Reborn As Villain

Reborn As Villain
Chapter 36 : Ekspedisi Dungeon part 4.


__ADS_3

"Jelas tidak bisa..... Ini jalan buntu".


"Hmm..... Kalau begitu.... Kita tidak punya pilihan lain selain turun, kan?".


Dylan dan Awin sudah berjalan cukup lama. Mereka bahkan tidak tahu sudah berapa lama mereka berdua ada di dalam Dungeon ini.


Dan setiap kali mereka melihat sesuatu seperti "jalan" rupanya itu hanya jalan buntu. Berdasarkan ini, keduanya tidak punya pilihan lagi, selain untuk menuruni lantai Dungeon.


Begitu mereka sampai di lantai bawah, keduanya melihat ada seekor kadal hitam besar yang menempel di tembok dinding.


Menyadari keberadaan Dylan dan Awin kadal itu membuka keduanya dan meratap mereka. Secara ajaib salah satu lengan keduanya mulai mengeras dan berubah menjadi batu.


Menyadari hal itu, kedua segera menghindar dan menyiram tangan masing-masing dengan Exilir yang mereka bawa. Berkat Exilir itu, tangan mereka kembali seperti semula.


"Sialan monster apa itu, mirip seperti Gorgon Medusa".


"Ini nama kadal Basilik, selain beracun dan bisa berkamuflase, matanya bisa merubah makhluk hidup yang dia lihat jadi batu".


"Lalu bagaimana cara kita mengatasinya.... Jika kita saja sulit untuk melihatnya".


"Kita gunakan ini".


Sambil tersenyum Dylan mengeluarkan semacam bola kecil dari item boxnya.


"Tunggu aba-aba dari.... Begitu bola ini meledak segeralah berlari dan tebas Basilik itu".


"Serahkan saja padaku".


Kemudian Dylan melempar bola itu ke arah Basilik, belum mencapai nya bola itu langsung meledak memancarkan cahaya yang terang.


"Awin Sekarang".


Memanfaatkan silau cahaya dari bom cahaya itu, Awin berlari dan tanpa basa-basi lagi langsung menebas Basilik itu menjadi 2 bagian.


Setelah monster Basilik itu dikalahkan, kedua kembali melanjutkan perjalanan menuju lantai dibawahnya.


Mereka terus berjalan, tapi langkah mereka terhenti karena melihat genangan air berwarna hitam pekat.


"Kali ini tempat berawa, ya?".


"Bagiamana cara kita menyebrangi nya?".


Keduanya mulai berpikir keras untuk mencari cara untuk bisa melintasi rawa hitam ini. Sampai akhirnya pandangan Awin teralihkan ke sebuah kapal dayung yang jaraknya hanya beberapa meter dari mereka.


"Hei, Dylan..... Bagiamana kalau kita gunakan kapal itu saja".


"Hmm.... Ok baiklah".


Keduanya segera pergi menuju kapal itu dan menggunakan untuk menyusuri rawa hitam itu. Walau dalam hati keduanya sebenarnya penasaran darimana kapal ini berada. Tapi, kedua memutuskan untuk tidak ambil pusing.


Keduanya mendayung secara perlahan-lahan, sambil terus memperhatikan sekitar karena ada kemungkinan ada monster yang menyerang mereka dari bahwa rawa.


Dan benar saja.


Dari arah samping, tiba-tiba saja muncul seekor monster berbentuk mirip hiu bertanduk yang melompat dari rawa untuk menerkam mereka.


Untungnya, Dylan dan Awin berhasil menghindar meski kapal yang mereka tunggangi hampir oleng karena terkena gelombang air saat monster hiu itu kembali kedalam.


"Sialan, yang tadi itu bikin jantungan aja".

__ADS_1


"Aku bahkan tidak bisa merasakan hawa keberadaannya".


Setelah mengungkapkan keterkejutan mereka. Keduanya kembali melihat sekitanya dengan seksama.


"Sial, dia pergi kemana coba?".


"Awin, kita harus tenang..... Jika kita ingin mengalahkan nya..... Satu-satunya cara adalah menunggu dia kembali menyerang kita".


