Reborn As Villain

Reborn As Villain
Chapter 32 : Trail Running Yang Kacau part 2.


__ADS_3

Meski dilakukan secara bersamaan.


Rupanya rute Trail Running di bagi menjadi 3 bagian. Dan para siswa boleh memilih rute yang ingin mereka lalui.


Pertama adalah Rute Utara. Yaitu rute yang akan membawa para siswa mengitari pegunungan hutan Elbrand. Walau jalannya cukup mudah di lalui, rute ini tidak ada yang memilih karena siswa harus mengitari pegunungan tentu saja jalannya pasti sangat panjang dan melelahkan untuk bisa sampai di garis finis.


Kedua adalah Rute Selatan. Sesuai namanya, rute ini mengitari hutan Elbrand dari arah selatan. Meski jalannya sulit untuk di lalui, tapi ini adalah rute yang luman pendek menuju garis finis. Kerugian lainnya adalah jalurnya yang sangat kecil.


Ketiga dan yang terakhir adalah Rute Tengah. Rute ini langsung melewati lebatnya hutan menuju garis finis sekaligus jalan yang paling pendek.


Tetapi, kendalanya adalah para siswa yang mengambil rute ini kemungkinan akan bertemu dan di serang oleh beberapa binatang buas bahkan binatang sihir yang ada di hutan. Atau yang lebih parah adalah memasuki sarang mereka.


Mendapat fakta ini, Dylan berpikir keras untuk mengambil rute yang mana. Sebagai Kapten dia berusaha untuk tidak membebani rekan-rekan.


Terutama Lafia dan Claudia yang tampaknya tidak cukup familiar dengan olahraga. Namun, di satu sisi, Dylan merasa bahwa ini bukan hanya sekedar "Trail Running" biasa. Dan akhirnya dia mulai menyadari sesuatu.


(Begitu ya..... Tujuan diadakannya Trail Running ini bukan hanya untuk melihat "tingkat solidaritas" atau hanya mendapat "nilai dan bintang" saja...... Malahan kegiatan ini, sebagai bentuk pengawasan terhadap para siswa.... Sampai mana, para siswa bisa mengatasi situasi bahaya langsung dengan resiko yang tinggi dihadapan mereka).


Kemudian, Dylan melihat banyak kelompok siswa yang memilih mengambil rute selatan. Dylan paham betul akan hal itu, karena kebanyakan siswa bangsawan ingin "tiba di tujuan tanpa ada nya halangan".


Setelah berpikir cukup keras. Dylan memutuskan untuk memotong hutan dari rute Utara.


Dylan segera menyampaikan kepada rekan-rekan nya rute mana yang dia ambil untuk kelasnya. Mendengar hal itu, semuanya tidak menunjukkan keberatan sama sekali dan bahkan Lafia dan Claudia sangat antusias.


Berdasarkan ini, Kelas 1-S termasuk Lafia dan Claudia menjadi satu-satunya kelompok siswa yang mengambil rute Utara yang sangat panjang.


(-----------------)


1 jam sudah berlalu sejak Trail Running dilakukan.


Saat ini, Dylan dan yang lainnya sedang beristirahat di dekat aliran sungai. Bukan karena rasa lelah. Melainkan, karena melihat Lafia dan Claudia yang menunjukkan rasa lelah yang luar biasa.


Mengingat mereka bukan bagian kelas 1-S yang mendapat pelatihan keras dari Frey-sensei dan hukuman lari selama setengah hari Alex-sensei selama 2 Minggu.


Dylan memutuskan untuk beristirahat sebentar sampai kedua nya sanggup untuk melanjutkan lari mereka.


"Ha.... Ha.... Ha..... Maaf ya...... Ha....... Jika kami berdua ini....... Ha...... Adalah beban buat kalian".


"Ha.... Ha....Ha.... Gara-gara.... Ha.... Kami.... Kalian.... Ha.... Jadi terhambat".


"Tenang saja, kami paham betul kondisi kalian".


