Reborn As Villain

Reborn As Villain
Chapter 36 : Ekspedisi Dungeon part 1.


__ADS_3

"Etto.... Singkatnya, kalian semua para siswa tahun pertama akan melakukan ekspedisi di Dungeon untuk pertama kalinya.... ".


Penjelaskan Frey beberapa hari yang lalu, kepada seluruh siswa kelas 1-S, bahwa mereka akan melakukan ekspedisi Dungeon untuk pertama kalinya.


Ini adalah bentuk penilaian yang dilakukan Akademi untuk menguji ketangkasan setiap siswa saat berhadapan langsung dengan para monster baik secara individu maupun berkelompok.


Namun, yang menyenangkan dari ekspedisi ini adalah para siswa diizinkan untuk membawa pulang baik itu kristal atau batu sihir yang mereka temukan dan bahkan boleh di jual. Hal ini membawa antusiasme tersendiri bagi tiap orang, bahkan untuk siswa Kelas 1-S sendiri.


"Nii-san.... Lihat, lihat.... Aku dapat batu kristal yang lumayan besar".


"Oh bagus, Fira.... Kau sudah dapatkan sekitar 10 koin emas".


"Hehehe..... Terlalu dini untuk sombong Filaret-san".


Tiba-tiba Emilia tertawa seram sambil melihat kearah Filaret dan Dylan. Memahami kebingungan Filaret.


Lalu, Emilia menunjukkan batu kristal yang 4 kali lebih besar dari yang di temukan Filaret sambil tersenyum lebar.


"Hora, hora,...... Lihatlah batu sihir yang aku temukan ini".


"A-apa.... Itu curang, Emi".


Emilia mengejek Filaret sambil menjulurkan lidahnya. Yang membuat Filaret semakin tambah jengkel dengan sombongnya.


"Woi, woi..... Jangan sombong hanya mendapatkan beberapa krikil kecil saja".


Provokasi Garcia berhasil mendapatkan perhatian dari Emilia dan Filaret. Awalnya mereka merasa jengkel dengan ucapan Garcia.


Tapi, seketika mereka terkejut dengan mulut menganga karena melihat Garcia yang pamer sebuah karung besar yang di dalamnya berisi banyak sekali batu kristal.


Melihat keterkejutan Filaret dan Emilia sampai menganga. Garcia tersenyum lebar dengan ekspresi penuh sarkas.


"Sudah cukup dengan ajang pamernya.... Ayo kita lanjutkan saja".


Awin yang sedikit kesal dengan perilaku Filaret, Emilia dan Garcia, mencoba menegurnya agar tidak melupakan tujuan mereka berada di Dungeon ini.


"Hmm..... Kau kenapa, Sylvia?..... Kau tampak seperti memikirkan sesuatu?".


Dylan yang melihat Sylvia yang terus terdiam sejak masuk ke Dungeon dan melihat-lihat sekitarnya seperti sedang mencari sesuatu.


"Emm.... Bukankah, keberadaan Dungeon ini terlalu aneh, ya Dylan?".


"Alasannya?".


"Dari buku sejarah dan info yang aku dapat..... Selain sebagai tempat tinggal Monster sihir yang langka...... Ada banyak harta di dalamnya, seolah-olah ditinggalkan dengan sengaja oleh seseorang?".


"Hou.....".


(Kalau elu tanya gua...... Terus gua musti tanya siapa, njir).


"Ya.... Cukup aneh juga, sih.... Tapi, buat apa dipikirin.... Ayo, kita lanjutkan perjalannya".


"Eh.... Bukankah, kau juga ingin tahu lebih banyak, Dylan?".


"Ngak juga".


"Eeeeeee....".


Sylvia terkejut kerena sikap Dylan yang tampak tidak peduli dengan bagaiman bisa ada banyak harta di dalam Dungeon.


Setelah berjalan cukup lama, rombongan Dylan berhasil mencapai tangga menuju lantai ke tiga Dungeon.


"Hei, Guys.... Bukankah ini sangat aneh, ya?".


Sambil berjalan menuruni anak tangga, Ornest tiba-tiba berbicara seperti hendak menanyakan sesuatu. Karena itulah mereka sempat mengalihkan pandangan ke Ornest.


"Sejak awal kita memasuki Dungeon.... Aku tidak melihat adanya siswa siswi dari kelas lainnya.... Seolah-olah hanya kita saja yang ada disini".


