Reborn As Villain

Reborn As Villain
Chapter 31 : Pertemuan Tak Terduga.


__ADS_3

"Apa kalian semua sudah jelas?.... Dalam secangkir teh tersebut dapat mencerminkan orang yang memegang nya dan cerminan dari orang yang menyajikannya..... Ibarat seperti cermin yang bisa berbicara..... Dari cara kalian bersikap, kata-kata yang kalian ucapkan, pendidikan yang kau terima, dan sifat dari dirimu sendiri.....Semua itu akan nampak dari cemilan yang kalian----.".


Saat ini, Dylan dan yang lainnya sedang mengikuti kelas etiket soal tata cara, konsep dan filosofi dari sebuah Teh party.


Berbeda seperti kelas umum lainnya, kelas etiket akan menggabungkan semua kelas secara bersamaan dari kelas 1-D sampai kelas 1-S dalam satu ruangan.


Yang membedakan adalah, tidak adanya para siswi diantara mereka. Mengingat ini kelas etiket Teh party biasanya hanya siswa laki-laki saja yang disuruh untuk mengikuti nya.


Tidak seperti para siswa lainnya yang memperhatikan dengan seksama dan antusias. Dylan dan yang lainnya tampak sangat malas. Walau pandangannya melihat kedepannya, nyatanya Dylan tidak memperhatikan isi kelas dari tadi.


Di satu sisi lain, rekan-rekan Dylan juga merasakan hal yang sama. Bahkan mereka mencari cara lain untuk menghilangkan rasa kebosanan mereka.


Seperti Awin yang menggambar di bukunya, Ornest yang bermain-main dengan alat tulisnya, Arnold yang menaruh kepalanya di meja, dan Garcia yang tertidur sambil berpangku tangan.


(******.... Bosan amet, njir..... Lagian, kenapa kelas kayak gini pakek diadain segala.... Kalau elu punya duit...... Tinggal bayar orang aja buat menyiapin segalanya.... Sisanya tinggal duduk manis aja..... Malah kita diajari yang cara lebih ribet.... Mungkin ini konsep dari "Selagi ada cara yang lebih ribet. Kenapa musti pakek cara yang gampang", kali ya).


"Mister Dylan".


"Iya".


Dylan yang sedang tenggelam dalam pikirannya, pengajar itu tiba-tiba memanggilnya. Merasa dia terpanggil, Dylan segera berdiri dari tempat duduknya.


"Tolong perhatikan apa yang anda dengarkan".


"Iya, Sensei".


*Dasar kampungan*.


*Mentang-mentang anak seorang pahlawan.... Dia pikir bisa berbuat seenaknya di sini*.


Para siswa di sana mulai menyindir Dylan yang bersikap tidak peduli dengan pelajaran etiket bangsawan.


"Mister Dylan.... Perasaan anda sangatlah penting.... Anda harus menuangkan semua perasaan anda kedalam setiap peralatan sebelum anda mengundang seorang gadis dalam kegiatan Teh party..... Apa anda paham, Mister Dylan".


"Iya, saya paham".


Meski menjawab iya, Dylan sebenarnya tidak peduli dengan apa yang barusan di sampaikan oleh pengajar itu.


(Maaf ya, Sensei.... Jujur saja, aku sama sekali tidak peduli dengan Teh party sialan ini..... Kegiatan seperti ini tidak lebih hanya buang-buang uang dan waktu saja.... Agar bisa ngobrol sama cewek.... Membanggakan harga diri hanya dalam sebuah Teh dan manis..... Sungguh, ampas).


Dylan kemudian melirik sekitarnya, hanya untuk menemukan beberapa siswa selain dia, Awin, Garcia, Arnold dan Ornest. Yang tampak serius memperhatikan pelajaran ini.


(Karena udah terlanjur jawab Iya.... Aku akan berpura-pura tertarik saja).


Pelajaran etiket masih terus berlanjut dan Dylan tetap berada di sana walaupun dia merasa sangat bosan.


(-----------------)


Keesokan harinya.


Dylan sedang berjalan sendirian di lorong Akademi. Biasanya, dia akan di temani oleh Filaret. Tetapi, hari ini Filaret bersama Ritzia, Sylvia, Emilia dan Olivia sedang mendapat pelajaran etiket yaitu berupa permainan biola.