"Berlari selama 1 jam lamanya, pasti berat buat kalian".


"Itu wajar jika kalian sangat kelelahan.... Ini minumlah".


Lafia dan Claudia segera meminta maaf, karena merasa bahwa mereka berdua adalah penghambat.


Tapi. Sylvia, Emilia, Olivia mengatakan bahwa itu tidak apa-apa. Bagi mereka, ini adalah hal yang wajar dan bahkan menyuruh keduanya untuk istirahat sambil meminum air yang diberikan oleh Olivia.


Sambil menikmati minuman dan waktu istirahat sejenak. Pandangan Claudia teralihkan ke arah Dylan dan Ritzia yang saat ini malah melakukan Sparing Battle dengan tangan kosong.


Beberapa kali, Ritzia mencoba melayangkan tinjuan dan tendangan kearah Dylan. Namun, semua itu berhasil di tahan dan di hindari. Begitu pun dengan Dylan yang melakukan hal yang sama.


Tampak sekali wajah bahagia yang dipancarkan oleh Ritzia, itu terbukti dengan dia yang tersenyum lebar dan Dylan yang juga tersenyum tipis sebagai respon atas tindakan Ritzia.


Tidak seperti yang lain termasuk Filaret yang biasa melihat adegan ini. Lafia dan Claudia malah menatap keduanya dengan tatapan penuh kebingungan.


"Kalian berdua tidak usah kebingungan begitu..... Ini adalah hal yang wajar terjadi di kelas kami".


"Wajar?".


"Hal seperti ini?".


Meski sudah di jawab oleh Ornest, Lafia dan Claudia masih saja kebingungan. Dan mau tidak mau dia harus menjelaskannya.


"Frey-sensei, selalu bilang "manfaat setiap waktu luang kalian untuk berlatih".... Jadi, kami sepakat memanfaatkan waktu istirahat untuk melakukan sparring battle dan saling menganalisa kemampuan kami masing-masing".


Mendengar penjelasan singkat dari Ornest membuat Claudia dan Lafia mengerti. Dan tepat di saat yang bersamaan Dylan berhasil menghindari serangan Ritzia dan memanfaat celah itu untuk langsung memutarnya dan menahan tangan kiri kebelakang.


"Ini kemenangan ku, Ritzia".


"Iya, iya, aku tahu..... Bisa lepasin ngak... Tanganku sakit tahu".


Dylan yang mendapat pengakuan kemenangan dari Ritzia segera melepas kuncian. Merasa terbebas, Ritzia segera duduk dan mulai melepaskan bahu tangannya yang terasa sakit.


"Ya ampun.... Dasar brengsek kau, Dylan..... Bahkan melawanku yang notabenenya adalah putri Raja.... Kau benar-benar tidak menahan diri sama sekali".


"Jika aku menahan diri.... Maka sparring ini pasti akan sia-sia saja".


"Iya kau benar juga, sih".


Melihat bagaimana Ritzia dan Dylan bercengkrama membuat Filaret terus-menerus menatap dengan tatapan yang menyeramkan.

__ADS_1


Meninggalkan Ritzia yang masih terduduk di batu. Dylan melihat kearah Lafia dan Claudia.


"Bagiamana kondisi kalian?..... Apa rasa lelah kalian sudah hilang?".


"Iya".


"Kami sudah cukup beristirahat".


Mendengar jawaban singkat dari Claudia dan Lafia. Dylan sempat tersenyum tipis untuk sesaat dan kembali berbicara.


"Kalau kalian merasa lelah.... Jangan ragu untuk memberitahu kami...... Yosh, kurasa kita sudah cukup istirahat nya.... Sekarang, ayo kita-----"


Belum selesai dengan instruksi nya, Dylan tiba-tiba saja langsung mengalihkan pandangannya kearah rerimbunan pepohonan yang ada di sekitar mereka.


"Dylan-san.... Kau kenapa?.... Apa ada yang salah?".


"Tidak.... Tidak ada kok, Sylvia".


"Oh begitu, ya".


