
Terkejut dan menganga.
Mungkin itulah 2 hal yang bisa dikatakan saat melihat kondisi Filaret sekarang. Alasannya, karena saat ini Dylan sedang bersama beberapa anak-anak kecil yang dia tidak tahu berasal dari mana.
Tapi, yang membuat dia lebih terkejut lagi, yaitu gadis cantik yang menggunakan baju mirip biarawati tanpa tudung berada disebelah Dylan.
"Etto.... Jadi, begini Fira. Mereka adalah anak-anak dari panti asuhan yang tidak sengaja bertemu denganku. Dan gadis yang ada di sebelahku ini adalah orang yang merawat mereka, Ariana Royce panggil saja dia Aria".
Dylan memperkenalkan Aria kepada Filaret tanpa memperdulikan situasi yang dialami Filaret saat ini.
(Si-Siapa gadis ini?!!!!!! Sejak kapan dia dekat dengan Nii-san? Ditambah lagi, selain memiliki wajah yang cantik, dia punya Dada yang lebih besar dari punyaku dan bokongnya lebih semok dariku!!!! Belum lagi, baju biarawati yang dia kenakan itu dapat membangkitkan gairah pria manapun yang melihatnya!!!! Ini gawat.... Kupikir cuma si pelayan kurang ajar itu saja saingan terberat ku.... Tanpa, aku sadar saingan yang lebih berat malah muncul sekarang).
Di dalam hati, Filaret bergumam sendiri soal sosok Aria yang dia lihat. Sekarang, dia merasa sangat tersaingi oleh kehadirannya.
"Dan Aria, perkenalkan dia adalah adik tiri perempuan ku, namanya Filaret. Meski di bilang adik dia hanya lebih muda 5 bulan dariku".
"Salam kenal Filaret-san. Panggil saja saya Aria".
Sementara itu, meski tersenyum ramah. Di dalam hati, Aria juga sangat terkejut saat melihat Filaret.
(Si-Siapa gadis ini?!!! Dylan-san memang bercerita soal keluarganya. Tapi, aku tidak menyangka dia punya adik tiri perempuan yang secantik ini. Ditambah Dada besar dan bokong semok nya tidak kalah dengan ku.... Nampaknya dia juga cukup dekat dengan Dylan-san........ Bagaimana ini? Kalau seperti ini..... Tidak, tunggu sebentar.... Kenapa aku tiba-tiba merasa tersaingi?).
"Oh ya, Fira. Kenapa kau ada disini?".
Dylan yang tidak peka dengan suasana tegang yang terjadi diantara Filaret dan Aria mengajukan pertanyaan.
"Itu karena Nii-san. Tiba-tiba pergi melompat dari jendela dan pergi begitu saja".
"Habisnya, kau sama Sonia itu terlalu berisik. Jadi, aku tinggal pergi saja".
"Terus bagaimana kau bisa berkenalan dengan Aria dan anak-anak ini?".
"Tadi, aku sempat tersesat saat jalan-jalan. Dan aku bertemu dengan anak-anak ini yang meminta uang. Karena, aku tidak ingin mereka di sangka copet. Makanya aku meminta mereka untuk bertemu dengan orang yang merawat mereka. Dan begitulah, aku bertemu dengan Aria".
"Oh, begitu ya. Terus kenapa kalian berjalan sama-sama?".
"Aku merasa kasihan dengan Aria dan anak-anak ini. Jadi, aku ajak mereka jalan-jalan dan berjanji untuk menraktir mereka semua".
Bak seperti di sambar petir, Filaret langsung tertunduk lesu di tanah.
Wajahnya menjadi pucat, kakinya menjadi lemas sehingga tidak bisa menahan berat tubuhnya. Dari ekspresi wajahnya seolah-olah kehilangan semua harapan dan dunia berada diambang kehancuran.
