesan dan terpesona oleh kristal itu.


"Apa kau mau kristal itu, Flora?".


"Eh?".


Butuh beberapa detik bagi Flora untuk mencerna perkataan Reiner. Sampai akhirnya, dia menganggukkan kepala.


"Iya, aku mau".


"Yosh, kalau begitu biar aku ambilkan untukmu".


Reiner tanpa ragu dan curiga sedikitpun mencoba untuk mengambil batu kristal itu yang tertanam di dinding.


Sementara itu, Dylan yang melihat tingkah Reiner yang hendak mengambil kristal Grants segera berlari kearahnya dengan panik dan berteriak.


"DASAR GOBLOK, APA YANG KAU LAKUKAN?!!!! LEPASKAN BATU ITU SEKARANG!!!! ITU JEBAKAN!!!!".


Tapi, sudah terlambat.


Begitu Reiner berhasil mendapatkan kristal Grants, bersamaan dengan itu lingkaran sihir segera muncul di bawah kaki mereka semua.


Munculnya lingkaran sihir misterius itu membuat semua terkejut. Tapi, sebelum mereka bisa bereaksi. Tiba-tiba mereka semua dipindahkan ke suatu tempat antah berantah.


Tentu saja, hal itu membuat semua orang menjadi kebingungan dan tidak tahu harus bertindak seperti apa.


"Dimana kita ini?".


Tak berselang lama, mereka semua dibuat tidak bisa berkutik karena merasakan aura yang sangat kuat dan hawa membunuh yang kuat.


"Apa-apaan?".


"Benar-benar aura yang gila".


Emilia dan Olivia kebingungan dengan apa yang mereka rasakan saat ini. Sangking kuatnya, mereka bahkan tidak bisa bergerak seinci pun.


Lalu, dari arah depan mereka terdengar sebuah langkah kaki yang menggema dan menggetarkan tanah. Otomatis mereka segera mengalihkan pandangannya kearah sumber suara itu.


Dari balik bayangan dan gelapnya malam, mereka melihat sepasang mata berwarna merah menyala. Yang tampak perlahan-lahan mulai mendekat ke arah mereka.


Dan saat sosok itu terlihat, para siswa hanya bisa menatap penuh dengan ketakutan dan badan yang bergetar hebat. Bahkan ada beberapa siswa yang langsung terduduk lesu melihat sosok itu.


Sosok yang mereka lihat, adalah monster dengan sepasang tanduk besar dan memiliki sisik yang tebal bewarna hitam dengan sepasang sayap yang lebar. 2 taring yang besar dan tajam tampak keluar dari mulutnya menambah kesan garangnya.


ROOOOOAAAAARRRRR!!!!!


Melihat sekelompok siswa didepannya, makhluk itu segera mengeluarkan Auman yang sangat keras.


"Tidak, tidak, ini tidak mungkin".


Ritzia yang ketakutan mulai buka suara dan Dylan yang penasaran segera bertanya kepadanya.


"Ritzia, kau tahu apa makhluk itu".


"Iya..... Dari buku yang aku baca makhluk ini bernama Nidhogg..... Monster penguasa lantai 65...... Bahkan party terkuat sekalipun tidak bisa melukainya".


"Apa kata mu?".


(-----------------)


"Nidhogg".


"Yang benar saja".


"Kita tidak bisa melawannya".


"Kalau begitu, ayo kita kabur".


Tanpa memahami situasi genting yang mereka alami, para siswa segera berbalik dan mencoba melarikan diri.


Tapi, itu semua sia-sia saja.


Karena begitu mereka berbalik, sebuah lingkaran sihir muncul dan memanggil beberapa monster skeleton knight dalam jumlah banyak.


"Kyaaaaaa..... Skeleton!!!!".


"Kita sudah terkepung".


Melihat satu-satunya jalan untuk melarikan diri terhalang, membuat mereka semua menjadi semakin panik.


Melihat situasi yang sangat kacau ini, Dylan segera memberikan instruksi kepada yang lain.


"Baiklah dengarkan aku..... Awin akan ikut dengan ku dan ulur waktu untuk menyibukkan si Nidhogg ini...... Sementara yang Ritzia dan lainnya, pergilah ke belakang dan habisi semua skeleton knight".


"Dylan rencana mu ini terlalu beresiko".


"Kita tidak punya pilihan Awin.... Hanya ini satu-satunya cara----".


"Lighting plasma".


Terdengar suara seseorang yang melancarkan serangannya kearah Nidhogg, dan setelah di perhatikan orang yang melakukan itu adalah Reiner.


