
Meninggalkan Awin berhadapan dengan Morgen, Dylan melanjutkan perjalanannya menuju Lap utama berada sekaligus tempat dimana Claudia di tahan.
Tapi, perjalannya kembali terhalang oleh beberapa ksatria yang berusaha mencegahnya.
Mereka tetap berusaha mencegah Dylan walau mereka sebenarnya ketakutan, mengingat mereka melihat Dylan dengan tanpa ragu menebas setiap ksatria yang berusaha mencegahnya.
"Hiii..... Selamatkan, aku.....".
Suara tebasan pedang Dylan menggema di lorong setelah membelah tubuh beberapa ksatria yang ada di depannya.
Setelah mengalahkan para ksatria yang menghalanginya, tiba-tiba Dylan di kejutkan oleh sebuah ledakan yang berasal dari kedua sisi lorong.
Menyadari itu, Dylan reflek melompat mundur, dan ketika debu-debu mulai hilang tampak 2 sosok manusia setengah binatang yang mencoba menghalangi nya.
Yang satu adalah Chimera yang mirip babi hutan dan yang satu lagi Chimera yang mirip gorila. Melihat Dylan kedua nya langsung tertawa seolah-olah meremehkan.
"Kyahahaha...... Dasar bocah nakal, berani juga kau ikut campur kedalam urusan kami!!!!".
"Kyahahaha...... Sangat di sayangkan, bocah sepertimu harus berakhir disi-----".
"Bacot".
Keduanya seketika terdiam ketakutan dan meneteskan keringat dingin. Alasannya adalah keduanya tiba-tiba merasakan sebuah aura teror yang menakutkan dari Dylan yang melihat mereka dengan matanya yang berwarna merah.
Bukan itu saja, entah bagaimana kedua bisa melihat sosok bayangan gelap yang muncul di belakang Dylan yang mirip dengan kepala seekor Naga.
Pffffff!!!
""Eh?"".
Lalu terdengar suara darah yang keluar deras, dan setelah di perhatikan sumber suara dan darah itu berasal dari kedua orang tadi yang tanpa sadar leher mereka sudah di gorok oleh Dylan.
Menyadari diri mereka masing-masing sudah tertebas di titik vital, kedua badan orang itu langsung terjatuh ke lantai dan tidak bangun lagi.
"Asal kalian tahu..... Aku lagi ngak ada waktu buat meladeni kalian".
Dengan nada dingin, Dylan melanjutkan perjalanan meninggalkan kedua mayat orang itu begitu saja.
Berlari cukup lama, Dylan tiba-tiba menghentikan langkahnya dan mulai melihat-lihat sekitarnya. Kemudian di menunduk dan menempelkan tangan kanannya kebawah dan memejamkan kedua matanya.
(Jalan menuju Lap bawah tanah ini mirip dengan labirin.... Akan memakan banyak waktu, untuk mengecek setiap ruangan satu persatu.... Kalau begini, sepertinya aku harus gunakan sihir).
"Visual Activision : Search".
Dylan merapalkan sebuah sihir pencarian yang visualisasi nya akan langsung tergambar di dalam otak nya.
Sesuai dengan perkataannya, jalan menuju Lap utama itu sangat berliku-liku dan bercabang seperti labirin. Karena tidak mau membuang waktu, Dylan menggunakan sihir non atribut milikinya untuk melacak keberadaan lokasi Lap utama.
Memakan sedikit waktu, akhirnya Dylan berhasil menemukan lokasi Lap itu bahkan dia juga menemukan rute tercepat menuju ke sana.
"Ketemu".
Tanpa ragu, Dylan segera berdiri dan berlari menuju rute yang sudah di hafal dalam pikirannya.
Dan benar saja.
Dylan saat ini berhasil berada di depan pintu besar yang dia yakini adalah pintu masuk Lap utama, lalu dia mulai menempelkan tangan di pintu itu dan segera merapalkan sihirnya.
"Ultra Impact".
BOOM.
Sebuah ledakan besar langsung merusak dan menghancurkan pintu besar itu, dan Dylan pun melangkah masuk kedalam.
Setelah masuk kedalam dan melihat-lihat sekitarnya, Dylan akhirnya menemukan Claudia yang saat ini sedang diikat di tiang mirip salib.
"CLAUDIA!!!".
