
Beberapa hari kemudian.
Setiap kelas di Akademi Estonia sudah mulai melakukan kegiatan belajar-mengajar secara menyeluruh.
Dimulai dari pelajaran teori, praktek dan bahkan olah raga seperti sekolah pada umumnya. Yang sedikit membedakan, adalah adanya kelas tari, musik, etiket, dan kelas untuk mengadakan pesta teh.
Hal ini bisa terjadi, mengingat bahwa semua siswa yang ada di Akademi Estonia adalah kaum bangsawan. Jadi, pelajaran itu sangat wajar bila ada.
Namun tentu saja, Leon selaku kepala Akademi juga mewajibkan semua siswa tak terkecuali untuk ikut dalam kegiatan kedisiplinan militer dengan tujuan untuk mengingatkan tanggung jawab mereka sebagai Bangsawan.
Tapi, tetap saja.
Ada beberapa bangsawan yang mengeluh dan protes dengan kegiatan kedisiplinan militer ini. Karena menurut mereka, kegiatan ini hanya menyita waktu dan buang-buang tenaga saja.
Bahkan ada beberapa siswa yang menyogok beberapa guru untuk membebaskan mereka dari kedisiplinan militer yang diadakan.
Yah, semua yang dimaksud di atas itu adalah kelas lain. Sementara Kelas 1-S.
SILAHKAN BELAJAR MANDIRI.
Kalimat itu yang tertulis di papan tulis Kelas 1-S. Karena saat ini, wali kelas mereka Frey-sensei sedang tertidur pulas sambil menaruh kakinya di atas meja.
Pemandangan ini harus dilihat oleh Dylan dan yang lainnya sejak Frey menyatakan diri sebagai wali kelas mereka.
"Apa-apaan ini?.... Sudah hampir 4 hari.... Kita hanya melihatnya tidur seperti itu".
"Terus gimana pelajarannya?".
"Apa kayak gini terus itu ngak apa-apa?".
"Dia itu sebenarnya niat ngak, sih... Jadi wali kelas kita?".
Awin, Ritzia, Sylvia dan Ornest mengeluh di dalam hati melihat kelakuan Frey yang terkesan cuek dengan mereka.
Tak berselang lama. Frey tiba-tiba terbangun. Sambil menyeka air liurnya yang keluar dan memperbaiki postur duduknya. Dia menatap kearah para Dylan dan yang lainnya.
"Oh, ya.... Apa kalian tahu, akhir-akhir ini ada sebuah insiden yang sepertinya melibatkan siswa tahun pertama Akademi ini".
Perkataan Frey sukses membuat semuanya menunjukkan ekspresi pemasaran di wajah mereka. Melihat hal itu, Frey kembali berbicara.
"Kalian tahu, kan?.... 2 blok dari Akademi Estonia ini.... Ada sebuah tempat pemandian umum".
Semuanya mengangguk sebagai tanda kalau mereka tahu.
"Kami dapat laporan dari tuan yang mengelola tempat itu.... Bahwa beberapa hari belakangan ini, ada seorang siswa Akademi yang ketahuan melakukan pengintipan di bagian pemandian khusus wanita hampir tiap malamnya..... Squad Ksatria sudah dikerahkan.... Namun, orang itu berhasil lolos..... Makanya, Squad Ksatria meminta bantuan tambahan orang dari Akademi, untuk membantu mereka..... Alex dan para ksatria sudah mengawasi tempat itu setiap malam..... Tapi, si pelaku selalu saja bisa kabur dari mereka.... Yah, terlepas dari para ksatria.... Aku cukup kagum dengan bocah itu yang bisa mengelabui, Alex".
Kemudian, Frey menunjukkan ekspresi penuh belas kasihan.
"Jujur aku sangat khawatir dengan kondisi kesehatan Alex.... Sepertinya stres di rasakan Alex akhir-akhir ini menumpuk..... Dan kalau sudah parah..... Dia bisa menghabiskan 50 porsi Pai daging seorang diri..... Sebagai temannya, aku khawatir berat badannya akan bertambah".