Terlepas dari ana-anak itu. Dia tidak menyangka, bahwa Kakak nya yang tersayang bisa-bisanya mengajak orang yang baru dia kenal seperti Aria untuk jalan-jalan bersama.
(Nii-san.... Kenapa kau bisa dengan mudahnya mengajak gadis lain...... Kan, masih ada aku........ Adikmu ini.... Apa itu belum cukup?......... Dasar kau tukang selingkuh).
"Nah, berhubung kau juga ada disini kenapa kau tidak ikut saja dengan kami?".
"Tunggu apa lagi ayo kita berangkat".
Mendengar Dylan juga menawarinya jalan-jalan bersama, Filaret yang bersedih kembali bersemangat dan langsung menggandeng tangan Dylan.
"Baiklah, kalau begitu. Ayo kita berangkat".
Dengan aba-aba dari Dylan, mereka semua segera pergi bersama-sama.
Selama waktu itu.
Anak-anak itu tampak bahagia, tempat yang tidak bisa mereka kunjungi dan toko-toko yang tidak bisa mereka masuki sekarang bukan menjadi masalah lagi.
Mereka mulai dengan memasuki toko pakaian, dimana Dylan meminta manager toko untuk menyiapkan pakaian yang cocok untuk Anak-anak itu, Aria dan bahkan Filaret.
Anak-anak sangat antusias dalam memilih baju. Meski agak ragu, atas dorongan Dylan Aria juga memutuskan untuk memilih baju yang dia suka dan mencobanya.
Aria juga meminta pendapat Dylan soal penampilan nya. Dan Dylan tidak keberatan dengan hal itu.
Melihat Kakaknya sangat dekat dengan Aria, membuat Filaret jengkel dan ikut-ikutan untuk meminta pendapat dari Dylan agar bisa diperhatikan juga.
Puas berbelanja pakaian, mereka segera pergi ke restoran untuk makan. Dylan juga mengizinkan Aria dan anak-anak itu untuk memesan apapun yang mereka mau.
Begitu makanan yang mereka pesan datang, anak-anak dengan sangat lahap memakannya. Sementara, Aria berusaha menegur anak-anak sikap mereka di hadapan Dylan dan Filaret.
Selesai dengan makan di restoran, mereka pergi ke taman kota dan untuk bermain-main disana. Dylan dan anak-anak itu bermain kejar-kejaran bersama, bagi mereka orang-orang disekitar yang menonton adegan itu.
Dylan mirip seperti seorang ayah yang sedang menikmati momen kebersamaan dengan anak-anak nya. Hal itu juga terpancar dari ekspresi senang anak-anak itu.
Sementara, Aria dan Filaret hanya duduk sambil terus melihat kearah mereka.
"Anak-anak itu tampak senang, ya".
"Iya, sebagai pengasuh mereka. Ini pertama kalinya aku melihat mereka se senang ini. Semuanya berkat Dylan-san".
"Yah, walaupun wajah datar dan sikap dinginnya Nii-san itu sering disalahartikan oleh orang-orang sekitar. Dia adalah orang tulus dan berhati mulia".
"Iya, kau benar. Fira-san".
__ADS_1
Keheningan terjadi diantara mereka berdua sampai akhirnya Filaret duluan yang memulai pembicaraan.
"Aria-san. Saat kita di toko pakaian tadi. Nii-san sudah menceritakan semua yang terjadi pada kalian terhadapku. Dan rencana nya untuk membawa kalian ke Arcadia".
Aria menoleh kearah Filaret untuk mendengarkan ucapannya.
"Aku sangat mendukung hal itu, jika perlu aku akan mencoba untuk membujuk ayah dan ibu supaya kami bisa membawa kalian semua. Ditambah, jika anak-anak ini di biarkan begitu saja tanpa perawatan dan pendidikan yang tepat. Masa depan mereka akan sangat suram. Dan kau juga akan semakin kerepotan. Jadi, kau tidak usah khawatir, karena aku dan Nii-san pasti membantu kalian".