Suara teriakan Dylan yang memanggil namanya, membuat Claudia yang sempat tak sadarkan diri. Membuka matanya, dan menoleh kearah Dylan.
"Dy-lan-san".
Dengan nada tertatih Claudia memanggil nama Dylan, meski begitu tampak raut wajah senang ketika dia melihat kembali sosok penyelamatnya.
"Claudia, bertahanlah sebentar aku akan cari cara untuk----".
"DYLAN-SAN!!!! BELAKANG MU!!!".
Berkat Claudia yang memotong ucapan dan memperingatkan nya, Dylan berhasil menghindar dari beberapa serangan yang datang kepadanya.
(Sialan, siapa mereka? Bikin kaget aja).
Setelah itu, Dylan melihat ada 3 sosok orang berjubah hitam yang tadi menyerangnya. Belum bisa bernafas lega, tiba-tiba muncul 3 sosok berjubah hitam lain yang juga menyerang nya.
Meski begitu, Dylan berhasil menghindari serangan itu untuk kedua kalinya. Menyadari serangan mereka gagal ke 6 sosok itu segera melihat kearah Dylan bersamaan.
Tak berselang lama, dari bagian tengah muncul sosok ksatria lengkap dengan baju zirah lengkap berwarna hitam.
Dylan yang melihat itu, sempat menaikkan alisnya sesaat. Sambil memperbaiki posisi berdirinya Dylan mulai berbicara.
"Hou..... Awalnya, kukira cuma keenam keroco itu yang harus aku singkirkan..... Ternyata si "tokoh utama" tidak sabar untuk tampil, ya.... Yah, mau bagaimana mana lagi..... Mau 7 orang atau 70000 orang buatku itu sama saja".
(------------------)
__ADS_1
Kembali ke Awin yang sedang sibuk-sibuknya berurusan dengan Morgen yang sudah berubah menjadi Chimera berwujud seekor singa jantan.
"Hiyaaaaaa...... MATI, MATI, MATI.......!!!!!"
Suarakan teriakan Morgen yang melayangkan serangan berupa cakaran dengan kecepatan tinggi menggema di seluruh lorong.
Bukan tanpa alasan dia berteriak seperti itu, selain untuk menambah semangat bertarungnya itu juga sebagai bentuk kejengkelan karena setiap serangan yang dia lancarkan berhasil di tangkis oleh Awin dengan senjata Misery Cleaver nya.
Dan yang lebih gila lagi, setiap kali Morgen menambah kecepatan serangannya di saat itu juga Awin semakin cepat merespon dan menangkis setiap serangan yang berdatangan.
Adegan itu memakan waktu yang sangat lama, sampai akhirnya momen yang ditunggu-tunggu oleh Awin datang.
Dimana sebuah celah akhirnya terlihat. Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan di depan mata. Awin melakukan sebuah lompatan dan langsung mendaratkan sebuah tendangan yang sangat keras tepat di sisi kiri wajah Morgen.
Sangking keras dan kuatnya tendangan Awin, sanggup membuat badan besar Morgen yang 3 kali besar badan Awin terpental, melesat ke dinding dan menghancurkannya.
Melihat Morgen yang tertunduk terkapar, Awin menghembuskan nafasnya dan mulai memberi semacam komentar.
"Fiuh...... Jadi ini toh, kekuatan Chimera yang sedang kalian kembangkan dan kalian banggakan itu?...... Kalau boleh jujur, aku sebenarnya mengharap sesuatu yang bisa membuatku bilang "WOW!!!!"..... Eh, ternya cuma segini doang.... Jika cuma ini, kalian malah ngak ada bedanya sama binatang sihir pada umumnya....... Yang membedakan hanya kalian masih punya kesadaran sebagai manusia....... Itu saja".
Morgen segera berdiri dengan ekspresi yang penuh dengan amarah yang luar biasa setelah mendengar kritikan pedas yang keluar dari mulut Awin.
"Bocah tengik..... Berani-beraninya kau.... Meremehkan kekuatan ini...... Tanpa tahu apa keunggulan nya..... Baiklah kalau begitu, bersiaplah...... Kali ini, aku akan serius".
Setelah mengatakan itu, sebuah ledakan energi sihir yang sangat besar terjadi dengan Morgen menjadi pusat dari ledakan itu. Dan Awin tetap memasang wajah santai melihat kejadian di depannya.
