Reborn As Villain

Reborn As Villain
Chapter 19 : Pesta Ulang Tahun Pavline part 1.


__ADS_3

Di Istana Raja.


Saat ini Vanessa sedang sibuk dengan beberapa dokumen yang biasa dia kerjakan. Ini adalah salah satu dari beberapa tugas yang harus dilakukan olehnya sebagai Putri Raja.


Meski dia sangat keberatan melakukan nya, tapi karena ini bisa meningkatkan reputasinya sebagai seorang Putri. Vanessa memutuskan untuk mengerjakannya.


Tok Tok Tok.


Lalu, terdengar suara pintu yang diketuk dari luar. Saat dia sedang sibuk dengan pekerjaannya.


"Masuklah".


Setelah mendapat izin dari Vanessa, pintu itu segera dibuka oleh seorang pelayan yang langsung memberikan hormat kepada Vanessa.


"Maaf mengganggu waktu anda nona. Ada tamu yang datang untuk bertemu dengan anda".


"Tamu? Siapa?".


"Sepupu anda, Nona Flora de Ernest".


(Kenapa dia datang kesini? Memangnya ada urusan apa?)


"Baiklah, katakan padanya untuk menunggu. Aku akan bersiap-siap dulu".


Meski enggan, Vanessa menyuruh pelayan itu agar memberitahu Flora untuk menunggunya sebentar.


Selesai mempersiapkan diri, Vanessa segera pergi menuju taman tempat dimana Flora sudah duduk disana menunggu Vanessa sambil meminum secangkir teh.


"Lama tidak berjumpa, ya. Vanessa".


Dengan senyum penuh keceriaan, Flora menyapa Vanessa yang datang dengan wajah penuh keengganan.


"Ah, lama tidak bertemu. Flora".


Vanessa lalu duduk di kursi yang menghadap ke Flora. Setelah meneguk beberapa kali teh di cangkirnya. Vanessa segera memasang ekspresi serius.


"Mau apa kau kesini? Aku yakin sekali kau tidak datang hanya untuk "ngobrol" santai denganku, kan?".


Flora yang mendengar itu, segera tersenyum dan mulai buka suara.


"Jangan gitu dong. Aku datang kesini karena aku khawatir padamu setelah insiden tadi malam tahu".


"Insiden? Insiden apa maksudmu?".


"Vanessa, jangan berpura-pura bodoh, ya.... Aku yakin kau tahu maksudku, kan?".


Vanessa diam dan tidak menjawab pertanyaan dari Flora.


"Vanessa, kalau boleh tahu apa hubungan mu dengan Dylan. Aku penasaran loh?".


"Hubungan? Hubungan apa?..... Kami tidak punya hubungan apapun. Hanya saja....".


"Hanya saja?".


"Hanya saja, dia adalah orang yang sudah menyelamatkan ku..... Cuma sebatas itu".


"Menyelamatkan mu?".


Pertanyaan Flora sempat membuat Vanessa menaikkan salah satu alisnya sebagai tanda kebingungan dan heran. Tapi kemudian, Vanessa memutuskan untuk sedikit bercerita.


"Dia orang yang sudah menolongku 2 tahun yang lalu, saat aku hampir diculik ketika berkunjung ke Arcadia untuk mencari dukungan..... Setelah itu, entah mengapa ayah berencana untuk menjodohkan ku dengannya".


"Eh? Menjodohkan kalian? Maksud Yang Mulia itu pertunangan, kan?".


"Iya seperti itu".


Flora sempat terkejut, bahwa dia tidak menyangka akan mendengar cerita seperti itu keluar dari mulut Vanessa sendiri. Mengabaikan keterkejutan Flora, Vanessa melanjutkan ceritanya.


"Aku tidak tahu tujuan dan niatan, Ayah yang sebenarnya..... Tapi, setelah kupikir-pikir lagi. Mungkin ini kesempatan yang bagus".


"Kesempatan?".


"Benar. Aku berencana menggunakan Dylan sebagai perisai dari orang-orang yang terus berusaha mendekatiku sekaligus menjadikannya sebagai sasaran kebencian dari orang-orang itu..... Dan setelah dia tidak berguna, aku berencana membuangnya".