Saat ini, Alex sedang berada di kantin sekolah sambil menyuguhkan banyak Pai daging untuk melampiaskan rasa frustasinya.
Lalu, Frey tersenyum kepada para siswa dan kembali berbicara.
"Karena itulah, aku ingin minta bantuan kalian".
(-----------------)
Di taman Akademi pada malam hari.
Saat ini, Arnold dan Garcia sedang duduk bersama di taman untuk membahas soal permintaan Frey-sensei.
"Singkatnya, Frey-sensei.... Ingin kita membantu menangkap si pelaku ini..... Jika kita berhasil maka Sensei akan memberikan kita masing-masing 5 bintang..... Dan untuk pelaku akan dikenakan hukuman "tanggung jawab bersama", ya..... Tapi, apa maksudnya?".
Garcia tidak mengerti apa yang di maksud "tanggung jawab bersama" memutuskan untuk bertanya kepada Arnold yang ada di depannya.
"Yah, seperti yang dikatakan Frey-sensei.... Kalau pelakunya berhasil ditangkap.... Akan ada hukuman bagi para siswa yang sekelas dengan si pelaku itu sebagai bentuk tanggung jawab bersama..... Tapi, itu akan terjadi jika para ksatria dan Alex-sensei yang menangkapnya terlebih dahulu".
"Hou..... Dengan kata lain, kita harus menangkap si pelaku terlebih dahulu dari mereka... Agar kita terhindar dari tanggung jawab bersama".
"Yap, benar sekali".
Garcia menjadi paham setelah mendengar penjelasan dari Arnold. Tak berselang lama, Garcia berdiri dari duduknya dan hendak melangkah pergi.
Menyadari hal itu, Arnold yang penasaran segera bertanya.
"Woi, Garcia.... Kau mau kemana?".
"Kemana lagi? Yah, melakukan rutinitas harian ku.... Mengintip cewek mandi".
"Oh, oke.... Hati-hati ketahuan, ya".
"Beres, bos".
Garcia segera pergi meninggalkan Arnold yang masih duduk dan fokus dengan buku yang dia baca.
Tak berselang lama. Arnold tiba-tiba mulai merasa ada sesuatu yang janggal dari apa yang di katakan Garcia.
"......... Sek, bentar..... Tadi dia ngomong apa?".
"IYA BENAR!!! AKULAH PELAKUNYA!!!".
"Apa?".
Garcia segera kembali dan berteriak dengan lantang, mengaku bahwa dialah pelakunya. Hal itu tentu saja, membuat Arnold sampai terkejut.
"Coba kau pikir, Al..... Apa mungkin bagi kita atau orang lain untuk menangkap pelakunya..... Yang bahkan tidak bisa ditangkap oleh para ksatria dan Alex-sensei".
Garcia mendekat ke arah Arnold dan menyodorkan kedua tangannya seolah-olah meminta untuk di borgol.
"Jika ada jalan keluar.... Maka, jalan keluarnya adalah.... Melakukan pengorbanan".
"APA MAKSUDMU?!!!
Arnold yang panik meminta penjelasan dari apa yang Garcia katanya. Dan sambil menunjukkan ekspresi sedih Garcia kembali berbicara.
"Ya, seperti yang aku katakan..... Aku akan mengorbankan diriku untuk kalian semua.... Aku akan mengaku sebagai pelakunya dan membiarkan diriku ditangkap oleh kalian..... Jadi, kemari lah dan tangkap aku, Al...... Dengan pengorbanan ku ini..... Kita semua siswa kelas 1-S akan terhindar dari tanggung jawab bersama".
Sambil meneteskan air mata, Garcia memohon kepada Arnold agar menangkap dan menyerahkannya kepada Alex-sensei.
