Reborn As Villain

Reborn As Villain
Chapter 21 : Tes Ujian Masuk Akademi Estonia part 2.


__ADS_3

Di aula yang sudah disiapkan untuk tes kedua, yaitu tes sihir.


Para peserta yang sudah lolos sudah berkumpul di sana, begitu juga dengan Dylan yang sudah berada di sana.


Dan seperti biasanya, dia ditatap oleh semua orang yang ada disana dengan tatapan jengkel walaupun Dylan tidak tahu apa alasannya.


(******.... Pengen pulang, anjir).


"Oh, Dylan-san!!!".


Ketika dia sedang mengeluh dengan kondisinya yang diacuhkan oleh orang-orang di sekitar. Tiba-tiba terdengar suara orang yang memanggilnya.


"Oh, Laura".


Begitu Dylan menengok, yang menyapanya adalah Laura de Zinvarca. Putri Earl Zinvarca yang pernah dia temui waktu pesta Ball. Yang saat ini berjalan mendekat kearahnya.


"Sudah lama kita tidak berjumpa, ya? Dylan-san".


"Iya..... Kau juga mendaftar disini?".


"Tentu saja.... Tapi, aku tidak menyangka kalau bisa bertemu dengan Dylan-san disini".


Laura tersenyum lembut mengungkap rasa senang saat tahu bahwa Dylan juga mendaftar ke Akademi Estonia.


"Sebenarnya sih, aku ngak ada niatan masuk kesini hanya saja...... Aku ngak punya pilihan lain alias terpaksa".


Secara tidak langsung Dylan memberi tahu Laura bahwa dia sendiri sangat keberatan untuk masuk ke Akademi Estonia. Laura yang mendengar itu, tampak sangat kebingungan.


"Wah, wah, wah.... Aku bertanya-tanya sejak kapan kalian bisa sangat akrab, padahal baru satu kali bertemu".


Dylan dan Laura segera berpaling saat mendengar suara Filaret yang sekarang sudah ada di antara mereka sambil tersenyum menakutkan.


"Filaret-san!!! Kau juga mendaftar kesini?".


"Oh, tentu sajalah.... Lagian aku tidak bisa membiarkan Nii-san pergi ke tempat antah berantah seorang diri".


"Ini itu Akademi, Fira.... Bukan tanah antah berantah".


Laura sangat senang mengetahui bahwa Filaret juga ikut mendaftar ke Akademi Estonia. Tapi, sebenarnya tidak dengan Filaret yang sangat jengkel kepada Laura.


Bukan karena mendaftar ke Akademi Estonia, melainkan karena dia terang-terangan mencoba mendekati Dylan.


Lalu, pintu aula terbuka dan seseorang wanita dewasa berambut hijau tua dengan pakaian seperti penyihir lengkap dengan topi sihirnya memasuki aula.


Dia segera menghadap ke para siswa yang ada di sana dan mulai berpidato.


"Hai, semuanya!!!!!! Selamat Siang sekalian, para calon siswa dan siswi Akademi Estonia, sekalian!!!!..... Saya adalah Olga Marie Annimusufia, guru yang akan bertanggung jawab dalam tes ujian sihir ini...... Tahapannya cukup mudah kok.... Pertama, kita akan ukur berapa kapasitas energi sihir kalian dengan bola kristal ini, besar kecilnya di tentukan seberapa terang bola kristal ini menyala...... Kedua, kita akan lihat apa kalian bisa sihir atribut atau sihir non atribut..... Dan terakhir, kalian akan melakukan tes praktek untuk melihat kekuatan sihir kalian.... Sama halnya dengan tes tertulis.... Tes ini akan menentukan di kelas mana kalian akan ditempatkan.... Paham, kan!!!".


Guru wanita bernama Olga ini dengan sangat ceria menjelaskan tahapan tes sihir Kepada semua peserta calon siswa yang ada di sana.


"Nah, nah, nah.... Tanpa membuang banyak waktu lagi, peserta yang namanya aku panggil segera maju ke depan.... Baiklah kita mulai....".


