Reborn As Villain

Reborn As Villain
Chapter 40 : Ayo Kita Santai Sejenak.


__ADS_3

"Woaaaahhhh.....!!!!".


Teriakan para siswa Akademi Estonia menggema ketika mereka dengan sangat rusuh beraliran kearah pantai.


Tanpa memperdulikan apapun, mereka yang sudah berganti pakaian segera menerobos masuk kedalam pantai untuk menikmati sisa hari ini dengan bermain ria.


Para siswa laki-laki segera bertelanjang dada dan menggunakan celana pendek. Dan para siswi segara berganti dengan pakaian bikini yang sudah mereka bawa.


"WOIIII!!!!! BOCAH-BOCAH GEBLEK!!!! JANGAN LUPA ASALAN KITA DATANG KESINI UNTUK KEGIATAN AKADEMI!!!.... BUKAN UNTUK LIBURAN!!!!!".


Alex yang melihat ke lakukan para siswa itu tidak bisa menahan emosinya dan berteriak sekeras-kerasnya untuk berhenti dengan kegiatan yang mereka lakukan.


"Sudah, sudah..... Alex..... Biarkan saja mereka menikmati sisa hari ini untuk bersenang-senang..... Kegiatannya, bisa kita lakukan besok".


"Tunggu sebentar...... Tuan Leon...... Kenapa anda malah berpenampilan seperti itu?".


Alex terkejut melihat penampilan kepala Akademi Estonia, Leon Sera Belmont yang saat ini duduk di sebuah kursi pantai dengan menggunakan celana pendek oranye, sambil menggunakan kaca mata hitam.


"Penampilan ku?...... Sudah jelaskan...... Bahkan orang sepertiku juga perlu waktu untuk bersantai".


Alex hanya bisa merespon dengan menggerakkan ujung jari mulutnya.


"Itu benar..... Jangan terlalu tegang begitu, Alex..... Nikmati saja hari ini".


Alex segera menoleh kebelakang hanya untuk menemukan Frey yang bertelanjang dada dan menggunakan celana pendek berwarna biru. Tapi, yang membuat Alex tidak habis pikir adalah Frey yang dengan percaya diri menggunakan kacamata hitam berbentuk bintang.


"Woi, Frey...... Jika aku ditanya siapa "penampilan" nya paling aneh?..... Aku tidak akan ragu untuk menjawab kaulah orangnya".


"Apaan itu?..... Kenapa juga, kau bilang penampilan ku aneh?".


"YA JELASLAH!!!!!! SIAPA JUGA ORANG WARAS, YANG MAU PAKAI KACAMATA NORAK SEPERTI MU ITU, HUH?!!!!".


"Oh, maksudmu kacamata bintang ini?...... Kau mau, ya?.... Nih, pakailah".


Tanpa rasa bersalah sedikitpun, Frey malah menawari Alex kacamata yang sama dia gunakan. Hal itu, tentu saja membuat Alex semakin naik pitam dibuatnya.


"MANA SUDI AKU PAKAI BARANG NORAK KAYAK GITU, BANGSAT!!!!".


"Alex-kun itu orangnya tegang banget, ya..... Santai sedikitlah...... Inilah yang membuat mu tidak populer di kalangan para siswa".


Olga segera yang seperti juga mulai risih dengan sikap Alex segera berbicara.


"Bisa diam ngak kau itu, Olga..... Lagipula, apa maksudmu dengan aku ini "tidak populer", huh?..... Asal, kau tahu saja...... Aku ini sudah jadi guru populer sejak pertama mengajar di Akademi".


Dengan ekspresi wajah yang penuh percaya diri. Alex mengaku bahwa dirinya adalah guru paling populer di Akademi Estonia bahkan sejak dia pertama kali mengajar.


"Hah? Orang kayak kau.... Populer?..... Hahaha.... Jangan membuatku tertawa Alex".


Jason yang mendengar Alex mengaku sebagai guru paling populer segera tertawa terbahak-bahak. Dan itu membuat Alex semakin jengkel.


Kemudian, Jason membuka Protas miliknya dan menunjukkan urutan guru terbaik di sana. Di dalam list 10 nama guru terpopuler menurut para siswa.



