
Keesokan malamnya.
Hyoga, Pavline dan Filaret pergi menuju Istana Raja untuk menghadiri pesta Ball yang diadakan disana.
Lalu kemana Dylan?
Sore hari sebelum ketiganya pergi, Dylan sempat berpamitan bahwa ada sesuatu "urusan" yang musti dia selesaikan terlebih dahulu.
Meski Pavline dan Filaret mengiyakan alasan Dylan tanpa pikir panjang, berbedanya halnya dengan Hyoga yang nampaknya paham soal "urusan" yang dimaksud oleh putranya itu.
Akhirnya, mereka memutuskan berangkat duluan meninggalkan Dylan yang nanti akan menyusul.
"Sayang, kau kenapa? Dari tadi terus melamun terus?".
Pavline bertanya kepada Hyoga karena melihat suaminya itu hanya terdiam sambil terus menatap kearah luar jendela kereta.
"Aku hanya khawatir kita terlibat urusan yang merepotkan dengan keluarga Kerajaan.... Jujur saja, aku males banget ketemu sama mereka. Terutama, si "Putri Berbudi luhur" itu".
Hyoga segera menempelkan punggung dan badannya perlahan-lahan mulai meluncur turun dari kursi. Yang menandakan dia benar-benar dalam mode malas.
"Eh? Putri Berbudi Luhur? Maksud ayah itu, Putri kedua Vanessa Sera Ingrid?".
Filaret yang terkejut mendengar panggilan Vanessa keluar dari mulut ayahnya, membuat dia sangat penasaran.
"Aku hanya tahu sedikit tentang dia, tapi.... Dari rumor yang beredar luas. Selain terkenal akan kecantikannya, Putri Vanessa memiliki reputasi yang sangat baik.... Bahkan di usianya yang masih muda, dia sangat cerdas dan sangat memikirkan rakyat Kerajaan ini...... Jika perang perebutan kekuasaan terjadi. Desas-desus mengatakan, bahwa dia akan keluar sebagai pemenangnya dan menjadi ratu yang bijaksana.... Makanya, banyak bangsawan di Kerajaan ini dan mereka yang berasal dari Kerajaan lain, berlomba-lomba untuk menjadi tunangannya karena akan sangat menguntungkan dalam hal urusan politik..... Terutama bagi mereka yang mengincar tahta Raja".
"Begitu ya..... Tapi, kenapa dulu dia sangat ingin bertunangan dengan Nii-san?".
Filaret yang semakin penasaran kembali bertanya kepada Hyoga yang menjawabnya dengan nada bicara yang penuh kemalasan.
"Hmmm.... Kalau tebakanku benar. Itu bukanlah keinginan awal Vanessa melainkan karena perintah dari Yang Mulia sendiri...... Tapi, entah mengapa tiba-tiba dia sepertinya menyetujui keputusan itu dan mencoba mengajukan proposal pertunangan ke Dylan?".
"Apa, Ayah tahu apa motifnya?".
"Apapun motif yang dia miliki itu tidaklah penting? Yang jelas, aku sangat bersyukur bahwa Dylan benar-benar menolak mentah-mentah tawaran itu.... Karena berhubungan dengan keluarga Kerajaan itu sangatlah merepotkan".
Saat mereka tengah asyik mengobrol tanpa disadari, kereta kuda yang mereka tumpangi sudah sampai di Istana Raja.
Begitu kereta terhenti, Hyoga turun duluan dan mengeluarkan tangannya yang langsung di terima oleh Pavline dan turun. Setelah, Pavline sekarang giliran Filaret yang turun dari kereta.
"Wow.... Lihat itu. Dia si "Pendeta Pedang Es dan Cahaya" pahlawan Kerajaan ini, Hyoga van Arcadia. Penampilannya seperti rumor yang beredar".
"Aku dengar dia hampir tidak pernah datang ke pesta Ball Kerajaan... Ini pertama kalinya aku melihatnya langsung".
"Dan wanita yang dia gandeng pasti istrinya si "Penyihir Serba Bisa" rekan sang Pahlawan Hyoga dimasa lalu, Pavline van Arcadia. Dari dulu, penampilannya sama sekali belum berubah. Masih cantik dan anggun".
"Dan gadis yang bersama mereka itu, pasti putri angkatnya yang mereka adopsi dari keluarga Pillos, Filaret van Arcadia. Aku tidak menyangka dia tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik sekali".