"Iya, benar juga".


"Kok, kita baru sadar, ya".


"Terus mereka pada kemana?".


Olivia, Arnold dan Sylvia tersadar dengan perkataan Ornest itu benar adanya. Ketiga segera melihat kearah belakang dan tidak ada kelompok lain selain mereka di Dungeon ini.


"Begitu, ya..... Jadi, ini alasan kenapa kita disuruh untuk masuk duluan".


Semua segera mengalihkan pandangannya ke Dylan yang bergumam sendiri seperti sudah menyadari sesuatu.


"Dylan.... Dari gerak-gerik mu, sepertinya kau tahu sesuatu?".

__ADS_1


"Iya..... Tentu saja".


"Apa itu?".


"Ini mungkin hanya dugaan ku saja..... Kemungkinan, mereka sengaja mengirim kita duluan kedalam Dungeon adalah untuk "memancing" para monster untuk keluar".


Dan tepat saat Dylan selesai berbicara dan mereka sampai di lantai ke tiga. Baru saja, menginjakkan kaki mereka sudah di sambut oleh sekelompok monster goblin yang di perkirakan jumlahnya cukup banyak.


"""""KYAAAAAAA......GOBLIN!!!..... MENJIJIKKAN.....!!!!""""".


Para gadis seketika berteriak sekeras-kerasnya saat melihat goblin dengan jumlah banyak di depan mereka. Bukan karena takut, melainkan karena mereka sangat jijik dengan monster kerdil yang satu ini.


"Baiklah.... Kalau kalian merasa jijik tetaplah disini.... Biar kami saja yang mengatasi yang satu ini.... Tapi, ingat.... Meski mereka lemah secara individu..... Namun, saat berkelompok.... Mereka sangat menyusahkan..... Singkatnya.... Jangan sampai lengah".


""""Beres, Kapten"""".


Dylan yang memahami perasaan jijik yang di rasakan para gadis menyuruh mereka untuk mundur, dan biar dia, Awin, Arnold, Ornest dan Garcia yang melawan mereka.


Sebelum melawan mereka Dylan memberikan arahan agar tidak meremehkan lawan meskipun hanya sekelompok goblin. Hal itu di respon positif oleh yang lain.


Dan tanpa membuang waktu lagi, Kelima Laki-laki langsung menerjang, melawan, dan membabat habis para goblin itu.


(---------------)


Di sisi lain.


Rombongan kelas lain, terkhususnya rombongan Reiner baru saja memasuki Dungeon beberapa menit setelah rombongan Dylan masuk duluan.


Semala perjalanan Reiner berjalan di depan sambil berdampingan dengan putri Vanessa. Dan para siswa kelas lain yang ada di belakang mereka.


"Tuan Putri.... Apa anda tidak apa-apa?".


Reiner yang merasa khawatir dengan kondisi Vanessa mengingat ini baru pertama kali baginya memasuki Dungeon.


"Saya tidak apa-apa, tuan Reiner".


Dengan senyuman manis dan etiket yang sopan, Vanessa mengatakan bahwa dia baik-baik saja. Mendengar hal itu, membuat Reiner menjadi sedikit lega.


"Syukurlah.... Jika anda membutuhkan sesuatu katakan saja padaku".


"Hmm... Aku setuju dengan apa yang dikatakan, Reiner-san.... Sudah menjadi pengetahuan umum.... Jika tuan Putri itu cukup lemah, kan?".


Orang yang mengatakan itu adalah Flora de Ernest sepupu Vanessa yang juga ikut dalam rombongan Reiner.


Gadis yang memperingatkan Flora dengan nada yang sangat dingin dan ekspresi yang kaku adalah Stella fou Chamble. Seorang gadis cantik berambut ungu panjang dengan mata berwarna merah muda dan dada yang berisi meski tutup dengan Armor yang dia pakai.


"Ara, Ara.... Untuk seorang putri dari Ksatria yang tidak pernah memasuki Dungeon..... Kata-kata mu itu cukup berani ya, Stella-san".


"Itu berlaku sama untuk mu..... Sebagai orang yang baru pertama kali memasuki Dungeon".


Stella dengan santai menanggapi provokasi tersirat dari Flora. Meski merasa agak jengkel, tapi Flora berhasil menahannya agar tidak tampak oleh yang lainnya.