Olga Marie Annimusufia.


Liara von Windhild


Frey de Highland.


Jason van Taylor.


Elsa Lakes Cylde.


Alberto Fin Goncalves.


Dominic de Howard.


Annastasia von Ramslet.


Russell van Crowe.


Monica van Vestaline.



"Nih, liat sendiri..... Namamu bahkan ngak ada di list 10 guru populer ini".


"GUA KALAH SAMA SI PECINTA NTR, RUSSELL DAN SI ONENG, MONICA!!!!!".


Alex semakin emosi saat dia tahu bahwa diri kalah populer dari Russell yang dianggap guru pecinta novel NTR dan Monica guru yang dianggap oneng olehnya.


"Tidak, lebih tepatnya...... Kau diluar daftar".


"DASAR BRENGSEK ITU PARA BOCAH-BOCAH GEBLEK!!!! TEGA BANGET AMA GUA!!!!".


Alex semakin emosi dengan perkataan Jason dan yang mengatakan bahwa dirinya berada diluar daftar nama-nama guru Akademi yang populer di kalangan para siswa.


"Sudahlah kalian semua..... Ayo kita santai sejenak dan nikmati sisa hari ini sebagai liburan".


""""Baiklah, Tuan Leon!!!""""".


Leon yang sepertinya agak risih dengan keributan yang ada segera menyuruh untuk menikmati sisa hari ini sebagai liburan kalian. Dan itu, langsung di respon baik oleh Frey, Liara, Olga, dan Jason.


Sementara Alex segera pergi meninggalkan mereka semua. Menyadari hal itu, Liara segera bertanya.


"Hei, Alex.... Kau kemana?".


"Tadi, katanya kita disuruh "menikmati" sisa hari ini sebagai liburan, kan?...... Daripada berjemur di pantai yang panas kayak gini..... Aku lebih milih, tiduran di kamar..... Sampai jumpa".


Dengan sedikit menoleh kebelakang, Alex bilang hendak pergi kembali ke Mansion Estonia untuk tiduran dikamarnya daripada berada di pantai.


"Ya ampun.... Dia itu kenapa sih?..... Sejak datang, dia terus marah-marah ngak jelas?".


Liara yang kebingungan dengan sikap Alex yang terus marah-marah tidak jelas. Dan itu segera di jawab oleh Leon.


"Mungkin itu "akumulasi" dari rasa jengkelnya kepada "seseorang".... Yang selalu saja menimpakan semua tanggung jawabnya sebagai guru kepada Alex tanpa rasa bersalah sedikitpun".


Leon mengatakan hal itu, sambil melirik kearah Frey yang seolah-olah tidak mendengar apapun sambil terus menutup kedua telinganya nya. Begitupun dengan Jason, Olga dan Liara yang mengirim tatapan jengkel ke arah Frey.


"Kalau yang di maksud tuan Leon itu adalah si brengsek ini, mah".


"Kami bisa paham, alasannya".


Olga hanya mengangguk setuju dengan apa yang di katakan Jason dan Liara barusan.


(-----------------)


Alex saat ini sedang berjalan penuh dengan rasa jengkel yang luar biasa, walaupun keseluruhan rasa jengkelnya karena ulah Frey. Tapi, dia bingung harus melampiaskan stresnya kepada siapa.


Sampai akhirnya langkahnya terhenti saat melihat siswa kelas 1-S yaitu Ornest, Garcia dan Arnold yang sepertinya sedang menggoda dan merayu para gadis cantik dengan bikini.


"Hei, mbak cantik.... Boleh kenalan, ngak?".


"Oh, ya ampun..... Siapa para pemuda ini yang sudah memuji kita..... Tentu saja boleh?".


Karena ketiganya menunjukkan sikap yang sopan makanya para gadis itu tidak keberatan sama sekali.


"Kalau begitu, perkenalkan namaku adalah Ornest, panggil saja aku begitu.... Salam kenal".


"Namaku adalah.... Arnold, panggil saja aku Al".

__ADS_1


"Dan namaku Garcia, panggil saja aku begitu..... Salam kenal juga".


Dengan nada sopan dan senyum ceria, ketiganya memperkenalkan diri mereka. Tapi, ada yang aneh.