Satu persatu nama para peserta di panggil untuk melakukan pengukuran. Hasilnya banyak dari mereka yang senang karena memiliki kapasitas energi sihir yang besar. Tapi, ada juga yang kecewa karena tahu kapasitas energi sihir yang mereka punya kecil.


Filaret yang nama nya dipanggil terlebih dahulu dari Dylan segera meletakkan tangan nya di bola kristal itu.


Dan sesuai dugaan bola kristal itu menyala lebih terang daripada siswa lain. Hal itu tentu saja membuat semua orang sangat terpukau.


"Wah, wah, wah.... Sangat terang sekali.... Filaret, aku tidak menyangka kau punya kapasitas energi sihir yang sangat besar... Aku sangat terkesan".


"Terimakasih, Olga-sensei".


Filaret segera memberi hormat dan kembali ke posisinya.


"Dan selanjutnya..... Dylan van Arcadia.... Silahkan maju".


"Akhirnya giliran ku".


"Semangat, Nii-san".


"Kau pasti bisa, Dylan-san".


Dylan segera melangkah maju ke depan. Dan meletakkan tangan nya ke bola kristal. Tak berselang lama, bola kristal itu memancarkan sinar yang lebih terang dari Filaret.


"Wah, wah, wah, ini lebih terang daripada tadi".


Sangking terangnya, semua orang bahkan Olga sendiri sampai menghalau cahaya yang dipancarkan dari bola itu dengan tangan mereka.


CRAK, CRAK, CRAK... PIYAAAAR!!!!


Kemudian perlahan-lahan bola itu mulai retak dan pada akhirnya pecah menjadi berkeping-keping. Kejadian itu membuat semua orang terdiam.


"""Eh? Eh? EEEEEEEEEEEH......!!!!!!""".


Semua orang langsung berteriak terkejut, karena mereka kaget dengan kejadian yang terjadi didepan mata mereka.


(Waduh gawat.... Aku malah ngancurin kristal nya..... Aku ngak disuruh ganti rugi, kan?).


Walau tampak tenang diluar, Dylan sebenarnya sangat panik di dalamnya. Dia juga melihat kearah Olga yang saat ini badannya bergetar dan mulai berjalan mendekat sambil terus bergumam sesuatu.


(Waduh.... Kayaknya dia mulai marah ini).


Dylan mengira bahwa Olga sangat marah kepadanya. Dan saat dia berada tepat di depan Dylan dia mulai berbicara.


"Lu---lu---LUAR BIASA!!!".


"Eh?".


"LUAR BIASA!!!! BARU KALI INI AKU MELIHAT ADA SESEORANG YANG PUNYA KAPASITAS ENERGI SIHIR YANG SANGAT BESAR BAHKAN BISA SAMPAI MENGHANCURKAN BOLA KRISTAL INI!!!! SEKALI LAGI, KAU MEMANG LUAR BIASA!!!".


Ternyata, Olga tidak marah melainkan dia sangat senang dan sangat antusias saat tahu bahwa Dylan memiliki kapasitas energi sihir yang besar.


Bahkan sampai mendekatkan wajahnya karena sangking antusiasnya. Sementara Dylan sendiri hanya bisa terheran-heran dengan sikap Olga menjadi antusias.


"Maaf, Sensei..... Apa aku harus ganti rugi karena menghancurkan bolanya?".


"Oh, soal itu santai saja.... Akademi ini punya banyak bola yang seperti itu".


"Begitu ya".


(Ah, syukur deh.... Aku ngak harus ganti rugi).


Dylan merasa sangat lega saat tahu, bahwa dia tidak harus ganti rugi atas bola kristal yang dia hancurkan.


"Kalau begitu, aku undur diri dulu Olga-sensei".


"Ah..... Iya, baiklah..... Aku juga harus panggil peserta yang lainnya".


Dylan segara mundur dan kembali ke posisi. Namun berbeda dengan Filaret yang mendapat tatapan kagum dari sekitar nya.


Dylan malah mendapat tatapan iri bercampur jengkel dari orang-orang di sekitar.


"Woi, woi..... Apa-apaan?".


"Jangan bercanda".


"Lagi-lagi dia bikin ulah".