"Yah, kau memang begitu sih, orangnya jadi aku ngak akan komen apapun".


Diluar dugaan, ternyata Flora tahu betul sifat asli Vanessa yang tidak diketahui oleh siapapun bahkan Yang Mulia sendiri.


"Ketika aku mengajukan proposal itu kepadanya, aku sangat yakin dia pasti menerimanya....


Tiba-tiba ekspresi Vanessa berubah menjadi gelap.


"Tapi....... Dia malah menolak proposal pertunangan kami mentah-mentah".


"Eh? Seriusan? Dia benar-benar menolak mu? Sulit dipercaya".


Vanessa mengatakan itu sambil meremas kedua tangannya sebagai bentuk amarahnya. Flora yang mendengar fakta itu dibuat terkejut.


"Tapi, aku tidak menyerah begitu saja..... Setelah kejadian yang mengguncang ku itu. Aku mengirimi nya surat yang aku tulis sendiri dengan tujuan untuk membuatnya tersipu. Dan merasa bahwa dia mendapatkan perhatian khusus dari Putri sepertiku".


Vanessa masih terus melanjutkan ceritanya.


"Namun kenyataannya, jangankan membalas surat dari ku, membacanya saja tidak. Bahkan sudah lebih dari 1000 surat yang aku kirim.... Tapi, tidak ada satupun balasan darinya".


"Eh? Dia tidak membaca surat darimu. Sungguh menjengkelkan sekali dia".


"Iya dia sangat-sangat menjengkelkan..... Lalu, karena aku ingin tahu apa alasan dia tidak membalas semua surat ku. Jadi, aku mengirim salah satu mata-mata ku sebagai pelayan disana.... Selang beberapa saat, aku dapat kabar yang mengejutkan dari mata-mata ku itu..... Ketika ditanya, Dylan malah bilang "Aku males banget berurusan dengan cewek super duper narsis, caper, ruwet dan ribet seperti dirinya" begitulah katanya".


"Wow. Sungguh kurang ajar dan tidak sopan sekali dia itu".


Vanessa tetap melanjutkan ceritanya meski diliputi oleh amarah jika mengingat perbuatan Dylan.


"Aku sungguh merasa sangat terhina..... Jadi aku putuskan untuk mengundang nya ke pesta Ball dengan menggunakan nama ayah sebagai pengirimnya agar dia dan keluarganya tidak bisa menolak.... Tujuan ku adalah untuk mempermalukan dan membalas penghinaan yang dia lakukan kepadaku".

__ADS_1


"Lalu kenapa itu tidak terjadi tadi malam?".


Flora mempertanyakan tidakan Vanessa tadi malam karena tidak sesuai dengan apa yang dia dengar dan lihat.


"Waktu itu kupikir saatnya untuk balas dendam.... Tapi, saat aku melihat Ritzia Nee-sama ada disebelah Dylan, aku dengan bodohnya merubah tujuan awal yang ingin mempermalukan Dylan menjadi mempermalukan Nee-sama....... Harapannya, agar aku mendapat kesan bahwa aku adalah adik yang baik dan sangat pengertian didepan para tamu..... Tapi, dia malah menyiram ku dengan teh yang dia bawa dan mempermalukan ku di depan semua orang.... Yang lebih parah dan menjengkelkan adalah......... Saat Dylan dengan terang-terangan....... Malah membela dan memuji Nee-sama.... Jujur aku merasa sangat terhina karena semua ulahnya itu.... Tidak cukup sampai disitu, dia malah pergi dengan santainya tanpa sedikitpun merasa bersalah kepadaku...... Dan mengatai ku SAMPAH".


Vanessa semakin erat meremas tangan karena dia semakin diliputi amarah setiap kali dia mengingat kejadian itu.


Melihat Vanessa yang semakin marah, Flora tersenyum lebar dan mulai membuka mulutnya untuk berbicara.


"Begitu ya. Aku benar-benar prihatin dengan kondisi mu".


"Cih. Aku tidak butuh perhatianmu. Lagipula, aku tidak merasa adanya ketulusan dalam kata-kata mu".


