Reborn As Villain

Reborn As Villain
Chapter 17 : Pesta Ball part 3.


__ADS_3

"Ah... Ini soal---".


Belum bisa menyelesaikan perkataannya, Dylan dan Ritzia seketika dibuat terdiam oleh sebuah suara milik orang lainnya yang seperti menyapa.


"Sudah 2 tahun lamanya kita tidak bertemu, ya!! Tuan Dylan".


Menoleh ke sumber suara, baik Dylan dan Ritzia keduanya tidak bisa menyembunyikan rasa tidak nyaman yang tampak dari ekspresi keduanya.


"Iya.... Lama tidak berjumpa, Putri Vanessa".


Meski enggan, mau tidak mau Dylan harus membalas sapaan dari Vanessa.


(Ah, nyusahin banget. Ngapain ini putri narsis bin ngeselin malah kesini? Sial, rasa pengen kabur. Tapi, ngak bisa).


"Meski baru 2 tahun terlewat, sepertinya anda banyak mengalami perubahan, ya..... Semakin, bertambah tinggi dan tampan saja".


Dengan senyuman manis di wajahnya Vanessa berbicara dengan Dylan. Yang sebenarnya Dylan sendiri ogah-ogahan mau berbicara dengannya.


"Terimakasih atas pujiannya, Tuan Putri. Saya merasa tersanjung. Begitu juga dengan anda, semakin menarik saja".


Meski Dylan memberikan pujian, sebenarnya dia sebisa mungkin menghindari mengucap "cantik". Dan menggantinya dengan kata "menarik", supaya dia tidak menyesal pernah memuji Vanessa.


(Anjai, sebenarnya aku ngomong apa sih? Mah, karena sudah terlanjur, ya mau bagaimana lagi).


"Oh, benarkah.... Aku merasa tersanjung".


Walau tersenyum dan menunjukkan ekspresi bahagia, sebenarnya salah satu alis Vanessa sedang bergerak naik-turun, seperti sedang menahan sesuatu.


Kejadian, dimana Dylan sampai diajak bicara oleh 2 orang Putri Raja, terutama oleh Putri Kedua Vanessa.


Membuat semua orang menatap iri kearahnya, terutama beberapa bangsawan muda yang sebenarnya juga sangat tertarik dengan Vanessa dan berharap bisa berbicara dengannya.


"Woi... Apa-apaan itu?".


"Yang benar saja?".


"Bukan hanya Putri Ritzia saja. Bahkan Putri Vanessa juga menyapa orang itu".


"Sialan aku juga mau di sapa oleh Putri Vanessa".


"Memang nya apa hebatnya dia?".


"Mentang-mentang anak dari seorang Pahlawan. Dia pikir bisa pamer didepan kita".


Para bangsawan muda itu terus-menerus berbisik sambil terus mengejek-ngejek Dylan. Yang sebenarnya Dylan sendiri tidak peduli akan hal itu.


"Oh ya.... Ngomong-ngomong, kenapa Ritzia Nee-sama bersama, tuan Dylan?".


Vanessa segera mengalihkan pandangannya ke arah Ritzia dan mencoba bertanya pada Kakaknya.


"Ah. Aku cuma penasaran dengan orang yang sudah menyelamatkan mu. Dan juga aku ingin mengucapkan terimakasih kepadanya.... Lalu, kami mulai mengobrol bersama dan bercerita banyak hal".


"Kami juga saling melempar gurauan..... Kuakui berbincang dengan mu itu benar-benar menyenangkan, Ritzia".


"Sama halnya denganmu, Dylan.... Tak ku sangka kau punya banyak cerita lucu".


Keduanya saling memuji satu sama lain dan mengabaikan keberadaan Vanessa.


"Oh, begitu kah. Sungguh sangat perhatian sekali..... Dan ini sebuah keajaiban kalian bisa akur dengan sangat cepat".


Vanessa yang masih mempertahankan senyuman anggunnya mengucapkan pujian soal kedekatan Dylan dan Ritzia yang bisa cepat akrab satu sama lain.


Dan kemudian Vanessa kembali berbicara lagi.


"Oh ya, soal ucapan terimakasih tadi..... Kalau boleh jujur.... Aku tidak "memerlukan" Nee-sama untuk mewakilkan ku mengucapkan terima kasih kepada tuan Dylan".


"Huh?".


Meski tersenyum, ucapan Vanessa membuat Ritzia sangat terkejut.