Entah kenapa ketiga gadis itu langsung memasang ekspresi ketakutan yang luar biasa. Merasa ada yang tidak beres, Ornest yang menyadari hal itu segera bertanya.


"Etto.... Mbak-mbak cantik sekalian..... Ada apa?..... Jangan takut..... Kami cuma mau kenalan aja".


"HIHIHIHI.....!!!! JANGAN MAKAN KAMI!!!!!".


Tak berselang lama para gadis yang gemetar ketakutan itu segera berlari sambil berteriak. Kejadian itu, tentu saja membuat ketiganya menjadi terkejut.


"Eeeeeee...... Tunggu mbak!!!".


"Jangan lari dong!!!".


"Kami kan cuma mau kenalan!!!!".


"Hei, bocah-bocah tengik..... Siapa yang suruh kalian untuk menggoda para gadis-gadis disini... Huh?".


Ketiganya, langsung bergetar saat mendengar suara yang menurut mereka sangat familiar. Dan saat ketiganya menoleh dengan badan bergetar, nampak Alex dengan wajah menyeramkan sedang melemaskan-lemaskan tinjunya.


"""UWAAAA....!!!!!""".


Seketika teriakan Ornest Arnold dan Garcia langsung menggema di pantai itu. Entah, apa yang terjadi kepada ketiganya hanya Alex lah yang tahu.


(-----------------)


"Ya ampun..... Mereka bertiga itu.... Bisa-bisanya menggunakan kesempatan ini untuk menggoda para gadis-gadis...... Lancang sekali mereka....HM?".


Alex yang sedang berjalan ke Mansion sambil terus mengeluh dengan kelakuan Ornest, Arnold, dan Garcia. Terhenti karena mencium aroma yang lezat.


"Aroma ini?......... Sungguh lezat sekali...... Tapi, dari mana?".


Mencari darimana aroma itu berasal, di sana tampak banyak sekali orang-orang yang sepertinya mengantri untuk sesuatu.


"Ada apaan disana?".


Karena penasaran, Alex memutuskan untuk mendekat ke sana. Dan betapa terkejutnya dia saat melihat ada 2 buah kios yang berjejer di pantai.


Masing-masing kios itu bertuliskan "Sandwich Tuna" dan satu lagi bertuliskan "Minuman Buah". Membaca tulisan pada kedua kios itu membuat Alex kebingungan sambil menaikkan salah satu alisnya.


"Huh? Kios jajanan? Memangnya boleh membuka kios di arena pantai?".


Karena penasaran, Alex mencoba menerobos antrian yang ada dengan tujuan untuk tahu siapa orang yang mendirikan kios ini.


"Oh, tuan...... Apa kau ingin segelas es jus buah?..... Tolong antri yang rapi, ya".


"Dan aku akan sangat senang jika anda juga membeli sandwich tuna yang lezat ini, tuan".


Kedua orang yang tampaknya seperti pemilik kios itu, segera menawarkan jajanan nya kepada Alex.


"Oh, begitu ya..... Dari aromanya pasti sangat lezat.... Dan jus itu tampak segar..... Baiklah, akan aku beli berapa?......".


Merasa terhormat Alex segera tersenyum kepada keduanya dengan sangat bahagia. Kemudian------


"...... ITU JIKA KALIAN BERDUA MEMANG SEORANG PEDAGANG!!!!!".


Dengan sekali ayunan pedang, Alex langsung menghancurkan kedua kios itu dan membuat kedua penjual itu langsung terpental.


"UWAAAAAA.... KIOS SANDWICH KU!!!!".


"KIOS MINUMAN BUAH KU!!!!!".


Kedua pedagang itu langsung menangis histeris ketika kedua kios mereka hancur karena tebasan dari Alex.


"Alex-sensei!!!!! Tega-teganya kau menghunuskan pedang kepada siswa biasa yang mencoba mengais rezeki disini".


"Huh? Kau itu ngomong apa?..... Padahal aku sudah menahan diri karena ada banyak orang disini".


"Tapi itu tidak merubah fakta...... Kalau Sensei sudah menghancurkan segalanya!!!..... Lihatlah, kios minuman ku dan kios sandwich Dylan jadi hancur..... Beserta seluruh bahan dan peralatan nya!!!".