"Fira-san".
Aria terkesan dengan ucapan Filaret yang juga ikut setuju untuk membawa mereka pindah ke wilayah Arcadia. Dan Filaret menunjukkan senyuman yang tulus diwajahnya, tapi tidak dengan hatinya.
(Memang, aku setuju. Karena aku pribadi juga prihatin dengan kondisi kalian. Tapi, aku tidak akan pernah membiarkan kucing garong sepertimu dan si pelayan laknat untuk mendekati dan nempel terus ke Nii-san).
(Etto.... Kok firasat ku jadi ngak enak, ya?).
Walaupun Aria juga membalas senyuman Filaret dengan senyuman juga, tapi di dalam hati kecilnya dia merasa ada sesuatu yang sangat mengganjal saat melihat Filaret.
(-----------)
Malam harinya di penginapan yang keluarganya sewa.
Dylan saat ini sedang duduk santai di pinggir balkon kamarnya, membaca sebuah buku yang dia beli saat jalan-jalan tadi sambil di temani semilir angin malam dan lampu teras balkon yang masih menyala.
Buku yang dia beli adalah buku sejarah yang menjelaskan tentang Kerajaan-kerajaan apa saja yang berada berdiri di benua Antareksia ini.
(Meski aku sudah sekuat tenaga untuk menghindari beberapa Death Flag yang akan datang. Aku tidak bisa hanya mengandalkan pengetahuan dari game saja. Karena itu, aku masih harus menambah pengetahuan ku tentang dunia ini. Singkatnya, aku harus mempelajari tentang Kerajaan-kerajaan lain dan memahami situasi di setiap Kerajaan itu termasuk Kerajaan Ingrid ini).
Pertama. Di benua bernama Antareksia ini berdiri beberapa Kerajaan dan berkuasa. Kerajaan pertama bernama Kerajaan Rachael, kerajaan itu terletak di sebelah timur benua Antareksia dan wilayah berbatasan langsung dengan provinsi Arcadia, tempat dimana ayah menjadi tuan tanahnya.
Kerajaan Kedua adalah Kerajaan High Monata, kerajaan itu terletak di sebelah tenggara benua Antareksia dan berbatasan langsung dengan Kerajaan Rachael. Menurut sejarah, 30 tahun yang lalu Kerajaan ini pernah mencoba melakukan invasi ke Kerajaan Rachael namun berakhir gagal.
Kerajaan Ketiga adalah Kerajaan Stroos, kerajaan itu terletak di sebelah barat benua Antareksia dan berbatasan dengan Kerjaan Edelweis.
Kerajaan Keempat adalah Kerajaan Edelweis, kerajaan itu terletak di sebelah barat daya benua Antareksia dan kerajaan kedua yang berbatasan dengan Kerajaan Ingrid.
Kerajaan Kelima adalah Kerajaan Ingrid, kerajaan ini terletak di bagian selatan benua Antareksia dan dihimpit oleh 2 kerajaan yaitu, Kerajaan Rachael di sebelah timur, Kerajaan Edelweis yang berada di sebelah barat daya.
Kerajaan Keenam adalah Kekaisaran Iscoa, kerajaan yang letaknya di bagian paling Utara benua Antareksia dan menjadi satu-satunya Kerjaan yang paling luas wilayahnya.
Sementara, Kerajaan Iblis Inferno berada di benua yang ditutupi kabut gelap bernama Abyssland di seberang semenanjung benua Antareksia yang terpisah oleh lautan yang luas.
Dan berdasarkan situasi saat ini, Kekaisaran Iscoa sering berselisih dengan Kerajaan lain soal sengketa dalam menentukan batas wilayah.
Itu artinya, Kekaisaran Iscoa bermusuhan hampir dengan semua Kerajaan yang ada di benua ini termasuk Kerajaan Ingrid.
Dylan mulai berpikir keras saat dia mendapatkan informasi soal Kekaisaran Iscoa yang menurutnya tampak mencurigakan.