Sementara, Awin dan yang lain memutuskan untuk jalan-jalan di kota. Di saat Dylan menikmati kesendirian tiba-tiba mendengar suara orang-orang sedang berbicara.


Karena penasaran, Dylan memutuskan untuk pergi kearah sumber suara itu, dan ternyata disana ada seorang wanita yang terduduk di lantai sedang di kelilingi oleh beberapa wanita.


Gadis yang terduduk di lantai itu memiliki kecantikan yang tidak kalah dengan Filaret maupun Aria, rambut perak pucat di potong model Bob, dada yang berisi dan mata berwarna kuning muda yang tampak sayu.


Cukup dilihat saja, Dylan sudah tahu bahwa ini adalah semacam pembullyan.


"Apa?!!! Kau di undang ke acara Teh party, tuan Brand?!!!!...... Apa kau pikir dirimu itu pantas berada disana?!!!!".


"Jika kau berada disana, suasananya malah akan hancur!!!! Ketahuilah dimana tempatmu, dasar sampah!!!".


Setelah mengatakan hal yang sangat kejam, sekelompok tukang bully itu pergi meninggalkan gadis yang terjatuh tadi menangis seorang sendirian.


Dylan berencana pergi dan berpura-pura tidak melihat kejadian itu. Tapi, baru beberapa langkah saja. Dylan berhenti dan menoleh kearah gadis yang di bully tadi untuk beberapa saat.


Lalu, Dylan menghembuskan nafas panjang dan kemudian bergumam sambil menggaruk kepala belakang nya.


"Sial.... Kenapa aku tidak pernah bisa mengabaikan hal seperti ini, begitu saja".


Dylan memutuskan untuk berbalik dan mendekat kearah gadis tadi. Ketika sudah didekatnya, Dylan kemudian berjongkok dan membantu gadis itu merapikan bukunya yang disobek-sobek.


"Sini, biar aku bantu".


Gadis itu hanya menatap diam kearah Dylan yang mau membantunya tanpa mengatakan sepatah katapun.

__ADS_1


(----------------)


"Maaf menunggu, 2 es Milkshake Coklat dan Stoberi sudah siap".


"Ah, terimakasih".


Dylan mengambil 2 gelas es Milkshake itu dan segera membawanya dan menyerahkan yang rasa Stoberi kepada gadis yang di bully tadi.


"Ini untukmu".


"Ah..... Terima kasih".


Rupanya, setelah membantu Dylan membawa gadis itu pergi bersama pergi ke sebuah cafe dan memesan 2 gelas es Milkshake untuk di minum bersama.


"Ah, maaf jika aku tiba-tiba mengajakmu ke sini..... Soalnya, aku melihatmu begitu tertekan tadi".


Dylan meminta maaf karena dia dengan tiba-tiba mengajak gadis itu untuk pergi minum Milkshake bersama. Mendengar hal itu, gadis itu menggelengkan kepalanya dan kemudian buka suara.


"Tidak, tidak masalah..... Justru malah aku yang harusnya bilang terimakasih kerena sudah membantuku tadi".


Setelah minum beberapa tegukan, gadis itu kembali buka suara.


"Namaku adalah Lafia Fin Flight..... Kalau boleh tahu siapa nama anda?".


"Namaku, Dylan van Arcadia, panggil saja aku Dylan".


"Kalau begitu, tolong panggil saya Fia.... Semua orang yang mengenal ku, biasanya memanggilku begitu".


Selesai mengetahui nama masing-masing, Dylan segera bertanya kepada Lafia.


"Btw, Fia.... Kenapa gadis-gadis itu membully mu tadi?".


Fia segera menunduk lesu dan terdiam sesaat setelah beberapa saat dia kembali berbicara.


"Entahlah, aku sama sekali tidak tahu..... Soalnya, tidak peduli apa yang aku lakukan, semuanya tidak pernah berjalan dengan baik.... Apakah aku benar bagiku untuk masuk ke Akademi ini?".


"Kenapa kau berpikir seperti itu?".


"Aku.... Hanya ingin mempelajari lebih banyak tentang misteri dari sihir.... Namun, aku tak begitu mengerti dengan banyak hal, seperti etika tak tertulis dan peraturan Akademi..... Belakang ini, orang-orang mengganggu ku melalui buku catatan ku.... Bagiku, ini sangat berat".


Fia tampak sedih mengingat kembali pembullyan yang dia terima. Melihat hal itu, Dylan yang merasa tidak enak mencoba untuk sedikit menghiburnya.


