Reborn As Villain

Reborn As Villain
Chapter 18 : Shadow Crow Dan Hadiah Ulang Tahun.


__ADS_3

Keesokan paginya.


Dylan memanfaatkan sisa waktu hari ini untuk bertemu dengan Shadow Crow sebelum dia, keluarganya, berserta Aria dan anak-anak panti pergi ke Arcadia.


Sesuai dengan yang tertulis dipesan yang dititipkan kepada Sonia. Mereka akan bertemu di bar Noir yang terletak di pinggir kota Algrand.


Setelah berjalan dan bertanya kepada beberapa orang yang berlalu-lalang. Dylan sampai di sebuah tempat yang bisa di bilang "kumuh", dan menemukan sebuah bangunan bertuliskan "Noir", di atasnya.


Tanpa menunggu lebih lama lagi, Dylan segera masuk dan di sambut oleh 2 pelayan wanita yang tersenyum ceria.


"""SELAMAT DATANG, TUAN PELANGGAN""".


Ketika, pandangan ketiga pelayan itu bertemu dengan Dylan. Mereka sempat terkejut dan mulai antusias berbicara.


"Ya ampun, ternyata anda seorang pemuda yang tampan, ya".


"Kami punya banyak bir berkualitas disini".


"Maaf, aku tidak minum alkohol itu tidak baik untuk kesehatan. Aku pesan sebuah meja dan segelas jus mangga saja".


"Maaf ya bocah. Saat ini semua kursi sudah penuh. Kembalilah lain kali".


Tiba-tiba muncul seorang pria berbadan besar yang langsung berkata kasar. Paham, akan hal itu Dylan segera mendekat ke pria itu dan berbicara.


"Begitu ya..... "Ketika cahaya dan kegelapan menjadi satu. Bayangan sejati akan terlahir"..".


Pria besar itu langsung terkejut dengan apa yang dikatakan Dylan. Dan dengan tampang jengkel pria itu segera berbalik.


"Kebetulan sekali, sepertinya ada kursi yang baru saja kosong.... Tunggulah, dan duduklah di kursi depan bartender sana".


"Syukurlah, kalau ada kursi yang kosong".


Dylan membalas dengan senyuman yang terkesan menyindir.


Sebenarnya, kata yang baru saja diucapkan Dylan kepada pria besar itu. Adalah kode yang biasa digunakan oleh para anggota Shadow Crow. Dylan mengetahui berkat pengetahuan gamenya di "Long Life Brave".


Setelah duduk di kursi, Dylan sadar bahwa sejak dia mengucapkan sandi itu. Dia terus diperhatikan oleh semua orang yang ada di sana dengan tatapan penuh kecurigaan.


(Selain organisasi pembunuh bayaran...... Shadow Crow juga ahli dalam mengumpulkan informasi....... Tidak hanya soal target....... Mereka juga akan mengumpulkan informasi soal klien...... Dengan kata lain...... Kemungkinan besar, mereka sedang mengawasi ku diantara kerumunan orang-orang ini).


"Etto... Maaf tuan. Ngomong-ngomong anda mau pesan apa?".


Ketika Dylan sedang tenggelam dalam pikirannya, dikejutkan oleh suara dari seorang bartender pria berambut biru tua yang menanyakan apa pesanan nya.


"Oh, aku.... Pesan segelas jus mangga saja".


"Segelas jus mangga segera datang".


Dengan sangat ceria, bartender itu segera menyiapkan jus mangga dan menyajikannya


"Silahkan dinikmati".


"Ah, ya terimakasih banyak".


"Jika kau butuh sesuatu katakan saja".


"Aku hargai penawaran itu".


Dylan sempat terdiam sesaat ketika melihat jus di gelasnya. Tapi, pada akhirnya dia meminum jus mangga yang dia pesan tadi sambil terus memperhatikan sekitarnya dengan seksama termasuk bartender.


Selang beberapa saat, Dylan berdiri dari kursinya dan bertanya kepada bartender.


"Maaf, tuan.... Boleh aku tahu dimana kamar mandinya?".


"Ada disebelah sana".


"Terimakasih".


Bartender itu segera menunjuk kearah belakang dan Dylan segera pergi menuju ke kamar mandi. Tapi, Dylan tidak berniat ke sana untuk buang air.


Ketika Dylan sudah sampai di lorong dekat kamar mandi langkahnya tiba-tiba berhenti. Lalu.....


CLANG.


