Reborn As Villain

Reborn As Villain
Chapter 17 : Pesta Ball part 2.


__ADS_3

"Ya ampun, jangan teriak seperti itu. Bu.... Nanti kita diliatin orang-orang kan jadi ngak enak".


Dylan yang tidak peduli dengan keterkejutan ibunya. Dan malah meminta nya agar tidak menimbulkan perhatian orang.


Yang sebenarnya tanpa Dylan sadari, dialah yang penyebabnya.


"DY-CHAN, APA-APAAN DENGAN PENAMPILAN MU INI? TERUS MANA BAJU PESTA YANG SUDAH IBU SIAPKAN?".


Dengan emosi yang menggebu-gebu Pavline langsung memarahi Dylan yang nampak tetap santai.


"Huh? Baju. Pesta? Maksudnya, keset kaki yang ibu titipkan ke Sonia, ya? Aku taruh itu dibawah tempat tidur".


"Padahal ibu sudah susah payah memilihkan baju itu untukmu. Dan kau bilang itu "keset kaki". Jahat banget, Dy-chan".


Pavline menggembungkan pipinya sebagai tanda dia benar-benar bersedih dengan perkataan Dylan yang bilang baju pilihannya itu seperti "keset kaki".


"Ya maaf deh, dan terimakasih udah dibeliin yang kayak gitu. Tapi, aku ngak akan pakai karena membayangkan ku memakai pakai mewah itu bikin merinding tahu".


"Nii-san, bagaimana ceritanya kau bisa merinding membayangkan dirimu sendiri pakai baju mewah?".


Percakapan antara Dylan dan Pavline hanya dilihat oleh Hyoga yang saat ini sedang menutup wajahnya dengan tangan kanan sebagai tanda bahwa dia tidak habis pikir dengan kelakuan putra nya itu.


"Hei, Hyoga. Jangan bilang kalau pemuda selengean ini itu anakmu?".


"Maaf membuatmu kecewa. Tapi, dia memang anakku".


Meski dengan berat hati dicampur rasa malu Hyoga membenarkan bahwa Dylan memang anaknya.


Tapi, hal yang mengejutkan terjadi.


"Ppptt".


Diman begitu Verna mendapatkan penjelasan dari Hyoga dia berusaha sekuat tenaga untuk menahan tawanya.


"Keparat, kenapa kau tertawa?".


"Kukukuku....... Iya, bagaimana aku tidak tertawa..... Kukuku... Melihat putramu ini, mengingatkan ku pada saat melihatmu dulu waktu pesta Ball...... Kukuku..... Kau dengan goblok nya datang dengan piyama tidur sambil membawa bantal..... Kukuku.... Meski tidak separah dirimu.... Tapi kalian berdua benar-benar mirip".


Verna tertawa karena tingkah selengean Dylan yang mengingatkan nya pada tingkah selengean Hyoga di masa lalu. Dan Hyoga yang mendengar itu hanya bisa terdiam karena mengingat betapa memalukan dan ke kanak-kanakan dirinya dulu.


"Ngomong-ngomong, ibu. Siapa mereka ini?".


Dylan melirik kearah Verna dan keluarganya. Menyadari hal itu, Verna memperbaiki perilakunya dan mulai memperkenalkan dirinya dan keluarganya.


"Salam kenal, Dylan-kun. Namaku adalah Verna de Zinvarca, teman lama Ayahmu. Dan mereka adalah Istri dan Putriku".


Selesai memperkenalkan dirinya, Verna memberikan instruksi kepada Istri dan Putri nya untuk memperkenalkan diri mereka.


"Salam kenal, Dylan-kun. Namaku adalah Sardinia de Zinvarca. Istri dari tuan Verna. Dan ini putri kami Laura de Zinvarca".


"Salam kenal juga. Tuan Verna, Nona Sardinia dan Nona Laura, Namaku Dylan van Arcadia. Putra Hyoga dan Pavline van Arcadia".


Dylan membalas salam dari Verna dan Sardinia dengan nada dan cara yang sangat sopan terlepas dari penampilan nya.


Tapi anehnya, putri mereka Laura hanya terdiam tanpa mengucapkan sepatah kata pun atau membalas salam Dylan.


