
Beres berurusan dengan Dirk.
Dylan segera menghampirinya Claudia dan Helena yang saat ini sudah lebih tenang dari pada sebelumnya.
"Apa kalian baik-baik saja?".
Dylan bertanya tentang kondisi mereka dan kedua menjawab dengan menganggukkan kepala sebagai tanda mereka tidak apa-apa.
"Haaa.... Syukurlah kalau begitu".
"A-ano....".
"Kita bicarakan itu nanti.... Sebaiknya, kita segera pergi dari sini karena terlalu berbahaya".
Ketiganya memutuskan untuk pergi dari tempat itu dengan memanfaatkan kereta kuda yang masih ada di sana.
Dylan memutuskan untuk duduk di kursi kusir bersama dengan Helena, sementara Claudia duduk di dalam kereta.
"Ah, Dylan-san benar, kan?.... Terimakasih karena sudah membantu menyelamatkan kami".
"Hm.... Santai saja.... Setelah mengalami bencana tadi.... Aku senang kalian baik-baik saja".
Helena menjadi perwakilan untuk mengucapkan terimakasih kepada Dylan yang sudah datang untuk membantu mereka.
"Sekali lagi, saya dan nona saya sangat berterima kasih atas bantuannya. Dan bagaimana pun kami harus membalas kebaikan anda".
"Udah ngak usah..... Toh aku terlibat karena atas kecerobohan ku sendiri.... Dan sekarang aku harus membawa kalian kembali ke kota sebelum jam malam berakhir".
Dylan menolak Helena yang berencana membalas perbuatannya yang sudah menolong mereka.
"Terima kasih karena mau mengawal kami sampai kota".
Selang beberapa saat Helena kembali berbicara.
"Maaf kalau ini sedikit terlambat.... Mari kita kembali untuk saling mengenalkan diri..... Saya adalah pelayan pribadi dari nona Claudia von Ritzburg. Helena Fallen".
"Namaku Dylan van Arcadia. Putra Earl Arcadia, salam kenal Helena-san dan Claudia-san".
Setelah melakukan perjalanan yang agak lama, mereka bertiga akhirnya tiba di Asrama Putri milik Akademi.
"Heee..... Jadi, Claudia-san bersekolah di Akademi Estonia, ya?..... Sama sepertiku dong?".
Dylan berpura-pura tidak tahu agar tidak menimbulkan kecurigaan.
"Apa tuan Dylan juga bersekolah disini?".
Mendengar pertanyaan itu Dylan menjawab dengan jujur walaupun dia enggan.
"Iya, aku juga bersekolah disini".
"Begitu ya.... Anda ada dikelas apa?".
"Aku berada di kelas S".
"Luar biasa.... Kalau nona Claudia ada di kelas A..... Ya, meskipun nona sangat ingin berada di kelas S".
"Tidak usah terlalu kecewa kelas A bukan berarti buruk kok? Aku percaya setiap orang punya keahlian dan tempat nya masing-masing".
Dylan mencoba menghibur Claudia yang tampak kecewa berada di kelas A. Dan itu terbukti efektif dengan Claudia yang kembali ceria walau dari tadi dia hanya diam sambil terus menatap Dylan.
"Karena ini sudah malam..... Kalian lebih baik istirahat.... Aku pergi dulu, mau istirahat juga..... Sampai jumpa".
Dylan segera berbalik meninggalkan Helena dan Claudia di gerbang masuk Asrama Putri.
"Sekali lagi.... Kami sangat berterimakasih, Tuan Dylan atas pertolongannya".
Helena sekali lagi mengucapkan rasa terimakasihnya tapi Dylan tetap berjalan pergi dan hanya melambaikan tangannya.
"Meski agak kasar. Tapi dia sangat baik ya, Nona?".
"Iya".
"Terlepas dari penampilan nya. Dia sangat kuat dan tidak lancang seperti kebanyakan bangsawan?".
"Iya".