"Sudah cukup kalian berdua.... Kita ada disini untuk belajar bersama..... Jadi, jangan meributkan soal hal-hal lain yang berkaitan seperti status".


Gadis yang berusaha menghentikan perdebatan antara Flora dan Stella adalah Zuzan Fin Cifer. Dia gadis kecantikan yang tenang, berambut hijau muda panjang dengan warna mata yang sama, dan dada yang berisi.


"Ara, Ara, Ara...... Kalau kita pikir baik-baik lagi.... Bukankah diantara kita ada seseorang yang ingin mendapatkan hati dari Reiner-san, meski mendapatkan penolakan keras dari keluarganya.... Iya, kan? Finne"


Mata Flora melirik kearah seorang gadis cantik bernama Finne von Kleinert berambut ikal berwarna kuning, mata berwarna biru tua dan dada yang berisi.


"Hmph.... Itulah kenapa aku benci banget sama "si mulut ember" ini.... Reiner-san!!! Menikahi wanita seperti Flora-san sama saja bunuh diri".


"Ara, Ara.... Aku tidak akan membuat hidup Reiner-san kerepotan kok.... Justru malah keluargaku akan menjamin kehidupannya".


"Menyerahkan saja, Flora.... Dari pada memilih bergabung dengan Keluarga Ernest.... Aku yakin Reiner-san akan lebih suka menjadi bagian Keluarga Chamble.


"A-APA!!!.... BAHKAN STELLA JUGA!!!".


""Hou.... Apakah kau ingin bergabung juga, Zuzan?".


Di depan Reiner, Vanessa, Flora, Stella, Zuzan dan Finne saling bercakap-cakap santai. Semua orang yang ada di belakang mereka melihat itu dengan tatapan yang hangat dan merasa lucu dengan apa yang mereka lihat dan dengarkan.


Tapi, tidak untuk satu orang yaitu Lafia Fin Flight.


Dia hanya bisa menatap penuh kekosongan melihat teman masa kecil sekaligus tunangan Reiner yang di kelilingi oleh para siswi dari rumah bangsawan berpangkat tinggi. Bukan hanya itu saja, bahkan Putri Vanessa juga sedang mengobrol asik dengannya.


Yang membuat Lafia kecewa adalah meski tahu ada Lafia dibelakangnya, jangankan mengkhawatirkan dirinya melihat dirinya saja. Itu tidak dilakukan.


Namun, obrolan mereka terhenti karena, mereka semua di sambut oleh 5 ekor monster semut berukuran besar.


"Whoa..... Semuanya tetap waspada.... Mereka adalah semut raksasa".

__ADS_1


Reiner yang menyadari keberadaan monster itu, segera memberi peringatan kepada yang lain seperti seorang pemimpin.


"Mereka ada 5 ekor.... Kita akan mati jika lengah".


"Tuan Putri, tolong mundur lah".


Meski hanya 5 ekor saja, Zuzan berusaha memperingatkan agar mereka tidak lengah. Dan Stella menyuruh Vanessa untuk mundur. Kemudian, Reiner melangkah ke depan sambil menarik pedangnya.


"Kalian tidak usah khawatir.... Serahkan saja padaku".


Tanpa membuang waktu lagi, Reiner melesat maju seorang diri. Dan satu persatu Reiner menebas para monster semut itu.


Saat Reiner berhasil mengalahkan 4 dari mereka. Satu ekor yang tersisa, tiba-tiba berlari hendak menyerang Vanessa.


Menyadari hal itu, Reiner berbalik dan menebas monster itu tepat sebelum di lawan oleh Stella yang sudah siap menarik pedangnya.


"Fiuh.... Itu yang terakhir".


Sambil menyeka keringatnya, Reiner lega bahwa dia berhasil mengalahkan monster semut itu. Namun, tanpa Reiner sadari tangannya terluka akibat pertarungan tadi.


Melihat hal itu, Lafia berusaha berlari ke depan untuk memeriksa dan menyembuhkan luka yang diterima Reiner. Tapi, seketika niatannya pupus saat melihat Zuzan dengan mudahnya menyembuhkan luka Reiner dengan sihir penyembuh.


"Whoa.... Aku terselamatkan... Terimakasih ya, Zuzan".


"Bukan apa-apa".


Dengan ekspresi tersipu malu, Zuzan mengalihkan pandangan nya dari Reiner yang memujinya. Menyadari fakta itu, Lafia kembali lagi tertunduk lesu karena merasa dirinya tidak berdaya.


