Reborn As Villain

Reborn As Villain
Chapter 39 : Perjalanan Menuju Resort Akademi.


__ADS_3

Sebuah kereta api eksekutif sedang melaju di rel dengan kecepatan sedang, dari simbol Griffin di setiap gerbong nya. Menjelaskan, bahwa kereta eksekutif itu milik Akademi Estonia.


"Haaaa..... Luar biasa..... Pemandangan dari sini sungguh hebat..... Dylan-san, Dylan-san.... Lihatlah jembatan itu besar sekali".


Gadis yang sangat antusias melihat pemandangan yang dari dalam gerbong itu adalah, Lafia Fin Flight yang saat ini duduk berhadapan dengan Dylan di sebuah gerbong.


"Fia, sudahlah jangan terlalu heboh karena melihat sebuah jembatan".


Orang yang menegur tindakan kekanak-kanakan Lafia adalah Ritzia yang duduk di sebelah Dylan. Sementara Dylan sendiri hanya merespon tindakan Lafia dengan senyuman seolah-olah dia memahami betul apa alasannya.


"Ritzia memang benar...... Tuh, lihat..... Kau dari tadi terus perhatikan oleh yang lainnya".


"EEEEEEEEEEEH?".


Lafia segera terkejut malu setelah melihat kearah para siswa yang dari tadi terus memperhatikan sikap kekanak-kanakan nya.


"Sudah, sudah...... Lagian, wajar jika Fia sangat antusias dengan kegiatan ini".


"Ini juga pertama kalinya bagi kita semua untuk pergi ke Resort milik Akademi di kota Monarch".


Arnold dan Awin yang duduk di kursi seberang berusha membela Lafia karena sama seperti Dylan, mereka juga menganggap hal ini wajar bagi seseorang untuk antusias pergi ke tempat yang belum pernah mereka kunjungi.


Monarch.


Adalah kota pinggiran pantai yang berdekatan dengan ibukota Algrand. Meski begitu butuh satu setengah hari perjalanan dengan kereta api, untuk bisa sampai di kota ini.


Meski tidak masuk ke wilayah Arcadia dan pantainya berfungsi sebagai jalur perdagangan, kota Monarch adalah kota yang menjadi destinasi wisata pantai bagi mereka yang ada di ibukota.


Nah, kenapa semua siswa Akademi Estonia pergi ke Monarch. Maka kita akan kembali beberapa yang lalu.


Di kelas 1-S.


"Dalam beberapa hari lagi, kalian semua akan melakukan kegiatan kedisiplinan militer berupa latihan kemaritiman yang biasa diadakan di Resort milik Akademi di kota Monarch....... Berhubung ini adalah program wajib...... Tentu saja, kalian tidak izinkan untuk tidak ikut serta dalam program ini...... Jika kalian tetap melanggar nya, maka akan ada hukuman berupa pengurangan nilai dan bintang".


Frey sebagai menjelaskan kegiatan ini kepada para siswanya. Namun, seluruh siswa kelas 1-S semuanya tak terkecuali menunjukkan ekspresi yang malas.


"Yang bener aja, nih?..... Kita musti pergi ke pantai?..... Ya elah males banget, Sensei".


"Kenapa kita ngak ngelakuinnya di hutan aja, di sanakan lebih sejuk".


"Di pantai itu panas banget, angin lautnya juga kering".


Ornest, Arnold dan Garcia segera mengeluh soal program kegiatan yang Akademi lakukan ini sangatlah merepotkan.


Mendengar hal itu, Frey tiba-tiba tersenyum dan kembali berbicara.


"Yah, aku juga setuju dengan kalian...... Tapi...... Apa kalian bertiga tidak berpikir bahwa ini juga "kesempatan langka" buat kalian..... Terutama kalian para pria".


Ornest, Arnold dan Garcia segera menaikkan alis sebagai tanda kebingungan. Lalu Frey yang menyadari hal itu, segera menjelaskannya.


"Coba kalian pikirkan baik-baik....... Tempat kita melakukan kegiatan ini adalah pantai yang menjadi tempat wisata...... Selain, melakukan kegiatan Akademi..... Kalian juga akan di beri izin untuk menikmati liburan di pantai".


Ketiganya tersentak mendengar apa yang dikatakan Frey juga.


"Yang artinya..... Kalian akan melihat banyak orang, terutama para gadis cantik yang menggunakan bikini".


Ketiganya membelalakkan matanya.


