
"Perkenalkan namaku adalah Tanifa Lakes Vries....... Hei, hei, gadis kecil....... Penjepit rambut mu dari Hope Diamond, kan?...... Boleh buat aku ngak?".
"Huh?..... Kau ngomong apa? dasar lacur sirkus sialan..... Asal kau tahu saja, penjepit rambut ini adalah pemberian dari-------".
Filaret yang sedang berbicara dibuat terkejut karena tiba-tiba saja, sebuah serangan melesat kearah penjepit rambut miliknya dan menjatuhkan nya.
"Sudah kubilang, kan?...... Berikan apa yang aku minta".
Rupanya, Tanifa melemparkan sesuatu kearah Filaret dan memaksanya untuk menyerahkan apa yang dia mau.
Sempat terdiam sesaat, Filaret yang ekspresi wajah nya menjadi gelap menunduk dan mengambil kembali penjepit rambut yang terjatuh.
"Asal kau tahu saja, penjepit ini adalah pemberian dari orang yang paling berharga untukku..... Memaksaku memberikannya kepadamu?..... Apa kau mau mati, huh?".
Dengan aura yang mengintimidasi, Filaret mengancam Tanifa dengan tatapan penuh niat membunuh yang intens.
Bukannya takut, Tanifa itu justru tetap santai menanggapi ancaman dari Filaret barusan. Lalu dia mengangguk kepalanya beberapa kali seperti sedang memahami sesuatu.
"Hm, hm, hm....... Baiklah, kalau begitu.... Aku akan membunuhmu dan mengambilnya sendiri".
Setelah mengatakan itu, Tanifa menjentikkan jarinya. Lalu muncul sebuah borgol di kedua kakinya yang terhubung dengan borgol di kedua kaki Tanifa sendiri.
(Borgol kaki?).
Filaret yang masih penasaran akan gelang yang muncul di tangan, kembali terkejut karena dari atasnya tiba muncul wajah badut raksasa dan juga beberapa sosok mirip robot yang duduk di kursi juri.
"Wajah badut dan juri badut, ya..... Ditambah penonton yang aku rasa adalah budak yang kalian beli".
"Dia dan ketiga juri di sana adalah yang mengatur sirkus ini.... Dan mereka adalah budak yang duduk untuk menjadi penonton..... Sementara kau dan aku adalah para pemain pertunjukan.... Jika kita gagal memberikan pertunjukan yang menghibur, kita akan dapat penalti".
"Kau pikir aku peduli!!!".
Tanpa basa-basi, Filaret langsung melesat kearah Tanifa dan sekaligus menganyunkan sabitnya. Namun, anehnya bukan cuma serangan membelok kearah lain bahkan Filaret juga ikut berpindah posisi.
"Eh?".
Tentu saja, Filaret terkejut akan hal itu, dan Tanifa yang berhasil terhindar dari serangan itu tampak bahagia. Kemudian dia baru menyadari sesuatu.
(Benar juga..... Tepat sebelum serangan ku mengenainya, si Tanifa ini..... Melakukan gerakan tangan seperti Phantonim...... Kupikir tadi dia sedang ngelawak..... Ternyata gerakan tadi untuk menghindari serangan ku, ya).
"Itu tadi hebat".
"Luar biasa".
"Anda keren".
"Kau hebat nona Tanifa".
Filaret langsung melirik kearah juri dan wajah badut itu yang sepertinya memuji penampilan dari Tanifa. Mendapat pujian dan perhatian itu, Tanifa merasa senang sampai menari-nari ria.
"Terimakasih atas pujiannya..... Btw, gadis kecil.... Apa kau lupa.... Kalau tugas kita adalah "menghibur" semua orang..... Tapi, kau tidak melakukannya dengan baik..... Karena itu, kau akan dapat..... Penalti".
"""KEMBALIKAN UANG KU!!!!""".
Secara mengejutkan, baik wajah badut yang ada di langit-langit dan para juri badut yang duduk di pinggir segera menghujani Filaret dengan banyak pisau.
Mendapatkan serangan dari 2 arah, Filaret memutarkan Sabitnya sembari berusaha menangkis setiap pisau yang berdatangan. Meski begitu, badannya tetap saja terkena serangan lempar pisau.
"Jangan terkejut, gadis kecil.... Beginilah cara kerja sikus ini..... Btw, borgol ini tidak akan terlepas sampai salah satu dari kita ada yang mati".
