Reborn As Villain

Reborn As Villain
Chapter 27 : Masa Lalu Oscar part 1.


__ADS_3

Irene seketika diam mematung dan otaknya menjadi sangat kosong. Butuh beberapa detik baginya untuk mencerna apa yang baru saja Dylan tanyakan.


"Bagai.... Mana.... Kau bisa tahu?".


Dengan nada datar dan ekspresi yang masih terkejut, Irene menanyakan kepada Dylan cara dia mengetahui bahwa Oscar adalah Kakak laki-lakinya.


"Anggap saja ini hanya "insting" ku saja.... Karena sejak kita bertemu tadi siang, kau tidak melepaskan tatapan kebencian mu kepadaku.... Meski Sylvia tidak sadar..... Sebenarnya, kau mendengar semua percakapan kami, kan?....... Jadi, aku menduga kau pasti memiliki semacam ikatan dengan Oscar".


"Heeeee...... Insting mu boleh juga...... Asal kau tahu saja, aku ini bukan adik kandungnya".


"Aku tahu, lagian kalian berdua tidak mirip sama sekali".


Irene terdiam untuk sesaat, kemudian dia mulai bercerita tentang dirinya dan Oscar.


"Pertemuanku dengan Oscar Nii-san terjadi beberapa tahun yang lalu.... Di saat aku berusia 10 tahun..... Nii-san lah yang telah menolongku saat aku terjatuh ke bawah Ibukota----".


(----------------)


Irene tidak tahu apa-apa soal orang tuanya. Lalu begitu menyadari keadaan sekitarnya, Irene kecil hidup dengan mengais-ngais sampah untuk bertahan hidup di pinggiran Ibukota.


Ibukota Kerajaan Rachael, dari atas tampak terlihat kota sangat indah. Tapi disisi lainnya, kota itu sangatlah kumuh dan kotor hingga orang akan mempertanyakan apakah itu kota yang sama atau bukan.


Dan Irene adalah anak yang lahir dan dibesarkan di kota pinggiran, "di sisi lain" itu.


Di pinggir kota itu ada berbagai macam orang. Seperti orang yang datang ke sana dari "permukaan" karena gagal dan terjatuh karena suatu alasan.


Orang-orang yang mendapat luka di suatu bagian dan tak bisa bekerja karena hal itu. Lalu orang-orang seperti Irene, yang entah karena dibuang orang tua mereka atau apapun. Dan begitu sadar sudah menetap di kota itu.


Semua orang yang berkumpul dan tinggal disana. Tidak menampakkan binar cahaya pada mata mereka.


Bagi anak-anak seusia Irene saat itu, kota pinggiran terasa seperti neraka. Apabila mereka ingin mendapatkan makanan, mereka harus merebut nya dari orang lain.


Dan hanya karena alasan bahwa mereka marah, para orang dewasa pun tega membunuh mereka. Jika penampilan mereka menarik, anak-anak itu akan diculik dan dijual sebagai budak.


Suatu hari, Irene hampir diculik oleh seseorang. Dia berusaha mati-matian untuk kabur dari mereka, akan tetapi.


Karena waktu itu dia sudah kesulitan bertahan hidup dilingkungan yang keras dan kelaparan. Irene sudah kehabisan tenaga.


Saat itu, Irene kecil sudah siap untuk menerima kematiannya. Karena di kota pinggiran takkan ada orang yang mau menolong orang lain.

__ADS_1


Itulah yang dia pikirkan. Dan disaat itulah Oscar datang di depannya.


"Woi, bocah.... Kalau kau masih hidup, angkatlah kepalamu".


Irene yang sudah tidak bisa berpikir jernih lagi, langsung menyerang Oscar dengan pisau yang dia punya. Tapi, Oscar langsung merespon cepat dan membanting Irene ke tanah dan menahan tangannya.


"Itu mata yang bagus.... Aku sangat tertarik".


Irene yang merintih kesakitan segera dilepaskan oleh Oscar yang juga memuji keberanian Irene.


"Kalau kau ingin hidup ditempat ini, setidaknya seperti itulah semangat yang harus kau miliki..... Karena hanya untuk hidup sendirian disini saja sudah sangat sulit...... Kau masih punya peluang untuk hidup".


Oscar mengambil sebuah apel dari kantong makanan yang dia bawa dan melemparnya ke Irene.


"Ini untuk mu".


Irene yang menerima apel itu seketika terkejut. Karena saat itu, untuk pertama kalinya selama dia hidup di kota pinggiran. Dia tersentuh oleh sesuatu yang disebut dengan "kebaikan".


(------------------)


"Bagiku yang membenci ibukota, kota pinggiran sama sekali tidak ada artinya bagiku..... Dan lagipula, karena aku tidak punya tempat tinggal.... Aku putuskan untuk ikut pergi bersama Oscar Nii-san".