"Jahatnya padahal aku ini sepupu mu loh...... Ngomong-ngomong, Vanessa. Apa Dylan-san itu sudah punya tunangan? Atau mungkin..... Ada seseorang yang dia sukai?".


Seketika, Vanessa menghentikan gerakan tangannya yang ingin menyeruput teh di cangkirnya.


"Informasi dari mata-mata ku yang mengawasinya, sampai hari ini bilang........ Dylan tidak punya tunangan ataupun orang yang dia sukai..... Memangnya, kenapa?".


"Iya gimana ya.... Habisnya, tadi aku ketemu Dylan-san membeli aksesoris untuk wanita yang dia bungkus rapi.... Sepertinya hendak memberikan itu sebagai hadiah".


Mendengar hal itu, ekspresi wajah Vanessa seketika menjadi gelap. Dia perlahan-lahan menaruh kembali cangkir teh nya dan kembali berbicara.


"Huh? Kau ini ngomong apa, Flora? Hentikan omong kosong mu itu".


"Buat apa aku berbohong padamu. Lagipula itu "tidak" menyakiti perasaanmu juga, kan? Aku melihatnya sendiri, dia membeli aksesoris dari berlian Hope Diamond yang mahal sebagai hadiah..... Dan kau pasti tahu kan, Vanessa.... Membeli aksesoris ataupun cincin yang terbuat dari berlian Hope Diamond itu hanya di berikan kepada pasangan yang sedang dimabuk asmara.... Yang berarti lambang dari "cinta" ".


Vanessa benar-benar terguncang mendengar ucapan yang keluar dari mulut Flora. Dan Flora yang menyadari hal itu kembali memanas-manasi perasaan Vanessa.


"Tapi, percuma juga aku cerita soal ini.... Lagian itu tidak hubungan nya dengan kita, kan? Aku malah jadi simpati kepada gadis yang benar-benar terpikat sama orang selengean kayak------".


"Pergi".


Vanessa tiba-tiba menyuruh Flora pergi dengan nada yang sangat mengancam.


"Jika kau sudah selesai dengan urusanmu. Pergilah, sekarang".


Flora seketika tersenyum lalu berdiri dari kursinya dan melangkah pergi. Tapi, dia sempat menengok kebelakang kearah Vanessa yang tertunduk diam.


"Baiklah, aku pergi sekarang.... Jika mood mu berubah jelek karena aku. Aku minta maaf... Jujur saja, aku masih tidak mengerti. Apa perubahan mood mu itu ada hubungannya denganku atau karena Dylan-san".


Flora segera pergi meninggalkan Vanessa yang masih tertunduk diam dengan ekspresi gelap di wajahnya.


Kemudian terdengar suara perkakas pecah yang mengejutkan semua orang. Dan saat di cari ternyata sumber suara itu berasal dari taman.


(--------------)


Setelah menghabiskan 3 hari lamanya dalam perjalan kembali ke Arcadia dengan Kereta Api. Akhirnya, Hyoga beserta keluarganya dan rombongan Aria dan anak-anak yatim yang Dylan bawa tiba di kota Linic pusat pemerintahan wilayah Arcadia.


Dylan memutuskannya untuk berpisah dengan keluarganya, untuk membawa Aria dan anak-anak yatim pergi ke Panti yang akan menjadi tempat tinggal baru mereka.


"Salam, nama saya, Ariana Royce panggil saja Aria. Mohon bantuannya".


Aria dan anak-anak yatim segera memberi hormat ketika bertemu dengan Martha yang bertugas sebagai ibu ketua panti asuhan yang di bangun oleh Dylan.


"Dylan-kun, sudah bercerita soal kondisi kalian melalui perangkat Protas. Dan aku sangat setuju dengan sarannya untuk membawa kalian kemari. Sekaligus aku sangat senang bahwa kami bisa mendapatkan pengasuh tambahan".


"Heeeee....".


Aria hanya bisa tersipu malu sebagai bentuk rasa bahagia yang dia rasakan karena disambut baik oleh ibu panti. Kemudian, Martha melirik kearah Dylan sambil tersenyum.