"KAU INI NGOMONG APA?!!! MANA MUNGKIN AKU AKAN MEMBIARKAN MU BERKORBAN DEMI KITA SEMUA!!!! LAGIAN, MASIH ADA KEMUNGKINAN PELAKUNYA SISWA DARI KELAS LAINNYA!!!!!".
"MEMANGNYA ADA JAMINAN KALAU PELAKUNYA BERASAL DARI KELAS LAIN?!!!...... Tidak usah banyak bicara lagi, Al...... Cepat borgol dan tangkap aku sekarang!!!".
"TUNGGU!!!!! TETAP SAJA AKU TIDAK BISA MEMBIARKANNYA!!!".
"PENGORBANAN ITU DIPERLUKAN, AL".
"KALAU BEGITU BIAR AKU SAJA YANG MENJADI PELAKUNYA!!!".
"APA?!!!".
__ADS_1
Garcia seketika terkejut bukan main saat Arnold malah mengajukan diri sebagai pelakunya sekaligus mengganti dirinya untuk berkorban demi yang lain.
"APA.... APA KAU YAKIN DENGAN APA YANG KAU KATAKAN, AL?!!!".
"IYA!!! AKU YAKIN SEKALI!!!".
Garcia mencoba memastikan kesiapan Arnold untuk menggantikan dirinya untuk berkorban. Dan Arnold dengan tegas menyatakan kesanggupan nya.
Namun, Garcia memutuskan untuk memastikannya kembali.
"BENARKAH!!! BENARKAH, KAU MEMANG PELAKUNYA?".
"IYA!!! AKULAH PELAKUNYA!!!".
"APA KAU!!!!.... SI TUKANG INTIP ITU?!!!".
"YA!!!! AKU!!! PELAKUNYA!!!! AKULAH SI TUKANG INTIP ITU!!!".
"Oh, jadi kau pelakunya, ya...... Bagus, aku tidak harus repot-repot mencari mu".
Dengan berlinang air mata Arnold mengaku bahwa dia adalah pelaku dari insiden pengintipan di pemandian umum.
Tanpa dia sadari ada Alex yang sudah berdiri dibelakang memancarkan aura menakutkan sambil melemaskan tinju nya.
"UWAAAAAA.....!!!!!".
Teriakan Arnold seketika menggema di seluruh lingkungan Akademi, di sisi lain Garcia malah melarikan diri sambil tertawa terbahak-bahak. Meninggalkan Arnold yang sedang dihajar habis-habisan oleh Alex-sensei.
Terungkaplah fakta.
Bahwa sebenarnya, Garcia lah pelaku di balik insiden pengintipan di pemandian umum. Dan dia sengaja membuat rencana agar Arnold bisa di korbankan.
Semua ini hanya demi keselamatan dirinya sendiri.
(----------------)
(Yosh, rencana ku berhasil.... Orang yang paling merepotkan sekarang sudah tidak ada).
Garcia berlari meninggalkan Akademi menuju ke tempat pemandian yang dia tuju untuk melancarkan aksinya.
(Tapi, sekarang aku harus bagaimana?.... Tidak seperti biasanya..... Kurasa pemilik pemandian itu, bukan hanya meminta bantuan Alex-sensei saja.... Bahkan, Olga-sensei dan Liara-sensei juga ikut berjaga di dekat pemandian perempuan.... Bagaimana caranya aku bisa mengintip----).
Garcia berhenti berlari dan berdiri sejenak. Kemudian, dia berhasil mendapatkan sebuah ide yang luar biasa.
"Hehe...... Kapan, aku bisa berhenti jadi orang licik, ya?".
Garcia kembali berlari menuju ketempat pemandian itu, tapi kali ini dengan rencana licik di kepalanya.
Dan benar saja.
Setelah sampai, Garcia menuju pintu belakang pemandian tersebut, melirik kiri dan kanan untuk melihat situasi.
Merasa aman. Dia segera menyelinap masuk dengan perlahan-lahan dengan langkah sehalus mungkin agar tidak di dengar oleh pemilik dan staf yang bekerja di sana.
