Reborn As Villain

Reborn As Villain
Chapter 51 : Orang Bodoh.


__ADS_3

(Huh? Tunggu sebentar.... Ini orang ngomong apaan coba?.... Yah, aku tahu dia ini memang agak ngak waras.... Tapi, melakukan tindakan seperti pengkhianatan ini.... Dia bilang atas dasar cinta?.... Apa dia orang bodoh?).


Di dalam pikirannya, Dylan tidak harus berkata apa-apa karena dia tidak benar-benar paham apa yang di maksud oleh Sylvester.


"Seperti nya kau masih tidak paham ya, Dylan..... Yah, mau bagaimana lagi..... Kalau begitu, biar aku sedikit bercerita".


Sylvester yang merasa Dylan tidak mengerti apa maksudnya memutuskan untuk sedikit bercerita alasan kenapa dia melakukan semua ini.


"Semua terjadi saat pesta ball 8 tahun yang lalu..... Saat itu adalah momen yang paling tidak pernah aku lupakan.... Di hari itu, aku bertemu dengan "dia" yang di takdir kan untuk ku..... Aku tidak pernah melupakan senyuman yang indah dan keanggunannya.... Ketika "dia" melirik kearah ku.... Tanpa aku sadar, "dia" sudah mencuri hatiku".


"Hou....."


"Seumur hidupku ini..... Aku selalu hidup dengan melihat hanya hitam dan putih, tidak ada yang membuatku tertarik di dunia ini".


"Hmmm...". (Hitam dan Putih, ya..... Jadi, orang ini buta warna..... Kasihan banget).


"Tapi, semua berubah ketika aku bertemu "dia"...... Hidupku yang terasa hampa, menjadi penuh bermakna karena "dia".... Bahkan rasa yang tidak pernah aku rasakan..... Untuk pertama kalinya, aku bisa merasakannya...... "Dia" sosok yang mampu memberikan warna di hidupku yang hampa ini".


Sylvester kembali teringat akan sosok yang sangat dia cintai sampai membuat dia tersenyum ceria dan pipinya merah merona.


"Dia ibarat malaikat yang datang ke dunia ini..... Untuk memberikan kebahagian bagiku.... "Dia" adalah sosok yang mulia dan di cintai semua orang.... Benar-benar sosok yang pantas bersanding denganku".


"Heeee......".


Sylvester semakin menjadi-jadi selama dia bercerita panjang soal sosok yang sangat di cintai.


Selama Sylvester bercerita, para pengikutnya mengangguk-angguk setuju dengan semua yang di katakan olehnya.


Sementara Dylan yang mendengar hal itu, hanya bisa merespon datar tanpa berkata apa-apa.


"Karena aku sangat ingin berada di sampingnya..... Sejak saat itu, aku memohon kepada Ayah untuk mengirimkan proposal pertunangan kepadanya.... Namun, tidak ada respon apapun dari keluarga nya".


Sylvester menjadi sangat sedih menceritakan apa bahwa dia sudah mengajukan proposal pertunangan tapi tidak ada respon.


"Tapi, aku tidak menyerah begitu saja..... Aku terus-menerus mengiriminya surat dengan harapan kami bisa saling berkomunikasi dan perlahan-lahan mendapatkan hatinya".


Kemudian entah mengapa, Sylvester mulai menunjukkan amarahnya dan melanjutkan ceritanya.


"Lalu suatu hari aku dapat kabar bahwa ayah "dia" berencana untuk menjodohkannya dengan seorang anak laki-laki lain dari perbatasan.... Jujur aku benar-benar tidak menyangka hal ini dan amarahku naik seketika..... Apa yang ada di otak Ayahnya sampai menjodohkannya kepada orang miskin sepertinya...... Apa dia tidak tahu, bahwa aku itu lebih cocok bersamanya dari pada dia..... Padahal selama ini, aku selalu menyingkirkan orang-orang yang berpotensi menjadi pendamping nya".


Sylvester semakin tambah emosi seiring dengan dia bercerita.