Awin segera mengeluh dengan tindakan tak berperasaan yang dilakukan oleh Alex kepada mereka berdua.


"Tapi, kalian berdua tidak terluka, kan?".


""TAPI HATI KAMI TERLUKA!!!"".


"Jangan bicara seolah-olah kalian punya hati!!!".


""SENSEI PUNYA DENDAM APA KEPADA KAMI BERDUA?!!!"".


Alex segera memegang kepalanya dengan tangan kanan kemudian kembali berbicara.


"Aku heran kenapa kalian berdua bisa berbicara begitu padaku, guru kalian sendiri......".


Lalu Alex mengarahkan jari telunjuk nya kearah Dylan dan Awin dan melanjutkan ucapannya.


"..... Terlepas dari dendam, kalian berdua bahkan tidak punya izin, selain itu...... Jika ada 2 orang mencurigakan entah darimana, tiba-tiba datang lalu membuka kios makanan di pantai..... Sudah menjadi tanggung jawab ku untuk membereskannya".


Mendengar apa yang dikatakan Alex barusan, membuat Dylan dan Awin saling melihat satu sama lain. Sebelum akhirnya kembali melihat Alex sambil tertawa.


""Hmph.... Hmph.... Hmph"".


"Woi....... Kenapa kalian malah tertawa".


Alex yang keheranan dengan sikap Dylan dan Awin yang tertawa seolah-olah mengejek dirinya.


"Sensei..... Kau bilang kami "harus punya izin untuk bisa membuka usaha disini", kan?".


Alex semakin kebingungan dengan pertanyaan yang diajukan Awin. Lalu jawabannya segera diberikan oleh Dylan dengan menunjukkan sebuah gulungan kepadanya.


Menerima gulungan itu, Alex segera membuka dan membaca isi gulungan itu dengan sangat seksama.


[Dengan ini kami menyatakan bahwa. Saudara Dylan van Arcadia dan Saudara Awin de Asford. Memenuhi syarat untuk diizinkan mendirikan kios makanan diarena sekitar pantai Monarch sebagai bentuk kontribusi meningkatkan peminat pariwisata pantai Monarch.......]


Tapi, yang lebih mengejutkan lagi adalah. Ada tanda tangan dari kepala Akademi Estonia Leon Sera Belmont dan Frey de Highland di bagian bawah ujung surat itu.


"Nah, sekarang Sensei paham, kan?..... Kami tidak mendirikan kios jajanan secara ilegal..... Kami bahkan mendapatkan dukungan dari pemerintah setempat".


"Yah, meskipun kami harus setidaknya membayar 10% dari penghasilan kami sebagai bentuk pajak..... Tapi, itu harga yang setimpal..... Untuk kami yang bisa mendirikan kios dan berjualan disini".


Ucap Dylan dan Awin sambil mengambil kembali surat yang dipegang oleh Alex. Yang tanpa keduanya sadari Alex saat ini sedang tertunduk diam dengan wajah gelap.


"Kembali ke topik...... Karena Alex-sensei sudah dengan sengaja menghancurkan kios ku dan Awin..... Tentu saja, kami akan tuntut Sensei mengganti rugi semua kerusakan yang ada".


"Dari mulai kiosnya, bahan-bahan dan juga peralatan yang kami punya.... Total kerugian kami ada sekitar 100 koin emas..... Dan Sensei, harus membayarnya kontan...... Tidak pakai di cicil berkala".


Awin dengan percaya diri menyerahkan sejenis nota yang berisi tagihan ganti rugi yang harus Alex bayarkan kepada keduanya.


Menerima nota itu, Alex sempat terdiam sesaat sampai dia tiba-tiba tersenyum dan mulai tertawa terbahak-bahak.


"HIHIHIHI........... Hahahaha...... Hahahaha.....".


Melihat Alex yang tertawa bak orang gila membuat Dylan dan Awin keheranan sampai saling memandang satu sama lain.


"Ganti rugi, ya....... Ganti rugi, ya......Ganti rugi, ya..... Hahahaha...... Fiuh...... Kalau gitu, baiklah.... Inilah-----".


Lalu.


BOOM.