Suara benturan dua besi menggema di lorong dekat kamar mandi.


Penyebabnya, dari arah belakang ada sosok misterius yang muncul entah dari mana. Dan langsung menodongkan pisau ke lehernya.


Untungnya, pisau itu segera diblok oleh Dylan menggunakan sebuah garpu besi yang tadi dia curi dari salah satu pelanggan yang sedang makan.


Lalu, dengan santainya Dylan menoleh kearah belakang dan mulai berbicara dengan sosok itu.


"Apa-apaan ini, tuan Bartender? Menyerang pelanggan yang pergi ke kamar mandi itu tidaklah sopan, tahu".


Ternyata, sosok yang menyerang Dylan adalah Bartender yang menyajikan jus mangga kepadanya tadi.


"Hei, bocah.... Apa tujuanmu datang kesini? Ini bukan tempat dimana bocah sepertimu berada".


Dengan intonasi bicara yang dingin dan tatapan mata yang mengintimidasi, Bartender itu bertanya apa tujuan Dylan.


"Hmmmm..... Aku datang kesini. Karena undangan "pemimpin" Shadow Crow saja".


"Bocah keparat. Bukannya sejak awal kau sudah tahu siapa aku yang sebenarnya, kan?".


"Woi, woi, woi, tuan Bartender ini bicara apa sih?".


Dylan menjawab sambil memberikan senyuman sinis kearah bartender itu yang identitas aslinya adalah Nameless sang pemimpi Shadow Crow.


(-------------)

__ADS_1


Setelah kejadian di lorong kamar mandi.


Nameless mengajak Dylan untuk pergi ke ruangannya, di sana mereka saling duduk berhadapan dan mulai berbicara.


"Dylan van Arcadia. Jadi kau orang yang mengirimkan "salam" kepadaku lewat pelayan yang sexy tapi menakutkan itu kemarin, ya..... Kenapa kau, bisa tahu kalau aku adalah pemimpin Shadow Crow?".


(Itu semua karena pengetahuan dari game.... Tapi, mana mungkin aku mengatakannya).


"Itu, karena Bros berlogo burung gagak yang menempel di dada kiri rompi mu itu".


"Huh?".


Merasa Nameless tidak paham akan puas dengan jawabannya, Dylan mengeluarkan sepucuk surat yang dia terima tadi malam dan kembali berbicara.


"Di kertas ini tertulis [Datanglah ke Noir Bar. Maka kau akan bertemu dengan "Sang Gagak"].... Sejak aku masuk ke bar ini, aku sudah memperhatikan setiap orang yang ada.... Tapi, hanya kau satu-satunya orang yang menggunakan Bros berlogo gagak.... Dan akting mu cukup payah menjadi bartender.... Karena seorang bartender selalu berpenampilan rapi, merapikannya kerah kemejanya, menggulung kemeja bajunya agar tidak kotor dan menutup kerahnya dengan dasi kupu-kupu..... Tapi, jangankan menggunakan dasi kupu-kupu. Kau bahkan tidak merapikan kerah kemeja mu dan menggulung lengan kemeja mu saat menuangkan minuman ke pelanggan".


"Heeee....".


Nameless tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Dylan. Tapi, Dylan belum selesai berbicara.


"Dan yang lebih parah lagi...... Kau tidak bisa membedakan jus mangga dengan jus jeruk hanya karena warna mereka hampir sama.... Karena poin-poin itu, kau sudah didiskusi sebagai bartender".


Nameless terus tersenyum lebar. Lalu, dia perlahan-lahan mulai tertawa terbahak-bahak.


"Hehehehe...... Hahahaha......... Kau memang bocah yang menarik.... Padahal tadi, aku kira kau itu cuma bocah ingusan bodoh yang nekat datang kesini tanpa pikir panjang...... Oh ya ampun, terlebih lagi kau dengan mudah bisa tahu identitas ku.... Ah sial, jujur saja ini sulit dipercaya.... Saat melihat mu, entah mengapa aku merasa kesulitan untuk membunuh bocah sepertimu... Jadi, aku tertarik. Katakan saja apa yang permintaan mu?".


Dylan tersenyum melihat tanggapan Nameless.


"Untuk saat ini..... Belum ada permintaan yang "penting".... Kedatangan ku kesini hanya untuk semacam, ya... "Bisnis" kecil saja".


"Dan "Bisnis" apa itu?".