"Cih, itu tidak mempan".


Reiner sempat mengumpat saat tahu serangannya tidak menggores sedikitpun kulitnya.

__ADS_1


"Sudah cukup dengan ke bodohan mu..... Sekarang mundurlah dan bantu yang lainnya".


"Kau ini ngomong apa, Dylan?..... Kita harus mengalah kan----".


BUG.


Sebuah hantaman langsung mendarat ke wajah Reiner dan yang melakukan itu adalah Awin yang tampaknya sudah jengkel.


"Denger bangsat.... Kita tidak akan dalam situasi genting ini kalau bukan karena ulahmu..... Sekarang jangan banyak bacot dan pergilah ke belakang...... Dasar beban".


Diliputi oleh rasa jengkel, Reiner mau tidak mau harus mengikuti apa yang Dylan perintahkan. Dan dia segera mundur untuk membantu yang lainnya.


"Sekarang kita musti gimana?".


"Ah, jujur aku tidak tahu..... Tapi, ayo kita ulur waktu".


Dylan segera melesat kearah Nidhogg diikuti oleh Awin yang menyusul di belakangnya.


(----------------)


Di saat Ritzia, Filaret, Arnold, Garcia, Sylvia, Emilia, Olivia mencoba untuk membantu siswa lain untuk mengatasi para skeleton knight.


Dylan, dan Awin mencoba mengukur waktu dengan menyibukkan Nidhogg. Meski serangan mereka selalu berakhir dengan kegagalan. Mereka bertiga masih belum menyerah untuk melakukan serangan.


"Cih, kulit monster ini terlalu tebal".


"Jangan asal menyerangnya, Awin..... Dengar sisiknya itu hampir sama halnya, dengan zirah perang...... Jadi, ada beberapa bagian yang tidak dilindungi dengan tujuan agar si prajurit yang menggunakannya agar leluasa bergerak...... Sebagai contoh adalah ketiak dan belakang lutut...... Konsep itu sama dengan sisik Nidhogg...... Ada beberapa bagian pada tubuhnya yang tidak di lindungi".


"Singkatnya, kita harus incar bagian itu".


Dylan menganggukkan kepada sebagai tanda dia membenarkan perkataan Awin barusan. Sambil menggaruk kepala bagian belakangnya, Awin kembali berdiri dan memasang kuda-kuda bertarung.


"Ini ngak gampang, Lo".


"Memangnya sejak awal aku bilang ini "gampang" huh?".


Di momen yang bersamaan keduanya melesat kearah Nidhogg dengan kecepatan tinggi. Menyadari Dylan dan Awin yang mendekat, Nidhogg mulai merapalkan mantra sihir di ujung mulutnya.


Begitu selesai dia segera melesatkan sihir itu ke arah keduanya. Melihat itu, Dylan berlari lebih cepat dari Awin dan bersiap menangkis serangan Nidhogg.


"Shield Impluse".


Dylan menggunakan sihir non atribut miliknya untuk membelokkan serangan Nidhogg kearah lain, dan itu terbukti efektif.


Serangan Nidhogg berhasil berbelok ke arah lain sehingga serangan itu tidak mengenai Dylan, Awin maupun mereka yang ada di belakangnya.


Tentu saja, aksi Dylan yang sanggup menangkis serangannya membuat Nidhogg terkejut dan dia juga kehilangan pandangan nya dari keduanya yang saat ini berhasil menyelinap di antara ke empat kakinya.


Saling melirik dan mengangguk bersama, Dylan dan Awin tanpa ragu langsung menebas belakang lutut Nidhogg.


ROOOOOOOAAAAAAARRRRRR!!!!!!.


Teriakan Nidhogg menggema di dalam Dungeon karena serangan Dylan dan Awin berhasil. Tapi, keduanya memutus kan untuk segera mengambil jarak dari Nidhogg yang sepertinya mulai kehilangan kesabaran.


"O, oh...... Sepertinya kita membuatnya marah".


ROOOOOOOAAAAAAARRRRRR!!!!


Nidhogg kembali berteriak sekeras-kerasnya ketika melihat Dylan dan Awin di hadapannya.


"DYLAN, AWIN!!! KEMBALI, JALANNYA SUDAH TERBUKA!!!!!".


Teriakan Ritzia yang menggema menyuruh ke duanya untuk mundur sampai ke telinga mereka. Dan tanpa basa-basi keduanya segera berbalik dan berlari sekencang-kencangnya.


Tak mau mangsanya kabur, Nidhogg meski terluka memaksa untuk mengejar keduanya.