"Juga..... Aku lebih senang lagi, karena akhirnya "musim semi" sudah datang untuk Dylan-kun".


Mendengar kata "musim semi" yang dimaksud Martha membuat Aria tersentak malu dan pipinya menjadi merah merona. Tapi, tidak dengan Dylan yang hanya menaikkan salah satu alisnya.


"Huh? Martha-san kau ini ngomong apa? Maaf saja, aku belum tertarik mengarah ke hal-hal semacam itu".


"Reaksi mu yang dingin itu benar-benar membosankan Dylan-kun. Kalau kau seperti ini terus gimana kau bisa punya pasangan dimasa depan".


Martha seketika kecewa ketika mendengar jawaban Dylan yang menurutnya membosankan.


"Yah, soal itu akan aku pikirkan lain waktu. Bukannya, lebih baik kita mengajak Aria dan anak-anak ini berkeliling melihat panti ini, Martha-san".


"Ah, iya benar juga.... Aria-chan dan anak-anak sekalian, mari kita berkeliling untuk mengenal tempat tinggal baru kalian ini".


"Ba-baiklah, Martha-san".


Tanpa membuang waktu lagi, Martha dan Dylan mengajak Aria dan anak-anak itu untuk berkeliling panti dengan tujuan untuk mengenal tempat tinggal baru mereka.


Martha menunjukkan ruang yang akan menjadi kamar bagi anak-anak itu, ruang untuk para staf, ruang belajar, kantin panti, lapangan dan fasilitas lainnya.


Selama perjalanan singkat itu, Aria dan anak-anak tidak bisa berhenti terkesan dan terkagum karena panti tempat tinggal baru mereka memiliki fasilitas yang tidak kalah dengan asrama para bangsawan.


Bahkan anak-anak di panti itu, tampak sangat senang dan tekun saat mereka sedang mendapat kan pelajaran dari para pengajar yang diperkerjakan disana.


Ketika hari sudah sore dan anak-anak tampak lelah, Dylan memutuskan untuk pamit dan kembali ke Mansion Arcadia ditemani Aria sampai gerbang masuk panti.


"Dlyan-san, aku sangat bersyukur dan berterima kasih karena kau sudah banyak membantu kami. Jujur, aku tidak tahu membalasnya".


"Hmmm.... Santai saja, tidak usah dipikirkan. Aku membantu kalian itu benar-benar atas kemauan ku sendiri tanpa mengharap imbalan".


"Tapi, tetap saja. Rasanya tidak enak menerima bantuan tanpa membalas orang yang sudah menolong".


"Yah, aku paham perasaan itu. Tapi serius, aku benar-benar tidak menginginkan apapun".


"Begitu ya".


Dylan menganggukkan kepala sebagai tanda dia tidak keberatan. Dan Aria tersenyum melihat respon Dylan yang tidak mempermasalahkan nya.


"... Oh iya, Aria. Ada sesuatu yang ingin aku berikan".


Setelah terdiam beberapa saat, Dylan seperti teringat akan sesuatu. Lalu tangan masuk dan mengambil sesuatu didalam item box. Yang dia ambil adalah semacam kotak kecil yang sudah di bungkus dengan rapi dan menyerahkan kepada Aria.

__ADS_1


Aria yang menerima itu sepat terdiam sesaat, lalu dia mulai bertanya.


"Dylan-san, ini apa?".


"Sudah buka saja".


Dengan instruksi dari Dylan, meski ragu Aria segera membuka kotak yang dia berikan. Begitu terbuka Aria sangat terkejut dan terkesan disaat yang bersamaan.


Apa yang ada didalamnya adalah sebuah bando cantik yang dihiasi dengan beberapa berlian yang memancarkan warna yang sangat indah.


Aria hanya bisa terdiam melihat hal itu. Tapi, seketika dia langsung gemetar saat kesadaran kembali karena dia punya firasat bahwa bando yang Dylan berikan itu bukanlah barang yang murah.


"Dy-dy-dylan-san, bukankah ini bando dengan berlian yang harganya sangat mahal?".


Dengan nada sedikit bergetar Aria mencoba memastikan bahwa bando yang dia terima adalah aksesoris yang berharga sangat mahal.