Bersamaan dengan itu, Tanifa melemparkan sesuatu kearah Filaret. Dan secara mengejutkan, tiba-tiba muncul banyak luka misterius yang muncul entah dari mana.
Sangking dalamnya, luka di sekujur tubuhnya. Filaret sampai memuntahkan darah dari mulutnya.
"Ummm.....Ugh!!!".
(Kartu-kartu itu?..... Bagaimana bisa keluar dari tubuhku?...... Dia juga menangkis serangan ku dengan gerakan tangan..... Trik macam apa ini?).
""""Luar biasa!!!"""".
(Wajah badut dan ketiga juri itu mengomentari apa yang aku lakukan, artinya ini pertarungan 5 vs 1).
Lalu, Filaret menarik nafas panjang dan mengunakannya. Dengan begitu, Filaret kembali menjadi sedikit tenang.
(Aku harus tenang..... Ingat apa yang dikatakan Nii-san..... "Jangan terburu-buru menyerang lawan. Perlahan-lahan analisa dulu, susun rencana, baru eksekusi saat ada celah"...... Sekarang, aku harus mengamatinya dulu sampai aku tahu cara kerja sirkus ini).
Filaret memutuskan untuk tetap diam dan tidak mengambil tindakan sambil menganalisa situasi yang dia alami.
"Hmmm..... Kau memutuskan untuk tetap diam dan mengamati situasi, ya...... Sungguh sikap rasional........ Dan membosankan".
"Huh?".
"Kalau boleh jujur.... Sebenarnya, aku tidak suka dengan gadis penurut sepertimu.... Kau itu terlalu kaku, kita seharusnya bebas bertindak sesuai dengan keinginan hati kita.... Seperti mengambil apa yang kita inginkan, membunuh orang yang tidak kita sukai, dan lain sebagainya...... Semua itu, untuk membuat kita hidup lebih bahagia..... Cara hidupmu itu.... Menurutku sangatlah membosankan".
Filaret sempat terdiam setelah mendengar apa yang di katakan oleh Tanifa. Terjadi keheningan diantara keduanya dan ketegangan meningkat drastis. Setelah memakan waktu, Filaret yang tertunduk dengan ekspresi gelap mulai berbicara.
"Begitu, ya..... Singkatnya, kau itu ingin bebas, ya?..... Dan kau itu ingin hidup tanpa aturan?.... Hmph.... Kalau begitu, lakukan saja sesukamu.... Toh, itu semua tidak ada hubungan dan perbedaan besar bagiku..... Kita manusia adalah makhluk yang emosional.... Bukan sifat alami kita untuk selalu berpikir rasional setiap waktu".
Bersamaan dengan perkataan Filaret, muncul beberapa bola api kecil yang muncul di sekitar badan Filaret dan perlahan-lahan mulai membesar.
"Singkatnya, kau bisa membunuh orang karena emosi.... Mencuri karena iri.... Menyiksa orang hanya untuk menghibur semata..... Itu mah, bukan urusanku..... Tapi, yang jelas aku tahu adalah...... Selama kau menerima tanggung jawab maka itu bukanlah masalah..... Dan yang nama "tanggung jawab" itu mutlak".
Tanifa terkejut, bukan karena perkataan Filaret melainkan karena banyaknya bola-bola api besar yang muncul di sekitar Filaret.
"Meski terkadang aku menjadi pembangkang.... Dan sering disalah gunakan oleh oknum-oknum tertentu..... Aku tahu, bahwa inti dari adanya aturan dan hukum adalah untuk melindungi orang-orang lebah dan tidak berdaya dari wanita gila sepertimu..... Lakukan saja sesukamu, toh juga aku tidak peduli".
"Kau sok menasehati ku soal Aturan dan Hukum.... Tapi, kau sendiri tidak peduli dengan sekitarmu...... Apa kau sadar kalau kau itu banyak omong, tahu".
Setelah itu, Tanifa kembali melakukan gerakan seperti melempar sesuatu. Bersamaan dengan itu, Filaret menghentakkan kaki kirinya dan muncul sebuah dinding tak kasat mata di belakangnya.
Kemudian terjadi sebuah ledakan, rupanya Filaret menciptakan dinding tak kasat mata menggunakan sihir cahaya untuk melindungi dari sebuah serangan yang datang dari arah belakang nya.