"Mana mungkin kapasitas energi sihir nya lebih besar dari milikku".


"Pasti dia curang".

__ADS_1


(Dasar ******..... Apa kalian pikir aku ngak ngerasain setiap tatapan iri kalian?...... Yah, ini seperti yang aku duga juga sih..... Para bangsawan disini adalah orang-orang sombong dan merasa dirinya yang terhebat..... Belum lagi, kebencian mereka karena aku menyiram Putri Vanessa dan ketidaksukaan mereka kepada keluarga Arcadia.... Tidak heran jika aku sangat dibenci).


"Dylan-san, tadi itu sungguh hebat".


"Seperti yang diharapkan dari Nii-san".


Ketika semua orang memberinya tatapan kejengkelan dan iri, hanya Filaret dan Laura saja yang memuji kehebatannya.


"Hei, hei.... Apa-apaan dengan kecurangan yang kau lakukan? Siapa sangka, bangsawan miskin di perbatasan malah mendaftar Akademi ini?".


Dari arah belakang, ada seorang pria yang mendekat kearahnya. Dia memiliki penampilan yang rapi dan potongan rambut yang rapi. Tapi, semua itu sinar karena dia memiliki wajah yang sangat sombong.


"Etto.... Maaf, kau siapa ya?".


"Namaku adalah Dirk fou Watson. Putra Duke Watson. Yang memegang jabatan Mentri keuangan Kerajaan ini..... Aku yakin orang sepertimu pasti tahu, kan?".


Dengan nada angkuh pria itu memperkenalkan dirinya sebagai Dirk putra Duke Watson yang memegang jabatan Mentri keuangan. Semua orang terkesan dan terkejut saat mendengar hal itu.


"Oh, begitu ya..... Selamat untukmu".


Namun, hal itu justru tidak berpengaruh apapun untuk Dylan. Melihat ekspresi dan sikap Dylan yang malah santai dan tidak tampak ada rasa ketakutan atau kagum membuat Dirk tiba-tiba emosi yang tidak jelas.


"Kurang ajar!!!!...... Jangan berpikir hanya karena kau putra dari seorang "Pahlawan"..... Kau bisa berbuat seenaknya disini..... Seumur-umur, baru kali ini aku dipermalukan seperti ini!!!".


"Woi, woi..... Dari tadi dia ini ngomong apa sih, Nii-san? Aku ngak paham sama sekali yang dia katakan?".


"Aku juga tidak paham..... Anggap saja dia orang gila".


Melihat Dirk yang tiba-tiba emosi membuat Dylan dan Filaret menaikkan alisnya sebagai tanda mereka benar-benar kebingungan.


Dengan diliputi emosi yang tidak jelas, Dirk langsung menarik pedangnya dan menodongkannya ke arah Dylan.


"Bersiaplah.... Akan aku tunjukkan padamu, betapa mengerikannya bangsawan".


"Tunggu dulu.... Kalian tidak boleh berkelahi disini".


"DIAMLAH!!! INI ADALAH URUSANKU DENGANNYA!!! JANGAN IKUT CAMPUR".


Olga yang panik berusaha untuk menghentikan tindakan absurd yang dilakukan Dirk. Tapi, dia langsung di sentak oleh Dirk yang marah karena niatan Olga.


"Hei, menghunuskan pedang dan menantang bertarung saat tes sedang berlangsung itu dilarang, loh".


"Terserahlah aku, bajingan..... Jangan sok-sokan ngatur... Sekarang bersiaplah untuk bertarung".


"Ya ampun, sekarang aku tahu..... Kenapa Ayah tidak suka dengan para bangsawan Ibukota..... Fira, Laura... Bisa kalian mundur dulu. Kalau kena nanti bahaya loh?".


"Hati-hati, Dylan-san".


"Jangan sampai kau membunuhnya loh, Nii-san.... Nanti kita yang bakal repot".


"Iya, iya aku tahu".


Filaret dan Laura segera mundur sesuai instruksi Dylan. Memastikan Filaret dan Laura sudah dalam jarak yang aman, Dylan mengalihkan pandangannya kembali ke Dirk yang sangat emosional.