Karena merasa ada yang tidak beres, Sardinia mencoba untuk menyuruh Laura untuk membalas salam.


"Laura, ayo beri salam pada Dylan-kun..... Laura?".


Saat Sardinia dan Verna menoleh ke arah putri mereka. Laura hanya diam dan mematung, lalu dalam hitungan beberapa detik kemudian, Laura mulai memperkenalkan dirinya.


"Na-namaku, Laura de Zinvarca. Usiaku 14 tahun dan aku belum pernah bertunangan dengan siapapun tapi aku sudah lulus dalam pelajaran etiket dan aku juga bisa bersih dan masak makan favoritku adalah cake stroberi. Dan, dan, dan,.....".


"Ok, baiklah aku mengerti".


Laura dengan panik memperkenalkan dirinya dengan wajahnya yang berubah menjadi merah merona dan cara bicaranya yang sangat cepat.


Melihat tingkah aneh Laura yang panik ketika melihat Dylan, bukan hanya membuat Verna dan Sardinia terkejut tapi juga Hyoga, Pavline dan Filaret.


Sementara Dylan memperhatikan orang-orang disekitar mereka yang tampaknya mulai berbisik satu sama lainnya.


"Hei, apa dia itu Dylan? Putra dari tuan Hyoga dan Nona Pavline?


"Yang benar saja? Apa-apaan penampilan nya itu?


"Penampilan sama sekali tidak rapi".


"Sikapnya juga sangat buruk".


"Dia lebih seperti preman pasar dari pada seorang bangsawan".


"Sulit dipercaya pemuda seperti nya adalah anak dari tuan Hyoga dan Nona Pavline".


"Wajar jika putri Vanessa menolaknya".


(Mencari kesempatan untuk menjatuhkan orang lain, itulah kehidupan sehari-hari para bangsawan di manapun tempatnya...... Pantas kehidupan mereka itu tidak pernah tenang).


Dylan yang mendapat ejekan dari para bangsawan yang hadir di pesta Ball itu. Hanya bergumam bahwa hal ini sudah wajar baginya.


"Woi, Dylan-kun....".


Entah mengapa, Verna tiba-tiba memanggil yang membuat nya segera melihat kerah Verna yang sekarang ada di depannya dengan tatapan keheranan.


"Kau ini benar-benar....... BOCAH SELENGEAN BANGSAT!!!".


Kemudian, tanpa membuang waktu. Verna menarik baju Dylan, mendekat wajah santai Dylan ke wajahnya yang saat ini penuh dengan kejengkelan.


"........ APA YANG KAU LAKUKAN PADA PUTRI TERCINTA KU, HUH? BESAR JUGA NYALI MU ITU? APA KAU MELAKUKAN INI UNTUK CARI MATI, HUH?!!!!".


(Buset, ini orang ngomong apa coba? Apa dia pikir aku mengoda putrinya? Kau pikir aku ini orang kurang kerjaan).


Meski tetap masang wajah datar, di dalam pikiran nya Dylan sangat heran dan kebingungan dengan kelakuan dari Verna.


"WOI. BOCAH SIALAN.... JANGAN HANYA MENATAP KU SAJA. KATAKAN SESEUA-----".


"Ya, ampun sayang jangan begitu, dong. Bisa-bisanya, kau ngomong gitu dengan anak temanmu sendiri".


Belum bisa menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba Verna mendapatkan sebuah kuncian leher dari seseorang. Dan orang yang melakukannya adalah Sardinia sambil tersenyum kearah Dylan.


"Dylan-kun. Maaf ya atas kelakuan suamiku yang agak lepas kendali. Biasanya ini tidak begini kok".


"Oh, ya santai saja".


"Kalau dia lepas kendali lagi, nanti tak patahin-. Etto..... Maksudnya, aku kasih peringatan.... Oh, kayanya dia udah pingsan deh..... Ya, ampun maaf ya".


Dengan rasa tidak bersalah, Sardinia menepuk kepala Verna yang sudah pingsan. Melihat perlakuan Sardinia ke Verna membuat Hyoga dan keluarganya tersenyum canggung.


"Kalau begitu, kami undur diri dulu ya. Tuan Hyoga berserta keluarganya. Ayo, Laura".


"I-i-iya".