"Aku sudah mengatakannya secara langsung kepadanya..... Lagipula, dari pada itu Nee-sama, bukankah ada hal yang lebih baik kau perbaiki?".


"Apa maksudmu, Vanessa?".


"Maksudku, tolonglah berhenti bersikap seperti "anak kecil", ya".


Vanessa mengucapkan kalimat yang sangat kejam itu dengan ekspresi tersenyum ceria kepada Kakaknya sendiri. Dan yang lebih parah, Vanessa berbicara dengan suara yang dapat di dengar oleh semua orang.


"Soalnya akhir-akhir ini, Istana sering mendapatkan banyak keluhan dari banyak pihak atas sikap tomboy Nee-sama yang semaunya sendiri....... Bukannya hanya dari para pengajar saja....... Beberapa Dewan, bangsawan dan rakyat juga mulai mengeluh..... Jika ini terus berlanjut, ada kemungkinan bahwa rakyat dan para bangsawan akan meragukan etiket keluarga Kerajaan.... Belum sampai disitu saja. Bahkan Yang Mulia Ratu sudah mulai merasa kecewa dan tidak puas".


Vanessa terus saja berbicara tanpa memperdulikan keadaan Ritzia yang mulai terguncang karena dia dipermalukan oleh adiknya sendiri di depan semua orang.


"Jujur dari lubuk hatiku yang terdalam, aku ingin sekali Nee-sama itu berubah dan belajar untuk menjadi "Putri yang sesungguhnya" dan meniggalkan sikap kekanak-kanakan yang sangat "tidak pantas" untuk anggota keluarga Kerajaan".


Ritzia yang sudah sangat terguncang tidak bisa membalas sedikitpun perkataan Vanessa. Melihat hal itu bukannya minta maaf Vanessa malah semakin menjadi-jadi.


"Oh, tolong jangan diambil hati ya. Nee-sama.... Aku cuma menyampaikan beberapa keluh kesah dari orang-orang yang tidak puas dengan sikap Nee-sama selama ini..... Yah, mungkin Nee-sama akan membenciku karena ini.... Tapi, apa yang kulakukan ini semata-mata hanya untuk membantu Nee-sama saja..... Dan, ini adalah bentuk kasih sayang ku sebagai adik-----".


POUR.


"---- Eh?".


Tiba-tiba terdengar suara guyuran air, dan hal itu mengejutkan semua orang yang ada di aula Ball dan bahkan Ritzia dan Vanessa sendiri.


Bagaimana tidak?


Suara guyuran air itu sebenarnya berasal dari Dylan yang dengan sengaja menyiram Vanessa dengan secangkir teh penuh dihadapan semua orang.

__ADS_1


"APA YANG BARUSAN DIA LAKUKAN?!!!!!".


"ADA MASALAH APA DENGAN SIKAPNYA ITU?!!!!".


"BISA-BISANYA DIA MEMPERLAKUKAN SEORANG PUTRI RAJA SEPERTI ITU?!!!!".


Semua orang serempak terkejut dan mengatakan hal yang sama ketika melihat tindakan kurang ajar Dylan kepada Putri Vanessa.


Vanessa yang masih shock dan kebingungan dengan apa yang menimpa dirinya, mengalihkan pandangannya ke Dylan yang saat ini menatap dengan sangat menakutkan. Dan bola matanya yang berubah menjadi merah.


"Sudah kuduga.... Satu-satunya cara untuk membungkam mulutmu itu adalah dengan menyiram mu".


"Tu-tuan Dy-dylan.... Ke-kenapa?".


Vanessa yang masih kebingungan mencoba bertanya kepada Dylan.


"Asal kau tahu saja, Vanessa.... Dari sudut pandang ku, Ritzia itu beribu-ribu kali lebih baik dari dirimu dan semua orang yang ada disini..... Memang benar, bahwa ini pertama kali kita bertemu dan mengobrol singkat bersama..... Tapi, semua sikap yang dilakukan selama ini itu atas "keinginan nya sendiri" dan bukan paksaan dari orang lain".


"Ka-kau ini ngomong apa?".


"Yang ingin aku katakan, Ritzia adalah putri yang bisa menentukan kearah mana dia akan pergi dan sikap apa yang harus diambil...... Aku memang tidak tahu sikap "kekanak-kanakan" apa yang dimaksud olehmu atau semua orang yang ada disini.... Tapi menurutku, selama sikap dan tindakannya itu tidak melanggar 3 hal seperti, melanggar aturan, merugikan masyarakat, atau bahkan menodai nilai moralnya sebagai manusia..... Maka, apapun tindakannya, itu bukan masalah".