"Itu memang barang mahal. Memang apa masalahnya?".


Dylan mengiyakan pertanyaan Aria dan berbalik bertanya. Aria yang merasa Dylan tidak paham segera kembali bertanya.


"Ta-tapi, kenapa kau berikan ini kepadaku?".


Melihat Aria yang masih panik dan gemetar akibat tahu bahwa Bando yang dia berikan adalah barang mahal. Dylan segera menjawab untuk menenangkan Aria yang panik.


"Aria, anggap saja itu sebagai hadiah atas kerja kerasmu selama ini yang sudah mengasuh anak-anak itu dengan susah payah. Dan aku akan sangat menghargai nya jika kauakan menerimanya tanpa mengkhawatirkan apapun. Aku benar-benar ikhlas memberikannya kepadamu".


Dylan tersenyum halus dan sambil menunjukkan tanda "V" dengan tangan kanannya. Aria yang mendengar itu hanya bisa tertunduk diam dan tersenyum dengan pipi nya yang menjadi merah.


"..... Baiklah, kalau Dylan-san mengatakan ini baik-baik saja. Dengan senang hati aku akan menerimanya".


Aria segera mengambil bando itu, merapikan rambutnya dan memakai bando itu tepat di depan Dylan. Melihat Aria yang mengenakan bando yang dia berikan membuat Dylan terdiam sesaat dan kemudian berbicara.


"Hmmmm.... Sudah kuduga, kau memang pantas menggunakannya. Kau benar-benar tambah cantik dengan bando itu".


"Be-be-be-benarkah........ Ka-ka-ka-kau tidak perlu sampai menggodaku".


"Huh? Siapa bilang aku menggoda mu? Aku ini memujimu".


"Uwawawawa.......".


Aria semakin salah tingkah dengan kepala yang beruap ketika Dylan benar-benar memuji kecantikan nya.


"Karena hari semakin sore, aku kembali dulu. Sampai jumpa, Aria".


"I-i-i-i-iya.... Dylan-san".


Dylan segera berbalik dan berjalan pergi, namun dia sempat berhenti dan menengok Aria kembali.


"Aku sudah bilang pada Martha-san. 4 hari lagi kalian semua datanglah ke Mansion keluargaku. Ibuku mengadakan pesta ulangtahun dan kalian semua diundang ke sana. Jangan lupa datang, ya".


Setelah mengatakan itu, Dylan kembali berjalan pulang dan Aria melihat dari belakang sambil terus menatapnya dengan ekspresi halus, tersenyum dan pipinya yang merah.


(--------------)


4 hari kemudian. Hari perayaan ulang tahun Pavline di gelar di Mansion Arcadia.


Berbeda dengan pesta ulang tahun kebanyakan para bangsawan yang mengundang bangsawan lain. Pavline tidak melakukan hal itu mengingat kurang baiknya hubungan suami dan keluarganya dengan bangsawan lainnya.


Pavline merayakan hari ulang tahun nya dengan pesta yang sederhana dan hanya di hadiri oleh beberapa orang yang bekerja di wilayah Arcadia saja. Sekaligus para anak-anak panti asuhan yang Dylan dirikan.


Setelah tamu berkumpul di aula, Pavline sebagai orang yang berulang tahun mulai memberikan pidato singkat kepada para tamu yang datang.


"Selamat Malam, para tamu undangan sekalian yang sangat aku hormati. Terimakasih sudah datang jauh-jauh dan berkumpul disini untuk menghadiri pesta ulang tahun yang sederhana ini. Silahkan nikmati hidangan yang sudah di suguhkan oleh para juru masak terhebat kami. Hanya itu saja dariku. Dan selamat menikmati".


Semua orang segera memberikan tepuk tangan atas pidato singkat yang Pavline berikan. Kemudian para tamu undangan segera berkumpul dan memberikan ucapan dan hadiah kepada Pavline. Termasuk Hyoga, Filaret dan Dylan tentunya.