Di dalam ledakan itu, tubuh Morgen juga ikut berubah. Dimana bulu emas singa nya menjadi berwarna merah, rambut surai nya berubah menjadi kuning dengan muncul semacam sengatan listrik, dan cakar dikedua tangannya menjadi besar dan sangat tajam.
Setelah perubahan itu, Morgen tersenyum lebar dan mulai membuka mulutnya.
"Kyahahaha...... Tidak seperti yang lainnya, ini adalah perubahan mode kedua dari wujud Chimera ku...... Dengan begini aku akan terus meyerangmu dan mencabik-cabik tubuhmu sampai aku puas".
"Apa nya yang "Mode kedua" itu, huh?.... Di mataku, kau cuma merubah warna kulit dan rambut surai mu doang.... Apa yang istimewa dari itu?".
Sambil mengorek telinga nya dengan jari kelingking, Awin tetap santai menanggapi ancaman Morgen.
Melihat sikap Awin yang tetap cuek dan santai. Membuat Morgen semakin emosi. Kemudian, dia mulai memasang posisi bertarungnya lagi.
"Begitu ya, berarti percuma saja berbicara dengan mu..... Kalau begitu bersiaplah untuk menerima.... KEMATIAN MU!!!".
Dan sekejap mata, sosok Morgen menghilang begitu saja. Awin yang melihat itu sempat membelalakkan kedua matanya.
BOOM.
Suara ledakan segera menggema di sana, dan gari balik debu yang berterbangan, muncul Awin yang melompat menjauh. Meski sempat terseret beberapa meter, Awin yang terkejut segera melihat ke titik ledakan dan mulai bergumam.
(Untung aku bisa menghindar di momen yang tepat...... Tapi apa-apaan itu? Aku tidak bisa melihat gerakannya....... Dan saat aku sadar dia sudah ada di belakangku.... Sebenarnya, apa yang terjadi?).
Di saat Awin tenggelam di dalam pikirannya, dia kembali terkejut karena dia tiba-tiba merasakan ada sesuatu di belakangnya. Berbalik ternyata, orang itu adalah Morgen yang bersiap menyerangnya. Dalam gerakan lambat Morgen mulai berbicara dengan Awin yang terkejut.
"Perhatikan baik-baik, bocah tengik..... Inilah kekuatan dari Chimera.... YANG SESUNGGUHNYA!!!!".
Morgen segera mendarat sebuah cakaran tangan kiri ke arah Awin. Sekali lagi Awin berhasil menghindar, tapi sangking kuat dan tajamnya cakaran itu. Sampai meninggalkan bekas goresan di lantai dan dinding beton.
Belum sampai di situ saja, bahkan setelahnya terjadi sebuah ledakan yang besar di ikuti oleh sengatan listrik yang menyebar kemana-mana.
Mendapati Awin yang sekali lagi berhasil menghindar, Morgen segera mengejarnya dan langsung mendaratkan berbagai serangan yang bertubi-tubi tanpa ampun sambil mengungkapkan amarahnya.
"MATI, MATI, MATI......!!!!!!".
Awin sendiri, berusaha sekuat tenaga untuk terus menghindari setiap serangan yang datang kepadanya, di dalam hati Awin menyadari terkena satu goresan saja itu akan menjadi akhir baginya.
Karena terus menerus menghindar tanpa henti, tanpa di sadari Awin dia sebenarnya sudah terpojok dan tidak bisa menghindar lagi.
Tak punya pilihan, Awin mencoba menangkis satu serangan cakar Morgen dengan menggunakan Misery Cleaver miliknya.
Berhasil menahan serangan itu, dengan sekuat tenaga Awin mendorong tangan Morgen dan membuka celah. Dimana hal itu langsung di manfaatkan Awin untuk mendaratkan sebuah tendangan lagi ke wajah Morgen.
BANG.
Suara tendangan keras Awin menggema di seluruh lorong itu. Tapi, hal yang aneh terjadi.
"Apa?".
Tidak seperti tendangan sebelumnya. Tendangan Awin yang sekarang justru tidak memberikan efek apapun kepada Morgen.
Melihat Awin yang terkejut, Morgen segera tersenyum lebar dan tanpa basa-basi segera mendaratkan sebuah pukulan tepat di perut Awin dengan sangat keras.
BUNG.
"Ugh".
Awin yang tidak punya kesempatan untuk menahan serangan itu, dengan pasrah menerima nya. Dan sangking kuatnya tinjuan Morgen, tubuh Awin langsung melesat kearah dinding, menabrak dan menghancurkannya.