Belum puas yang berbicara, Dylan segera mengarahkan jari telunjuk kanannya ke Vanessa dan kembali berbicara.


"Dan sebagai adiknya... Seharusnya, kau bisa memahami dan mendukung Kakaknya, bukan malah semakin menjatuhkan harga dirinya didepan semua orang".


Vanessa yang tidak tahan dengan sikap Dylan segera membantah perkataan nya.


"Aku tidak merendahkan harga diri Nee-sama.... Aku hanya menyampaikan keluh kesah dari beberapa orang yang menyayangkan sikapnya".


"Memang nya siapa kau dan mereka yang berhak mengeluh dengan sikap Ritzia?".


Vanessa dibuat tidak bisa berkata-kata lagi saat mendengar apa yang dikatakan Dylan.


"Kalau kau ingin mengeluh.... Maka keluhkan saja itu kepada Yang Mulia..... Karena dialah yang berhak untuk menasehati Ritzia...... Bukan kau ataupun orang lain..... Tapi nyatanya, meski keluhan kalian didengar..... Yang Mulia sendiri tidak mengambil tindakan apapun.... Yang berarti, tidak ada yang salah dengan sikap Ritzia selama ini sebagai seorang Putri Raja".


Dylan menghembuskan nafas panjang dan kembali berbicara.


"Aku akan terus terang..... Bukan Ritzia yang memiliki sikap "kekanak-kanakan".... Melainkan kau yang bersikap "kekanak-kanakan", Vanessa".


"Aku..... Kekanak-kanakan?..... Omong kosong macam apa itu?..... Aku ini putri.... Putri yang dihormati dan dipuji semua orang..... Mengatakan sikapku ini kekanak-kanakan?..... Jangan bercanda denganku".


Vanessa benar-benar terguncang dengan apa yang baru saja dia dengar. Sementara Dylan hanya menatapnya dengan diam lalu kembali berbicara dengan memangku kedua tangannya.


"Ternyata, kau ini memang putri anti-kritik, ya.... Masih saja memikirkan dirimu sendiri".


"Eh?".


"Vanessa, semua sikap yang kau lakukan selama ini..... Semua itu tidak lebih hanya untuk kepuasan mu saja..... Kau senang saat semua orang memperhatikan mu.... Kau senang saat semua orang memujimu..... Kau senang saat semua orang mengikuti mu..... Kau senang saat semua orang mengabulkan apapun yang kau minta.... Kau senang saat semua orang setuju dengan sudut pandang yang kau punya..... Dan kau akan sangat jengkel apabila ada beberapa hal yang tidak berjalan sesuai dengan kemauan mu..... Semua itu adalah wujud dan bukti dari betapa kekanak-kanakan nya dirimu......... Jadi, biar aku katakan ini secara terang-terangan...... "Di dunia ini, tidak semuanya berjalan sesuai dengan apa yang kau inginkan".... Camkan itu baik-baik".


Mengabaikan keterkejutan Vanessa, Ritzia dan semua orang, Dylan segera berjalan untuk meninggalkan aula Ball.


"Harus aku akui, rencana mu untuk membawaku kesini dengan dalih "undangan Ball dari Yang Mulia" itu memang efektif.... Tapi lain kali..... Carilah orang yang lebih profesional untuk menyebarkan "rumor buruk" tentang diriku..... Baik kau maupun pengikut mu itu sama..... Sama-sama SAMPAH".


Setelah puas mengatakan hal itu, Dylan segera kembali berjalan pergi meninggalkan semua orang terutama Vanessa dalam keterkejutan dan kebingungan.


Bahkan, Vanessa sampai mendecitkan gigi belakangnya dan mengepalkan tinju sekuatnya. Sebagai tanda kejengkelan dan amarah yang bercampur jadi satu.


Vanessa kali ini menghadapi satu fakta yang sangat menyakitkan, bahwa diluar sana ada seseorang yang tidak akan tunduk dan mengikuti permintaan dan perintahnya.


Dan orang itu adalah Dylan van Arcadia. Seorang pria yang dengan terang-terangan menolak dirinya mentah-mentah dan bahkan sampai mempermalukan dirinya yang seorang Putri Kerajaan di depan semua orang.


(--------------)


Dylan tidak langsung pergi kembali ke penginapan, melainkan dia pergi ke taman yang ada di sebelah aula pesta.