"Untungnya, orang yang ingin dijodohkan dengan nya, menolak itu semua..... Aku merasa sangat lega mendengarnya..... Dengan begitu, aku memiliki kesempatan lebih besar...... Dan aku pikir bahwa orang itu benar-benar orang yang bodoh karena menolak sosok mulia seperti dirinya".


Kemudian Sylvester menatap lurus kearah Dylan dan melanjutkan ceritanya.


"Tapi, bajingan tengik itu dengan berani-beraninya mempermalukan orang yang aku cintai di depan semua orang..... Karena itu, aku berencana untuk memberikan orang itu sedikit pelajaran agar dia tahu di mana posisinya".


Dylan terkejut mendengar semua apa yang di ceritakan Sylvester barusan tapi, dia masih tidak yakin.


(Sek bentar...... Kok kayaknya aku tahu siapa "dia" yang dimaksud si Sylvester ini.... Tapi, biar aku pastikan saja).


"Btw, aku agak penasaran siapa si "dia" yang kau maksud?".


Sylvester dan para pengikutnya terkejut dengan pertanyaan Dylan yang tampaknya tidak mengerti maksud darinya.


"Aku tidak menyangka..... Meski aku sudah bercerita panjang lebar, tapi kau sama sekali tidak mengerti, ya....... Baiklah biar aku beritahu...... "Dia" yang aku maksud tidak lain dan tidak bukan adalah..... Putri Vanessa Sera Ingrid".


"Uhuk, Uhuk, Uhuk.....".


Mendengar jawaban Sylvester seketika, Dylan langsung batuk-batuk dan membuat semua orang termasuk Claudia menjadi keheranan.


(Huh? Vanessa?..... Apa dia bodoh?..... Kau jatuh cinta kepada gadis super, duper, ruwet, caper, dan narsis seperti dirinya..... Memangnya, apa hebatnya gadis sepertinya?..... Ritzia bahkan 100 kali lebih baik daripada dirinya).


Di dalam hati, Dylan bergumam tentang Ritzia yang menurutnya ratusan kali lebih baik dari Vanessa.


Setelah sempat terbatuk-batuk sesaat, Dylan melihat kearah Sylvester dan pengikut nya. Bukan dengan tatapan jengkel atau emosi, melainkan sebuah tatapan yang penuh dengan belas kasihan, tersenyum lembut bahkan sampai matanya berlinang air mata.


"Apa-apaan ini?..... Kenapa kau menatapku seperti itu?".


"Iya tidak..... Aku tidak menyangka, pria tampan seperti mu bisa terjebak dengan tipu muslihat dari iblis wanita itu".


"Apa katamu?!!!".


Sylvester semakin tambah emosi setelah mendengar Dylan yang dengan terang-terangan mengatakan bahwa Vanessa sebagai iblis begitu juga dengan para pengikut nya.


"Begitu, ya..... Jadi, kau benar-benar ingin mati ya.... Sampai kau berani mengejek orang yang paling aku cintai".


"Ngak..... Aku tidak mengejeknya... Aku hanya mengungkapkan fakta dari sudut pandangku saja, kok..... Kalau kau tidak suka dengan apa yang aku katakan, itu mah urusan mu...... Toh, aku tidak suka memaksa orang lain untuk setuju dengan pandangan dan pendapat ku...... Malahan kasihan sama kau yang terjebak oleh tipu muslihat nya".


Sylvester menundukkan kepalanya dengan ekspresi gelap, dan perlahan-lahan dia mulai tersenyum jahat lalu tertawa menyeramkan.


"Hihihi..... Begitu, ya..... Jadi, kau memang mau mati..... Kalau begitu.....".

__ADS_1


Sylvester mengarahkan tangan kanannya ke depan. Kemudian, sosok dari keenam rekannya tiba-tiba menghilang begitu saja. Dylan yang menyadari akan datangnya bahaya segera melompat menghindar.


Dan benar saja.


Tepat setelah itu, enam serangan dari enam arah berbeda mendarat kearahnya. Untungnya, respon Dylan lebih cepat dari yang lain sehingga dia berhasil menghindar.


"DYLAN-SAN!!!"


Claudia yang melihat itu, hanya bisa berteriak memanggil nama Dylan karena merasa sangat khawatir.