Orang-orang yang melihat kedatangan mereka tidak melepas pandangan kearah mereka dan terus melontarkan pujian. Sampai, akhirnya ada salah satu dari orang-orang itu yang sadar akan satu hal.
"Eh? Tunggu dulu? Dimana putra mereka?".
"Ah, setelah ku perhatikan. Putra mereka tidak ada bersama mereka".
"Mungkin dia malu membawa putranya?".
Salah seorang lalu mulai membicarakan sesuatu.
"Malu? Kenapa?".
"Hei, apa kau tidak tahu. Putra dari tuan Hyoga itu pernah mengajukan proposal pertunangan ke putri Vanessa. Tapi, hal itu langsung di tolak mentah-mentah oleh Tuan putri".
"Heh? Yang benar?".
"Iya itu benar sekali".
"Begitu ya. Hanya karena Ayah dan Ibunya yang berpengaruh dia pikir bisa seenaknya melamar seorang putri dari anggota Kerajaan".
"Apalagi, putri yang dia lamar adalah Putri Vanessa yang berbudi luhur. Aku bersyukur bahwa putri menolaknya".
"Belum lagi, dia terus-menerus mengirimi putri Vanessa berbagai surat cinta. Untungnya, putri Vanessa langsung merobek dan membakar nya".
"Memangnya dia pikir, dia itu siapa? Dasar bocah merepotkan".
Mendengar orang-orang yang tadi memuji mereka sekarang menyerang dan mengejek-ngejek Dylan. Membuat ketiganya yang tidak sengaja mendengarnya, terutama Filaret mulai naik darah.
Bagaimana tidak? Filaret tahu betul bukan itu yang sebenarnya.
Bukan Kakaknya yang mengajukan proposal pertunangan. Melainkan Keluarga Kerajaan yang melakukannya.
Bukan Vanessa yang menolak Kakaknya mentah-mentah. Melainkan, Kakaknya lah yang menolak Vanessa mentah-mentah.
Bukan Kakaknya yang sering mengirimkan surat. Melainkan Putri Vanessa sendiri yang mengirimkan surat untuk Kakaknya. Sampai, Kakaknya muak.
(Keparat, berani-beraninya mereka seenaknya sendiri menjelek-jelekkan Nii-san seperti itu).
Melihat putrinya yang mulai emosi, Pavline langsung menggenggam tangan Filaret berusaha untuk menenangkan nya. Begitu juga dengan Hyoga yang hanya melirik sedikit kearah Filaret.
"Tenang Fira-chan, abaikan saja mereka. Hal ini sudah biasa di kalangan bangsawan untuk menjatuhkan satu sama lain".
"Baik Bu. Aku akan berusaha menahannya demi Ayah, Ibu dan juga Nii-san".
Setelah cukup lama berjalan akhirnya mereka bertiga, sampai di aula tempat dimana banyak bangsawan dari mulai Baronet sampai ArcDuke hadir disana.
(--------------)
Hyoga, Pavline dan Filaret segera melangkah memasuki aula megah yang dipenuhi oleh berbagai bangsawan.
Para anak-anak berkumpul dan mulai saling berkenalan dengan anak-anak dari keluarga yang lain. Sementara, para orang dewasa mulai berbicara satu sama lain.
"Wah, wah, wah, lihat siapa yang keluar dari hibernasi nya yang sangat panjang".
__ADS_1
Sebuah suara terdengar yang seolah-olah sedang berbicara dengan Hyoga. Dan ketika dia menoleh ke sumber suara yang dia lihat adalah.
Seorang laki-laki berambut oranye acak-acakan dengan bagian belakang diikat dan mata hijaunya yang sangat tajam sambil tersenyum sarkas.
Disebelah kirinya, ada seorang wanita cantik yang seusia Pavline dengan rambutnya yang berwarna biru muda dan mata yang berwarna sama.
Disebelah kanannya, ada seorang gadis tidak kalah cantiknya sama persis dengan wanita yang ada disebelah kiri. Yang membedakan adalah gadis itu tampaknya seusia Filaret.
"Oh, sungguh sarkasme yang sangat ampas. Kau seharusnya tahu itu tidak akan memprovokasi ku sedikitpun, kan? Verna".
"Cih, kau masih sama sekali tidak berubah setelah bertahun-tahun lamanya, ya? Hyoga".
Verna de Zinvarca, teman lama Hyoga dan seorang mantan Chivalric Order Kerajaan Ingrid. Saat ini dia bergelar Earl sama seperti Hyoga dan mengelola sebuah wilayah bernama Zinvarca yang berfokus pada sektor pertanian dan menjadi wilayah pemasok utama gandum ke Ibukota dan beberapa wilayah di Kerajaan Ingrid.