*Cih, dasar lemah.... Kalau ini, Dylan.... Dia pasti mengalahkan kelima monster itu dengan satu kali serangan saja tanpa terluka*.


"Eh?".


Lafia buat terkejut, saat mendengar gumaman putri Vanessa yang membandingkan kekuatan Reiner dengan Dylan.


Vanessa sendiri sepertinya tidak sadar bahwa gumaman terdengar oleh Lafia. Itu terbukti dengan dia yang kembali memperbaiki ekspresi jengkel ke ekspresi yang lembut dan berjalan mendekat ke Reiner.


"Tadi..... Tuan Putri menyebut nama Dylan-san, kan?..... Kenapa dia......?".


Lafia tidak mengerti dengan apa yang dimaksud Vanessa barusan. Tapi, di dalam hati kecilnya dia menganggap ucapan Vanessa adalah bukti yang nyata.


(----------------)


"Fiuh.... Itu Kabolg yang terakhir".


Sambil memutar pedang katana nya untuk menghilangkan darah Kabolg yang menempel.


Ketika Reiner dan rombongan nya baru mau menuju lantai ke dua, Dylan dan yang lainnya berhasil mencapai lantai ke lima dan langsung di sambut oleh sekelompok Kabolg.


"Fiuh..... Aku bersyukur kalau kita bisa sampai di lantai 5 dengan sekali berangkat".


Awin mengucapkan rasa syukur karena mereka bisa mencapai lantai 5 tanpa harus melakukannya berkali-kali.


"Iya, iya, iya..... Aku tahu banget Awin..... Tapi, yang lebih penting".


Garcia menunjukkan beberapa karung besar yang berisi banyak sekali batu kristal. Melihat banyak kristal yang bisa di jual membuat bukan hanya Garcia saja.


Dylan, Awin, Arnold, Ornest, Filaret, Emilia, Olivia, dan Ritzia tidak bisa berhenti tersenyum lebar sambil tertawa jahat bersama.


"Jujur saja, saat Frey-sensei memaksa kita untuk ikut berpartisipasi dalam ekspedisi Dungeon.... Aku sempat mengumpat dalam hati "Mati aja elu, dasar wali kelas Taek"......".


"Tapi, berkat si bedebah itu.... Sekarang, keuangan kita selama beberapa bulan akan terjamin".


Meski merasa sangat jengkel dengan perintah guru mereka. Tapi di satu sisi, mereka senang bisa mendapatkan keuntungan dari hal itu. Bahkan, Dylan dan Awin sampai mengeluarkan kejengkelan mereka.


"Ada batu sihir juga disini rupanya..... Tapi, aku sangat penasaran bagaiman Dungeon membuat batu sihir, ya?".


Tidak seperti yang lainnya, Sylvia malah penasaran bagaimana batu kristal bisa tercipta di dalam Dungeon.


"Ah, itu lho Sylvia.... Saat kita mengalahkan monster sihir.... Maka sihir mereka akan keluar saat mereka mati.... Dan energi itu akan mengalami penggumpalan.... Lalu seiring berjalannya waktu gumpalan itu akan berubah menjadi padat.... Dari situlah Batu sihir tercipta".


"EH!!! SERIUSAN, DYLAN!!!! TAPI, HAL SEPERTI ITU NGAK ADA DIBUKU LHO?!!!!".


"Banyak concong kau Sylvia..... Tentu saja, hal itu ngak ada di buku manapun.... Karena itu adalah teori yang di jabarkan oleh Ibu kami".


Penjelasan Dylan soal asal muasal batu sihir sempat mendapat penyangkalan dari Sylvia. Tapi, itu segera di bantah oleh Filaret yang bilang bawah pengetahuan itu didapat dari ibu mereka.


"Berhubung kita boleh menjelajah sampai lantai ke 8.... Kalau gitu tunggu apa lagi.....".


Dylan mengangkat wajahnya yang tersenyum lebar namun terkesan jahat dan kembali berbicara.


"..... Ayo kita raup cuan sebanyak-banyaknya, SETUJU GUYS!!!".

__ADS_1


"GAS!!!".


Dengan semangat yang membara mereka semua kembali menjelajah Dungeon lebih dalam lagi. Dan Sylvia yang melihat kelakuan teman-teman sekelasnya hanya bisa mengikuti sambil menarik nafas panjang.


__ADS_2