Perlahan tapi pasti, akhirnya Garcia berhasil masuk tanpa ketahuan. Dan sekarang berdiri di depan 2 bilik pintu kamar mandi.
Yang kiri bertuliskan untuk Wanita dan di sebelah kanan bertuliskan Laki-laki. Merasa rencananya, berhasil Garcia tidak bisa menyembunyikan senyum bahagianya dan bahkan meneteskan air mata.
Awalnya Garcia berpikir untuk mengintip para wanita lewat jendela saja. Tapi, saat dia sadar bahwa Olga-sensei dan Liara-sensei berjaga diluar. Dia merubah rencananya untuk menyelinap masuk kedalam bilik kamar mandi wanita.
Meski tindakan sangat beresiko, Garcia yakin bahwa ini adalah satu-satunya cara untuk memuaskan hobi mesumnya.
Dengan terharu, Garcia membayangkan dirinya yang disambut hangat oleh para wanita yang mandi disana. Bahkan sampai mereka sampai ikut mengerubungi Garcia dan mandi bersama dengan bahagia dan penuh sedagurau.
Selesai dengan khayalan nya.
Garcia dengan penuh percaya diri memasuki bilik itu sambil terus bergumam dalam hati "Bahkan Iblis membukakan jalan untuk ku".
Dia mulai melepas semua pakaian nya, menaruhnya di loker yang sudah di sediakan. Lalu, berjalan masuk ke dalam dan langsung berendam di dalam kolam pemandian.
Setelah beberapa saat, Garcia mulai menyadari ada sesuatu yang aneh. Tidak ada seorangpun yang menyapanya, bahkan saat dia masuk tidak terjadi kehebohan apapun.
Kemudian Garcia mencoba mengecek situasi di sekitarnya yang dari tadi dia tidak memperhatikan. Sampai akhirnya dia tiba-tiba muntah begitu saja.
Rupanya, yang ada di sekitarnya bukanlah para wanita cantik. Melainkan para pria tua yang berendam bersama dengan dirinya.
"LHA!!!! INI KAMAR MANDI LAKI-LAKI, TOH?!!!!!".
"Pelakunya sudah diamankan".
Seketika sekelompok staf wanita di bantu Filaret, Ritzia, Olivia, Emilia dan bahkan Sylvia segera masuk dan langsung menghajar habis-habisan Garcia sampai babak belur dengan pemukulan kasti.
Di saat para wanita sedang menghajar Garcia. Dari atap bangunan di sebelah pemandian ada 2 orang yang menonton dari sana.
"Iya kerja bagus".
Rupanya, kedua orang itu adalah Awin dan Ornest.
"Wow... Aku tidak menyangka rencana mu yang berkerja sama dengan pemilik dan staf pemandian untuk menangkap Garcia, benar-benar sukses besar, ya Awin...... Tapi, bagaimana kau tahu kalau Garcia pelakunya?".
Ternyata, Awin adalah dalang di balik ini semua. Dia sengaja berkerja sama dengan pemilik pemandian dalam menjebak Garcia. Ornest yang penasaran segera bertanya kepada Awin.
"Sejak awal aku memang sudah curiga dengan si Garcia, ditambah lagi gerak-gerik memang aneh akhir-akhir ini".
"Heeee...".
(--------------------)
Kembali ke Filaret, Sylvia, Ritzia, Oliva dan Emilia beserta apa staf wanita yang sudah puas menghajar Garcia habis-habisan dan bahkan mereka tidak ragu untuk mengikatnya.
"Dengan begini masalah sudah selesai.... Awin sisanya kami serahkan padamu".
"Kerja bagus semuanya,........ Sekarang tinggal kita kembalikan papan namanya supaya tidak ada pelanggan yang salah masuk".
Sylvia memberitahu Awin lewat protas bahwa misi penangkapan Garcia sudah selesai. Dan sekarang Awin berencana mengembalikan papan nama yang sengaja mereka tukar.