"Orang waras mana yang percaya kalau sifat orang akan berubah karena waktu?.... Dan juga, sekarang apa kau tidak ada niatan memperkenalkan keluargamu?".
"Haaa.... Baiklah".
Verna menginstruksikan kepada kedua orang di belakangnya untuk memperkenalkan diri. Dimulai dari wanita yang ada di sebelah kirinya.
"Salam kenal Tuan Hyoga beserta keluarganya. Nama saya Sardinia de Zinvarca. Istri tuan Verna".
Setelah istri Verna memperkenalkan diri sekarang giliran gadis yang berada di sebelah kanannya.
"Salam kenal Tuan Hyoga beserta keluarganya. Nama saya Laura de Zinvarca. Putri dari Verna de Zinvarca dan Sardinia de Zinvarca".
Gadis itu memperkenalkan dirinya sebagai putri dari Verna dan Sardinia.
"Putrimu ya? Ternyata dia benar-benar secantik ibunya, ya".
"Te-terima kasih atas pujiannya".
Laura sangat terkesan dengan pujian yang dilontarkan Hyoga, sampai membuatnya pipinya menjadi merah, hal itu diperhatikan oleh Verna.
Lalu, ada adegan yang mengejutkan.
Dimana Verna tiba-tiba menarik baju Hyoga dan mendekatkan wajahnya sambil menunjukkan ekspresi jengkel.
"Hei, keparat. Berani juga kau merayu putriku didepan mataku. Sudah bosan hidup kau rupanya".
"Bangsat, suami waras mana yang merayu wanita lain yang seumuran anaknya didepan istri dan putrinya..... Aku cuma sulit percaya kalau dia adalah anakmu. Dasar Family-man keparat".
"Brengsek, kata-kata mu nusuk banget".
"Terserahlah, sekarang giliranku untuk perkenalkan keluargaku juga".
Mengabaikan kejengkelan Verna, Hyoga segera memberikan instruksi kepada Pavline dan Filaret yang keduanya langsung maju dan memperkenalkan diri.
"Salam kenal Tuan Verna dan Nona Sardinia. Saya Pavline van Arcadia, istri tuan Hyoga".
"Dan saya adalah putri angkat tuan Hyoga dan Nona Pavline. Nama saya Filaret van Arcadia. Salam kenal".
Pavline dan Filaret memperkenalkan diri kepada Sardinia dan Laura. Sementara Verna merasa ada yang tidak beres.
"Oh, soal itu. Dia bilang lagi sedang ada urusan lain. Tapi, aku tahu dia lagi mager aja. Aku yakin sebentar lagi dia akan datang? Mungkin".
Hyoga menjawab pertanyaan Verna dengan melirik kearah lain. Dan Verna sendiri sepertinya mulai memahaminya.
"Begitu ya..... Yah, wajar juga sifatnya kayak begitu. Mengingat dia itu anakmu".
"Bajingan, apa maksudmu itu?".
"Baiklah, ada sesuatu yang aku ingin bicarakan denganmu. Hanya denganmu".
Hyoga langsung menatap serius kearah Verna.
"Etto.... Nona Sardinia dan Laura-chan. Bagaimana kalau kita berempat pergi ke sebelah sana. Aku tadi melihat hidangan penutup yang cukup menarik".
"Ah.... Iya. Nona Pavline. Kalau begitu ayo".
Pavline dan Sardinia yang paham soal situasi diantara Hyoga dan Verna segera pergi sambil mengajak Filaret dan Laura untuk memberi keduanya ruang untuk berbicara.
(-------------)
Di pojok aula pesta.
Hyoga dan Verna sedang berdiri dan menyandarkan badannya ke tembok sambil menatap para bangsawan yang menari dan bercengkrama satu sama lain.
"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan? Mengingat kepribadian mu, aku yakin ini masalah yang sangat serius".
Hyoga yang sempat terdiam sesaat segera mengajukan pertanyaan ke Verna.
"Hm..... Aku dapat kabar, bahwa sebulan yang lalu wilayah mu mendapatkan serangan para monster. Setelah diselidiki lebih lanjut, rupanya ada dalang di balik penyerang itu. Dan orang itu adalah Oscar Niville Dragonia".
"Hou... Darimana kau tahu?".