Kemudian, sejumlah darah tumpah dari mulut Awin yang mendalam bahwa dia benar-benar kesakitan dengan serangan Morgen barusan.
Melihat Awin yang terduduk diam, Morgen segera tersenyum puas dan mulai berbicara.
"Woi, bocah tengik.... Kenapa? Kesakitan, ya?.... Ayolah, jangan menyerah begitu saja...... Ini masih masih pemanasan.... Bagian ******* masih belum".
Dengan nada dan intonasi yang mengejek Morgen menantang Awin untuk bangkit karena menurutnya pertarungan ini belumlah selesai.
Sementara itu, Awin segera berdiri dan sambil menyeka darah di mulutnya dia mulai bergumam dalam pikirannya dan mulai paham apa yang terjadi.
__ADS_1
(Aku paham sekarang..... Perubahan itu bukan sekedar warna saja..... Nyatanya, warna merah pada bulu badannya, kuning pada rambut surai dan ujung ekor nya adalah simbol warna dari 2 tipe sihir elemen yang dia gunakan, yaitu Api dan Petir...... Dia memperkuat fisiknya dengan sihir Api..... Meningkatkan daya serang pada cakarnya dengan sihir Petir..... Dan untuk kecepatan nya..... Dia menggunakan sihir angin..... Wajar tendangan ku itu tidak berefek apapun padanya.... Di tambah aku merasakan sengatan listrik saat tinjunya mendarat di badanku).
Awin mengambil kesimpulan, bahwa Morgen menggunakan 3 elemen sihir sekaligus dalam wujud Chimera mode keduanya.
Dan itu berhasil dia buktikan dengan melihat kecepatan, serangan dan daya tahan Morgen yang berubah drastis dari pada sebelumnya.
"Yah, yah, harus aku akui itu serangan yang menyakitkan..... Tapi, satu hal yang harus kau tahu..... Kekuatan seperti itu, masih belum cukup untuk benar-benar membunuh ku".
Mendengar jawaban Awin, Morgen seketika langsung tertawa terbahak-bahak.
"Kyahahahahaha........ Sombong itu ada batasnya, bocah tengik..... Dan usahamu percuma saja..... Gertakan mu itu tidak akan menggoyahkan ku".
Setelah tertawa dan mengatakan itu, Morgen sempat berhenti sejenak dan perlahan-lahan mengatur kembali nafasnya, lalu kembali berbicara.
"Sekarang, ayo kita selesaikan ini..... Aku harus cepat-cepat membunuh mu, lalu mengejar bocah berambut hitam itu, sebelum dia berhasil mencapai Lap".
"Heeee..... Percaya diri juga kau, ya.... Tapi, maaf saja..... Sekalipun, kau berhasil membunuhku.... Yah, aku ragu kau benar-benar bisa membunuh rekan ku itu".
Morgen langsung menatap dengan penuh keheranan setelah Awin secara tidak langsung menyatakan keraguannya soal Morgen yang mengira bisa membunuh Dylan.
"Setelah menerima serangan itu, kau masih saja meremehkan ku..... Biar aku beri tahu kau kekuatan ini-----".
"Aku tidak peduli akan kekuatan Chimera mu itu".
"Eh?".
Awin yang memotong perkataan Morgen segera menjelaskan pernyataan nya.
"Maksud ku itu..... Sekalipun kau menggunakan mode terkuat mu..... Kau tetap tidak akan sanggup untuk mengalahkan nya...... Lagipula, tidak ada orang lain bahkan seluruh siswa kelas 1-S Akademi Estonia termasuk Filaret sendiri..... Yang lebih tahu soal kekuatan Dylan dari pada aku..... Itu karena......".
Di saat itulah, Awin menjelaskan kepada Morgen orang seperti apa Dylan itu. Untuk sesaat Morgen juga ikut membelalakkan kedua matanya setelah dia mendengarkan keseluruhan cerita Awin.
(----------------------)
Kembali ke suasana di Lap utama.
Saat ini, Dylan yang ingin membebaskan Claudia di hadang oleh 6 orang misterius bertudung dan seorang ksatria berzira lengkap berwarna hitam.
"Jadi, siapa kalian?..... Dan untuk apa kalian ada di sini?".