Dylan mengeluarkan sekantong uang dari item box miliknya dan menaruhnya di meja. Melihat itu Nameless menaikkan salah satu alisnya sebagai tanda kebingungan.


"Kantung itu berisi sekitar 20 koin emas putih. Anggap saja ini sebagai "investasi" ku untuk masa depan "bisnis" kita".


Nameless mengambil kantong itu, membuka dan menumpahkan isinya. Setelah dilihat dan dihitung ternyata benar berjumlah 20 koin emas putih.


Meski begitu, Nameless mengerti dengan maksud "investasi" yang dikatakan Dylan.


"Ini benar-benar 20 koin emas putih..... Jumlah uang yang sangat tinggi untuk sebuah "investasi" semata.... Aku semakin tertarik.... Baiklah, ku terima kerjasama ini..... Dan hubungi saja salah satu bawahan ku jika kau menginginkan "sesuatu".... Tangan-tangan kami itu sangat ahli dalam melakukannya".


"Tapi, aku belum menawarkan apapun atau bahkan meminta apapun, loh?".


"Santai saja, hanya dengan melihat situasi saja. Aku sudah dapat menilai kekuatan dan sifat seseorang..... Dan tidak usah khawatir aku akan mengkhianati mu....... Karena aku pribadi belum siap untuk mati".


Keduanya segera berdiri dan mulai berjabat tangan bersama, sebagai bentuk bahwa mereka sepakat akan kerja sama mereka.


"Senang bisa bekerja sama dengan mu, Tuan Nameless".


"Begitu juga denganku, Dylan".


Dylan saat ini sedang berjalan-jalan seorang diri di kota Algrand, di dalam pikirannya dia sangat puas dengan bentuk kerjasamanya dengan Shadow Crow.


(Yosh, sekarang aku berhasil mendapatkan "rekan" yang bersiaga dan mengamati situasi ibukota. Jika ada sesuatu yang mengganjal dan tidak bisa aku selesaikan karena kurangnya informasi. Maka aku tinggal meminta bantuan pada Shadow Crow untuk mencari informasi lebih jauh lagi. Dan aku bisa menentukan langkah apa kedepannya yang harus aku ambil).


Setelah kekalahan Raja Dewa Naga Fafnir dan terbunuhnya Oscar. Dylan tahu bahwa banyak perubahan pada alur cerita dalam game aslinya.


Mengingat bahwa semua sudah tidak bisa dia prediksikan lagi, Dylan berencana untuk mengumpulkan beberapa "rekan" yang bisa dia andalkan agar kedepannya Dylan bisa mengantisipasi setiap kejadian atau event yang tidak terduga.


Itulah kenapa, dia memulai langkah pertamanya dengan mengajak kerjasama Shadow Crow yang menetap di ibukota Algrand. Karena Dylan tahu, bahwa sebagian besar cerita pada gamenya berpusat di sekitar ibukota Algrand.


Tapi, di satu sisi Dylan tahu ada beberapa adegan dimana ceritanya tidak berpusat hanya di Kerajaan Ingrid saja. Melainkan juga di Kerajaan-kerajaan lain.


Sekarang ini dia sedang berpikir untuk mencari "rekan" lain yang bisa diajak kerjasama dan bertukar informasi. Terkhusus informasi soal Kekaisaran Iscoa yang menurut Dylan adalah sumber masalah yang sesungguhnya.


Lalu, langkah Dylan terhenti karena baru mengingat sesuatu.


"Oh ya, seminggu dari sekarang itu bertepatan dengan ulang tahun Ibu..... Hmmm... Mumpung masih di Ibukota, lebih baik aku cari hadiah untuk ulang tahunnya..... Hmmmm..... Tapi, kasih hadiah apa, ya?".


Dylan mulai berpikir keras untuk mencarikan hadiah apa yang akan disukai oleh ibunya. Dan setalah berpikir cukup keras Dylan akhirnya berhasil memutuskan soal hadiah apa yang akan dia berikan.


"Baiklah, aku belikan saja kalung untuknya".


Dylan segera pergi menuju ke toko yang menjual aksesoris khusus wanita.


Sesampainya di sana, Dylan segera masuk kedalam toko dia segera berkeliling melihat-lihat aksesoris yang di gantung dan dijual disana.


"Hmm.... Aku tidak tahu selera para wanita.... Juga aku tidak ahli dalam memilih aksesoris seperti ini...... Belum lagi, semua aksesoris tampak sangat berkilau...... Sampai bikin mata ku sakit".