Disaat Dylan berpikir, tiba-tiba dari dalam kamarnya muncul sesosok bayangan yang berjalan menuju balkon.
"Tuan, anda masih belum tidur?".
"Maaf ya, Sonia... Sepertinya, aku membuatmu terbangun".
Sosok bayangan itu adalah Sonia Novacronos, pelayan pribadi Dylan yang saat ini tidak menggunakan baju pelayan melainkan menggunakan baju tidurnya yang tampak menggoda dengan belahan dada besarnya yang tampak.
Tapi, Dylan tidak peduli dengan hal itu.
Nah, kenapa Sonia bisa di kamar Dylan?
Itu karena kamar yang disewa oleh Dylan adalah kamar yang dikhususkan oleh kaum bangsawan yang membawa pelayan pribadinya.
Kamar itu memliki 2 ruang tidur dimana yang satunya digunakan oleh pelayan dan satunya digunakan oleh sang tuan atau nona yang mereka layani.
Dan ini adalah hal yang wajar dilakukan oleh kaum bangsawan. Meski didalam hati kecilnya Dylan sangat keberatan satu kamar dengan Sonia.
"Tak apa-apa, tuan. Saya juga belum tidur sepenuhnya".
"Begitu ya".
"Dan kalau boleh saya tanya. Tumben anda belajar sampai larut malam?".
"Ah, itu karena aku suka mempelajari hal yang belum aku ketahui. Selain itu, aku mempelajarinya karena tidak ingin merepotkan orang lain".
"Oh, begitu ya".
Sonia yang semakin penasaran mendekat dan mencoba melirik buku yang sedang Dylan baca.
"Lalu, hal apa yang sedang anda pelajari?".
"Aku hanya mempelajari hubungan antara Kerajaan Ingrid dengan Kerajaan-kerajaan yang ada di Antareksia ini. Terutama, aku punya banyak hal ingin kuketahui soal Kekaisaran Iscoa. Dan aku sedang memastikannya".
Sonia terdiam untuk sesaat setalah Dylan menyebutkan Kekaisaran Iscoa.
"..... Kekaisaran Iscoa, ya!!! Kebetulan, aku lumayan tahu soal Kekaisaran Iscoa. Jika ada sesuatu yang ingin anda tanyakan, dengan senang hati akan saya jawab. Jadi, apa saja yang ingin anda tanyakan?".
__ADS_1
"Sejarah, Ekonomi, Militer, dan kemungkinan yang terjadi jika Kekaisaran Iscoa menjadi musuh kita".
"Baiklah, serahkan padaku. Tapi, kurasa kita harus mengetahui yang lain dulu, pertama mari kita bahas sejarah Kerajaan Ingrid".
"Kerajaan Ingrid?".
Sonia mengambil sebuah kursi, duduk dan mulai menjawab beberapa pertanyaan yang dilontarkan Dylan.
"Sudah-sudah, dengerin aja.... Ahem, jadi Kerajaan Ingrid berawal dari orang-orang imigran yang berlayar melewati samudra luas sampai menemukan benua Antareksia dan mendirikan Kerajaan ini. Dulu, Antareksia dikenal dengan julukan "tanah yang tidak terjamah". Namun, setelah para imigran menempati tanah ini, bertahun-tahun kemudian di temukanlah tambang emas yang letaknya di selatan benua ini. Dan menjadi alasan dimulainya semua ini.... Para imigran itu mulai memanfaatkan tambang emas ini, lalu berkembang dengan sangat cepat. Dengan begitu, wilayah pun ikut meluas..... Bersamaan dengan itu, mulai terjadi perseteruan di antara para imigran...... Lalu karena sudah tidak tahan, beberapa pemimpin kelompok imigran tersebut membuat sebuah kesepakatan atau lebih tepat dibilang taruhan. Dengan aturan, siapa diantara mereka yang menang. Maka, orang itu dan kelompok yang mengikutinya akan menetap. Sementara yang lain, akan berpencar dan menjelajah lebih dalam benua Antareksia ini.... Dan taruhan itu dimenangkan oleh seorang pria yang kelak akan mendirikan Kerajaan Ingrid ini..... Dan itulah sejarah yang berkaitan dengan Kerajaan Ingrid yang berdiri sampai saat ini".