Kenapa Dylan ke sana?


Dylan pergi ke sana, untuk menemui Filaret yang menurutnya terlalu lama berada di taman untuk mencari "udara segar". Dia juga berencana untuk mengajak Filaret pulang lebih awal.


"Fira itu kemana sih? Katanya cuma mencari "udara segar", tapi kok lama banget.... Hm?".


Saat Dylan sedang mengeluh sambil berjalan. Tiba-tiba langkah nya terhenti karena melihat pemandangan yang ada di depannya. Setelah berapa kali hembusan nafas Dylan membuka mulutnya.


"Haaa.... Kau ini kemana saja. Katanya, cuma mencari "udara segar" tapi kenapa sangat lama sekali?".


"Maaf ya, Nii-san.... Karena aku keasyikan duduk disini sampai lupa dengan pestanya".


"Heeee...... "Keasyikan" ya? Maksudmu itu..... "Keasyikan" menghajar orang-orang ini".


Pemandangan yang ada di depan Dylan saat ini. Adalah, Filaret yang baru saja menghajar beberapa gadis sampai pingsan dan berdarah-darah. Bahkan percikan darah orang-orang itu terkena di wajah dan gaun mewah yang dia pakai.


Ketika berbicara dengan Dylan pun tangan kanan Filaret sedang menjambak rambut seorang gadis yang sedang pingsan dan kaki kiri nya menginjak gadis yang sedang terkapar.


Melihat kejadian tindakan kriminal yang dilakukan adiknya Dylan hanya menyikapinya dengan sangat santai.


"Yare, yare, Fira..... Jangan berlebihan menghajar kedua Saudarimu dan rekan-rekan nya dong..... Kalau mereka mati bisa repot urusannya".


"Biarin aja mereka semua mati. Hidup pun mereka juga ngak ada gunanya.... Lagian, salah sendiri mereka cari masalah dengan ku".


Filaret dengan santainya mengabaikan peringatan dari Dylan.


"Memangnya mereka ngelakuin apa sampai bikin kau emosi?".


"Mereka mengejek-ngejek Ayah, Ibu dan khususnya Nii-san.... Kalau mereka mengejek ku, aku tidak peduli sama sekali".


Tiba-tiba ekspresi Filaret menjadi sangat menakutkan, dan kembali berbicara.

__ADS_1


"Tapi, mereka ini berani-beraninya mengejek orang-orang yang sangat aku sayangi...... Karena itu, aku beri mereka sedikit hukuman".


"Yah, suka-suka kau lah. Fira. Tapi, apa kau tidak menyadari akan sesuatu yang sangat penting?".


"Sesuatu yang penting? Memang apanya itu?"


Dylan menghembuskan nafas panjang dan kembali berbicara.


"Sesuatu yang penting itu...... Adalah gaun mewah pemberian ibu yang sedang kau pakai, terlalu kotor dan banyak percikan darah".


Filaret, segera melihat kearah gaun mewah yang dia pakai. Selang beberapa detik, Filaret langsung berteriak sekencang-kencangnya sampai melempar gadis yang tadi dia jambak.


"KYAAAAAAA....... GIMANA INI NII-SAN?!!!! GAUN PEMBERIAN IBU KOTOR KARENA DARAH MEREKA!!!!! Ini gawat, jika ibu sampai tahu...... MAKA TAMATLAH RIWAYAT KU!!!!!".


Filaret ketakutan sambil membayangkan wajah Pavline yang saat ini menunjukkan ekspresi seperti hewan buas yang hendak menerkam mangsanya.


Melihat adiknya yang panik Dylan segera menyentuh pundak adiknya dan mulai merapalkan mantra sihir.


"Clean".


Dalam sekejap mata, semua bercak darah yang ada di gaun Filaret langsung hilang begitu saja seperti bersih seperti baru dipakai.


Clean adalah sihir non atribut yang berhasil Dylan ciptakan sendiri. Sihir ini berawal dari Dylan yang ingin membersihkan diri setelah latihan di hutan. Karena dia harus berjalan jauh memasuki hutan untuk berendam di sungai.


Dylan mulai berpikir untuk menciptakan sihir yang dapat memudahkan nya untuk membersihkan diri. Dan setelah ratusan kali percobaan dan merangkai formula sihir.


Akhirnya Dylan berhasil menciptakan sihir non atribut yang dapat membersihkan bukan hanya badan atau pakai dari kotoran saja. Tapi, juga memperbaiki kerusakan pada pakaian yang robek.