"Dan asal kalian para bocah tahu...... Selain para siswi, semua staff dan para guru wanita di Akademi ini punya kwalitas yang tidak kalah bagusnya".


Ketiganya, mulai membayangkan Olga-sensei, Liara-sensei, Filaret, Sylvia, Ritzia, Emilia, Olivia, Claudia dan Lafia menggunakan bikini.


"Jadi, bagiamana?..... Apa kalian masih tidak mau ikut?..... Dan aku berani jamin, Si kapten muka datar, dan wakil sok cuek kalian disana...... Juga sangat tertarik".


Sambil tersenyum sarkas Frey menunjuk kearah Dylan dan Awin yang melihat kearah lain.


"Ngak..... Aku tidak tertarik melihat para gadis menggunakan bikini".


"Iya....... Aku sudah sering lihat pantai di wilayah Arcadia sampai bosan..... Dan aku juga bukan tipe orang seperti itu".


Frey sempat terkejut mendengar respon Awin dan Dylan soal kegiatan ini. Tapi, dia segera mendekat kearah keduanya.


"Hei, kalian berdua....... Aku tahu banget kok..... Kalian ogah-ogahan mengikuti kegiatan ini, kan?..... Tapi, coba renungkan...... Tempat itu adalah pantai wisata..... Meski begitu, nyatanya tempat itu tidak banyak "kios" jajanan disana...... Dan para wisatawan harus pergi jauh apabila ingin membeli sesuatu seperti minuman atau makanan".


Dylan dan Awin langsung bergetar setelah mendengar apa yang di katakan Frey.


"Coba bayangkan...... Berapa banyak keuntungan yang akan kalian berdua dapatkan ketika membuka "kios" disana".


Seketika Dylan dan Awin tersenyum jahat dengan pikiran dimana keduanya membayangkan sedang berada di tengah hujan koin emas.


"Tapi...... Untuk membuat "kios" di sana butuh yang namanya "surat izin usaha"..... Dan sebagai guru aku akan dengan senang hati membantu kalian...... Jadi, apa kalian akan ikut?".


Keduanya segera menoleh kearah Frey sambil tersenyum jahat. Tanpa perlu jawaban yang jelas, baginya senyuman Dylan dan Awin menandakan persetujuan mereka.


"Lalu bagaimana dengan kalian para gadis?..... Apa kalian juga mau ikut kegiatan ini?".


Frey sambil tersenyum ceria segera menoleh kepada para siswinya. Menyadari hal itu mereka segera mengalihkan pandangannya.


"Sama kayak Nii-san...... Aku bosan melihat pantai".


"Aku tidak mau panas-panas disana".


"Aku tidak suka tempat ke ramaiyan".


"Kalau untuk kegiatan Akademi..... Aku ngak masalah..... Tapi, liburan di sana kayanya..... Ngak deh Sensei".


"Aku suka kulit putihku dan tidak mau aku ubah jadi Tan dan berjemur di sana".


Filaret, Ritzia, Emilia, Sylvia dan Olivia menyatakan keberatan dengan kegiatan ini. Kemudian, Frey segera menunjukkan ekspresi kecewa.


"Begitu, ya....... Sayang banget...... Padahal....."


Sambil berbalik dengan ekspresi sedih, Frey tiba-tiba mengeluarkan sebuah selembar brosur yang dia dekatkan ke wajah kanannya.


"...... Bertepatan dengan hari itu...... Di sekitar sana, akan ada bazar untuk perawatan kecantikan wajah dan tubuh beserta penjualan alat-alat kosmetik dari brand-brand terkenal, loh...... Dan bahkan ada yang menjual aksesoris cantik berkualitas tinggi dengan harga miring yang bisa menunjang penampilan kalian".


Mendengar hal itu dari Frey, para gadis tidak bisa menyembunyikan rasa ketertarikan mereka dan segera menatap kearah Frey dengan mata yang penuh antusiasme.


Menyadari hal itu, Frey segera melirik kearah murid-murid nya dan mulai berbicara dengan pandangan penuh kelicikan.


"Jadi....... Apa kalian, mau ikut atau tidak?".


Semuanya segera menganggukkan kepala setuju. Frey segera tersenyum lebar setelah melihat bagaimana respon murid-murid nya.


"Kalau begitu..... Sudah di putuskan....... Kalian tidak perlu banyak bicara....... DAN IKUTLAH DENGAN KU!!!!!".


"WOOOOOOAAAAAA......".