"Etto.... Awin-kun?".
"Hm?".
Tiba-tiba, Ornest dengan nada sedikit ragu-ragu memanggil Awin. Menyadari hal itu, Awin menaikkan salah satu alisnya.
"Kayaknya.... Kita sudah terlambat, deh".
Awin melihat kearah yang ditunjukkan oleh Ornest dan seketika dia terkejut bukan main.
"Ah".
Karena apa yang dia lihat adalah Dylan sedang berdiri di depan bilik mandi yang bertuliskan Laki-laki tapi, aslinya itu adalah kamar bilik mandi untuk wanita.
"Pemandian tempat terbuka, ya.... Sudah lama aku tidak merasakan Onsen yang sesungguhnya".
__ADS_1
Tanpa pikir panjang lagi, dan sambil membaca buku yang dia baca Dylan melangkah masuk kedalam.
Di dalam Dylan yang masih fokus pada bukunya mulai membuka semua bajunya tanpa memperdulikan pandangan para wanita yang ada di sana.
Selesai buka baju, Dylan segera melangkah menuju kolam pemandian tanpa memperdulikan pandangan dan suasana disekitar nya sambil terus membaca bukunya.
Bahkan saat dia berendam, dia masih tidak peduli dengan sekitarnya dan masih membaca bukunya, walau ada 2 orang wanita telanjang yang sedang berendam di sampingnya.
"Lho, Dylan-san kenapa anda ada disini?".
Dylan yang merasa namanya dipanggil segera mengangkat wajahnya untuk menemukan sosok wanita yang dia kenal.
Dan dia adalah Helena Fallen, pelayan pribadi Claudia yang saat ini sedang telanjang di depan Dylan. Menyadari Dylan melihatnya, dengan panik Helena segera menutup tubuhnya dengan kedua tangannya.
"Helena-san, kenapa kau malah telanjang disini?".
"I-itu harusnya pertanyaan ku..... Ke-kenapa Dylan-san ada si bilik mandi wanita?".
"Huh?".
Butuh beberapa detik bagi Dylan untuk mencerna apa yang ada di hadapannya dan pertanyaan Helena. Sebelum akhirnya, Dylan mulai sadar akan sekelilingnya bahwa sekarang dia memang berada di bilik mandi khusus wanita.
"Begitu ya..... Pantas saja, aku dari tadi mencium aroma sabun buah stoberi yang sangat menyengat...... Ternyata, ini kamar mandi wanita, toh".
Menyadari hal itu, Dylan segera menutup bukunya dan keluar dari kolam itu. Dia berusaha setenang mukim agar tidak menimbulkan kesalahpahaman dan kepanikan.
Namun, yang tidak dia sadari. Semua wanita di ruangan itu termasuk Helena sedang fokus melihat bagian "bawah" Dylan yang tegak dan tanpa tertutup apapun dengan pipi menjadi merah merona.
(Excalibur).
Itu yang digunakkan para wanita disana setelah melihat bagian "bawah" Dylan.
Mengabaikan semua tatapan itu, Dylan melangkah pergi dan segera mengenakan semua pakaiannya.
Selesai berpakaian, sebelum pergi Dylan kembali membalikkan badannya dan seketika dia membungkuk kepada semua wanita yang ada di sana.
"Maaf atas semua tindakan kurang ajar dan tidak terpuji yang barusan aku lakukan.... Untuk kedepannya aku akan terima hukuman apapun dari kalian...... Saya permisi dulu".
Dylan kembali menegakkan badannya dan berbalik berjalan keluar dari bilik itu. Meninggalkan para wanita yang menatapnya dari belakangnya.
POUFFF!!!.
Tak berselang lama, Dylan segera terjatuh pingsan dengan wajahnya yang memerah dan kepalanya mengeluarkan uap.
Melihat itu para wanita dengan panik langsung mengerubungi Dylan, bukan karena marah. Melainkan mereka khawatir dengan kondisi Dylan yang tiba-tiba pingsan.