__ADS_1


Sardinia berpamitan pergi kepada Hyoga dan keluarganya sambil menyeret Verna yang pingsan. Diikuti Laura dari belakang sambil berpamitan pada Dylan.


"Dy-dy-dylan-san, ku-ku-kuharap kita bertemu lagi".


"Ah. Iya Laura".


Dan Laura segera menyusul ibunya sambil tersenyum senang dan pipinya yang menjadi merah merona.


*Nyalimu besar juga ya, Laura-san?..... Beraninya dia menggoda Nii-san di depanku*.


Berbeda dengan Dylan yang membalas sapaan Laura dengan sopan, Filaret berbisik sambil terus menggigit ujung ibu jari kanannya karena rasa jengkel melihat Laura yang sepertinya tertarik dengan Kakaknya.


Sementara itu.


Dari atas balkon tempat keluarga Kerajaan, saat ini Vanessa sedang melihat Dylan yang datang dari atas.


Meski dia sempat terkejut dengan penampilan Dylan yang sangat biasa. Tapi, dia mengabaikan hal itu dan mulai tersenyum jahat.


"Sudah lama sekali, ya. Aku menantikan untuk bertemu denganmu lagi. Kali ini, akan aku buat kau berlutut dan bersujud kepadaku. Dylan".


(--------------)


Setelah Verna dan keluarganya pergi. Sekarang Dylan mulai di cecar oleh ibunya karena datang terlambat.


"Ngomong-ngomong, Dy-chan. Kenapa kau menyuruh kami berangkat duluan? Bukankah kita tadi bisa berangkat bersama?".


Dylan sempat melirik kearah Hyoga sesaat sebelum kembali menatap dan menjawab pertanyaan ibunya.


"Bukankah, ayah sudah memberi tahu ibu dan Fira. Kalau aku ada "urusan" yang mendadak".


"Memang sih. Ayah memberitahu kami. Tapi tetap saja, aku dan ibu sangat penasaran memangnya kau punya "urusan" mendadak apa?".


"Yah, pokoknya..... Urusan. Tapi aku tidak bisa memberitahu detailnya".


Seketika, ingatan Dylan kembali beberapa saat yang lalu sebelum datang ke pesta Ball.


Dimana saat itu, Dylan dan Sonia baru saja membunuh beberapa orang dengan jubah hitam yang muncul entah dari mana.


Mereka ini adalah "urusan" dan "tamu tak diundang" yang dimaksud Dylan. Sambil mengelap pedang katana nya yang berlumuran darah, Dylan bertanya pada Sonia.


"Sonia, apa kau mungkin tahu siapa mereka ini?".


"Sepertinya mereka hanya pembunuh bayaran biasa yang mengngatas namakan Guild Assassin bernama Shadow Crow".


"Show Crow, ya.... Sebuah guild pembunuh bayaran yang bersedia menerima permintaan pembunuhan oleh siapapun tergantung bayarannya.... Berani sekali mereka".


"Benar sekali tuan".


Mendengar penjelasan Sonia, Dylan mulai berpikir sambil memegang dagunya nya.


(Shadow Crow...... Sekelompok mini villain yang sering mengganggu perjalanan Reiner dan partynya....... Pemimpin mereka bernama Nameless........Tidak ada yang tahu nama aslinya........ Awalnya dia adalah seorang bangsawan kerajaan ini...... Tapi, karena sebuah fitnah yang dilakukan oleh beberapa bangsawan, seluruh keluarganya di eksekusi mati....... Sejak saat itu, dia memiliki kebencian yang luar biasa terhadap para bangsawan....... Dan berdasar dialog game....... Alasan kenapa dia sangat membenci Reiner karena Ayah Reiner, Jordan fou Stenly adalah salah satu dari beberapa bangsawan yang memfitnah keluarganya....... Makanya, dia membentuk Guild Assassin yang markasnya berada di pinggir kota, bersama beberapa orang yang dibuang atau dicampakkan oleh para bangsawan...... Berdasarkan sifatnya, dia tidak akan mungkin menerima permintaan dari bangsawan tidak peduli berapapun bayarannya....... Dan seperti dugaan Sonia, mereka hanya pembunuh biasa yang menggunakan nama Shadow Crow untuk mendapatkan uang).