Lalu, Dylan menatap lurus kearah para keenam pengikut Sylvester yang berbalik menatapnya dengan penuh kebencian dan rasa jijik.


"Rasanya tidak enak, ya.... Jika kau tidak tahu seperti apa wajah dari orang-orang yang akan mencabut nyawamu..... Kalau begitu, izinkan kami perkenalkan diri kami".


Salah satu dari keenam orang ini menarik tudungnya, dan sosok seorang gadis cantik dengan rambut panjang berwarna blue-grey, tapi semua sirna dengan karena wajahnya yang penuh dengan kegilaan.


"Namaku adalah Juvenile Fin Bathory..... Ah, ah..... Kira-kira ekspresi seperti apa, ya? Saat kau memohon ampun kepadaku".


Sambil membawa tongkat Spiked Pole dengan kerah berduri, lalu dengan tanpa rasa malu atau ragu dia menjilatinya.


Setelah Juvenile memperkenalkan diri, orang kedua segera maju ke depan dan melepas tudungnya.


Dia adalah pria berbadan besar penuh dengan otot dan wajahnya yang menunjukkan ke sangaran yang luar bisa. Itu semakin kompleks dengan senjata seperti bola besi besar dengan banyak duri tajam yang dihubungkan dengan rantai besi yang panjang.


"Nama ku adalah Gordon de Ramsey.... Atas perintah tuan Sylvester akan aku kirim kau ke neraka".


Dengan suara lantang dan berat dia memperkenalkan dirinya, sambil terus memutarkan senjata besarnya.


Orang ketiga segera maju dan melepas tudungnya. Dia seorang laki-laki ideal dengan rambut berwarna hitam pucat dan menatap rendah kearah Dylan sambil membawa senjata pusai Gurkha ganda.


"Namaku adalah Theodore Lakes Roosevelt.... Bersiaplah, untuk menerima hukuman surgawi".


Orang keempat segera maju dan melepas tudungnya, Dia seorang laki-laki tampan berkacamata dan berambut biru muda yang rapi memegang senjata pisau cakar panjang, yang dia pasang di kedua tangannya.


"Namaku adalah Zacklen Fin Aurin..... Rekan setia tuan Sylvester".


Orang kelima segera maju dan melepas tudungnya, dia seorang laki-laki tampan dengan rambut berwarna blue-green membawa senjata seperti pedang Naginata.


"Namaku adalah Daniel van Sturridge... Salam kenal dan selamat tinggal".


Dan orang terakhir maju, dia seorang gadis cantik berambut merah muda di kepang panjang dan bola matanya berwarna hijau sambil membawa senjata berupa pedang Urumi khas India.


"Namaku adalah Brenda Fin Valentine..... Budak setia dan algojo tuan Sylvester".


Setelah keenamnya, memperkenalkan diri sebagai rekan dan pengikut setia dari Sylvester. Dan dia segera melangkah ke depan dan menunjukkan ekspresi megah.


Tidak mendapatkan perhatian dari Dylan, Sylvester tersenyum seperti menyadari sesuatu.


"Aku tahu kok..... Kau pasti berpikir aku ini curang.... Tapi, yah mau bagaimana lagi..... Soal sosok mu itu benar-benar tidak sedap di pandang.... Jadi, lebih baik untuk cepat-cepat menyingkirkan mu dari dunia ini..... Setelah itu, aku akan lakukan hal yang sama kepada semua rekan-rekan sekelas mu dan adik perempuan tercintamu itu".


Mendengar itu, Dylan tetap diam sambil memperbaiki posisinya.


"Ya ampun...... Selian bodoh rupanya kau itu juga tuli, ya..... Apa kau tidak dengar soal apa uang aku katakan sebelumnya..... Mau 7 atau 7000 orang sekalipun..... Buatku, itu sama saja".


Dengan wajah seperti merendahkan mereka yang ada di depannya secara tersirat Dylan mengatakan bahwa mau sebanyak apapun orang yang dia lawan hasilnya sama saja.


Sylvester dan para pengikutnya yang mendengar hal itu dibuat terkejut dan semakin emosi dengan provokasi Dylan.


Dan pertarungan tak seimbang antara 1orang melawan 7 orang dimulai.