__ADS_1


""Yuoooohhh"".


"GANTI RUGI NYA!!!".


Dengan emosi yang meledak-ledak, Alex tanpa basa-basi kembali mengayunkan pedangnya yang sudah di beri sihir api kearah Dylan dan Awin.


Untungnya, Dylan dan Awin berhasil menghindar dari serangan Alex. Tapi, keduanya segera menangis sejadi-jadinya saat mereka melihat Alex dengan sangat brutalnya menghancurkan dan membakar kios jajanan mereka.


""TIDAK!!!!! LADANG CUAN KAMI!!!!"".


"Hahahaha........!!!!".


Sementara Alex dengan wajah bak kesetanan dengan senyum kejam terus menerus menganyunkan pedangnya secara membabi buta tanpa peduli ketakutan orang-orang disekitar nya.


(--------------------)


Di sisi lain.


Para gadis yang terdiri dari Filaret, Ritzia, Sylvia, Emilia, Olivia, Claudia, dan Lafia sedang jalan-jalan di bazar.


Dan sesuai yang dikatakan Frey, dihari mereka datang bertepatan dengan diadakannya bazar yang sebagian besar menjual produk kecantikan dari brand-brand ternama, ada jasa perawatan badan, dan aksesoris yang cantik dengan harga miring.


Awalnya hanya mereka berlima saja yang ingin pergi, tetapi mengingat Claudia dan Lafia bersama mereka sejak awal. Rasanya tidak enak membiarkan kedua pergi begitu saja bersama siswa-siswi yang lain.


"Heeeee...... Tempat ini benar-benar sesuai dengan di katakan, Frey-sensei".


"Tumben wali kelas laknat itu, bener-bener serius dengan perkataannya".


Sylvia dan Emilia terkesan dengan semua pemandangan kios-kios yang berjejer rapi. Bahkan Emila sempat melontarkan ejekan kepada Frey.


"Kalau gitu..... AYO KITA SERBU!!!".


"OOOOOO......!!!!!".


Aba-aba Ritzia segera di sambut baik oleh yang lain. Dan tanpa membuang banyak waktu lagi, para gadis itu segera memasuki bazar dengan sangat antusias.


Selama disana, mereka benar-benar menikmati momen itu. Bahkan, mereka juga sempat membeli beberapa alat kosmetik dan aksesoris.


Selesai dengan berbelanja, mereka mencoba untuk menikmati layanan perawatan kulit dan spa untuk menunjang penampilan.


Puas dengan semua itu, mereka segera pergi untuk beristirahat sejenak sambil menikmati minuman.


"Ah,...... Tempat ini benar-benar surga".


"Iya, kalian benar".


"Mereka benar-benar menjual alat-alat kosmetik dan aksesoris dengan harga yang miring".


"Dan pelayan spa mereka juga sangat memuaskan.... Aku merasa kulitku semakin lembut".


"Hehehe..... Aku tidak sabar melihat reaksi Nii-san saat melihat penampilan ku".


"Fira-san, kau tadi ngomong apa?".


"Bukan apa-apa kok".


Ritzia, Olivia, Emilia, Sylvia, Filaret mengungkapkan rasa puas mereka setelah berjalan-jalan dan berbelanja.


Bahkan Filaret sempat bergumam hendak menunjukkan penampilan nya yang sekarang itu kepada Dylan agar dia terkesan.


Claudia yang mendengar itu mencoba bertanya apa maksudnya. Tapi, Fira dengan santai menepis pertanyaan itu.


Disaat mereka menikmati suasana itu. Hanya Lafia yang merasa tidak enak dengan semua yang mereka lakukan.


"A-ano...... Bukankah seharusnya kita cepat-cepat kembali, ya...... Kalau ketahuan salah satu guru..... Kita bisa kena masalah".


Lafia yang notabennya adalah anak yang taat aturan, merasa kurang nyaman dengan sikap Ritzia dan yang lainnya yang seolah-olah tidak peduli dengan aturan itu sendiri.


"Santai saja, Fia..... Kita ngak akan ketahuan, kok".


"Lagian, para guru pasti lagi sibuk ngurusin para siswa yang lain".