"Pavline. Selamat atas hari ulang tahunmu yang 36 tahun....... Sebagai suamimu, aku mengucap banyak-banyak terima kasih. Karena kau mau mendampingi orang yang selengean, kikuk dan bersabar atas itu semua....... Mungkin aku bukan suami yang baik dan sempurna untuk wanita sepertimu...... Tapi, aku mengucapkan terimakasih yang paling dalam dari lubuk hatiku...... Karena sudah mendampingi dan memberikan kebahagiaan yang luar biasa indahnya selama 20 tahun kita mengarungi bahtera rumah tangga bersama ku".


Hyoga kemudian merapalkan sebuah mantra sihir gabungan dari elemen es dan cahaya di tangan nya. Setelah berkumpul Hyoga lalu menerbangkan nya ke langit-langit aula.


Lalu bola sihir itu pecah dan menciptakan cahaya yang mirip langit fenomena Aurora yang terjadi di kutub Utara.


Pavline dan para tamu terkesan dengan hadiah pemberian Hyoga yang menurut mereka sangatlah luar biasa. Kemudian Hyoga menghadap Pavline dan kembali berbicafa


"..... Ini mungkin bukan hadiah yang istimewa..... Tapi, dengan ini aku ingin mengatakan bahwa aku...... Sangat mencintai mu, Pavline..... Kau adalah istri terbaik dan ibu yang hebat..... Aku sangat bersyukur bisa menjadi suami dan ayah dari anak-anak kita".


'Hyoga".


Keduanya lalu berpelukan dan para tamu yang melihat adegan itu memberikan tatapan hangat kepada mereka berdua.


Selanjutnya, orang yang mengucapkan selamat kepada Pavline adalah Filaret.


"Sejujurnya, aku tidak tahu harus berbicara apa..... Mengingat semua kebaikan yang sudah ibu berikan kepadaku terlepas dari fakta bahwa aku bukanlah putri kandungmu.... Tapi, ibu selalu memperlakukan ku, melindungi ku, dan menyayangi ku melebihi ibu kandung ku sendiri...... Ini adalah kebahagiaan yang tidak bisa aku ucapkan dengan kata-kata maupun aku tulis bahkan dengan darahku sendiri".


Kemudian, Filaret memberikan sebuah hadiah yang dibungkus dengan kotak rapi. Begitu dibuka, Pavline sangat terkejut melihat apa yang ada di dalamnya.


Hadiah dari Filaret adalah sebuah gaun indah yang sangat mewah. Pavline kemudian menyadari sesuatu dan segera bertanya pada Filaret.


"Fira-chan.... Bukankah gaun ini?".


"Ibu benar.... Ini adalah gaun yang ibu inginkan saat kita pergi berbelanja di Ibukota. Aku tahu, karena sejak kita memasuki toko saat itu, ibu tidak mengalihkan pandangannya dari gaun ini. Dari situ aku simpulkan bahwa ibu sangat menginginkan nya, tapi ibu menahan diri..... Jadi, diam-diam aku membelinya dengan uang tabungan ku..... Dan memberikannya sebagai hadiah ulang tahun".


"Fira-chan".


Filaret menjelaskan tentang hadiahnya sambil tersipu malu. Lalu, Pavline langsung memeluknya dengan sangat erat dan dibalas oleh Filaret.


"Fira-chan, meski kita bukanlah ibu dan anak. Tapi, aku sangat menyayangimu dengan tulus. Dan ibu tidak akan ragu untuk membanggakan hal itu depan semua orang-orang".


"Aku juga ibu, aku bersyukur bisa memiliki ibu dan keluarga angkat yang hebat dan menerima ku apa adanya".


Keduanya berpelukan sangat erat untuk sementara waktu sambil terus meneteskan air mata. Untuk sekali lagi para tamu memberikan tatapan hangat pada mereka.


Nah, sekarang giliran Dylan untuk memberikan pidato dan hadiah kepada Pavline.

__ADS_1


"Aku akan singkat saja..... Ahem, ibu. Kau adalah wanita yang luar biasa dan terhebat yang pernah aku tahu. Kau tetap menyayangi dan bersabar menghadapi sikap putramu ini. Karena itu, sebagai ucapan terima kasih ku yang paling dalam.... Ini adalah hadiah untuk ibuku yang tersayang".


__ADS_2