"Hal itu menambah nilai plus dalam dirinya".
"Iya".
__ADS_1
Merasa heran dengan jawaban Nona nya yang monoton, Helena segera menoleh hanya untuk menemukan Claudia sedang menatap lurus ke arah Dylan dengan pipi yang menjadi merah.
Melihat hal itu Helena menemukan sebuah ide dan tersenyum nakal.
"Boleh aku menciumnya, nona?".
"Iya".
"Kalau begitu, aku akan mengambilnya untuk diriku sendiri".
"Iya, tidak masalah....... Eh? Tunggu? Apa?......ITU TIDAK BOLEH!!!!".
Sesaat kemudian, Claudia seperti nya kembali tersadar dan dengan panik berusaha untuk menyangkal perkataannya.
Melihat reaksi lucu dari Nona nya Helena mulai tertawa dan Claudia semakin panik saat Helena menertawakan dirinya.
"Hahaha.... Maaf ya, nona.... Ini pertama kalinya saya melihat anda seperti ini".
Sambil menyeka air mata nya Helena kembali berbicara dan menggoda Claudia.
"Kenapa, ya? Di selamatkan dari bahaya oleh seorang pria.... Lalu nona jatuh cinta pada pandangan pertama? Ini perkembangan yang sangat klise".
"Bu-bukan seperti itu..... Hanya saja...".
"Hanya saja?".
"..... Entah mengapa ketika aku melihatnya.... Aku merasa gugup yang luar biasa.... Dan rasanya jantungku berdetak sangat cepat.... Kemudian tubuh ku mulai memanas".
(A-apa? Nona, apa anda benar-benar serius?).
Claudia dengan wajah yang merah merona mengatakan apa yang dia rasakan saat pertama kali melihat Dylan.
Di sisi lain Helen hanya bisa terdiam mematung karena tahu bahwa nona nya sedang mengalami sesuatu yang di sebut "jatuh cinta".
Perkembangan yang tak terduga, dimana Claudia yang jatuh cinta kepada Dylan, bukanlah sesuatu yang diharapkan olehnya. Semua ini dia lakukan hanya sebatas rasa simpati saja.
(Anjir, kok aku merinding, ya?).
Sayang nya, kejadian ini akan mempersulit langkah Dylan di masa depan.
(-----------------)
Sementara itu, Dylan tidak benar-benar kembali ke asrama nya. Melainkan dia pergi ke Bar Noir markas Shadow Crow.
Ketika padangan mereka bertemu, Nameless langsung tersenyum lebar.
"Ini sudah terlalu larut untuk bocah sepertimu pergi ke Bar.... Dylan-kun".
"Berisik, aku juga tahu itu".
Tanpa basa-basi Dylan segera duduk di kursi kosong dekat bartender.
"Jadi, apa sekarang kau punya "bisnis" tertentu yang ingin kau tawarkan?".
Nameless tanpa basa-basi segera menanyakan apa tujuan Dylan datang ke sana. Tanpa banyak bicara Dylan memberikan sepucuk kertas.
Menerima dan membaca tulisan yang ada di kertas itu. Entah kenapa Nameless tersenyum lebar dan matanya seperti menemukan mangsa yang empuk.
"Heee...... Aku tahu kau pasti membawa "bisnis" yang menarik..... Baiklah, aku terima ini".
Kemudian, Nameless membakar kertas itu dengan sihir apinya dan kembali berbicara.
"Aku akan menghubungi mu sekitar 7 hari lagi.... Senang rasanya "berbisnis" dengan mu, Dylan-kun".
"Sama halnya denganmu, Nameless-san".
Tak membuang waktu lagi, Dylan yang merasa urusannya telah selesai segera pergi kembali ke Asrama Akademi.
Entah apa yang mereka lakukan. Namun, itu akan jelas setelah Nameless mengabari Dylan.
(---------------)
Sehari setelah ujian tes para peserta calon siswa Akademi Estonia. Lebih tepatnya, sebelum pengumuman hasil tes.