Tangan kiri Filaret mengarah kebelakang untuk mengambil benda yang digunakan untuk menyerangnya yang rupanya adalah kartu dan menunjukkan nya pada Tanifa.
"Hmmmm....... Sudah kuduga, kau ini memang penipu.... Sihirmu adalah transparan.... Di mana kau bisa menyamarkan dirimu atau objek apapun yang kau kehendaki dengan lingkungan sekitar..... Sungguh trik yang murahan".
"Heeee.....".
Ucap Filaret yang berhasil menganalisa kekuatan sihir Tanifa. Dan Tanifa sendiri tersenyum seolah-olah puas dengan kesimpulan Filaret.
"Nah, sekarang..... Ini waktunya bagimu untuk memenuhi aturan permainan mu sendiri".
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, bola-bola api yang mengitari Filaret langsung melesat dengan kecepatan tinggi kearah Tanifa.
Untuk bisa terhindar dari serangan bola api yang beruntun itu, Tanifa kembali melakukan gerakan Phantonim seperti sebelumnya.
Belum sampai disitu saja, Wajah badut di langit- langit dan ketiga juri yang ada diluar arena juga ikut membantu dengan menghujani Filaret dengan banyak pisau tajam.
Menyadari hal itu, Filaret merapalkan mantra sihir dan menanamkannya ke Sabit miliknya, dan secara ajaib Sabit itu terangkat terbang dan berputar di sekitar Filaret seraya melindunginya dari semua hujaman pisau yang berdatangan.
Meski begitu, masih ada beberapa pisau yang lolos dan tertancap di tubuh Filaret. Tapi, dia mengabaikan hal itu dan rasa sakitnya, dan fokus pada serangan sihir bola apinya ke Tanifa.
(Dia..... Sudah siap terluka).
Melihat Filaret yang masih kekeh melakukan serangan meski badannya terkena hujaman pisau membuah Tanifa terkejut.
Seiring berjalannya waktu, serangan bola api Filaret tidaklah berhenti atau melemah. Tetapi, justru semakin banyak dan semakin kuat.
"Cih".
Tanifa yang tidak bisa terus-terusan menangkis serangan itu, melepas borgolnya dan melompat mundur keluar arena.
Melihat tindakan Tanifa, Filaret menghentikan serangan nya dan buka suara.
"Hmmmm...... Jadi, sejak awal kau memang punya kuncinya, ya...... Ya ampun..... Kau ini memang penipu sejati, ya...... Kau sendiri yang buat aturan.... Tapi, malah kau sendiri yang melanggar nya jika situasinya tidak sesuai dengan apa yang kau inginkan".
Setelah itu secara perlahan-lahan, Filaret mulai mencabuti semua pisau yang tertancap di badannya sambil terus berbicara.
"Oh, iya..... Kau benar saat bilang kau itu tidak membosankan..... Tapi kalau aku boleh jujur, buatku kau terlalu sok tahu soal kebebasan..... Mengingat dirimu yang asal-asalan mendeskripsikan aturan".
Tanifa seketika menundukkan kepalanya kebawah setelah mendengar apa yang dikatakan Filaret.
Lalu secara perlahan-lahan badannya mulai bergetar dan suara tertawa halusnya mulai terdengar.
"Hihihi...... Hahahaha........KYAHAHAHAHAHAHAHAHAHA.......!!!!!!".
Dengan suara tertawa terbahak-bahak yang sangat keras dan menggema di seluruh tenda sirkus. Tanifa mengangkat wajahnya yang di penuhi oleh kegilaan yang luar biasa.
Bahkan sampai para budak yang dipaksa menjadi penonton ketakutan hingga meneteskan keringat dingin.
"Hahaha...... Aku tidak menyangka gadis kecil sepertimu membicarakan hal yang membosankan.... Kalau kau tidak suka, tinggal langgar saja...... Tapi, sepertinya kau ini memang suka diikat ya. Walaupun itu akan mencekik mu sampai mati".
Kemudian, Tanifa mengeluarkan sebuah senjata besar berbentuk 2 cakram raksasa yang dia pegang di kedua tangannya dan berbicara.
"Gadis yang malang...... Biar aku bunuh kau.... Dan membebaskan mu dari penderitaan dunia ini".
"Aku tidak butuh belas kasihan mu...... Dan biar aku tunjukkan betapa bebasnya dirimu, setelah ku kubur mayat mu kedalam liang lahat".