"Terimakasih Nii-san. Kau memang malaikat penolong ku".


Filaret segera berterimakasih karena Kakaknya sudah mau membantunya.


"Sudah-sudah, terimakasih nya nanti saja.... Sekarang, ayo kita pergi... Pestanya benar-benar membosankan".


"Iya, kau benar Nii-san. Ayo kita pergi saja".


Keduanya memutuskan untuk pergi bersama kembali ke penginapan. Tapi, sebelum itu Dylan mulai bertanya sesuatu ke Filaret.


"Oh ya, Fira..... Terus bagaiman nasib mereka?".


Dylan melirik kearah orang-orang yang bergelimpangan, dan Filaret menjawabnya dengan cepat.


"Biarin aja.... Entar juga di temuin dan dirawat sama para penjaga".


"Gitu ya, baiklah. Ayo kita pergi".


"Siap".


Dengan santainya mereka mengabaikan orang-orang itu dan berjalan santai meninggalkan kediaman Istana dan berjalan menuju kembali ke penginapan.


(------------)


Di pesta Ball.


Tepat setelah Dylan pergi, Gnecci terpaku diam dan terkejut bukan main melihat sosok Dylan orang yang sudah mempermalukan nya ada di pesta Ball yang di khususkan untuk para Bangsawan.


Yang lebih mengejutkan lagi, terlepas dari fakta bahwa Dylan adalah putra dari seorang bangsawan. Dia tidak menyangka bahwa Dylan adalah anak dari pahlawan Kerajaan Pendeta Pedang Es dan Cahaya, Hyoga van Arcadia dan Penyihir Serba Bisa, Pavline van Arcadia.


Terlepas dari gelar kedua orang tua nya yang bergelar Earl. Sebenarnya, Hyoga dan Pavline sangat terkenal di kalangan masyarakat yang bahkan pengaruhnya lebih besar dari keluarga Rostvard yang bergelar Duke.


Gnecci saat ini diliputi kecemasan yang luar biasa. Semua itu akibat dirinya yang mengirim beberapa pembunuh bayaran untuk menghabisi Dylan tanpa tahu siapa dia.


Meski dia tahu bahwa para pembunuh yang dia kirim gagal dengan bukti bahwa Dylan hadir di pesta Ball tepat didepan matanya.


Tapi, dia khawatir apabila tindakan nya akan ketahuan. Belum lagi, Dylan yang sempat tersenyum mengejek kearahnya saat mereka berpas-pasan.


Meski Dylan tidak mengatakan apapun. Tapi Gnecci sadar bahwa Dylan tahu bahwa Gnecci lah orang yang mengirim para pembunuh untuk menghabisinya.


Melihat sikap Dylan yang seperti itu, membuat Gnecci yang merasa dirinya hebat untuk pertama kalinya mengalami yang disebut "rasa takut".


(-------------)


Sesampainya di penginapan.


Dylan dan Filaret segera berpisah menuju kamar mereka masing-masing.


"Selamat datang dan Selamat malam, Tuan Dylan".


"Ya, selamat malam. Sonia".


Ketika, Dylan masuk dia langsung di sambut oleh Sonia yang sekarang menggunakan pakaian tidurnya.


"Bagaimana dengan pestanya? Apakah lancar?".


"Yah, lancar.... Sangat lancar..... Sampai membuat ku ingin muntah karena udara disana".


Sonia hanya tersenyum menanggapi keluhan dari Dylan yang seperti nya benar-benar benci dengan pesta Ball itu.


"Oh ya, tuan. Saya sudah mengirimkan "salam anda" ke Shadow Crow. Dan sebagai tanggapan mereka memberikan sepucuk kertas untuk anda".


"Benarkah?".


Tanpa basa-basi lagi, Sonia langsung mengambil sepucuk kertas yang dia simpan di celah antara dua payudara nya yang besar. Dan menyerahkannya kepada Dylan.


Dylan sebenarnya enggan menerima kertas itu setelah dia tahu dimana Sonia menyimpan nya. Tapi, karena dia sangat penasaran akan apa isinya tulisan di kertas itu, Dylan dengan terpaksa menerima dan membukanya.


[Datanglah ke Noir Bar. Maka "Sang Gagak" akan menemui mu].

__ADS_1


Setelah membaca pesan singkat itu, Dylan memutuskan untuk pergi ke bar Noir besok pagi sebelum kembali ke Arcadia.


__ADS_2