
Trail Running.
Kegiatan lari jejak yang dilakukan di lingkungan alam terbuka dengan persentase jalan beraspal seminimal mungkin, tidak lebih dari 20 persen dari total rute yang dilalui.
Olahraga ini sering kali dilakukan di area pegunungan, bukit, gurun, hingga dataran dengan jalan yang tidak teratur.
Namun umumnya, rute yang dilalui harus ditandai dengan benar sehingga terdapat tujuan akhir yang lebih jelas.
Karena itu, terkadang panitia akan memberikan semacam peta rute. Agar para peserta tidak berlari keluar dari rute yang di tentu.
Kegiatan ini bisanya di lakukan secara individu. Tapi kali ini, Trail Running ala Akademi Estonia akan di lakukan secara kelompok.
Benar.
Penjelasan di atas adalah kegiatan yang saat ini di lakukan oleh seluruh siswa tahun pertama Akademi Estonia.
Ini adalah kegiatan rutin yang hampir dilakukan setiap tahunnya. Tujuan dari kegiatan ini selain untuk melatih kebugaran fisik para siswa, ini juga sebagai bentuk ujian untuk menguji sampai mana tingkat solidaritas yang dimiliki oleh para siswa.
Saat ini, Dylan dan yang lainnya sudah menggunakan seragam olahraga pemberian dari akademi. Seragam sekolah ini sangat mirip dengan seragam olahraga di kehidupan Dylan sebelumnya.
Dimana menggunakan kaos putih polos yang ditutupi dengan mantel dan celana panjang training bewarna biru muda dengan garis berwarna putih di setiap sisinya.
Tidak seperti kebanyakan siswa yang masih bersantai sambil menunggu instruksi. Seluruh siswa kelas 1-S saat ini sedang melakukan gerakan pemanasan.
"Woi, lihat itu".
"Apa yang mereka lakukan?".
"Gerakan apa itu?".
"Terlihat sangat konyol".
Hal itu tentu saja, mendapatkan tatapan aneh dari semua orang. Dan menganggap gerakan yang mereka lakukan itu sangatlah konyol.
Nah, sekarang. Kenapa siswa Kelas 1-S bisa tahu tentang gerakan pemanasan?
Semua ini terjadi berawal dari Dylan, Filaret dan Awin. Saat ketiganya melakukan pemanasan, hal itu tentu saja mendapatkan perhatian. Bukan hanya dari rekan sekelas mereka, bahkan Frey juga bertanya-tanya.
"Ini gerakan untuk memanaskan otot-otot mu agar mengurangi dampak cidera saat olahraga".
Dylan memberikan jawaban seperti itu saat di tanya oleh Frey. Memahaminya, Frey dan yang lain mencoba untuk mengikuti apa yang dilakukan ketiganya.
Dan itu terbukti efektif.
Sejak saat itu, mereka semua selalu melakukan gerakan pemanasan sebelum melakukan kegiatan olahraga maupun pelatihan fisik lainnya
Tidak lupa juga Dylan mengajarkan cara melakukan gerakan pendinginan. Untuk mengurangi rasa sakit setelah beberapa melakukan gerakan pemanasan dan cidera pada otot.
"PARA SISWA TAHUN PERTAMA!!!! MOHON PERHATIANNYA!!!".
Di saat Dylan dan yang lainnya selesai melakukan pemanasan. Perhatian semua siswa sekarang teralihkan kepada Liara-sensei yang berteriak.
Sebelum berbicara lagi, Liara sempat melihat kearah para siswa yang ada di depannya. Merasa para siswa sudah tenang dan memperhatikannya dia segera membuka suara.
"Seperti yang kalian tahu.... Hari ini kita akan melakukan kegiatan Trail Running yang lokasinya ada di hutan Elbrand.... Kami sudah beri tanda rute mana saja yang boleh dan tidak boleh kalian lalui agar tidak tersesat...... Meski ini di sebut olahraga namun ini bukan perlombaan siapa cepat dia memang...... Selain mendapatkan nilai.... Kami ingin tahu sampai mana tingkat solidaritas kalian sebagai sesama siswa tahun pertama....... Dan akan ada konsekuensi apabila ada yang melakukan pelanggaran..... Sedikit keringanan dari kami..... Bagi siswa yang kurang nyaman dengan rekan sekelasnya..... Di izinkan untuk bergabung dengan kelas lain dalam kegiatan ini...... Setelah itu, kalian pergilah menuju titik start..... Itu saja dari ku".
Mengikuti instruksi dari Liara para siswa di suruh untuk mulai melakukan persiapan sebelum melakukan Trail Running termasuk Dylan dan yang lainnya.
(------------------)
"Yosh, persiapan kita sudah selesai.... Sekarang, ayo kita segera menuju ke titik start".
Dylan sebagai ketua kelas segera memberikan instruksi kepada anggota 1-S untuk segera menuju titik start. Namun, langkah kaki mereka terhenti saat mendengar teriakan seorang.
"SUDAH KAMI BILANG MEJAUHLAH DARI REINER!!!".