Teriakan Frey segera di sambut teriakan antusias dari Dylan dan rekan-rekannya. Melihat murid-muridnya yang antusias. Frey yang tersenyum lebar mulai bergumam dalam hatinya.


(Dasar para bocah geblek...... Apa kalian tidak sadar bahwa........ Sebenarnya, ada "sesuatu" yang musti kalian lakukan untukku nantinya....... Dan itu juga menjadi penentuan untuk bonus yang akan aku terima...... Karena itu aku harus memaksa kalian untuk ikut serta dalam kegiatan ini bagaimana pun caranya).

__ADS_1


Tanpa mereka sadar, diluar kelas 1-S sudah ada Jason di sana yang sejak tadi sudah mendengar semuanya dan memasang ekspresi terkejut dan terdiam.


"Ngak Wali kelasnya..... Ngak muridnya...... Semuanya ngak ada yang waras".


Di hari keberangkatan, seluruh siswa kelas 1-S sudah duduk manis di dalam gerbong kereta. Terlihat wajah antusias di wajah mereka dan rasa tidak sabar untuk segera pergi ke pantai kota Monarch.


(-----------------)


Di hari keberangkatan.


Tampak wajah senang terpancar dari seluruh siswa Kelas 1-S. Mereka benar-benar tidak sabar untuk menunggu keberangkatan menuju kota Monarch.


Namun, saat mereka sedang tenggelam dalam kebahagiaan. Mereka segera terusik dengan ucapan dari beberapa orang siswi yang mulai membuat keributan.


"Reiner-san, saat di gerbong nanti duduklah di sampingku, ya".


"Enak saja, Reiner-san akan duduk di sampingku".


"Tidak, dia akan duduk di samping ku".


"Dengar, ya...... Hanya aku yang pantas duduk di sebelah bukan kalian".


"Hehehe..... Kalian bisa tolong tenang, aku malah kebingungan".


Rupanya, para siswi yang menjadi fans Reiner sedang saling berebut memaksa idola mereka untuk duduk di sebelahnya selama perjalanan.


Menyadari hal itu, Dylan dan rekan-rekannya menatap jijik kearah Reiner dan para siswi itu. Bukan karena iri, melainkan karena mereka benar-benar terganggu dengan ke berisikan yang mereka buat.


"Apa-apaan itu?".


"Lagi-lagi mereka bikin ulah".


"Apa mereka ngak tahu kalau ini tempat umum?".


"Cuma buat bisa duduk di sebelah pecundang sepertinya aja ribet amet".


"Btw...... Si pengecut Reiner itu pakek sihir hipnotis apa...... Kok bisa dia dikerubungi oleh cewek-cewek dari kelas atas semua?".


Arnold, Emilia, Olivia, Ornest dan Garcia segera mengeluh melihat keributan yang ditimbulkan oleh kelompok siswi yang tampaknya sangat fans berat dengan Reiner. Bahkan Garcia sampai menuduh Reiner menggunakan semacam sihir hipnotis untuk memikat para siswi itu.


"Ngurusin orang-orang kayak mereka juga ngak bakal ada abis-abisnya..... Mending kita fokus aja dengan kegiatan ini".


Awin yang melihat rekan-rekannya mengeluh dan mempertanyakan kejadian itu, segera menegur mereka semua.


Tak berselang sala suara peluit kereta segera terdengar dan kemudian sebuah kereta mewah dengan logo Akademi Estonia melaju dan segera berhenti di depan mereka.


"Para siswa hendak segera memasuki gerbong kereta secara perlahan-lahan..... Pastikan tidak ada barang yang tertinggal...... Karena setelah 10 menit kereta akan berangkat".


Seorang guru segera memberikan pengarahan kepada para siswa untuk segera naik. Tak membuang-buang waktu lagi, para siswa segera masuk dan duduk di kursi yang mereka sukai.


Sebelum memasuki kereta, pandangan Dylan teralihkan ke Lafia yang berdiri di belakang hanya menatap Reiner yang di kerubungi oleh para siswi.


Merasa tidak enak Dylan segera melangkah kesana.


"Hei, Fia".


"Eh... Dylan-san".


Lafia segera terkejut setelah mendengar Dylan tiba-tiba memanggil namanya.


"Kau mau ikut dengan kelas kami?".


"Santai saja, mereka juga pasti ngak akan keberatan".


"Ba-baiklah".