"Hmmm... Kau benar juga..... Selama kita bisa melihatnya walaupun sebentar itu sudah cukup".


Tak berselang lama.


Hiu itu kembali menyerang, dan momen itu di manfaatkan Awin untuk langsung menebasnya menjadi 2.


"Yosh.... Akhirnya mati juga".


Kebahagiaan Awin berakhir, ketika Dylan memegang pundaknya sambil menunjuk kearah rawa.


Seketika Awin terkejut, karena ternya bukan satu Hiu saja yang harus mereka lawan. Tapi, ada beberapa Hiu yang terus berenang-renanh disekitar mereka.


"Kau.... Pasti bercanda, kan?".


Bersamaan dengan itu, 2 ekor hiu melompat dan bersiap menerkam mereka.


(-----------------)


Sementara itu kembali ke Akademi Estonia.


Emilia saat ini sedang mengurung diri di dalam kamarnya karena dia masih shock dengan apa yang baru saja menimpa Dylan dan Awin.


Olivia yang khawatir dengan kondisi Emilia mencoba menunggu di depan pintu kamarnya. Untuk Arnold, Ornest dan Garcia ketiganya memilih duduk di bangku taman dengan wajah yang tertunduk lesu dan menunjukkan kesedihan.


Filaret melakukan sesuatu hal yang seharusnya tidak pernah dilakukan oleh seorang murid pada umumnya.


Apa itu?....... Jawabannya adalah.


Filaret menghajar habis-habisan semua siswa yang menembaki Dylan dan Awin dengan sangat brutal. Dia juga tidak ragu untuk menebas mereka menggunakan Sabit yang dia bawa.


Bahkan Reiner, Stella, Zuzan, Finne juga ikut di hajar habis-habisan olehnya. Seperti saat ini, ketiga orang itu sekarang sedang berlindung di belakang Vanessa yang menggunakan pelindung untuk melindungi mereka dari sarangan membabi buta.


"BAJINGAN!!!! KELUAR DARI PELINDUNG ITU SEKARANG!!!! AKAN AKU KU BUNUH KALIAN SEMUA!!! GARA-GARA PERINTAH KONYOL MU ITU!!!!!!! KAKAKKU TERJATUH KE JURANG!!!!! DAN KAU MASIH MERASA PANTAS DIPANGGIL PUTRI BERBUDI LUHUR!!!!! OMONG KOSONG MACAM APA ITU?!!!! DAN KAU, APANYA YANG "MASA DEPAN CERAH" HUH?!!!! KAU ITU CUMA ORANG LEMAH DAN GOBLOK YANG BAHKAN TIDAK BISA MEMBUNUH SATU GOBLIN PUN!!!!!! SAMA HALNYA DENGAN KALIAN BERTIGA, DASAR PARA LACUR SIALAN!!!!!! KALIAN HARUS MEMBAYAR SEMUA KEBODOHAN KALIAN!!!! BAWA KEMBALI KAKAKKU!!!! AKU TIDAK PEDULI SIAPA KALIAN... AKAN KU BUNUH KALIAN SEMUA!!!".


Filaret terus menyerang membabi-buta dengan Sabitnya yang sudah diperkuat dengan sihir gabungan dari api dan petir terus menerus.


Tampak jelas Vanessa sedang berusaha keras mempertahan pelindung nya yang hampir hancur karena terus menerus di serang habis-habisan oleh Filaret.


Melihat Filaret yang mengamuk Ritzia dan Sylvia berusaha untuk mencegah dan menahannya.


"Fira, tahan emosi mu".


"Fira, membunuh mereka tidak akan membuat Dylan-san kembali".


"Aku tahu itu..... TAPI, SETIDAKNYA AKU BISA MELAMPIASKAN DAN MEMBALAS DENDAM KEMATIAN KAKAKKU DAN AWIN-KUN KEPADA PUTRI SOK SUCI INI DAN PENGIKUTNYA YANG BODOH ITU!!!".


Ritzia dan Sylvia berusaha mencegah amarah Filaret yang tak terkendali dengan sekuat tenaga. Kemudian------


BANG.