"Entahlah..... Mungkin dia hanya ingin melihat kota pinggiran Ibukota.... Dan itu adalah tempat yang bagus, apabila kau ingin mengetahui keadaan Kerajaan Rachael".


"Heee...... Tapi, itu cukup membuatku terkejut.... Karena aku berpikir Oscar bukanlah orang yang akan pergi ke suatu tempat bersama orang lain".


"Semua orang pasti berpikir seperti itu... Hanya saja..... Oscar Nii-san punya pemikiran nya sendiri".


"Pemikirannya sendiri?.... Lalu apa yang terjadi setelah kalian meninggalkan kota pinggiran?".


Dylan yang penasaran akan kelanjutan cerita bertanya kepada Irene.


"Setelah itu, kami pun pergi berpindah-pindah tempat dari satu kota ke kota lainnya di Kerajaan ini.... Dan untuk memastikan keadaan sebenarnya Kerajaan Rachael".


Ingatan Irene kembali ke saat Irene dan Oscar tinggal disebuah kabin kayu kecil. Saat itu, keduanya sedang menikmati makan siang mereka yang sangat sederhana.


Suasananya sangat tenang, sampai akhirnya Oscar memulai pembicaraan.


"Kerajaan yang sekarang ini, hanya menunjukkan bagian depan dan melupakan bagian belakangnya.... Kalau memang begitu, maka akan aku kuasai Kerajaan ini dan menghapus kedua sisi itu".

__ADS_1


Irene yang sedang makan segera berhenti dan mengalihkan pandangannya kepada Oscar yang tiba-tiba berbicara tentang keinginan nya untuk menguasai Kerajaan Rachael.


"Tapi..... Kalau Nii-san ingin menjadi Raja, itu akan memakan waktu yang lama..... Walau, aku tahu kalau Nii-san sangat kuat".


"Huh? Apa maksudmu?".


"Begini..... Pertama, Nii-san harus menjadi ksatria... Kedua, Nii-san harus bisa menjadi bagian dari Ksatria Suci dan menjadi yang terkuat... Yang terakhir, Nii-san harus mendapatkan dukungan dan kepercayaan dari para The Oracle's".


Irene menjabarkan tahapan yang harus di lalui Oscar apabila ingin impian nya menjadi Raja terwujud.


"Aku tahu itu.... Makanya, orang yang lemah tidak boleh terus menjadi lemah..... Dan aku paling benci kepada orang-orang yang hanya menonton sambil menghisap ibu jari mereka tanpa melakukan apapun..... Seharusnya, orang-orang yang bertahan hidup di pinggiran kota sepertimu itu paham, kan?....... Kalau Raja sekarang yang dipilih oleh para The Oracle's itu adalah orang payah....... Jadi, harus ada orang lain yang menggantikannya..... Kau pikir, kenapa orang-orang sampai dilahirkan di tempat busuk seperti kota pinggiran?..... Kenapa mereka semua tidak bisa saling bekerja sama?".


"Etto....".


Pertanyaan Oscar membuat Irene kebingungan karena dia tidak tahu harus menjawab apa. Namun, Oscar segera memberikan jawaban atas pertanyaan nya itu.


"Itu karena mereka tidak memiliki musuh.... Yang mereka anggap setara".


"Musuh yang setara...?".


Bukannya, mendapatkan pemahaman dari jawaban Oscar. Irene justru semakin kebingungan, tapi Oscar mengabaikan hal itu dan melanjutkan ucapannya.


"Dan jika aku menjadi Raja.... Yang pertama akan aku lakukan adalah..... Menghancurkan Kerajaan Ingrid".


Irene menjadi sangat panik ketika dia tahu apa yang diinginkan oleh Oscar. Dan dengan segera dia berusaha untuk menghentikan langkahnya.


"Tapi, tidak semua orang mau ikut dalam peperangan ini".


"Aku tahu".


Oscar kemudian berdiri dari duduknya berjalan mendekat dan memegang pundak Irene. Dengan ekspresi yang gelap dia kembali berbicara.


"Karena yang namanya Perang itu tidak hanya soal "kekerasan" saja..... Orang yang ingin mengurus ladang bisa mengurus ladangnya.... Orang yang ingin belajar bisa belajar semau mereka... Karena "Medan perang setiap orang itu berbeda-beda" ".


Irene terdiam dengan perkataan Oscar. Semetara, Oscar sendiri segera melangkah keluar. Tapi, sebelum pergi dia sempat mengatakan beberapa hal kepada Irene.


"Terlebih lagi, di Kerajaan ini tak ada tempat yang layak untuk belajar bagi orang-orang seperti kita.... Yare, yare seperti nya aku harus membangun sekolah untuk anak-anak terlantar dan kurang mampu, lalu masih banyak hal yang musti aku lakukan".


Oscar segera melangkah pergi meninggalkan Irene yang hanya bisa menatap punggung Kakak laki-lakinya itu dari belakang.

__ADS_1


__ADS_2