"Ada yang bisa saya bantu, tuan pelanggan?".


Dylan yang sedang kebingungan memilih aksesoris apa yang cocok untuk hadiah ulang tahun Ibu nya. Di hampiri oleh seorang pegawai wanita yang sepertinya memperhatikan kebingungan Dylan dalam memilih.


"Ah, begini. Aku sedang mencari aksesoris yang cocok untuk hadiah ulangtahun Ibuku.... Tapi, aku tidak tahu harus membeli yang mana?".


"Hadiah ulangtahun, ya? Kalau begitu, apa tidak keberatan kalau saya membantu untuk memilihkan nya?".


"Eh? Seriusan nih? Ku terima dengan senang hati".


Dylan menerima tawaran dari pegawai wanita itu, untuk memilihkan aksesoris yang sekiranya cocok untuk hadiah ibunya.


Pegawai wanita itu, segera pergi ke belakang dan kembali sambil membawa beberapa aksesoris seperti kalung, bando, gelang, penjepit rambut, Bros dan lain sebagainya yang terbuat dari berlian.


"Wow.... Luar biasa. Aku tidak pernah melihat benda sebagus dan seindah ini.... Bisa kau beritahu, aksesoris ini terbuat dari apa?".


"Semua aksesoris ini, terbuat dari batu berlian berjenis Hope Diamond yang di tambang di pegunungan Tavernier. Dan melalui proses pemotongan yang sangat hati-hati. Berlian ini sangat berkilau dengan berat sekitar 45 karat. Kilau cahaya yang dihasilkan sangat indah sehingga dapat meningkatkan pesona dari pengguna nya. Design berlian dan aksesoris ini dibuat oleh profesional melalui...........".


Pegawai wanita itu dengan sangat antusias, bercerita panjang lebar soal produk yang saat ini sedang dia tawarkan.

__ADS_1


(Buset, ini cewek ngomong apaan? Terlalu belibet dan kepanjangan....... Mana paham aku, njir........ Lagian, Karat itu apaan sih?....... Yang aku tahu, berlian itu cuma batu krikil yang harganya ngak ngotak di kehidupan sebelumnya....... Dan, Karat itu sebutan proses kimia iron oxide karena besi yang mengalami kelembapan, kan).


Meski wajahnya terlihat tenang, di dalam pikirannya Dylan sangat kebingungan dan tidak mengerti dengan semua yang di katakan oleh pegawai wanita itu. Yang dia tangkap adalah aksesoris dari berlian ini sangat di gemari para kau hawa.


"Jadi bagaimana tuan? Apa anda berniat membeli nya?".


"Hmmmm...... Baiklah aku beli 4 model aksesoris berlian ini".


Setelah berpikir sesaat Dylan akhirnya memutuskan untuk membeli 4 buah. Alasannya, karena dia berniat tidak hanya membeli hadiah ulang tahun untuk ibunya saja. Dylan juga berencana untuk membelikan hadiah untuk Filaret, Aria dan Tina.


"Baiklah, kalau begitu silahkan pilih modelnya".


"Aku pilih.... Kalung ini.... Penjepit rambut ini.... Satu set Anting-anting ini...... Dan..... Bando ini.... Masing-masing satu buah dan tolong di kemas sendiri-sendiri".


"1 Kalung, 1 Penjepit, 1 set Anting-anting, dan 1 satu Bando..... Totalnya 100 koin emas termasuk biaya untuk pengemasannya".


Dylan mengambil 100 koin emas dari item box miliknya dan menyerahkan nya ke pegawai wanita itu dan dia memberikan nota sebagai bukti pembayaran sudah lunas.


"Ini akan memakan sedikit waktu, harap mohon untuk di tunggu".


"Santai saja".


Pegawai wanita itu berpamitan kebelakang sambil membawa pesanan Dylan untuk dikemas. Sementara Dylan dengan santai menunggu.


Selang beberapa saat ada suara seorang wanita asing yang sedang berbicara dengan dirinya.


"Oh lihat, bukankah ini Dylan, ya? Orang yang sudah menyiram putri Vanessa dengan secangkir teh di pesta Ball tadi malam?".


Dylan yang merasa familiar dengan suara itu segera menoleh untuk mencari sosok yang sedang mengajaknya berbicara.


Begitu pandangannya berhasil menemukan sosok itu. Seketika ekspresi Dylan menjadi sangat jijik melihatnya.