Sebuah serangan yang lebih cepat dari suara menghantam tengkuk Filaret. Sangking kerasnya sampai membuat dia pingsan di tempat.

__ADS_1


Ketika semuanya terkejut dan kebingungan siapa orang yang melakukan serangan kejutan itu. Sosok itu muncul dengan sendiri.


Yang rupanya adalah sang Kepala Akademi Estonia itu sendiri, Leon Sera Belmont.


"Ke-KEPALA AKADEMI... TUAN LEON!!!!!".


Seketika semua murid langsung menundukkan kepala sebagai bentuk penghormatan. Namun, Leon tidak merespon hal itu dan hanya menatap tajam bergantian dari Filaret yang pingsan ke Vanessa beserta rombongannya. Selang beberapa saat, Leon yang terdiam mulai buka suara.


"Putri Sylvia.... Tolong bawa Filaret dan beberapa siswa yang terluka ke ruang UKS dan suruh dokter memberi mereka perawatan".


"Ba-baiklah".


"Sarah, bantu dia".


"Laksanakan, Tuan Leon".


"Putri Ritzia dan Putri Vanessa".


""I-iya"".


"Kalian ikut keruangan ku sekarang..... Ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian".


"Ba-baiklah".


Leon segera pergi meninggalkan taman Akademi di susul oleh Ritzia dan Vanessa di belakangnya. Sementara itu, Sylvia dibantu oleh Sarah asisten Leon berserta beberapa murid membawa Filaret dan siswa yang terluka ke ruang UKS.


(-----------------)


Kembali ke Dylan dan Awin yang masih mencoba bertahan hidup di kedalam Dungeon dengan jumlah monster yang banyak dengan kekuatan yang ngak ngotak.


Setelah mengalahkan beberapa ekor hiu yang mengepung mereka di rawa hitam. Mereka segera di sambut oleh beberapa monster yang mirip seperti Lalat berukuran raksasa yang mengejar mereka.


Turun ke lantai berikutnya.


Mereka harus berhadapan dengan monster serangga berbentuk belalang sembah. Belum sampai di situ saja, mereka juga harus melawa monster kelabang berkulit keras yang muncul entah dari mana.


Intinya.


Setiap kali menuruni lantai, mereka harus bertarung dengan para monster aneh yang terus-menerus menyerang keduanya dengan sangat agresif dan seolah-olah tidak memberikan mereka jeda waktu untuk istirahat.


Sampai akhirnya, mereka tiba di sebuah gerbang misterius berukuran raksasa. Tampak jelas ekspresi lelah yang mereka pancarkan.


"Ha.... Ha... Ha.... Ha... Anjir, sekarang apa lagi ?".


"Ha.... Ha... Mana.... Ha..... Aku tahu..... Ha....Pokonya..... Ayo gas aja..... Aku sudah..... Kehabisan..... Rencana".


Dylan dan Awin memutuskan untuk mendekat dan membuka gerbang itu. Tapi, baru beberapa saat mereka melangkah, tanah di sekitar mereka bergetar hebat.


Tak berselang lama, muncul 2 sosok Raksasa setinggi 10 meter berwarna merah dengan satu mata di tengahnya. Siapapun orang yang melihat itu pasti akan tahu, bahwa monster ini disebut Red Cyclop. Keduanya muncul di depan Dylan dan Awin dengan memasang pose yang konyol.


Sayangnya, baru beberapa detik muncul kepala kedua Red Cyclop itu terpenggal dan jatuh ketanah bahkan sebelum keduanya sadari.


Lalu, Dylan dan Awin berjalan santai melintasi 2 Red Cyclop itu sambil berkata dengan nada yang sangat dingin.


"Maaf, ya".


"Kami lagi ngak ada waktu buat main-main".


Keduanya, kemudian dengan sekuat tenaga membuka gerbang itu. Sebenarnya, keduanya khawatir dengan apa yang ada di baliknya, tapi rasa lelah dan muak akan situasi mereka keduanya memutuskan untuk tetap melangkah maju.

__ADS_1


__ADS_2