"Tuan, apakah anda tidak apa-apa?".
"Seseorang cepat bantu kami".
"Bawakan kompres sekarang....... Wajahnya merah dan suhu badannya sangat tinggi".
Kepanikan para wanita itu segera didengar oleh Filaret dan yang lainnya, sehingga mereka bergegas melihat situasi nya.
"Woi, Dylan bertahanlah".
"Lho? Nii-san kok kau bisa disini?".
"Kenapa dengan dia".
Ritzia, Filaret dan Emilia segera mendekat dan memeriksa kondisi Dylan yang pingsan begitu juga dengan Awin dan Ornest yang segera bergegas ke sana.
"Sialan, aku kelupaan ngasih tau dia soal rencana kita".
Awin menyesali tindakan nya yang lupa untuk memberi tahu Dylan rencana dalam menjebak Garcia.
Sementara itu, Garcia yang melihat sebuah peluang diam-diam mencoba melarikan diri.
Namun, naas baginya.
Karena baru saja berbelok di segera ditarik oleh Alex yang sedang membopong Arnold yang pingsan di pundaknya, sambil mengeluarkan aura mengintimidasi.
Melihat Dylan yang terkapar pingsan, tanpa basa-basi di langsung menginjak kepalanya dan menatap kearah semua orang terutama para Awin dan yang lainnya.
"Pelakunya tertangkap.... Ini benar-benar tangkapan besar... Siapa sangka pelakunya berjumlah tiga orang.... Dan semua nya anggota kelas 1-S ..... Kalian paham kan apa artinya?".
"Tapi, Alex-sensei....".
"DIAM!!!".
Ornest yang mencoba bicara segera di bentak oleh Alex-sensei yang sudah dipenuhi oleh amarah yang bergejolak.
"BESOK PAGI, KALIAN PARA SISWA KELAS 1-S AKAN BERLARI DARI PAGI SAMPAI SIANG, MENGELILINGI LAPANGAN SAMBIL MEMBAWA BEBAN 30 KG DI PUNGGUNG KALIAN SEPERTI, Hamster di dalam bola".
(----------------)
Begitu lah, hukuman kedisiplinan militer yang diterima oleh semua siswa Kelas 1-S di mulai.
"AYO!!!! KASIH TENAGA PADA KAKI KALIAN!!! JANGAN LAMBAT-LAMBAT!!!".
Sejak pagi, mereka sudah berlari mengelilingi lapangan dengan membawa beban 30 kg dipunggung mereka sambil di pantau oleh Alex.
"Ini semua salahmu, bajingan".
"Kalau bukan karena kau.... Kita ngak bakal kayak gini".
"Nyesel gua udah simpati sama elu, Dasar Laknat".
Olivia, Emilia dan Arnold yang jengkel menghajar Garcia yang menjadi penyebab alasan kenapa mereka di hukum.
Sementara itu, Ritzia dan Sylvia mulai merasakan rasa capek yang luar biasa. Mengingat hal ini tidak pernah mereka alami sebagai seorang Putri.
Di sisi lain.
Dylan, Awin dan Filaret berlari paling depan.
"Maaf, ya Dylan..... Aku tidak memberi tahu soal rencana kami semua".
"Benar Nii-san, kami benar-benar minta maaf".
Awin dan Filaret berusaha meminta maaf kepada Dylan yang tidak mereka libatkan dalam rencana menjebak Garcia.
"Santai saja...... Aku tidak marah".
Awin dan Filaret merasa lega mendengarnya Dylan tidak mempermasalahkan apa yang dia alami.
"Tapi,..... Di bandingkan melihat Frey-sensei tertidur sepanjang hari.... Ini jauh lebih baik, kan?".
Keduanya mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan Dylan. Menurut mereka hukuman ini lebih baik daripada melihat wali kelas mereka tertidur seharian.
"Acooh!!!..... Kok kayaknya ada yang ngomongin aku, ya?".
__ADS_1