"Lalu, apa hubungannya dengan Kekaisaran Iscoa?".
Sonia tersenyum dan kembali berbicara.
"Seperti yang aku katakan sebelumnya, para kelompok imigran yang kalah taruhan, mulai berpencar-pencar dan saling mendirikan Kerajaan di tempat yang masing-masing mereka temukan. Itulah awal berdirinya Kekaisaran Iscoa, Kerajaan Rachael, Edelweis, High Montana dan Kerajaan Strost..... Tapi sayang nya, perkembangan masing-masing Kerajaan itu lebih rendah daripada Kerajaan Ingrid.... Belum, lagi konflik yang terjadi di masing-masing Kerajaan hingga memecah mereka dalam beberapa kubu. Makanya tidak heran jika perang sipil terjadi di Kerajaan-kerajaan itu dan banyak korban jiwa yang berjatuhan. Terkhususnya, Kekaisaran Iscoa dan Kerajaan Rachael.... Meski tidak berkembang seperti Kerajaan ini. Namun, Kerajaan seperti High Montana, Edelweis dan Stroos mampu menjalankan pemerintahan yang lebih stabil walau masih dalam tahap berkembang..... Kerajaan Rachael dan Kekaisaran Iscoa sangat jauh tertinggal... Lupakan Kerajaan Ingrid, bahkan mereka tidak bisa dibandingkan dengan 3 kerajaan lainnya..... Sekarang, hal yang ingin aku perjelas meski Kekaisaran Iscoa sangat suka berperang dan punya wilayah paling luas. Namun, kebanyakan dari mereka itu independen. Dan sampai detik ini, mereka "tidak punya" cukup kekuatan untuk menginvasi Kerajaan lain".
Dylan mendengarkan baik-baik dan mencerna semua hal yang diceritakan Sonia. Sampai akhirnya, terlintas satu pertanyaan di dalam pikirannya.
"Hei, Sonia. Jika Kekaisaran Iscoa berencana untuk menjatuhkan Kerajaan Ingrid. Cara apa yang "memungkinkan" mereka untuk dapat melakukannya?".
Sonia terdiam sesaat sebelum akhirnya kembali menjawab pertanyaan tuannya.
"Jika itu aku, maka aku akan menjadikan Kerajaan Rachael sebagai sekutu".
"Terimakasih banyak".
Meski tidak menunjukkan ekspresi apapun, tapi di dalam pikirannya Dylan benar-benar terkejut. Bukan karena jawab dari Sonia, melainkan dugaan adanya kerja sama antara Kekaisaran Iscoa dengan Kerajaan Rachael.
(Sudah kuduga jawabannya seperti itu).
"Ngomong-ngomong, Tuan. Kenapa anda sangat penasaran dengan hal ini?".
Dylan kembali tersadar, setelah mendengar pertanyaan dari Sonia.
"Oh, itu..... Bukan sesuatu hal yang penting juga".
"Apa tuan khawatir, apabila Kekaisaran Iscoa dan Kerajaan Rachael akan menyerang Kerajaan ini?".
"Tidak".
"Lalu?".
Karena Sonia masih penasaran, Dylan yang mengalihkan pandangannya ke langit. Menatap bulan purnama yang bersinar sangat indah di kegelapan malam. Dia mulai berbicara.