Saat ini, para guru sedang melakukan diskusi untuk menentukan siapa siswa yang pantas berada di kelas D sampai kelas S.
Setelah melakukan diskusi yang sangat panjang dan lama, mereka berhasil menentukan siapa saja yang berada di kelas D sampai kelas A.
Tersisa 10 siswa yang sudah di pastikan akan masuk ke kelas S. Namun, hal ini justru mendapatkan perdebatan dari beberapa guru.
__ADS_1
"Aku tidak bisa menerima ini..... Bagaimana bisa, kelas S tahun ini hanya diisi oleh para anak-anak bangsawan miskin dari perbatasan..... Lalu, Putri Ritzia yang masuk kelas S dan bukan Putri Vanessa..... Belum, lagi masalah siswi pindahan dari Kerajaan Rachael juga di kelas yang sama... Apa-apaan ini semua?".
Guru yang menentang keputusan ini adalah Nelson fou Valdes. Dia seorang pria tua yang kelebihan berat badan, dan sangat menjujung tinggi prinsip "Bangsawan adalah orang-orang pilihan Dewa".
Dia tipe orang yang sangat suka merendahkan orang lain terutama kepada rakyat biasa. Terkadang memandang sebelah mata, bangsawan yang miskin meskipun bergelar tinggi.
Satu hal lagi, dia berada di fraksi Putri kedua Vanessa. Makanya dia sangat tidak menyukai Putri pertama Ritzia.
"Huh? Kau ini ngomong apa, Nelson?..... Mereka adalah anak-anak berbakat yang luar biasa, terlepas dari status mereka..... Bahkan, putri Ritzia yang selalu diremehkan semua orang.... Bisa menunjukkan bakat yang lebih hebat dari Putri Vanessa..... Dan soal Putri dari Kerajaan Rachael, apa salahnya menempatkannya di Kelas S, dia juga mendapat hasil tesnya sangat memuaskan".
Guru yang menentang pendapat Nelson adalah Liara von Windhild. Seorang wanita cantik berambut hitam dipotong model Bob dengan kacamata. Dia adalah salah satu dari beberapa bangsawan yang memegang prinsip "Bangsawan ada untuk melindungi dan mengayomi rakyat biasa".
Karena itulah, dia bersikeras menantang pendapat Nelson yang dianggap terlalu egois.
"Aku setuju dengan argumen, Liara.... Mereka adalah anak-anak hebat yang mampu berdiri dengan kaki mereka sendiri..... Dan tidak pernah mengandalkan atau menggunakan status mereka..... Dan tidak ada lagi, yang pantas berada di kelas S selain mereka".
Orang yang setuju dengan argumen Liara adalah Alexander von Geogrovic. Seorang laki-laki berambut cokelat acak-acakan yang bertugas menjadi pengawas waktu tes pertarungan.
"Sentimentil mu itu terlalu berlebihan dan terlalu lebay untuk didengar Nelson...... Setiap anak berhak untuk belajar dan menghirup hidup baru di dalam Akademi ini.... Dan sebagai guru sekaligus orang dewasa, kita harus membiarkan mereka".
Jason van Taylor. Guru yang bertanggung jawab waktu tes tertulis peserta calon siswa. Juga ikut berkomentar tentang argumen egois Nelson.
Karena tidak terima argumennya dibantah Nelson mengirimkan tatapan kebencian terutama kepada Jason yang juga melakukan hal yang sama.
"Ini tidak ada kemajuan.... Karena tidak ada hasil dari diskusi ini, sesuai peraturan Akademi..... Sekarang, kita akan melakukan voting suara".
Asisten kepala Akademi yang melihat diskusi ini menemukan jalan buntu menyarankan untuk melakukan voting suara.
Hasilnya.
5 guru menyatakan setuju para siswa itu ada di kelas S. Mereka adalah Alexander von Geogrovic, Frey de Highland, Olga Marie Annimusufia, Liara von Windhild dan Jason von Taylor.