Dengan sedikit ragu-ragu, Lafia dengan senang menerima hati menerima tawaran Dylan dan dia pun di sambut baik oleh semua siswa kelas 1-S termasuk Filaret.


Reiner yang merasa tidak melihat Lafia dan berusaha mencarinya, segera terkejut melihat teman masa kecilnya sekaligus tunangannya itu akrab dengan seluruh siswa kelas 1-S terutama dengan Dylan.


"Kenapa Fia bisa dengar dengan Dylan?....... Memangnya, apa hubungan mereka?".


Dengan nada dingin dan sedikit kekecewaan, Reiner bertanya-tanya kenapa Lafia bisa dekat dengan Dylan dan rekan-rekannya.


Sama halnya dengan Dylan dan yang lainnya, mereka juga segera mencari kursi dan duduk. Saat memasuki gerbong, terbakar kursi-kursi yang saling berhadapan. Tiap kursi yang ada setidaknya mampu menampung 3 orang.


Setelah berjalan dan mencari kursi mana yang nyaman, mereka akhirnya berhasil menemukan tempat duduk yang cocok.


Dylan, Filaret, dan Sylvia duduk bersebelahan, sementara di hadapan mereka duduk Ritzia, Lafia dan Ornest. Di seberang mereka ada Arnold, Olivia dan Garcia yang duduk berhadapan dengan Emilia dan Awin.


Tak berselang lama, seorang gadis cantik berambut biru gelap datang menemui mereka atau lebih tepatnya Dylan.


"Ano..... Dylan-san".


Menoleh ke sumber suara ternyata gadis itu adalah Claudia yang sedang berdiri. Melihat kehadiran Claudia Filaret, Ritzia, Sylvia dan bahkan Lafia tidak bisa menyembunyikan aura kejengkelan.


"Ada apa, Dia?".


"Etto..... Begini..... Aku tidak dapat tempat duduk..... Dan aku bingung harus bagaimana...... Ka-kalau bisa..... Apa aku bisa duduk disini?".


"HUH?".


Dengan sedikit tersipu malu, Claudia bertanya apa dia bisa duduk bersebelahan dengan Dylan. Tentu saja hal itu memicu Filaret, Ritzia, Sylvia dan bahkan Lafia tersulut emosi nya.


Padahal jika diperhatikan, masih banyak kursi kosong yang ada di sana, tapi entah mengapa Claudia sepertinya ingin sekali duduk di sebelah Dylan.


"Maaf, Dia..... Tapi, tempat kami sudah penuh".


"Oh...... Begitu ya".


Dengan sedikit perasaan tidak enak Dylan dengan halus menolak permintaan Claudia. Dan dengan nada sedih Claudia hanya bisa pasrah.


Melihat Claudia yang tampak putus asa membuat keempat gadis itu merasa sangat bahagia. Tapi, itu tak berlangsung lama.


"Tapi, kau bisa duduk disebelah Awin dan Emilia di sana..... Gimana kalian keberatan".


"Ngak juga kok".


"Lagian masih ada ruang untuknya".


"Terimakasih".


Meski berseberangan dengan Dylan, setidaknya Claudia sangat senang saat tahu bahwa dia diperbolehkan oleh Dylan, Awin dan Emilia.


10 menit kemudian kereta api mulai berjalan perlahan menuju kota Monarch tempat diadakannya latihan kedisiplinan militer Akademi Estonia.


(-----------------)


Setelah flashback singkat itu, mereka segera kembali ke kondisi di Kereta Api sekarang.


"Kalau aku boleh tahu..... Apa nama jembatan besar itu?".

__ADS_1


Lafia yang penasaran segera bertanya kedap yang lainnya dengan harapan ada diantara Dylan dan yang lainnya nama jembatan itu.


"Nama jembatan itu adalah "Bridge Of Love"..... Menurut legenda..... Dahulu, Dewa Aesir tidak kuat melihat cinta antara sepasang pria dan wanita yang selalu berakhir tragis, membangun sebuah jembatan...... Saat perang antar Kerajaan berakhir..... Sepasang bangsawan mengadakan pernikahan disana..... Sejak saat itu, Jembatan itu di beri nama "Bridge Of Love" sebagai lambang hubungan antara 2 orang yang berbeda daerah, dan bahkan Kerajaan dimana mereka berasal.... Lalu hampir tiap tahunnya, ada pasangan berbeda tempat tinggal bertemu dan bersumpah untuk bersama di jembatan itu...... Tapi, perang antara kedua Kerajaan kembali terjadi...... Hal itulah yang membuat mereka merasa sedih...... Karena tidak bisa saling bertemu....... Begitulah ceritanya".