"Rufus yang memberitahu. Dan aku juga dengar bahwa orang yang membunuh Oscar itu adalah putramu, Dylan. Apa itu benar?".
"Iya, itu semua benar..... Bukan hanya membunuh Oscar saja tapi dia juga menahan serangan monster sendirian".
Verna membelalakkan matanya saat Hyoga membenarkan kabar yang dia dapat dari Rufus. Belum lagi, fakta bawah Dylan adalah orang yang menahan serbuan monster itu juga.
"Kau benar-benar punya putra yang menarik, ya. Hyoga".
"Terimakasih atas pujian mu..... Tapi, aku yakin semua itu tidak akan terlalu mengejutkanmu seperti yang satu ini?".
Verna menaikan salah satu alisnya sebagai bentuk dari rasa penasarannya. Dan Hyoga menjawab rasa penasaran itu.
"Berdasar dugaan ku dan Dylan.... Kemungkinan, ada "seseorang" yang membantu Oscar menyusup ke Kerajaan ini dan sengaja menargetkan wilayah- tidak. Lebih tepatnya aku dan keluargaku".
Verna langsung mematung dan tidak bisa apa-apa selain membelalakkan kedua matanya, karena terkejut dengan ucapan yang keluar dari mulut Hyoga.
__ADS_1
"Jangan bilang, maksudmu itu-?".
"Itu hanya "asumsi" kami saja.... Tapi, bukan berarti tidak menutup kemungkinan kalau Rubah itu juga terlibat".
"Tapi, meski itu terbukti benar. Baik kau, aku, maupun Rufus tidak akan bisa berbuat apa-apa..... Ya ampun, kau itu sejak dulu selalu saja terlibat dengan hal-hal yang merepotkan".
Verna menunjukkan kekecewaan nya pada Hyoga dengan menggaruk kepala belakang. Seperti nya, Verna dan Rufus tahu apa yang dialami Hyoga sebelumnya, mengingat mereka adalah sahabat.
"Ngomong-ngomong, kenapa kau datang kesini? Bukankah kau tidak sudi datang ketempat seperti ini?".
"Aku mendapat undangan dari Yang Mulia, makanya aku datang..... Yah, meski putraku bilang undangan itu "belum tentu" dari Yang Mulia...... Lalu, kau sendiri bagaimana?".
"Jawaban ku hampir sama denganmu. Kalau bukan karena undang dan "kewajiban" seorang bangsawan. Aku tidak sudi membawa Istri dan Putri tercintaku datang kesini..... Maksudku, lihat orang-orang diruang ini".
Keduanya, memperhatikan setiap orang yang hadir di aula pesta Ball.
"Mereka ini cuma sekumpulan penjilat yang mahir bersilat lidah. Punya hobi mengkambing hitam kan orang lain jika salah satu dari mereka melakukan kesalahan. Dengan dalih "melindungi keadilan". Dan yang pertama "melarikan diri" jika Kerajaan terkena masalah. Bisa menghirup udara yang sama dengan mereka. Benar-benar menjijikkan".
"Mau bagaimana lagi, Verna.... Selama kau hidup di dunia ini, Mereka yang punya "kuasa" selalu menindas yang dibawahnya".
Lalu sebuah suara terompet mulai berbunyi menggema di seluruh aula. Secara otomatis para tamu segera mengalihkan pandangannya kearah tangga yang berada di tengah aula, dimana disana ada 5 singgah sana.
"Ngomong-ngomong soal hal yang merepotkan, Verna".
"Hm?".
"Kayaknya, ada satu keluarga yang lebih merepotkan datang".
Kemudian dari atas muncul 5 sosok yang muncul dari balik bayangan dengan pakaian mewah, mereka terdiri dari 1 pria, 2 wanita dan 2 gadis.
Kemunculan 5 orang itu langsung membuat semua orang langsung menundukkan kepala termasuk Hyoga dan Verna sebagai bentuk penghormatan.
Ya, mereka adalah Raja berserta 2 Ratu dan 2 putrinya.
Raja Ingrid bernama Conrad Sera Ingrid. Dia pria yang memliki wajah tampan meski usia sudah terbilang tua. Dengan rambut jingga pendek yang disisir rapi dan bola mata yang bewarna ungu.
Ratu Pertama bernama Zandra Sera Ingrid. Dia seorang wanita yang berparas cantik dengan rambut panjang yang berwarna emas dan mata berwarna kuning keemasan. Dia berdiri di belakang sebelah kanan Raja Conrad.