Teriakan itu, segera menyita perhatian Dylan dan dia melihat Lafia sedang di bully oleh beberapa gadis.
"MESKI KAU INI TUNANGAN DAN TEMAN MASA KECILNYA!!!! KAU TIDAK PUNYA HAK ADA DI SISINYA!!".
"KAU ITU CUMA AIB BAGINYA!!!! SADARILAH POSISIMU!!!!".
Para gadis yang tampaknya sangat mengagumi Reiner menyuruh Lafia untuk menjauh darinya. Mereka tidak peduli kalau Lafia adalah tunangan Reiner. Karena mereka hanya menganggap keberadaan Lafia adalah aib baginya.
Lafia sendiri hanya bisa tertunduk diam dan tidak bisa membalas. Melihat hal itu, Dylan hanya bisa menatap penuh perhatian.
Belum sampai disitu, suara teriakan lainnya mulai terdengar.
"SUDAH KUBILANG PERGI SAJA KAU DARI SINI!!! MESKI KAU ITU KAKAKKU.... KAU TIDAK AKAN PERNAH DI TERIMA DI SINI!!!! LAGI PULA, KEBERADAAN DIRK SAMPAI SEKARANG TIDAK DIKETAHUI!!!! AKU YAKIN KAULAH ORANG SUDAH MENYEMBUNYIKAN NYA!!!! KAU IRI KARENA AKU BERTUNANGAN DENGANNYA, KAN?!!!! MAKANYA KAU MEMBUAT SKEMA JAHAT INI.... AGAR AKU TERPISAH DARI DIRK TERSAYANG KU, KAN?!!!!".
Gadis yang berteriak-teriak berikut nya itu adalah Fermina yang menuduh Kakaknya, Claudia sebagai penyebab hilangnya Dirk yang sampai sekarang tidak di temukan.
__ADS_1
"Fermina.... Untuk apa aku melakukan itu?..... Kau tahu, kan? Kalau aku tidak memiliki perasaan apapun pada Tuan Dirk..... Terlebih lagi, dia itu tunangan mu.... Sebagai Kakak, mana mungkin aku melakukan tindakan tidak pantas seperti itu".
"Kau pikir aku akan percaya dengan omong kosong mu itu, huh?........ AKU YAKIN KAU TAHU DIMANA DIRK BERADA..... JADI, KATAKAN DIMANA DIA?.... DIMANA KAU SEMBUNYIKAN TUNANGAN KU ITU? JAWAB AKU!!!!".
"Etto.... Gimana bilangnya, ya....".
Dengan ekspresi yang dipenuhi campuran dari amarah dan kebencian Fermina mencecar Claudia habis-habisan sampai mencengkeram kedua bahunya dengan sangat kuat.
Kalau dibayangkan, kondisi Fermina saat ini mirip seperti orang gila yang emosinya sedang tidak stabil. Matanya juga menatap dengan penuh kebencian.
Claudia sendiri tidak bisa berbuat apa-apa menghadapi kemarahan dan kebencian Fermina. Bukan tanpa alasan, dia hanya tidak tahu bagaimana cara memberitahu Fermina bahwa tunangan nya Dirk fou Watson sudah mati.
Kalau pun Claudia memberi tahu kebenaran soal kematian Dirk kepada Fermina. Dia pasti akan dituduh sebagai pelakunya. Andai dia mengatakan Dirk terbunuh di tangan Dylan. Otomatis Dylan akan ditangkap.
Tentu saja, hal itu bukanlah sesuatu yang Claudia inginkan. Dia mana mungkin menjebak orang yang sudah berbaik hati mau menolongnya
"Dylan, kami akan ke garis start duluan..... Hm? Kau kenapa?".
Emilia yang melihat Dylan terus memperhatikan kejadian di depan matanya segera bertanya.
"Emi, Liara-sensei bilang kalau kita boleh membawa siswa kelas lain untuk bergabung dengan kelompok kita, kan?".
"Iya, bener".
"Yosh.... Kalau begitu".
Mendapat kejelasan yang dia harapkan Dylan segera melangkah mendekat. Pertama yang dia temui adalah Lafia yang masih di kelilingi oleh para gadis yang masih membully nya.
"Hei, Fia".
"Dylan-san".
Seketika para gadis itu, langsung mengirim tatapan jengkel kearah Dylan.
"Hei, ngapain kau kesini?".
"Jangan ikut campur urusan kami".
Dylan menggabaikan para gadis itu dan menerobos mereka untuk bertemu dengan Lafia. Kemudian Dylan berbicara.
"Fia, bagaimana kalau kau bergabung dengan Kelas ku dalam Trail Running ini, mau kan?".
Lafia seketika terkejut dengan ajakan Dylan yang ingin dia bergabung dengan kelompoknya. Hal ini tentu saja membuat para tukang bully itu terkejut.
"Woi, woi.... Apa-apaan?".
"Jangan seenaknya mengajak----".
Belum bisa menyelesaikan perkataanya, salah satu dari tukang bully itu dibuat diam dan ketakutan sampai jatuh ketanah.