"Heeeee...... Luar biasa, Ritzia-san".


"Baru kali ini aku mendengar kisah seindah itu".


Ritzia merasa senang saat dipuji oleh Lafia dan Claudia yang sangat terkesan dengan sejarah jembatan "Bridge Of Love". Tapi, respon yang terima dari yang lain malah berbeda.


"Mendengar cerita itu........ Entah kenapa....... Rasanya aku......... Mau muntah".


"BAJINGAN, APA KAU ITU TIDAK PUNYA PERASAAN, DYLAN?!!!!!!".


"Sayang banget...... Padahal aku penasaran banget, pihak mana yang menang di perang itu".


"KENAPA KAU MALAH PENASARAN DENGAN HASIL PERANGNYA, AL?!!!!!".


"Aku malah baru tahu kalau Dewa Aesir bisa beralih profesi menjadi Dewa Bangunan".


"KAU PIKIR DEWA ITU SEMACAM PEKERJA SERABUTAN YA, AWIN?!!!!".


"Yang membuatku kagum adalah...... Karena aku baru tahu kau adalah seorang "pengarang handal" ya, Ritzia".


"SIAPA YANG KAU MAKSUD "PENGARANG HANDAL" ITU, ORNEST?!!!".


"Hick.....Hick....... Kasihan amet tuh para cewek cakep...... Baru nikah aja...... Udah jadi janda".


"LAH, MALAH KAU MIKIRIN HAL KAYAK GITU, GARCIA?!!!!".


"Ya elah, tuh pasangan norak amet....... Pakek sok ngadain pernikahan di atas jembatan segala...... Kelihatan banget kalau mereka kurang baget".


"ELU NGAK USAH IKUT-IKUTAN FIRA!!!!!...... Anjir elu semua.... Apa elu orang ngajakin gua buat berantem disini, huh?".


Ritzia yang sudah tidak tahan dengan semua respon sarkas dan negatif dari rekan-rekan nya. Sudah bersiap untuk berkelahi dengan mereka, bahkan sampai mengeluarkan Knuckle Blade miliknya.


"Tahan emosimu, Ritzia........ Lagipula, ceritamu itu memang ngak masuk akal...... Setelah perang berakhir..... Bukan cinta yang akan tumbuh..... Tapi, dendam dan marahlah yang akan muncul".


"Karena itu, jangan sering-sering baca novel Romantis...... Nanti kau kesulitan menghadapi pedihnya realita kehidupan yang sesungguhnya".


"Anggap saja itu, kisah itu cuma sekedar dongeng pengantar tidur...... Tapi, jangan pernah memimpikan hal mustahil seperti itu...... Karena itu ngak bagus buat kesehatan mental dan kewarasan mu".


Meskipun berniat menenangkan Ritzia yang marah. Pernyataan Sylvia, Olivia dan Emilia malah membuatnya semakin naik pitam dan terus mengirim tatapan kejengkelan kearah ketiganya.


"Ma..... Sudah, sudah, Ritzia-san...... Da-daripada marah-marah terus...... Mending, makan saja coklat yang aku bawa.... Rasa manis bisa membuat mu lebih tenang".


"Kalau itu masih kurang coba makan roti madu ini..... Yang penting kau jangan sampai emosi".


"Terimakasih, Fia, Dia..... Cuma kalian berdua saja, satu-satunya yang menjadi Oasis, saat aku berada di gurun pasir".


Tanpa ragu, Ritzia segera mengambil coklat dan roti madu yang di tawarkan oleh Lafia dan Claudia lalu memakan keduanya. Terbukti, rasa manis coklat dan roti madu itu berhasil membuatnya kembali tenang.


Setelah itu, Dylan tiba-tiba mulai berdiri dan berjalan pergi. Melihat hal itu, Filaret segera bertanya hendak kemana Kakaknya.


"Nii-san..... Kau mau kemana?".


"Hm..... Aku hanya ingin cari udara segar saja".


Dylan menyampaikan niatannya kepada Filaret apa tujuannya. Saat berada di belakang kereta sambil menikmati semilir angin dan memikirkan sesuatu.


Dari arah belakang, muncul beberapa orang yang dengan kasar memanggil namanya.


"Hei, kau...... Mayat hidup yang berani mendekati putri Vanessa".