Tak mau kalah, Filaret juga mencengkram kembali Sabit miliknya yang sudah diperkuat dengan sihir dan bersiap untuk pertarungan langsung dengan Tanifa.
(--------------------)
Di sisi lain.
Morgan mendecitkan gigi belakangnya sebagai bentuk kejengkelan nya karena melihat Dylan dan Awin dengan sangat mudah membantai semua ksatria yang di kirim kepada mereka.
"Sial, sial, sial...... Apa-apaan kedua bocah itu?!!!! Bagaimana mereka bisa mengalahkan para ksatria kita dengan sangat mudah".
"Hmmm..... Kalau kita biarkan mereka akan sampai ketempat ini".
Thousand Faces yang sudah menduga hal ini akan terjadi sedang berpikir bagiamana cara nya mencegah Dylan dan Awin.
"Mau kemana Morgan?".
"Aku sudah muak dengan kedua bocah itu..... Jadi, biar aku yang singkirkan mereka".
Dengan langkah kaki penuh emosi Morgen segera pergi meninggalkan Thousand Faces untuk mengehentikan Dylan dan Awin.
"Yare, yare..... Dasar darah panas..... Hmmmm..... Kurasa aku harus pergi juga".
Faces kemudian mulai mengemasi semua dokumen dan memasukkannya ke dalam item box milikinya.
"Tempat kuserahkan padamu".
Faces kemudian pergi setelah berbicara dengan sosok di balik bayangan yang ada di sudut ruangan.
Dia kemudian melihat lurus kearah layar sihir dan matanya hanya terfokus pada satu orang yaitu adalah Dylan.
Kembali ke Dylan dan Awin yang sedang berlari di lorong setelah keduanya membabat habis para ksatria penjaga.
Namun, langkah keduanya berhenti setelah melihat Morgen berdiri di depan dan menghalangi mereka.
"BOCAH TENGIK!!!".
Sambil berteriak Morgen mulai meledakkan energi sihirnya dan dalam sekejap dia berubah menjadi Chimera berujud Singa besar bertanduk dan berkuku tajam.
"Aniki..... Serahkan dia padaku.... Kau pergi saja".
"Baiklah... Hati-hati ya".
Setelah itu, Dylan langsung melemparkan sebuah botol kecil yang begitu meledak dan menciptakan sebuah cahaya yang menyilaukan mata Morgen.
Dylan memanfaatkan momen itu untuk berlari dan melakukan sliding dibawah badan Morgen. Menyadari Dylan berhasil lolos, dia segera membalikkan badannya dan hendak mengejarnya.
"TIDAK AKAN AKU BIARKAN".
BANG.
Tapi, sebuah tendangan langsung mendarat ke arah wajahnya. Dan tendangan itu, berasal dari Awin.
"Kau mau kemana? Lawan mu itu aku".
(--------------------)
Pertarungan langsung antara Filaret dan Tanifa tidak bisa terhindari lagi. Setiap kali, sabit Filaret dan Cakram mereka bersinggungan tercipta percikan api yang menandakan betapa tajamnya masing-masing senjata mereka dan sikap keduanya yang tidak mau mengalah.
Setelah adu senjata yang intens itu, Tanifa memutuskan untuk melompat mundur mengambil jarak dari Filaret sekaligus menghindari serangannya.
Di atas bola raksasa yang muncul entah dari mana Tanifa mulai merapalkan mantra sihirnya.
"Transparace Magic : Deciusiclination".
Secara ajaib seluruh tubuh Tanifa menghilang begitu saja, seperti menyatu dengan lingkungan sekita dan membuat Filaret terkejut.
__ADS_1
(Di menghilang?).
Karena tidak bisa melihat keberadaan Tanifa, Filaret mencoba memperhatikan sekitarnya dengan seksama. Tapi satu hal yang tidak dia sadari adalah sosok Tanifa yang sudah berada di belakangnya.
Dan tanpa ragu sedikitpun, Tanifa langsung menebas punggung Filaret dengan salah satu cakramnya.
Untungnya, tebasan itu tidak terlalu dalam. Meski begitu luka yang diterima bisa dikategorikan parah itu terbukti dengan darah yang dengan deras keluar dari sana.
Filaret yang terluka hanya bisa terkejut sambil menahan rasa sakit itu. Walau begitu, Filaret masih belum menyerah.