Alasannya, karena saat ini. Dylan melirik tajam kearah mereka dengan mata yang menyala merah.
"Ayo, Fia".
"Ah... Iya".
Lafia menganggukkan dan setuju untuk ikut dan bergabung dengan kelas 1-S.
(Tadi itu apa?.... Kenapa mata Dylan-san tiba-tiba berubah menjadi merah..... Seperti mata Iblis).
Meski tanpa Dylan sadari Lafia sebenarnya juga menjadi ketakutan setelah melihat aksi Dylan tadi dan mulai bergumam di dalam hatinya.
"Fia, tunggulah di sini sebentar..... Aku ingin ajak satu orang lagi".
"Ah, iya".
Fia yang tadi tenggelam didalam pikirannya kembali tersadar saat Dylan bilang akan mengajak satu orang lagi.
"Hei, Claudia-san".
"Dylan-san".
"Huh?".
Melihat Dylan mendekat seketika Fermina mengalihkan tatapan kebenciannya ke arah Dylan.
"Si keparat ini..... Berani-beraninya ikut campur urusanku.... Apa kau pikir.....".
"Claudia-san.... Apa kau mau bergabung dengan kelas ku?".
"...... Bisa seenaknya ikut campur kedalam urusanku?.... Asal kau tahu saja....".
__ADS_1
"Iya tentu saja".
".... Tidak sepeti saat pertama kali kita bertemu......Kali ini..... Dengan otoritas keluargaku......".
"Kalau begitu tunggu apa lagi".
"Akan ku buat kau merasakan penderitaan yang sesungguhnya.....".
"Iya".
"........ DENGERIN ORANG KALAU LAGI NGOMONG BISA APA NGAK?!!!".
Tanpa pikir panjang dan dengan wajah yang merah merona Claudia mengiyakan tawaran Dylan.
Dan kedua segera melangkah pergi meninggalkan Fermina yang berteriak-teriak karena jengkel sudah diabaikan.
(---------------)
"Nama saya Lafia Fin Flight... Panggil saja Fia".
"Nama saya Claudia von Ritzburg".
""Semua.... Mohon bantuannya".
Keduanya memperkenalkan diri mereka kepada seluruh siswa kelas 1-S.
"Seperti yang aku katakan sebelumnya.... Setelah berpikir berulang-ulang.... Aku putuskan untuk mengajak mereka bergabung dengan kita.... Jadi, bagaimana pendapat kalian?".
Dylan bertanya kepada rekan sekelasnya apa mereka tidak keberatan apabila Claudia dan Lafia bergabung dengan mereka.
"Santai aja".
"Kami ngak keberatan sama sekali".
"Nambah 2 orang, ngak jadi masalah".
"Semakin banyak orang, semakin asik".
"Aku senang kita punya tambahan anggota wanita".
"Kita bisa ngobrol banyak hal".
"Apalagi spek mereka berdua luar biasa".
Pertanyaan Dylan di tanggapi baik oleh yang lain. Arnold dan Ornest tidak keberatan. Emilia, Ritzia, Olivia dan Sylvia tampak senang dengan kehadiran Lafia dan Claudia.
Sementara, Garcia menatap keduanya dengan mata berbentuk jantung hati, dan meneteskan sedikit air liur.
"Kalau kalian gimana?".
"Hmph.... Aku no comment aja".
"Kau kaptennya, kan?.... Kalau ini yang terbaik, maka lakukan saja".
Mendengar jawaban itu, Dylan membelalakkan matanya sebagai tanda terkejut. Bukan karena jawaban acuh dari Filaret dan mengalihkan wajah sambil mengembungkan pipinya.
Melainkan, jawaban yang di berikan oleh Awin. Seketika, memori di otak Dylan kembali teringat akan masa lalu.
Saat itu, Dylan sedang kebingungan menghadapai suatu masalah dan hendak mengambil keputusan. Tapi, karena masih ada sedikit keraguan di dalam hatinya.
Dia meminta pendapatnya kepada adik laki-laki nya. Memahami kebingungan yang dirasakan Kakaknya maka sang adik berkata.
"Kau Kakakku, kan?....... Kalau itu yang terbaik untuk kita berdua, maka lakukan saja".
Jawaban itu sama persis dengan apa yang adik nya katakan. Dan itulah yang membuat Dylan terdiam sekarang. Kemudian------
"Kenji".
"Hm?..... Dylan, tadi kau ngomong apa?".
"Ah..... Tidak.... Lupakan saja".
Tiba-tiba nama yang asing keluar dari mulut Dylan. Awin yang mendengar itu segera menoleh dan menaikkan salah satu alisnya sebagai tanda kebingungan.
Saat dia mencoba bertanya, Dylan dengan cepat menyangkalnya dan segera menutup matanya dengan tangan kirinya.
"..... Baiklah, karena semuanya sudah sepakat..... Ayo kita segera menuju garis start".
Dengan instruksi dari Dylan mereka semua segera pergi menuju garis start.
Dengan aba-aba dari Liara-sensei. Maka di mulailah kegiatan Trail Running.
__ADS_1