Merasa ada yang memanggilnya, Dylan segera menoleh kearah belakang. Hanya untuk menemukan beberapa siswa Laki-laki yang sedang menatapnya.


"Sek bentar..... Kalian tadi memanggilku?..... Emangnya ada urusan apa?".


"Dengar ya, bangsawan miskin perbatasan...... Tidak peduli sebanyak apa pencapaian yang kau punya...... Kau itu bahkan tidak pantas mendapatkan perhatian Putri Vanessa".


"Huh?" (Buset ini, orang gila ngomong apaan coba?).


Dylan yang tidak mengerti hanya bisa menaikan salah satu alisnya dengan perkataan dari siswa yang tiba-tiba mencoba untuk memprovokasi nya.


"Ayo kita singkirkan dia".


"Bukan cuma dia..... Tapi, seluruh siswa kelas 1-S yang dia pimpin?".


(Lah, tambah ngak jelas omongan).


"Sudahlah..... Kalian tidak usah terlalu emosional seperti itu".


"Tuan Sylvester".


Saat kedua orang siswa itu hendak menyerang Dylan, tiba-tiba seorang pria tampan berambut putih tulang segera menghentikan keduanya. Setelah itu dengan tatapan yang sangat sombong dan meremehkan, dia menatap kearah Dylan yang kebingungan.


"Kau pasti kebingungan, kan?...... Kalau begitu, biar aku perkenalkan diriku...... Namaku, Sylvester Lakes Doucent...... Putra dari Duke Doucent".


Meski tersenyum lembut dan memperkenalkan dirinyalah dengan sopan, Dylan tahu bahwa ada sikap dan rasa sombong dibalik perkenalan dirinya.


"Dylan-kun...... Mungkin aku kalah dengan mu saat tes ujian masuk....... Karena itulah aku tidak bisa masuk ke Kelas S dan malah masuk ke Kelas A....... Tapi, untuk yang kali ini aku tidak akan kalah darimu lagi".


"Hou......".


Dylan dengan santainya merespon ucapan Sylvester barusan. Tapi, melihat sikap Dylan yang seperti itu malah membuat para siswa yang menjadi pengikut nya malah marah.


"Hei, apa-apaan dengan sikapmu itu?".


"Tunjukkan rasa hormat mu, dasar sampah".


"Sebenarnya apa tujuanmu?".


"Kalian semua tolong tenanglah".


Sylvester segera mencoba untuk menghentikan para pengikutnya yang marah atas sikap acuh Dylan.


"Tuan Sylvester.....".


"Yah, aku tahu kalian jengkel...... Karena meski dia putra seorang Pahlawan, dia tidak bersikap yang selayaknya putra Pahlawan....... Sebaiknya kita kembali saja, karena kita hanya punya beberapa jam lagi untuk istirahat'.


Dengan saran Sylvester para pengikut nya segera berjalan kembali memasuki gerbong hendak meninggalkan Dylan. Tapi sebelum itu, Sylvester yang tertinggal dibelakang kembali melirik kearah Dylan dan berbicara.


"Ah, satu hal lagi....... Hanya karena kau putra Pahlawan, bukan berarti kau bisa mendekati putri Vanessa...... Karena dilihat dari manapun, bangsawan perbatasan yang miskin tidak pantas bersanding dengan Putri Kerajaan....... Yah, walaupun aku tidak peduli dengan kalian..... Setidaknya, kau tidak depresi saat menyadari fakta ini".


Setelah mengatakan itu, Sylvester segera meninggalkan Dylan sendirian. Ketika sosok Sylvester menghilang masuk kedalam gerbong. Dylan segera menghembuskan nafas panjang.


"Ku kira mereka siapa?...... Ternyata cuma para penjilat nya Vanessa toh...... Bodoh amet dah...... Dari pada pusing mikirin mereka...... Lebih baik, mencari tahu apa "tujuannya" Frey-sensei yang sebenarnya sampa memaksa kami semua untuk ikut".


Rupanya, diam-diam Dylan sudah menaruh kecurigaan kepada wali kelasnya sendiri. Dia juga punya firasat bahwa kegiatan kedisiplinan militer ini bukan hanya sekedar latihan dan liburan saja.


Melainkan, ada "sesuatu" yang lain di balik ini semua. Dylan penasaran akan "sesuatu" ini dan dia juga Ingan mencari tahu "alasan" kenapaa kelas 1-S.

__ADS_1


__ADS_2