"Sudahlah, tidak usah sedih..... Jika kau tadi bertanya "apa aku pantas ada di Akademi ini?"..... Maka jawabannya, tentu saja pantas".


"Eh?..... Benarkah?..... Meski aku ada di kelas 1-C?".


"Di kelas mana kau itu tidak ada hubungannya..... Masuk dan diterima Akademi Estonia sudah cukup menjadi bukti bahwa kau memang pantas ada disini".


Ekspresi lega tampak jelas dari raut wajah Fia karena perkataan Dylan barusan. Untuk sesaat, dia kembali merunduk dan kembali berbicara.


"Sebenarnya, ada alasan lain kenapa aku memutuskan untuk masuk ke Akademi ini".


Dylan menaikkan salah satu alisnya sebagai tanda dia penasaran apa yang di katakan Fia barusan.


"Aku punya seorang teman masa kecil yang sekarang menjadi tunangan ku.... Sejak dulu, aku sangat mencintai nya dan terus berusaha mendukung nya..... Saat aku tahu dia masuk e Akademi Estonia, aku putuskan untuk ikut bersamanya dengan harapan kami bisa terus bersama".


Setelah mengatakan hal itu, ekspresi Fia kembali menjadi sedih.


"Jujur saja..... Akhir-akhir ini dia sering menjauh dariku..... Belum lagi, dia cukup terkenal dan sering di kelilingi oleh banyak orang..... Terkadang aku berpikir, apakah aku ini hanya akan merepotkan nya jika terus berada di sisinya..... Bahkan, aku dengar kabar..... Dia sempat mendapat kritik dari beberapa orang karena menjadikan ku sebagai tunangan nya".


"Apa kau pernah mencoba berbicara dengannya soal masalah ini?".


"Aku sudah mencobanya.... Tapi, dia berkata "mereka tidak bermaksud seperti itu"..... Jadi, aku tidak pernah bisa mendapat jawaban yang tepat darinya".


Fia perlahan-lahan mulai meneteskan air mata nya.


"Terus baginya...... Aku ini siapa..... Dia tunangan ku..... Tapi, kenapa aku tidak dianggap olehnya..... Dia tahu aku di bully karena dekat dengannya...... Tapi, kenapa dia malah diam dan bilang bahwa itu bukan maksud mereka..... Baginya, aku ini apa?".


Melihat Fia yang tiba-tiba menangis dan mengungkapkan keluh kesahnya, membuat Dylan berpikir mencari solusinya.


(Hmmm..... Bagaimana cara menghiburnya, ya?..... Tak banyak yang bisa di harapkan dariku).


Namun, sesaat kemudian Dylan mulai menyadari satu hal.


(.... Sek, bentar.... Kenapa aku yang pusing sendiri..... Lagian, aku bukan siapa-siapa nya..... Kalau dipikir-pikir, ini mustinya jadi pekerjaan tunangannya, kan?...... Dia yang seharusnya menghibur Fia bukan, aku).


Melihat Fia yang terus menangis di depannya membuat Dylan tidak punya pilihan lain selain mencoba menghiburnya.

__ADS_1


(Nyusahin amet...... Ya, udah deh..... Akan aku hibur dengan caraku sendiri).


"Yah, aku memang nggak tahu siapa tunangan mu itu..... Dan jika dia memang terkenal dan di kelilingi banyak orang sekarang ini..... Aku pikir wajar saja, jika dia merasa kau itu sangat merepotkan bila berada di sisinya...... Mungkin bisa saja, kan...... Dia sudah tidak memperlakukanmu bukan sebagai tunangan nya.... Atau lebih tepatnya, tidak menganggap mu sebagai manusia".


"TUNANGAN KU BUKAN ORANG SEPERTI ITU!!!!!".


Fia tiba-tiba berdiri dan meluapkan emosinya ketika dia mendengar Dylan mengejek tunangannya. Melihat ekspresi marah Fia, membuat Dylan tersenyum tipis dan kembali berbicara.


"Nah, kalau gitu semuanya akan baik-baik saja, kan?.... Kau sendiri sudah tahu jawabannya".


Fia seketika menjadi sangat malu dan pipinya berubah menjadi merah merona karena dia paham apa maksud dari perkataan Dylan barusan.


"Ka-kau benar-benar jahat, Dylan-san".