Kenapa Dylan bisa berekspresi seperti itu? Adalah karena jiwa didalam diri Dylan tahu siapa sosok gadis yang mengajaknya berbicara. Meski begitu, Dylan memilih untuk berpura-pura tidak mengenalnya.


"Sek, bentar. Kau itu sebenarnya siapa?".


Sosok gadis itu tersenyum dan mulai menutup kipas tangan yang dia bawa dan segera memperkenalkan dirinya.


"Benar juga, ini pertama kalinya kita bertemu.... Perkenalkan, namaku adalah Flora de Ernest. Putri dari Duke Ernest. Salam kenal, Dylan van Arcadia".


"Hou... Salam kenal juga".


Meski enggan Dylan terpaksa membalas salam dari Flora.


(--------------)


Flora de Ernest.


Putri dari Duke Richard de Ernest, sepupu langsung dari Putri ke 2 Vanessa Sera Ingrid sekaligus salah satu anggota 15 Harem milik pahlawan Riener.


Dia digambarkan sebagai gadis cantik berambut hijau kebiruan diikat ekor dan mata yang berwarna sama. Dia selalu membawa kipas kemanapun dia pergi. Dia sangat ahli dalam menggunakan sihir Angin yang menjadi ciri khas keluarga Ernest.


Tapi, meskipun cantik. Dia adalah seorang yang sangat sombong, berselera High value, punya hobi bergosip, tukang fitnah dan seorang penjilat. Itu semua terlihat saat dia selalu mengikuti Reiner dan Vanessa kemanapun mereka pergi.


Belum lagi, dia juga sering memicu kebencian diantara sesama anggota Harem. Namun yang jelas, dia memiliki kecemburuan yang besar terhadap sepupunya sendiri Vanessa. Karena dia terlahir sebagai Putri Raja, sementara dia hanyalah putri Duke.


"Jadi, ada keperluan apa, Dylan-san ada disini?".


"Apapun keperluan ku disini. Itu bukan urusanmu".


Dylan dengan sangat acuh mengabaikan pertanyaan Flora yang tersenyum kearahnya. Melihat sikap Dylan yang seperti itu membuat Flora semakin ingin berbicara dengannya.


"Ya ampun, jahat sekali. Mengabaikan seorang gadis cantik yang sedang mengajak bicara. Itu bukanlah sikap dari seorang pria sejati".


"Oh, kebetulan sekali. Karena, orang yang kau ajak bicara itu seorang pria brengsek sepertiku. Jadi, jangan heran kalau aku mengabaikan mu".


Dylan mengatai dirinya sendiri sebagai "brengsek" agar bisa terhindar dari Flora yang terus-menerus mengajaknya berbicara.


"Hmmm.... Meski begitu, aku masih ingin berbicara denganmu loh".


"Aku tidak peduli, lagipula aku ada rencana lain untuk hari ini".


"Oh benarkah, kalau begitu bisa anda beri tahu saya soal rencana mu. Saya sangat penasaran".


(Cewek ******.... Yah, ini wajar sih. Ini cewek sombong memang haus akan perhatian dan hobi gosip. Karena itu dia sengaja berbicara dengan ku).


Saat Dylan sedang bergumam dalam hati, pegawai wanita tadi datang dengan membawa sekantung tas berisi barang-barang yang tadi Dylan beli.


"Maaf membuat anda menunggu lama, tuan. Ini aksesoris yang anda beli sudah kami kemas dengan rapi".


"Oh, ya. Terimakasih".


"Senang bisa melayani anda. Lain kali tolong mampirlah kesini".


"Pastinya".


"Tunggu, Dylan-san".


Dylan yang sudah menerima barang itu langsung pergi mengabaikan Flora yang masih ingin berbicara dengan nya.


"Yah. Dia pergi... Tapi, barang yang dia beli tadi.....".


Namun, tanpa Dylan sadar. Flora memperhatikan tas yang dibawa olehnya. Flora tahu bahwa Dylan baru saja membeli aksesoris khusus untuk wanita sebagai bentuk hadiah. Mengingat dia meminta pegawai wanita tadi untuk mengemas barang itu.


Flora langsung tersenyum jahat setelah menyadari hal itu, dan dia punya semacam ide yang terlintas dipikirannya.


"..... Kurasa ada seseorang yang harus kuberi tahu soal ini".


Dan tanpa membuang waktu lagi, dia segera keluar dari toko lalu pergi menggunakan kereta kuda yang dia bawa.

__ADS_1


__ADS_2