Dan
5 guru menyatakan tidak setuju para siswa itu ada di kelas S. Mereka adalah Nelson dan keempat rekan gurunya yang sebenarnya berada di fraksi yang sama.
Karena hasil voting seimbang. Maka keputusan adalah menolak mereka semua.
"5 setuju dan 5 menolak....... Hehehe, masalah sudah diatur.... Bahkan mempertimbangkan bangsawan miskin masuk ke Akademi elit seperti ini.... Itu tidak masuk akal".
Melihat senyum mengejek Nelson membuat Alexander, Jason, Olga dan Liara menjadi sangat kesal.
"Hei, pak tua Obesitas..... Disini itu, masih ada pendapat satu orang lagi yang musti kita semua dengar".
"Apa?".
Orang lain yang menjawab dan mengejek penampilan Nelson adalah laki-laki berambut biru navy bernama Frey d Highland. Dia salah satu guru yang setuju dengan argumen Liara dan Alexander
Meski dari tadi, Frey hanya bermain-main dengan kursi duduknya dan tidak memperhatikan rapat sejak dimulai sampai sekarang. Dia memberikan argumen yang mengejutkan semua orang.
Frey kemudian melirik kearah kepala Akademi yang duduk di antara para guru lainnya.
"Kepala Akademi.... Bisakah kami mendengar pendapat anda, Tuan Leon.
"Woi, Berandalan.... Jangan seenaknya sendiri menyuruh kepada Akademi----".
"Huh? Kau ini mau apa? Pak tua Obesitas..... Aku hanya meminta pendapat kepala Akademi, itu saja...... Toh, hasil voting ini ngak guna jika pada akhirnya beliau yang ambil keputusan".
Frey langsung mengeluarkan aura intimidasi yang seketika membuat Nelson tidak bisa berkutik.
Leon Sera Belmont adalah pria berambut kuning dengan ekspresi yang tenang dia adalah mantan Chivalric Order Kerajaan Ingrid. Dan sekarang menjabat sebagai kepala Akademi Estonia.
Sedari tadi rapat dimulai, Leon hanya terdiam sambil terus menatap profil seorang siswa. Dan profil itu adalah milik Dylan. Matanya juga terfokus pada nama orang tua Dylan yang tertera di sana. Yaitu Hyoga van Arcadia.
Membaca nama itu Leon mulai tenggelam di dalam pikirannya.
("Pendeta Pedang Es dan Cahaya", ya....... Sudah lama sekali sejak aku mendengar namamu di sebut Hyoga.... Dasar Keparat selengean..... Kau tidak pernah cerita kalau kau sudah menikah dengan Pavline dan punya seorang putra).
Leon kembali teringat masa lalu.
Dulu selama dia di Chivalric Order, selain berteman dengan Rufus dan Verna dia juga bersahabat dekat dengan Hyoga. Bahkan bisa dibilang mereka itu sahabat dan Rival disaat yang bersamaan.
Keduanya, selalu saja berkompetisi, mengasah kemampuan masing-masing, untuk saling mengungguli yang lain.
Bahkan ada satu cerita yang sangat terkenal, dimana saat itu Hyoga dan Leon pernah memukul mundur 500 prajurit Kerajaan Strost tanpa bala bantuan.
Tapi, suatu hari Hyoga bilang bahwa dia akan keluar dari Chivalric Order, membuang gelar "Pendeta Pedang Es dan Cahaya" lalu kembali ke Arcadia untuk mengelola wilayah itu.
Sebagai rival tentu Leon sangat menyangkan keputusan Hyoga. Tapi, sebagai sahabat. Dia mencoba menerima itu dengan lapang dada.
__ADS_1
Setelah ingatan yang singkat itu, Leon sekali bernafas panjang dan mulai berbicara soal keputusannya.
"Baiklah, keputusanku.......".