Setelah itu serangan kedua segera datang. Dan kali ini datang dari berbagai arah dan menghujaninya Filaret dengan banyak tebasan.
Filaret yang tidak tahu dimana keberadaan Tanifa sekuat mungkin bertahan dari bombardir serangan itu.
(Aku tidak bisa mendengar dan bahkan merasakan kehadiran nya saat dia sedang menyerang..... Bagiamana dia....)
Di saat Filaret berusaha menganalisa apa yang sebenarnya terjadi. Pandangan nya teralihkan dengan sosok Tanifa yang tiba-tiba muncul di hadapannya sambil tersenyum.
"Kasihan ya..... Kau sampai menderita karena aku.... Tapi, bagaimana?..... Sihirmu hebat, kan?.... Yah, walau sebenarnya ini bukan sihir asliku sih".
"Huh? Apa maksudmu?".
Filaret yang kebingungan tidak sengaja membocorkan suara nya sehingga Tanifa dengan senang hati bercerita.
"Begini gadis kecil..... Sebenarnya, aku ikut ambil andil dalam "Chimera's Projects" ini..... Tapi, tidak seperti Leona-san dan pak tua Hendry yang berhasil sampai bisa berubah menjadi setengah binatang sihir..... Aku justru malah tidak bisa".
Tampak ekspresi kecewa ditampilkan oleh Tanifa. Namun, dalam sekejap ekspresi nya berubah menjadi bahagia.
"Tapi..... Meski aku tidak bisa berubah seperti mereka..... Aku bisa menggunakan kekuatan yang dimiliki oleh binatang sihir itu..... Dan sihir inilah contohnya..... Sihir transparan yang aku dapat dari kadal Basilik ini dapat menghilangkan seluruh keberadaan ku dari persepsi lawan....... Jadi, gadis kecil..... Kau tidak punya kesempatan untuk menghindar atau bahkan lari dari ku dihadapan kekuatan ini".
Setelah dengan bangganya Tanifa melebih-lebihkan kekuatan nya. Dia kembali menghilang dan dengan tanpa sedikitpun rasa belas kasihan.
"Sekarang..... Aku akan membebaskan mu.... Dengan melepaskan mu dari dunia ini".
Dia menghujani Filaret dengan banyak sekali tebasan dari berbagai arah, Filaret yang tidak bisa menghindar atau berlari hanya bisa sekuat tenaga mungkin untuk bertahan.
Sementara itu, para penonton yang melihat adegan pembantai sepihak itu benar-benar hanya bisa merinding.
Namun, walau dihujani oleh banyaknya serangan yang seolah-olah tidak ada habisnya itu. Entah mengapa tiba-tiba saja Filaret tersenyum.
"Begitu ya..... Aku paham sekarang..... Karena kekuatan Chimera mu..... Makanya, kau bisa menyamarkan kehadiranmu dengan lingkungan sekitar..... Sehingga aku tidak bisa melawan balik...... Tapi...... Sayangnya, aku bukan Nii-san yang berpikir rumit".
Setelah bergumam seperti itu, energi dalam sihir Filaret mulai meningkat drastis lalu dia mulai kembali berbicara
"Unique Skill aktifkan.... Magic Up".
Filaret mengaktifkan Unique Skill milikinya yang bernama Magic Up.
Magic Up.
Sesuai dengan namanya, Skill ini meningkatkan kekuatan, efektivitas dan fleksibilitas dari sihir Filaret. Saat skill ini aktif bahkan sebuah mantra sihir yang sederhana sekalipun akan memberikan damage yang besar apabila terkena musuh.
Kelemahan Unique Skill ini adalah butuh beberapa detik bagi Filaret untuk memformulasikan sihir yang ingin dia gunakan agar bisa meningkatkan efektivitas nya. Dan dia tidak bisa bergerak dari tempat apabila sedang lakukan proses ini yang membuatnya penuh dengan celah.
Mengaktifkan skill itu, mata Filaret berubah menjadi sangat terang lalu dengan gerakan lambat dia berdiri tegak dan kedua tangannya diarahkan sekitar lalu dia mulai merapalkan mantra sihir nya.
"Magic Up. Hellfire : Calamity Supernova".
Kemudian muncul semacam pusaran api di bawah kaki Filaret dan secara ajaib pusaran api itu mulai membesar dan membakar seluruh arena sirkus itu sampa keseluruhan.