Sambil tersipu malu Fia mengejek cara menghibur Dylan yang terkesan aneh.


"Maaf..... Aku tidak tahu cara menghibur orang.... Biasanya, kalau aku mencoba terlihat keren saat menghibur seorang gadis.... Aku pasti akan jadi bahan lawakan".


(Dulu, aku pernah mencoba meniru apa yang biasa pria tampan lakukan..... Alih-alih terkesan, pihak lain malah menertawakan ku.... Bahkan, adik kampret ku malah ikut-ikutan tertawa terbahak-bahak).


Dylan kemudian teringat akan sebuah kenangan di kehidupan sebelumnya. Saat itu, Dylan berusaha merayu seorang gadis dengan rayuan "Air mata mu adalah sebuah Mutia yang berharga" dengan gaya yang paling keren.


Tiba-tiba dari arah belakang, adik Dylan muncul dan berbicara "LOL, itu cuma omong kosong mu saja". Seketika, semua orang langsung tertawa terbahak-bahak.


Dan itu menjadi kenangan yang paling pahit di dalam hidupnya. Sejak saat itu, Dylan tidak pernah lagi untuk mencoba merayu dengan meniru gaya pria tampan.


(----------------)


"Terimakasih, ya Dylan-san karena sudah mau membantu dan menghibur ku..... Dan seperti yang kau katakan, aku akan coba untuk berbicara dengannya".


"Baguslah kalau begitu..... Sekarang aku pergi dulu, ya.... Sampai jumpa".


"Sampai jumpa".


Setelah meninggalkan Cafe dan berjalan kembali ke Akademi. Dylan memutuskan untuk berpisah dari Fia dan kembali ke asramanya, begitu juga dengan Fia yang ingin kembali ke Asramanya.


"Fia di sana kau rupanya".


Dari arah belakang tiba-tiba terdengar suara seorang pria yang memanggil namanya. Menoleh kebelakang ekspresi Fia yang tadi ceria berubah menjadi sedikit muram setelah melihat sosok yang memanggilnya. Dan sosok itu tidak lain adalah tunangannya.


"Maaf ya, Fia..... Aku benar-benar lupa dengan janji kita..... Soalnya, aku banyak dapat undangan Teh party dari beberapa gadis..... Jadi, aku tidak enak untuk menolaknya".


Sambil menunjukkan ekspresi sedikit menyesal pria itu memohon permintaan maaf dari Fia.


"Tidak usah khawatir, aku tidak marah kok.... Lagi pula wajar, jika kau enggan menolak permintaan mereka".


Meski sangat kesal Fia sebisa mungkin menahannya di depan tunangannya ini.


"Benarkah?.... Syukurlah, aku kau tidak marah".


Tampak ekspresi lega terlihat dari wajah pria itu.


"Kalau begitu, tunggu apa lagi? Ayo kita------".


"Maaf, aku capek.... Aku mau istirahat di kamarku".


"Eh?".


Pria itu seketika terkejut mendengar jawab cepat dari Fia. Mengabaikan keterkejutan pria itu Fia segera berjalan pergi.


"Tunggu dulu, Fia".


"Maaf ya, Reiner.... Aku benar-benar capek dan ingin istirahat di kamarku.... Dan tolong jangan ganggu aku dulu".


Fia tetap melangkah pergi meninggalkan Reiner sendirian dengan ekspresi kebingungan.


"Dia kenapa...... Memangnya...... Aku salah apa?".


Sambil menggaruk kepala belakangnya, Reiner merenung sebenarnya dia salah apa kepada Fia sampai dia diabaikan olehnya.


Benar.


Sosok tunangan dan teman masa kecil yang dimaksud Fia adalah Reiner fou Stanley. Sang pahlawan sekaligus karakter utama dalam game "Long Life Brave".


Pertemuan antara Dylan dan Lafia benar-benar diluar dugaan. Bahkan Dylan sendiri tidak tahu bahwa Lafia adalah tunangan dan teman masa kecil dari Reiner sang pahlawan.


Alasannya bukan karena Dylan lupa.

__ADS_1


Melainkan, Lafia adalah karakter NPC yang bahkan tidak pernah muncul baik di cutescreen maupun dialog dalam gamenya.


Pertemuan antara Dylan dan Lafia adalah kejadian yang tidak terduga. Dan ini bisa jadi merupakan efek dari perubahan alur cerita yang sangat drastis.


__ADS_2