Ratu Kedua bernama Celestine Sera Ingrid. Dia seorang wanita yang berparas cantik dengan rambut panjang merah muda dan mata berwarna biru muda. Dia berdiri dibelakang sebelah kiri Raja Conrad.
Putri Pertama bernama Ritzia Sera Ingrid. Dia seorang gadis yang penampilan sama persis dengan Ratu kedua, dengan ornamen penjepit rambut yang berwarna perak di bagian kirinya. Dia juga berdiri tepat di belakang Ratu Celestine.
Dan yang terakhir. Putri kedua bernama Vanessa Sera Ingrid. Gadis yang katanya paling cantik di seluruh Kerajaan Ingrid dan dikenal dengan julukan "Putri Berbudi Luhur". Dia memliki rambut panjang jingga dengan mata berwarna ungu. Mirip seperti Raja Conrad tapi versi perempuan.
"Tuan-tuan dan Nona-nona. Silahkan angkat kepala kalian. Ku ucapkan terimakasih atas kehadiran kalian dalam acara pesta Ball tahun ini. Silahkan nikmati pesta dan perjamuan nya. Hanya itu saja dari ku".
Salam dari Raja di sambut baik dengan tepuk tangan para tamu yang hadir di aula itu.
"Kalau begitu, ayo kita kembali. Mereka pasti sudah menunggu kita".
"Yah, kau benar. Ayo kita berusaha supaya Yang Mulia tidak memperhatikan kita".
Hyoga dan Verna memanfaatkan situasi itu untuk menyelinap diantara para tamu dan kembali ke Keluarga mereka.
(------------)
Pesta Ball yang sesungguhnya baru dimulai setelah sambutan dari Keluarga Kerajaan.
Ketika musik dimainkan, beberapa bangsawan mulai menari, menikmati makanan, dan percakapan dengan bangsawan lain.
Hyoga dan Verna berhasil kembali bertemu dengan keluarga mereka yang masih mengobrol sambil menikmati suasana pesta.
"Sayang, bagaimana pembicaraan kalian?".
"Pembicaraan kami sangat lancar jaya. Benarkan Hyoga".
"Iya, kau benar".
"Apa yang kalian bicarakan".
"Yah, si Verna ini ingin memastikan apakah kabar yang dia terima dari Rufus tentang apa yang kita alami".
"Begitu ya".
"Eh? Berarti kejadian serbuan Monster itu benar-benar terjadi?".
"Benar, nona Sardinia. Tapi, hal itu berhasil di cegah berkat putraku. Dylan.
"Wow itu luar biasa".
Sardinia dan Laura terkesan setelah mendengar cerita Pavline tentang Dylan yang berhasil menahan serangan monster. Tapi, dia tidak bercerita soal Dylan yang membunuh Oscar karena Pavline tahu hal itu akan menimbulkan kehebohan.
"Filaret-san. Kau sungguh punya Kakak laki-laki yang luar biasa".
"Terimakasih atas pujiannya, Laura-san. Aku sangat tersanjung".
"Tapi, ngomong-ngomong boleh aku tahu kenapa dia tidak datang? Jujur, aku penasaran seperti apa penampilan nya".
"Aku sih kurang tahu. Soal nya tadi dia bilang----".
"Are.... Ayah, Ibu, Fira kalian disana rupanya".
Ucapan Filaret terhenti saat mendengar suara Dylan yang berasal dari belakang nya. Begitupun dengan Hyoga dan Pavline.
Dan tanpa menoleh, Pavline mengambil inisiatif untuk memperkenalkan putranya kepada Verna dan keluarganya.
"Nah, Tuan Verna, Nona Sardinia dan Laura. Biar kami perkenalkan kepada kalian. Dia adalah putra kami namanya----- DYLAAAAAAANNNNN!!!!!!!".
Begitu Pavline menoleh kearah Dylan seketika dia terkejut bukan main dan berteriak sekeras-kerasnya.
Bagaimana tidak? Tidak seperti Ayahnya yang menggunakan pakaian model seragam militer yang rapi.
__ADS_1
Dylan datang ke pesta Ball dengan memakai kaos switer polos lengan panjang berwarna Army, celana panjang polos hitam, sepatu mirip sepatu kets berwarna hitam dengan garis putih, dan rambutnya yang berantakan.
Melihat penampilan putranya yang seperti habis bangun tidur itu tentu saja membuat Pavline terkejut, Hyoga memegang kepalanya seperti menahan rasa pusing, dan Filaret yang hanya bisa menghembuskan nafas panjang.