Pertanyaan Lafia di jawab dengan santai oleh Ritzia dan Olivia. Mereka berasumsi bahwa para guru pasti sedang sibuk mengurus para siswa dari kelas lain di bandingkan dengan mereka.


"Ta-tapi....... Bagaimana jika ada guru yang sadar..... Kemudian mencari kita?".


"Memangnya siapa guru yang kau maksud?".


"Mungkin saja..... Alex-sensei".


Ritzia dan yang lain terdiam setelah mendengar jawaban singkat dari Lafia. Tak berselang lama, mereka kemudian mulai tertawa terbahak-bahak bahkan Claudia juga ikut tertawa.


Lafia yang melihat itu hanya bisa terdiam dan bingung karena tidak tahu alasan kenapa Ritzia dan yang lainnya tertawa. Kemudian jawabannya segera mereka dapatkan.


"Hahaha...... Alex-sensei..... Hihihi..... Ngak mungkin, Fia.... Ngak mungkin".


"Memangnya dia bisa apa?..... Kalau pun dia masuk ke bazar ini, pasti sudah diusir..... Karena penampilannya yang mencurigakan seperti copet".


"Rambut coklat acak-acakan dan kantong matanya...... Bisa membuat siapa saja ketakutan..... Jangankan manusia..... Binatang iblis saja pasti putar balik jika bertemu dengannya".


"Dia terlalu tempramen dan terlalu banyak problematik...... Wajar jika tidak ada gadis yang mau dengannya".


"Bahkan para siswa juga tidak suka dengan sikap pemarahnya".


"Sampai sekarang, aku masih saja heran..... Kenapa sampai detik ini...... Orang kayak dia itu ngak mati karena kena darah tinggi".


Ritzia, Sylvia, Filaret, Emilia, Olivia dan bahkan Claudia dengan tanpa berdosa tertawa terbahak-bahak sambil mengejek Alex-sensei dengan ekspresi yang puas.


"Membayangkan bahwa orang itu akan menemukan kita disini..... Hahaha.... Jelas ngak mungkin".


"Palingan sekarang dia lagi sibuk ngurusin para siswa kelasnya yang ngak guna itu".


"Orang gampang stres kayak dia..... Memangnya bisa apa kalau menemukan kita?".


"Jika kita ketahuan...... Palingan dia cuma berteriak-teriak ngak jelas kayak orang kesetanan".


Ritzia, Filaret, Olivia dan Emilia terus saja mengumpat dan mengejek-ngejek Alex dan itu juga di tanggapi dengan anggukan kepala oleh Sylvia dan Claudia.


Sementara Lafia terkejut bukan main. Bukan karena mendengar semua umpatan yang di lontarkan Ritzia dan yang lainnya.


Melainkan karena sosok pria yang tersenyum ceria di belakang mereka dengan memancarkan aura yang menakutkan sambil berpangku tangan.


"Jadi, Fia..... Santai saja, kalau guru stres itu datang tinggal kita laporkan saja kepada para penjaga..... Dan dia pasti akan diringkus dan di masukkan ke penjara".


"Kita sekarang ada di zona aman..... Jadi mustahil, dia tidak akan berani macam-macam kok".


Sylvia dan Claudia juga ikut-ikutan mengejek Alex dengan sangat puas dan rasa tak berdosa. Sampai akhirnya------.


"Bisa kalian semua ulangi apa yang kalian katakan tentangku barusan?".


Mendengar suara yang sangat familiar buat mereka seketika Ritzia dan yang lainnya hanya bisa terdiam sambil terus tersenyum.


Seiring berjalannya waktu, keringat dingin mulai bercucuran dari wajah mereka. Alasannya karena mereka tahu bahwa sosok yang berbicara dengan mereka adalah Alex yang saat ini berdiri di belakang mereka sambil terus tersenyum namun, mengeluarkan aura intimidasi yang kuat.


Kemudian------.


"""""""UWAAAA.........!!!!"""""".


Teriakan para gadis itu langsung menggema dan mengejutkan semua orang yang ada di bazar itu.


Sama halnya dengan Ornest, Arnold, dan Garcia. Entah, apa yang terjadi pada Ritzia dan yang lainnya termasuk Lafia.

__ADS_1


__ADS_2