Setelah mengingat soal kelompok Shadow Crow berasal dari game nya. Dylan segera menuju ke salah satu pembunuh yang tergeletak.


"Nah, sekarang".


Dylan melayangkan sebuah tendangan yang sangat keras ke wajah salah satu dari pembunuh itu yang masih bernafas dan menariknya mendekat.


"Hei, bajingan...... Aku tidak peduli jika kalian hanya sekelompok pembunuh yang menggunakan nama Shadow Crow sebagi kedok untuk meningkatkan penghasilan kalian...... Tapi, aku akan bertanya hal yang lain dan tidak kata pengulangan...... Sekarang, katakan "siapa" yang menyewa kalian?".


Bukannya menjawab, orang itu malah meludahi wajah Dylan dan berbicara sarkas.


Menyeka ludah di wajahnya, Dylan dengan santai kembali berbicara.


"Baiklah, toh aku juga sudah tahu siapa yang "menyewa" kalian..... Dan dugaan soal kalian bukan dari Shadow Crow ini memang benar...... Karena, Shadow Crow tidak akan pernah menerima permintaan dari para bangsawan berapa pun bayarannya".


Mendengar hal kesimpulan Dylan, pembunuh itu hanya bisa terbelalak dan tidak bisa berkata apa-apa.


Lalu, Dylan melepas orang tadi dan berbicara dengan Sonia.


"Sonia, bisa kau "bereskan" semua ini. Kalau nanti dilihat orang itu ngak enak lho. Lagipula---".


Dylan kembali menoleh kearah pembunuhan bayaran tadi dengan matanya yang menyala merah.


"------yang namanya "penipu" harus segera di singkirkan".


"Serahkan pada saya, tuan".


Tanpa basa-basi lagi, Sonia membuka telapak tangannya lalu muncul sebuah bola berwarna hijau dengan di kelilingi oleh angka Romawi pada jam.


Dan ketika bola itu pecah dan menyebar ke berbagai arah. Para pembunuh tadi seketika berubah menjadi abu dan tidak menyisakan sedikitpun bagian tubuh mereka.


Setelah itu, Sonia segera memberi hormat kepada Dylan.


"Terimakasih atas kerja kerasnya, tuan".


"Hm..... Begitu juga dengan mu. Sonia".


(Sihir Waktu, ya.... Kau bisa dengan mudahnya memanipulasi waktu dan bisa merampas waktu hidup seseorang..... Benar-benar sihir yang menakutkan..... Sebenarnya, Sonia ini siapa sih? Dia terlalu kuat untuk seorang NPC).


Melihat sihir waktu Sonia, dia hanya bisa bergumam dalam hati karena sangat penasaran dengan identitas asli pelayan pribadinya itu.


"Sonia. Bisa kau kirimkan surat kepada Ketua Shadow Crow. Tuliskan di surat itu bahwa aku "berniat berkunjung untuk sekedar bertegur sapa dengan nya" ".


"Baiklah, tuan. Tapi, jangan lupa hari ini anda ada undangan pesta di Istana Raja malam hari ini".


Mendengar ucapan Sonia, Dylan langsung menekuk badannya seolah-olah sedang menahan rasa sakit perut yang luar biasa.


"Sial, aku tahu itu".


Tanpa basa-basi, Dylan langsung pergi ke pesta Ball Istana tanpa berganti pakaian pesta. Walaupun sempat di cegah oleh beberapa pengawal Istana karena penampilan nya.


Dylan berhasil masuk kedalam dengan menunjukkan surat undangan yang langsung di tanda tangani oleh Yang Mulia.


Kembali ke saat ini.


Hyoga yang paham apa yang dimaksud Dylan, dia berusaha untuk menghentikan Pavline dan Filaret yang masih penasaran.


"Sudahlah kalian berdua. Yang penting Dylan sudah disini. Terlepas dari penampilan nya..... Pokoknya, setelah kembali nanti. Ayah ingin mengobrol sebentar denganmu".


"Baiklah. Lagipula ada hal yang ingin aku bicarakan juga dengan ayah".