"Bukan itu yang aku khawatirkan..... Aku tidak peduli, apakah Kekaisaran Iscoa, Kerajaan Rachael, atau bahkan Kerajaan-kerajaan akan bekerjasama untuk menjatuhkan Kerajaan Ingrid..... Bahkan aku tidak peduli sama sekali dengan Kerajaan ini..... Beberapa hal yang aku pedulikan adalah Kau, Ayah, Ibu, Filaret, Aria, Anak-anak panti, kau dan semua orang yang tinggal di wilayah Arcadia.... Hanya mereka yang aku pedulikan".
"Singkatnya?".
"Selain mereka yang ku anggap sebagai "keluarga, rekan dan para penduduk wilayah Arcadia". Yang lainnya......".
Dylan kembali menoleh kearah Sonia dan menatap nya dengan ekspresi serius, bola matanya yang berwarna merah dan aura Fafnir yang menakutkan. Dylan kembali bicara dengan nada sumbang yang pelan-pelan.
"...... Aku tidak peduli".
Dengan tegas, Dylan menyatakan ketidak pedulian nya terhadap nasib Kerajaan Ingrid kedepannya apabila terjadi sesuatu yang buruk kedepannya.
Anehnya, Sonia yang ditatap seperti itu oleh Dylan tidak merasa terintimidasi. Dia malah berdiri dan mulai berlutut satu kali dan tangan kanan ditempelkan di dada kirinya seperti seorang yang memberi hormat pada Raja.
"Baiklah, seperti yang tuan inginkan. Dengan senang hati, Sonia ini akan membantu..... Tapi, jika anda punya keinginan untuk menghancurkan Kerajaan-kerajaan itu atau bahkan Kerajaan ini. Tolong katakan saja pada saya.... Dengan senang hati.....".
Sonia menganggakat wajahnya dan menatap balik Dylan dengan matanya yang sekarang berwarna hijau muda. Kelopak matanya yang berubah menjadi seperti jam waktu romawi dan aura yang menakutkan.
"..... Sonia ini akan melakukan. Dan saya akan hancurkan mereka yang membuat anda kerepotan".
Sama halnya dengan Sonia, Dylan juga entah mengapa tidak takut atau terintimidasi oleh tatapan dan aura yang dikeluarkan Sonia.
(-------------)
"Huaahhhhh.... Sepertinya, saya mulai mengantuk. Jadi saya undur diri lebih dahulu, Tuan".
"Ah, iya Terimakasih sudah mau menemaniku, Sonia".
"Jangan tidur terlalu larut dan Selamat malam".
Sonia segera pergi dan kembali keruang tidurnya. Sementara, Dylan masih berada di balkon untuk menyaring pelajaran dan informasi yang dia dapatkan.
("Kekuatan lain yang membantu Oscar". Tidak ku sangka bahwa salah satu tebakanku benar. Dan itu adalah Kekaisaran Iscoa. Tapi, masih ada beberapa hal yang mengganjal di pikiranku. Pertama, adalah sekelompok orang yang menyebut diri mereka The Oracle's? Kedua, adalah "orang" di dalam Kerajaan ini yang membatu Oscar untuk menyusup tanpa ketahuan? Ketiga. Apa benar, Kerajaan Iblis Inferno benar-benar terlibat, atau mereka hanya dijadikan "kambing hitam" pada alur game?).
Seketika, Dylan merasa ada sesuatu- tidak. Beberapa tatapan yang diarahkan pada dari beberapa tempat di sekitarnya.
Sempat menoleh sedikit, Dylan memutuskan untuk kembali masuk kedalam kamarnya.
"Sepertinya, aku kedatangan beberapa "tamu asing" ya...... Mau bagaimana lagi, dimana pun kau tinggal pasti ada "hal-hal" seperti ini..... Pokoknya, sebagai tuan rumah. Aku harus "menyambut" nya dengan baik".
Dylan, segera merebahkan badannya di kasur. Dan mulai tertidur lelap. Karena besok, adalah hari yang benar-benar sangat menyebalkan untuknya.
__ADS_1
Di malam berikutnya. Pesta Ball Kerajaan dimulai.