"DYLAN, AWIN CEPAT!!!!!".


"NII-SAN, AWIN-SAN, AYO!!!!!".


"MONSTER ITU MENDEKAT KE KALIAN!!!!!".


Arnold, Filaret dan Ornest yang panik juga ikut memaksa Dylan dan Awin agar cepat-cepat pergi kearah mereka.


"Semuanya yang bisa menggunakan sihir, serang Nindhogg itu dengan sihir terkuat kalian".


"Apa? Tunggu Vanessa...... Dylan dan Awin masih ada di sana...... Jika kau menembakkan sihir secara bersamaan, ada kemungkinan keduanya juga akan kena".


Tanpa memikirkan kondisi Dylan dan Awin yang saat ini sedang mencoba untuk berlari mengindari Nidhogg.


Vanessa dengan lantang segera memberi perintah kepada siswa untuk berbaris dan bersiap-siap merapalkan mantra sihir untuk menembaki Nidhogg.


Mendengar hal itu, Ritzia terkejut bukan main. Dia mencegah agar Vanessa menghentikan niatannya itu.


"TEMBAK!!!!".


Tapi, sayangnya peringatan Ritzia dia abaikan oleh Vanessa. Dengan aba-aba dari, para siswa langsung menyerang Nidhogg itu dengan tembakan sihir yang membabi buta.


"WOI, WOI..".


"JANGAN BERCANDA".


Melihat banyaknya tembakan sihir yang dilancarkan siswa lain. Tentu saja, membuat keduanya terkejut.


Bombardir serangan sihir itu, efektif mencegah Nindhogg untuk mendekat. Tetapi, tentu saja itu juga membuat Dylan dan Awin kesusahan.


Bagaimana tidak.


Keduanya harus berusaha sebaik mungkin untuk mengindari serangan itu. Belum lagi, serangan sihir itu perlahan-lahan mulai membuat jembatan batu mulai retak secara perlahan-lahan.


Menyadari hal itu, Dylan dan Awin berusaha untuk sekuat tenaga untuk menghindar dari setiap serangan sihir itu.


Tapi, nasib berkata lain.


Tak berselang lama. Jembatan itu mulai runtuh dan menjatuhkan Nidhogg ke dalam jurang gelap.


BOOM.


"Ugh".


"Awin!!!".


Sayangnya bersamaan dengan itu, Awin terkena salah satu sihir itu yang membuatnya terhempas dan jatuh bersamaan dengan Nidhogg.


Lalu.


BOOM


"Ugh".


Tak berselang lama Dylan juga mengalami nasib yang sama dengan Awin, terkena serangan sihir yang ikut membuatnya terhempas jatuh ke jurang menyusul Awin dan Nidhogg.


"NII-SAN!!!!!".


Melihat adegan dimana Kakak laki-lakinya terjatuh ke dalam jurang bersama dengan Nidhogg membuat dirinya panik dan berusaha menyusul keduanya.


Bukan hanya Filaret, Emilia juga berusaha mendekat untuk menolong Awin yang terjatuh.


Tapi, keduanya langsung di cegah oleh Arnold dan Ornest.


"LEPASKAN.... LEPASKAN AKU..... AKU HARUS MENOLONG NII-SAN..... NII-SAN!!!".


LEPASKAN.... LEPASKAN AKU..... AKU JUGAHARUS MENOLONG AWIN..... AWIN!!!".


Filaret dan Emilia berusaha untuk terus memaksa menerobos dan melepaskan diri dari cengkraman Arnold dan Ornest.


"NII-SAN!!!!!".


"AWIN!!!!!".


Dengan berlinang air mata dan suara yang menggema di seluruh Dungeon. Filaret terduduk lemas.


""UWAAAA..!!!"".


Dia menangis sejadi-jadinya mengungkapkan kesedihan dan ketidak berdayaan ya karena dia tidak bisa menolong Dylan.


Sama halnya dengan Emilia yang juga ikutan menangis sejadi-jadinya karena tidak berdaya untuk menolong Awin yang ikut terjatuh.

__ADS_1


Meski tidak seekspresif Filaret dan Emila. Rekan sekelas Dylan juga menunjukkan kesedihan mereka dengan berbagai cara.


Garcia, Arnold, Ornest mengalihkan pandangannya dan menggenggam kedua tangan sebagai bentuk kesedihan. Olivia yang mencoba menenangkan Filaret dan Emilia. Yang terakhir, Ritzia dan Sylvia yang hanya bisa menatap kosong kearah jurang itu tanpa bergerak seinci pun.


__ADS_2