Ketika mereka Hyoga dan Dylan saling membuat janji. Tiba-tiba, dari arah lain muncul seseorang yang datang untuk menyapa mereka. Dia adalah seorang Pelayan


Dari sikapnya yang tetap tenang, dan usianya. Dia adalah pelayanan senior di Istana.


"Tuan Hyoga van Arcadia, ya?".


"Iya, itu aku".


"Yang Mulia Conrad. Ingin bertemu anda dan istri anda".

__ADS_1


Mendengar hal itu, Hyoga sempat melirik kearah Pavline yang tampak mengangguk setuju. Lalu dia melihat kearah Dylan sambil menyepitkan kedua matanya.


Dylan yang paham, membalas dengan menutup mata dan meminum teh di cangkir yang dia bawa.


"Baiklah, kami akan pergi".


"Silahkan lewat sini".


Pelayan itu segera membimbing Hyoga dan Pavline menuju venue Raja meninggalkan Dylan dan Filaret.


"Nii-san. Kenapa Yang Mulia ingin bertemu dengan Ayah dan Ibu?".


"Entahlah, yang pasti itu sesuatu yang "penting", kurasa".


Dylan memilih berpura-pura tidak tahu, walupun sebenarnya dia tahu apa tujuan Raja memanggil kedua orang tuanya.


Sebenarnya, Filaret juga paham apa yang dimaksud "penting" oleh Kakaknya itu. Tapi, dia memilih untuk tidak menanyakannya lebih lanjut.


Selang beberapa saat seorang pelayan kembali datang menemui mereka.


"Nona Filaret, bukan?".


"Iya, itu aku. Ada apa?".


"Ini ada surat untuk anda".


"Oh, terimakasih".


"Kalau begitu saya undur diri dahulu".


Filaret menerima secarik surat dari pelayan itu dan membaca isinya. Lalu entah mengapa ekspresi wajahnya menjadi gelap dan tangannya meremas surat itu.


Dylan yang sempat melirik dan membaca isi surat itu mulai paham kenapa perilaku Filaret tiba-tiba saja berubah.


"Nii-san...... Aku ingin keluar sebentar mencari "udara segar" dulu".


"...... Kalau gitu pergilah".


Mendapatkan izin Dylan, Filaret segera berbalik dan menuju kearah taman Istana. Tapi, baru beberapa langkah Dylan memanggil namanya.


"Hei, Fira".


Filaret secara otomatis menoleh kearah Dylan.


"Jangan "terlalu lama", ya".


Mendengar ucapan Dylan, Filaret tersenyum dan berbicara.


"Iya, Nii-san.... Aku pasti kembali".


Filaret kembali melangkah meninggalkan Dylan seorang diri di dalam aula pesta bersama para bangsawan yang tidak dia kenal.


"Yah,..... Aku sendirian".


Saat sedang asyik meminum secangkir teh di temani lantunan musik biola yang khas ala pesta Ball. Dari, arah lain Dylan merasakan sosok yang sedang datang mendekat kearahnya.


Bukan hanya itu saja, sepertinya para tamu di aula itu mengalihkan pandangan mereka ke sosok yang berjalan mendekat ke arah Dylan.


Dylan yang merasakan hal itu, segera menoleh ke sosok yang sekarang sudah di sebelahnya.


"Apa anda tuan Dylan Van Arcadia? Putra dari Pendeta Pedang Es dan Cahaya, Hyoga van Arcadia?".


"Ah, iya itu aku".


Dylan sempat kebingungan, karena dia tidak tahu sosok yang saat ini sedang menyapanya. Sadar akan hal itu sosok itu memperkenalkan dirinya.


"Mungkin ini pertama kalinya kita bertemu. Selamat Malam, saya adalah putri Pertama Kerajaan Ingrid. Namaku adalah Ritzia Sera Ingrid. Salam kenal Dylan-san".


Sosok misterius yang menyapa Dylan adalah Putri pertama Raja Kerajaan Ingrid, Ritzia Sera Ingrid sekaligus Kakak perempuan Vanessa.


(--------------)


(Nah, sekarang kenapa aku berakhir seperti ini?)


Mungkin itu yang di gumaman Dylan di dalam hatinya. Alasannya adalah karena entah bagaimana saat ini di pesta Ball yang di penuhi oleh para bangsawan.