"Nah, sekarang bersiaplah..... UNTUK MENGHADAPI AJAL MU!!!".


Tanpa basa-basi, Dirk segera melesat kearah Dylan yang masih bersikap santai dan menghujaninya dengan banyak tebasan.


Para peserta yang melihat aksi Dirk malah bersorak-sorai mendukung nya. Mereka juga mengumpat kepada Dylan yang dari tadi hanya menghindari serangan Dirk.


Melihat Dylan yang masih menghindar tanpa ada niatan melakukan serangan balik, membuat Dirk sangat jengkel. Akhirnya, dia berusaha memprovokasi nya.


"KENAPA DIAM SAJA!!!! APAKAH HANYA ITU YANG DIAJARKAN OLEH AYAHMU YANG "PAYAH" ITU!!!!!".


"Huh? Bajingan.... Kau tadi ngomong apa?".


"Waduh gawat ini".


Provinsi Dirk berhasil memancing emosi Dylan. Dan, Fira tahu betul apa yang akan terjadi saat Dylan sedang marah.


Saat jarak keduanya mulai mendekat, Dirk langsung menganyunkan pedangnya dengan kecepatan tinggi dan yakin Dylan tidak bisa bisa menghindar.


Tapi, sayangnya semua tidak sesuai keinginan nya.


Dylan berhasil menghindar dari ayunan pedang yang sangat kuat dan cepat itu.


"APA?"


Dirk yang menyadari hal itu, dibuat terkejut olehnya. Kemudian------


BANG.


"Ugh".


DUAR.


Dylan melesatkan sebuah tendangan yang sangat keras tepat di ulu hati Dirk. Sangking kerasnya tendangan Dylan, membuat badan Dirk melesat sampai menatap dan menghancurkan tembok aula.


Kejadian itu, membuat semua orang yang tadi mendukung Dirk terdiam mematung. Mereka masih sulit mencerna dengan apa yang terjadi barusan.


Mengabaikan tatapan semua orang, Dylan berjalan perlahan-lahan kearah Dirk yang saat ini sedang terduduk sambil terus menahan rasa sakit yang luar biasa.


Melihat Dylan berdiri didepannya, Dirk masih tidak menyembunyikan rasa bencinya yang tidak berdasar.


"Brengsek!!! Apa yang baru-----".


BANG.


Belum selesai dengan umpatannya, Dylan kembali melayangkan tendangan kaki kiri yang keras. Dan kali ini dia arahkan tepat di wajah Dirk.


Dirk kembali mengalami muntah darah dan semakin sempoyongan karena banyak darah yang keluar dari mulutnya.


Lalu Dylan berjongkok di depan Dirk dan dengan kejamnya langsung menjambak rambut Dirk dan mengarahkan wajahnya agar menatap dirinya.


"Ini peringatan pertama dan terakhir dari ku...... Jika kau masih ingin hidup di dunia ini.... Jangan pernah kau meremehkan orang lain tanpa tahu seberapa menakutkan nya dia..... Dan ingatlah..... Bahwa kau kubiarkan hidup kali ini.... Itu semua karena aku "masih" ada belas kasihan padamu.... Paham?".


BANG.


Tanpa menunggu jawaban dari Dirk, Dylan langsung menghantamkan wajah Dirk dengan sangat keras ke lantai sekaligus membuatnya pingsan di tempat.


Dylan kemudian berdiri dan mulai berbicara lagi.


"Ngomong-ngomong.... Peringatan tadi bukan hanya untuk Dirk saja........ Tapi, juga untuk kalian semua".


Dylan kemudian menoleh kearah para peserta calon siswa dengan matanya yang menyala merah dan aura yang mengerikan.


Setelah insiden itu, tes kembali berjalan dengan lancar tanpa ada halangan. Tetapi, orang-orang masih saja mengirimkan tatapan kebencian kepada Dylan.


Yang berarti mereka masih belum mengerti bahwa Dylan benar-benar serius dengan ucapannya.


(--------------)


Selesai dengan pengukuran kapasitas energi sihir.


Sekarang para peserta calon siswa akan melewati pemeriksaan sihir. Tujuan nya, untuk memeriksa apakah peserta bisa menggunakan sihir elemen atau sihir tanpa atribut.