(----------------------)


Orang pertama yang menyerang Dylan adalah Juvenile, dia mencoba untuk menyerang dengan sebuah tusukan.


Tapi, serangannya berhasil ditangkis oleh Dylan dengan sekali ayunan. Tak mau menyerah, dia segera memutar Spiked Pole miliknya dan kembali menyerang.


Kali ini, Dylan tidak menangkis melainkan dia menahan ujung senjata itu dengan pedang katana nya. Lalu, Dylan segera mendaratkan sebuah tendangan ke ulu hati Juvenile dan membuat mundur beberapa meter.


"Aduh sakit tahu!!!".


Belum bisa bernafas lega, sebuah serangan berupa bola tanduk dari Dywen segera melesat kearah Dylan, meski berhasil menghindar bola itu secara ajaib mengejarnya.


"Keparat!!!".


Menyadari hal itu, Dylan berusaha menangkisnya. Tapi, belum sempat melakukan hal itu dari arah belakangnya. Daniel muncul dan langsung menyerang dengan ayunan pedang Naginata yang sangat cepat dan keras, bahkan sampai menghancurkan lantai.


"Cih. Dia berhasil menghindar".


Untuk kedua kalinya Dylan berhasil menghindar dari serangan itu, tapi dia kembali di kejutkan dengan dua orang sosok yang berlari zig-zag kearahnya.


Rupanya kedua orang itu adalah Zacklen dan Theodore yang langsung menyerang Dylan dengan cakar dan pisau Gurkha dalam momentum yang bersamaan.


"Rasakan ini".

__ADS_1


"Dasar belut".


Karena tidak bisa menahan serangan itu, Dylan akhirnya terpental mundur. Di saat badannya terpental, sebuah serangan dari arah kanan muncul dan memaksanya untuk bertahan sehingga dia kembali terpental.


"Kau pikir, aku akan tinggal diam".


Ternyata serangan itu berasal dari Brenda yang menyerang dengan pedang Urumi miliknya yang seperti cambuk.


Dylan yang masih terpental, berusaha untuk membalikkan badannya agar dia tidak terjatuh tersungkur ke tanah.


Berhasil mendarat dengan tepat, tiba-tiba Sylvester sudah muncul di depannya dengan berputar di sekitarnya seperti melakukan sebuah tarian.


(Di sebelah kanan).


Setelah memperhatikan gerakan aneh Sylvester, Dylan berusaha melakukan serangan balik. Tapi dugaan Dylan salah, Sylvester justru menyerang dari sebelah kiri dengan berupa sebuah tendangan.


Untuk sekian kalinya, Dylan berhasil menghindar dan melompat mundur kearah belakang.


"Luar biasa..... Seperti yang di harapkan dari kapten kelas 1-S..... Masih bisa bertahan dari bombardir serangan seperti itu..... Namun, tidak peduli sekuat apapun dirimu..... Kau tetap akan terluka jika terkena bombardir serangan".


Pernyataan Sylvester tentu saja membuat Claudia yang mendengar itu terkejut. Bagaimana tidak, soalnya gerakan pertarungan mereka terjadi begitu cepat di matanya. Dan baginya, Dylan tampak berhasil menghindar dengan mudah.


Tidak percaya begitu saja, Claudia segera menoleh kearah Dylan untuk memastikan kondisinya.


Dan ternyata benar apa yang dikatakan Sylvester.


Dylan saat ini berdiri dengan wajah kanannya yang memar karena tendangan dari Sylvester. Perut yang tertebas oleh serangan Brenda. Kedua pundaknya yang terluka karena serangan Zacklen dan Theodore dan Kuku jari kiri yang lepas karena di cabut oleh Juvenile.


Hanya serangan dari, Dywen dan Daniel yang benar-benar berhasil dia hindari tanpa terluka sedikitpun.


Dylan masih tetap tenang walau menerima luka sebanyak itu, dan dengan tenang nya dia melihat kearah jari kirinya yang terluka untuk sesaat. Lalu dia kembali menatap Sylvester dan para pengikutnya yang tersenyum lebar kearahnya.