Yang menemaninya saat ini adalah Putri pertama Ritzia yang entah kenapa tiba-tiba muncul dan mau menemaninya, meski Dylan tidak meminta atau menawarkan diri.


(Ritzia Sera Ingrid.... Putri pertama Kerajaan Ingrid sekaligus Kakak Vanessa..... Meski di panggil Kakak. Nyatanya usia mereka berusia sama...... Ritzia hanya lebih tua 2 Minggu dari Vanessa, perbedaan lainnya adalah Ritzia terlahir dari Ratu Kedua, Celestine Sera Ingrid. Sementara, Vanessa terlahir dari Ratu pertama, Zandra Sera Ingrid..... Sama halnya dengan NPC lainnya, tidak banyak informasi soal Putri Ritzia..... Tapi, berdasar rumor yang aku dapat.... Meski di sebut "Putri Pertama" nyatanya dia hampir tidak punya hak atas singgasana..... Karena ibu Ritzia adalah putri dari keluarga bangsawan bergelar Count....... Maka dalam hirarki politik, Ritzia tidak punya kesempatan untuk menduduki singgasana meski dia adalah Putri Pertama).


Di saat Dylan sedang mencerna semua informasi soal Ritzia di dalam pikirannya. Selesai dengan itu, Dylan memutuskan untuk ngobrol dengan Ritzia yang sekarang berada di sebelahnya.


"Oh, ya. Aku sangat yakin ini pertemuan kita yang pertama. Jadi, ada keperluan apa sampai putri pertama datang sendiri untuk menyapaku?".


"Ah, soal itu..... Pertama-tama. Saya ingin ucapkan terima kasih dari lubuk hati saya yang paling terdalam. Atas tindakan berani Dylan-san yang sudah menolong adik saya Vanessa".


Ritzia membungkukkan badannya sebagai tanda yang tulus untuk berterimakasih dengan Dylan.


"Iya. Santai saja. Tidak usah dipikirkan.... Lagipula, itu sudah terjadi 2 tahun yang lalu. Yang Mulia sudah mengucapkan rasa terima kasih nya, juga...... Jadi, tuan Putri tidak perlu berterimakasih denganku secara langsung".


"Meski begitu, aku harus tetap mengucapkan terimakasih secara langsung kepada anda..... Dan juga, saya merasa sangat menyesal dengan apa yang menimpa anda setelah menyelamatkan Vanessa".


"Bukankah, perkataan mu itu terlalu formal.... Kenapa kita tidak berbicara saja dengan informal.... Jujur saja, aku agak risih mendengar nya.... Bukankah, kau sendiri juga kesusahan, ya? Berbicara seperti itu".


Ritzia sempat terkejut untuk sesaat karena tidak paham apa yang diucapkan Dylan. Menyadari, Ritzia yang hanya terkejut diam, membuat Dylan menaikkan salah satu alisnya dan kembali bertanya.


"Woi.... Kenapa, kau diam saja?".


"Ti-tidak...... Tidak ada..... Aku terkejut dengan caramu yang tidak biasa berbicara dengan seorang Putri Kerajaan..... Baiklah, jika kau mau, aku akan bicara informal dengan mu.....".


Lalu entah mengapa, Ritzia menyentuh pundaknya dan membuat pemanasan pada otot bahunya yang pegal dan sambil berbicara.


"Ya, ampun.... Rasanya capek banget harus bersikap elegan seperti tadi. Bahuku sampai pegal dibuat nya".


"Tuh kan... Aku bilang juga apa. Santai sedikit tidak masalah, kan".


Para bangsawan yang melihat bagaimana mereka berdua bisa tiba-tiba akrab dipenuhi tanda tanya di kepala mereka.


Sebenarnya, baik Dylan dan Ritzia tahu bahwa mereka berdua menjadi pusat perhatian.


Tetapi, keduanya memutuskan untuk mengabaikan hal itu dan lanjut untuk berbincang-bincang. Bahkan sampai tertawa dan membalas gurauan satu sama lainnya.


Cukup lama berbincang, Dylan teringat untuk menanyakan sesuatu langsung kepada Ritzia


"Oh, ya. Ritzia"..


"Hm?".


"Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan?".


"Soal apa?".

__ADS_1


__ADS_2