Dylan bertanya apa tujuan dari ke tujuh orang itu yang sebenarnya. Tapi tidak ada respon jawaban sama sekali, ketujuh orang itu memilih untuk bungkam sambil terus melihat kearahnya.
Terjadi keheningan diantara mereka dalam kurun waktu yang agak lama karena mereka saling menatap satu sama lain.
Lalu, Dylan mulai memejamkan kedua matanya dan menghembuskan nafas panjang dan kembali menatap ke tujuh orang itu dengan tatapan santai.
"Tidak ada jawaban ya...... Terserahlah toh, tanpa perlu jawaban....... Aku juga sudah tahu siapa kalian semua".
Perkataan Dylan barusan, bukan hanya membuat ke tujuh orang itu terkejut. Bahkan Claudia juga ikut terkejut di buatnya.
"Jadi, apa kau tidak pengap menggunakan helm itu di bawah sini?...... Siswa kelas 1-A Akademi Estonia, Sylvester Lakes Doucent dan beserta pengikutnya".
"Eh?!".
Claudia seketika terkejut setelah nama Sylvester rekan satu kelasnya keluar dari mulut Dylan. Lalu, orang berzira hitam itu memegang Helm nya dan menunjukkan wajah aslinya.
"Seperti yang di harapkan dari Kapten kelas 1-S..... Bagaimana kau bisa tahu kalau ini aku dan para pengikutku?".
Rupanya, pernyataan Dylan memang benar. Pria berzira hitam adalah Sylvester Lakes Doucent dan keenam orang bertudung hitam itu adalah para pengikutnya.
Lalu Dylan tersenyum tipis dan menjelaskan asumsinya.
"Simpel saja...... Pertama, selama kegiatan kemaritiman berlangsung aku sempat memergoki mu sedang menghubungi seseorang lewat perangkat Protas mu..... Jika yang kau telpon adalah orang tuamu, buat apa kau terus saja menjauh".
Muncul adegan dimana, Dylan yang diam-diam memantau Sylvester yang sedang menghubungi seseorang dengan Protas secara sembunyi-sembunyi.
"Kedua, aku beberapa kali melihat kau dan pengikut mu melakukan semacam diskusi yang mencurigakan di belakang taman Mansion".
Adegan lainnya muncul lagi, yaitu saat Dylan yang diam-diam melihat Sylvester dan para pengikutnya sedang melakukan diskusi yang mencurigakan.
"Ketiga, adalah saat dimana para siswa di kumpulkan oleh para guru.... Meski aku kurang pandai mengingat nama orang, tapi aku punya ingatan baik soal wajah setiap orang yang pernah aku temui..... Dan selama aku di sana, aku tidak melihatmu dan pengikut mu".
Adegan dimana Dylan sempat melirik dan memperhatikan semua siswa yang berkumpul di aula Mansion ketika dia sedang berjalan hendak menuju ke Kamar Leon untuk meminta penjelasan soal kasus ini.
Di situ, Dylan menyadari bahwa tidak ada sosok Sylvester dan para pengikutnya di dalam aula Mansion.
"Dan yang terakhir...... Meski menggunakan Helm untuk menutupi wajahmu, tapi kau malah menggunakan zirah dengan ukiran simbol Bunga Teratai yang menjadi simbol Keluarga Doucent".
Mendengar pertanyaan Dylan, entah mengapa tidak seperti pengikutnya yang panik. Sylvester justru malah bertepuk tangan sambil tersenyum kearah Dylan.
"Luar biasa, luar biasa.... Seperti yang di harapkan dari mu, Dylan....... Jadi, apa kau ingin tahu apa alasan ku melakukan ini?".
"Kita punya banyak waktu..... Tapi, ngak suka basa-basi.... Jadi, singkat saja ceritamu itu".
Mendengar jawaban Dylan, Sylvester tersenyum dan mulai bercerita alasan dia melakukan semua tindakan ini yang bisa dikatakan bahwa dirinya sudah melakukan pengkhianatan terhadap Kerajaan Ingrid secara tidak langsung.
"Alasan kenapa aku melakukan semua ini..... Itu adalah Cinta".
"Huh?".
Ucap Sylvester sambil menunjukkan senyuman penuh dengan kesenangan dan wajahnya yang menjadi merah merona.
Dan Dylan yang mendengar jawaban itu dari mulut Sylvester hanya bisa menaikkan salah satu alisnya dan memasang ekspresi kebingungan.
__ADS_1