Karena hanya sekedar pemeriksaan maka prosesnya terbilang cukup cepat. Satu persatu para peserta calon siswa dipanggil untuk di cek sihir apa yang bisa mereka pakai.


Hasilnya adalah.


Laura bisa menggunakan Sihir elemen air.

__ADS_1


Filaret bisa menggunakan 3 elemen sihir yaitu api, cahaya dan petir.


Para peserta termasuk Olga sangat terkejut mengetahui Filaret bisa menggunakan 3 elemen sihir sekaligus.


Sementara hasil pemeriksaan sihir Dylan, dinyatakan bahwa dia tidak bisa menggunakan sihir elemen tetapi bisa menggunakan sihir non atribut.


Hasil ini justru membuat, Filaret sebagai adiknya sangat terkejut. Sementara, orang-orang disekitar menatap Dylan dengan tatapan mengejek.


Alasannya, karena hanya Dylan satu-satunya peserta calon siswa yang tidak bisa menggunakan sihir atribut.


Filaret penasaran memutuskan untuk bertanya kepada Kakaknya itu.


"Nii-san.... Apa itu tadi?.... Bukannya kau bisa sihir atribut dan sihir non atribut, ya?.... Lalu kenapa hasilnya, kau hanya bisa menggunakan sihir non atribut saja?".


"Itu karena aku meminta Sonia untuk merapalkan sihir segel agar menyegel sihir atribut ku".


"Eh? Kenapa kau melakukan nya?".


"Akan jadi masalah jika tiba-tiba ada seorang siswa yang bisa menggunakan sihir, baik sihir atribut dan sihir non atribut bersamaan..... Kau bisa membayangkan betapa heboh nya itu".


Filaret paham bahwa tujuan Dylan adalah untuk meredam kehebohan orang-orang disekitar nya. Apabila muncul seorang siswa yang bisa menggunakan sihir, baik itu sihir atribut maupun sihir non atribut.


Selesai dengan hasil pemeriksaan sihir, para peserta calon siswa segera di giring menuju lapangan tempat tes sihir tahap ketiga akan di laksanakan.


(--------------)


Sekarang tahap ketiga dari tes sihir dimulai.


Saat ini, Olga membawa para peserta untuk pergi ke lapangan. Di sana, ada sebuah prasasti baru yang besar berada di tengah-tengah lapangan yang di beri garis pembatas berjarak 70 meter dari posisi para peserta.


"Nah, sekarang.... Tes ketiga adalah praktek untuk melihat seberapa kuat sihir yang kalian miliki..... Caranya cukup mudah kok..... Kalian cukup tembakan sihir kalian ke salah satu prasasti batu yang ada di sana dan kalian tidak boleh melampaui garis batas yang ada..... Masing-masing peserta punya 3 kali kesempatan".


Olga dengan ceria kembali menjelaskan bagaimana penilaian untuk tes sihir tahap ketiga ini.


"Oh, sekarang kita disuruh untuk menembak prasasti yang ada disana dengan sihir, ya".


"Heeeeee............ Seriusan bukankah ini terlalu mudah ya, Nii-san".


Meski tampak mudah bagi Dylan dan Filaret kenyataan berbeda dengan orang-orang disekitar mereka.


"A-apa anda bercanda?".


"Tapi, targetnya terlalu jauh!".


"I-Ini benar-benar tes masuk Akademi, kan? Tesnya terlalu sulit".


Melihat kepanikan dan kecemasan para peserta calon siswa yang lain membuat Dylan dan Filaret hanya bisa menatap heran dan kebingungan.


"Nii-san, apa yang mereka katakan? Bukankah ini tes yang mudah? Kenapa mereka semua malah panik?".


"Entahlah, aku juga tidak tahu".


("Tidak ada target diam di dalam pertarungan yang sesungguhnya".... Itulah yang selalu di ajarkan Ayah, Ibu dan juga Sonia kepada ku dan Fira..... Pertanyaan, apa gunanya melakukan ini?).