"Yah, harus aku akui serangan beruntun kalian memang luar biasa...... Bahkan tarian mu itu boleh juga, Sylvester..... Tapi, biar aku kasih tahu kalian satu hal yang pasti..... Serang keroyokan seperti barusan itu tidak akan cukup..... Jangankan untuk mengambil hidupku..... Memuaskan ku saja saat ini".


Sambil tersenyum sinis Dylan mengejek kearah Sylvester dan yang lainnya.


"Sombong lah selagi kau bisa Dylan..... Karena perlahan tapi pasti kami semua akan membuat tempat ini menjadi makam mu".


Dengan penuh percaya diri, Sylvester mengatakan bahwa dia akan benar-benar menghabisi Dylan dan menjadikan tempat ini sebagai makam untuk dirinya.


(------------------)


Di sisi lain.


Thousand Faces yang berhasil mencapai luar Museum Lazarus sambil membawa dokumen-dokumen hasil dari eksprimen mereka sedang mengawasi situasi.


"Aneh?..... Kenapa tidak ada para ksatria di sekitar sini...... Ke mana mereka semua?".


Thousand Faces sangat kebingungan karena tidak ada satupun para ksatria yang bertugas untuk menjaga di luar Museum Lazarus.


Jika pun mereka di habisi seharusnya ada mayat atau bercak darah di sekitar taman. Tapi, dia tidak menemukan apapun dan justru itu membuatnya kebingungan.


Disaat dia sedang berpikir keras, dai dikejutkan oleh sebuah serangan dari arah kanannya yang sangat cepat.


Untungnya, Thousand Faces berhasil menghindari serangan itu. Melirik kearah serangan itu berasal.


Tampak sebuah bongkahan pasak es berwarna hitam yang tertancap di tanah. Thousand Faces segera menghembuskan nafas panjang dan kembali berdiri.


"Aku benar-benar terkejut dengan serangan dadakan ini..... Tidak aku sangka, rupanya orang yang menyerang ku itu adalah kau, ya...... Ksatria "Pedang Es Hitam" dan murid dari "Pendeta Pedang Es dan Cahaya" Hyoga...... Frey de Highland".


Frey kemudian melangkah maju dengan santainya dan berbicara.


"Yo Faces..... Lama ngak ketemu ya..... Wajahmu masih menyebalkan di balik tudung itu...... Yah, walau aku ngak bisa melihatnya sih".


"Sekarang, aku paham kenapa tidak ada satupun para ksatria yang berjaga disini..... Rupanya ini semuanya adalah ulah mu, ya".


"Yah, mau bagaimana lagi...... Soalnya, aku sudah baik-baik minta izin lewat kepada mereka.... Eh? Mereka malah marah-marah ngak jelas dan mengusir ku..... Jadi, aku putuskan untuk mengajukan sedikit "komplain" kepada mereka".


Setelah mengatakan itu, terjadi keheningan diantara keduanya dalam waktu yang lama. Kedua saling membalas senyuman ceria kearah masing-masing.


Kemudian------


BOOM.


Terjadi sebuah ledakan yang besar, di susul dengan munculnya banyak percikan api yang cepat dan terus-menerus berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya.


Setiap kali percikan itu melintas, sesaat kemudian akan terjadi ledakan besar dan menghancurkan tempat yang dilintasi percikan itu.


Setelah di perhatikan lebih dekat lagi, ternyata sumber dari percikan api dan ledakan itu berasal dari Thousand Faces dan Frey yang saat ini saling menyilang kan pedang mereka.


"Bocah tengik..... Dari dulu baik Verna, Hyoga, kau dan rekanmu yang bernama Alex itu selalu saja menyebalkan dan menggagalkan rencana ku".


"Verna-san, mungkin gagal menghabisi mu saat itu...... Tapi, kali ini akulah yang akan menghabisi mu, Faces".

__ADS_1


Dengan ekspresi jengkel dan penuh amarah Thousand Faces mengungkapkan kebenciannya kepada Verna, Hyoga, Frey dan Alex yang pernah menggalakan rencananya.


Sementara Frey, menyatakan bahwa dialah yang akan menghabisi nyawa Thousand Faces melanjutkan tugas Verna yang tertunda.


__ADS_2