Dan tentu saja, Tanifa yang sedari tadi sedang berkamuflase juga ikut terbakar bahkan semua besi yang ada di sana juga ikut meleleh karena sangking panasnya api itu.
Sebenarnya sihir yang digunakan Filaret adalah sihir api yang diberi nama Calamity Supernova. Dan sesuai namanya, api ini memiliki suhu panas yang tinggi sekitar 1700° Celcius sehingga bisa meleburkan pasir menjadi kaca.
Namun, mengingat Filaret menggunakan skill Magic Up untuk memperkuat sihirnya. Maka suhu yang di hasilkan juga ikut meningkat drastis menjadi 2000° Celcius sehingga bisa meleburkan besi Titanium.
(Gadis ini merubah membakar arena sirkus dan menyerna keberbagai arah).
Tanifa yang berteriak kesakitan benar-benar terkejut dengan tindakan Filaret yang diluar ekspektasi nya.
Kemudian dalam kesakitan dan rasa luka bakar yang luar biasa. Tanifa yang sudah tak berdaya mencoba merangkak ke depan Filaret.
"KAU..... APA YANG KAU PIKIRKAN SAMPAI MEMBAKAR SEMUANYA?!!!!".
"Huh? Kenapa? Bukankah sudah jelas..... Aku tidak suka berpikir rumit..... Dan karena aku tidak bisa menangkap mu atau menebas mu.... Maka aku bakar saja semuanya supaya lebih mudah".
Mendengar jawaban santai Filaret membuat Tanifa semakin keheranan dan kembali mencecar Filaret.
"APA MAKSUDMU ITU?!!!!..... APA KAU TIDAK PUNYA PERASAAN?!!!!..... APA KAU TIDAK BERPIKIR SOAL NASIB DARI ORANG-ORANG YANG ADA DI BANGKU PENONTON YANG JUGA IKUT TERBAKAR!!!".
Tanifa menunjuk kearah para budak yang dipaksa menjadi penonton, berteriak-teriak kesakitan karena rasa sakit akibat ikut menjadi korban dari kobaran api Filaret yang menggila itu.
Namun, respon berbeda justru ditunjukkan oleh Filaret. Dari wajahnya nampak jijik melihat orang-orang itu.
"Huh? Memangnya apa peduli ku?"
"Eh?".
"Benar sekali..... Itu sebabnya, demi orang yang aku cintai...... Aku akan melakukan apapun".
"Huh?.... Kau ngomong apa?".
Tanifa semakin kebingungan dengan apa yang di katakan oleh Filaret.
"Jika Dylan Nii-san yang menjadi lawan mu...... Setelah mengalahkan mu..... Dia akan mulai berpikir untuk menyelamatkan para budak ini..... Apapun kondisi, keadaan dan apapun jenisnya..... Tapi,......".
Filaret lalu menunjukkan ekspresi wajah yang penuh dengan kegilaan yang kejam, senyumannya yang lebar dan pipinya yang menjadi merah merona.
Bahkan Tanifa yang sudah gila saja bisa melihat kegilaan dan obsesi yang luar biasa hanya dari mata nya sampai membuatnya merinding.
"...... Beban berat seperti itu, menurutku Nii-san tak perlu menanggung nya..... Itulah sebabnya, aku coba untuk mencegah Nii-san menderita sebelum terlambat..... Semua ini aku lakukan semata-mata hanya karena aku mencintainya".
Tanifa yang mendengar itu hanya bisa terpaku diam tanpa bisa berkata-kata apapun setelah mendengar alasan tidak masuk akal Filaret.
"Kau..... Memang...... Gila".
Setelah mengatakan itu, Tanifa menghembuskan nafas terakhirnya dan diikuti oleh teriakan kesakitan dari para budak yang terbakar juga ikut menghilang.
Dan tak berselang lama, kobaran api itu mulai padam. Semua berubah menjadi abu dan bahkan tembok beton juga ikut meleleh karena saking panasnya.
Selain itu, rupanya serangan Filaret juga membakar dinding atap sehingga juga ikut meleleh dan menciptakan lubang besar di tengah jalan kota Monarch.
__ADS_1
"Oke satu masalah sudah beres..... Sekarang, tinggal cari jalan untuk menyusul Nii-san dan Awin-san".
Sambil meminum Exilir yang dia bawa Filaret segera melangkah pergi meninggalkan tempat itu dengan santainya.