Dylan secara diam-diam bergumam tentang apa manfaatnya melakukan tes ini bagi para peserta calon siswa.


Olga segera memanggil satu persatu para peserta dan hasilnya sangat mengecewakan.


Sihir yang dilesatkan oleh para peserta tidak ada satupun yang berhasil mencapai atau bahkan menyentuh target.


"Duh, hampir saja".


"Sedikit lagi".


Para peserta mulai merasa jengkel dan melampiaskan nya dengan cara mengumpat menghilangkan citra mereka sebagai bangsawan beretika. Meski begitu, masih ada beberapa peserta yang sihirnya berhasil mencapai target.


Yang pertama adalah Laura yang sihir airnya berhasil sampai.


Kedua, peserta laki-laki berambut burgundi dengan sihir gelepan nya.


Ketiga, peserta laki-laki tinggi berambut hijau gelap dengan sihir petir nya.


Keempat, peserta wanita berambut oranye dengan sihir tanahnya.


Kelima, peserta laki-laki berambut biru olympic dengan sihir angin nya.


Keenam, adalah Filaret dengan sihir apinya.


Sama halnya dengan Dylan keenamnya juga mendapat tatapan dingin dan iri dari para peserta lainnya.


"Nah, sekarang giliran Dylan van Arcadia".


Dylan segera maju begitu namanya dipanggil. Tapi, karena dia hanya bisa sihir non atribut dia langsung mendapat ejekan dari peserta lainnya.


"Hei, hei lihat itu... Si bocah non atribut itu maju".


"Halah, palingan dia juga gagal".


"Sihir non atribut itu tidak bisa dipakai di pertarungan".


Mengabaikan semua ejekan itu, Dylan berdiri di posisinya dan Olga kembali menjelaskan tes nya.


"Dylan-kun.... Kau punya tiga kali kesempatan.... Tidak perlu khawatir jika kau gagal.... Yang penting kau sudah lulus di 2 tahap sebelumnya".


"Terimakasih atas perhatiannya, Olga-sensei".


Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, Dylan mengarah tangan kanan tepat ke prasasti didepannya dan mulai merapalkan mantra.


"Impact".


DUAR.


"Eh?.... EEEEEEEEEEEH!!!!!!".


Dalam sekejap mata, prasasti yang menjadi target langsung hancur seketika. Dan hal ini tentu saja membuat semua orang termasuk Olga terkejut dibuatnya.


"Lu---Lu----LUAR BIASA DYLAN-KUN!!!! AKU TIDAK PERNAH TAHU KALAU SIHIR NON ATRIBUT JUGA BISA UNTUK SERANGAN JARAK JAUH!!!! AKU BENAR-BENAR TERKESAN!!!".


Olga kembali menunjukkan antusiasme setelah melihat sihir yang Dylan gunakan. Tapi, meski begitu para peserta yang lain tetap saja mengejek Dylan.


"Apa-apaan tadi itu?".


"Yang benar saja?".


"Apa sihir non atribut bisa melakukan hal itu?".


"Dia pasti curang".


Mereka bahkan menuduh Dylan melakukan kecurangan. Tapi, mereka tidak bisa membuktikan hal itu hanya karena mereka ingin menyangkal ketidak berdayaan mereka.


Ketika Dylan berjalan kembali, pandangannya teralihkan ke beberapa peserta yang berhasil tadi.


Yaitu peserta berambut burgundi, peserta berambut hijau gelap dan peserta berambut biru olympic tadi. Keempat nya saling menatap satu sama lain


Kemudian mereka berempat saling tersenyum sinis ke masing-masing dari mereka dan kemudian mereka saling mengalihkan pandangan, dan Dylan kembali berjalan menghampiri Filaret.


Namun, tidak ada yang tahu.


Entah kenapa saat ini, keempat nya memikirkan hal yang sama setelah saling menatap satu sama lain.


((((Kayaknya gua bakal ketimpa sial, kalau berurusan dengan tuh mereka orang)))).

__ADS_1


Dengan ini tes sihir tahap ketiga telah selesai. Dan sekarang tinggal tes terakhir yaitu tes pertarungan yang di adakan di Arena Akademi Estonia.


__ADS_2