Melihat sikap Dylan yang tiba-tiba berubah menjadi sangat waspada, membuat Sylvia yang merasa khawatir segera bertanya yang seketika di jawab oleh Dylan.


"Kalau begitu, ayo kita lanjutkan".


"SIAP KAPTEN!!!!".


Dengan instruksi dari Dylan, semuanya segera berdiri dan kembali melanjutkan kegiatan Trail Running mereka. Namun, Dylan masih terus saja menatap lurus kearah sebuah pohon dengan tatapan penuh kecurigaan. Dia merasa ada seseorang dibalik pohon itu yang sedang memperhatikan dan mengawasi setiap gerak-gerik mereka.


"Dylan".


"Iya, aku tahu".


"Saran ku, kita pura-pura saja tidak tahu".


"Ok...... Ayo kita pergi, Awin".


Ternyata bukan hanya Dylan seorang saja yang merasa. Awin pun juga merasakan hal yang sama. Tapi, keduanya memutuskan untuk mengabaikan hal itu dan melanjutkan kegiatan mereka.


Dan dugaan Dylan dan Awin memang tepat.


Karena selang beberapa saat mereka pergi, sosok laki-laki dengan tudung muncul di balik pohon yang tadi di tatap oleh Dylan dan Awin.


"Luar biasa.... Jadi dia bocah yang bernama Dylan van Arcadia yang di ceritakan Charles.... Benar-benar anak yang berbahaya..... Walaupun aku sudah menghilangkan hawa keberadaan ku dengan sihir.... Tapi, dia bisa menyadari keberadaan ku dengan sangat mudahnya..... Dan, bocah rambut burgundi yang berada di sebelahnya juga punya reaksi yang sama..... Aku harus hati-hati dengan keduanya..... Karena mungkin keduanya akan menjadi ancaman untukku".


Setelah melihat sosok Dylan sekaligus tidak sengaja melihat Awin. Saat itu juga, Reiz menganggap Dylan termasuk Awin sebagai "ancaman" baginya.


(------------------)


Tak seperti saat pertma kali mereka berlari bersama. Dylan berlari paling depan meninggalkan Awin dan yang lain di belakang.


Namun, yang membuat semua kebingungan adalah sikap dari keduanya yang berubah. Dimana Dylan terus menunjukkan ekspresi tegang dan terkadang melihat kearah lainnya. Seolah-olah sedang mencari sesuatu.


"Hei, Fira...... Kakakmu itu kenapa sih?..... Dari tadi wajahnya tampak tegang..... Seperti sedang memikirkan sesuatu".


"Ngak tau.... Aku juga sama herannya dengan kalian".


Olivia yang penasaran dengan perubahan sikap Dylan bertanya pada Filaret dengan harapan dia mengetahui sesuatu. Namun, ternyata Filaret juga sama bingungnya dengan yang lain melihat perubahan sikap Kakaknya itu.


Di saat semuanya kebingungan dengan sikapnya yang berubah. Dylan tiba-tiba menghentikan langkahnya, melihat hal itu tentu saja mereka juga ikut berhenti.


"Dylan kenapa berhenti?".


"Apa kau merasa lelah?".


Ornest dan Garcia menjadi perwakilan dan bertanya kenapa Dylan berhenti berlari. Tak ada jawaban langsung dari nya, selang beberapa saat Dylan mulai berbicara namun dia malah balik bertanya.


"Bukankah, ini terlalu berisik?".


Mendengar itu, semuanya segera kebingungan dengan apa maksud dari perkataan Dylan barusan.


"Kalau yang Nii-san maksud itu kami yang terlalu berisik.... Maaf deh, kami akan fokus------".


"Bukan kalian..... Tapi, hutannya".


"Eh?".


Filaret dan yang lainnya terkejut setelah mendengar maksud dari perkataan Dylan barusan. Dengan segera mereka langsung memperhatikan lingkungan sekitar dengan tatapan waspada.


Sementara itu, Lafia dan Claudia yang tidak mengerti apa yang di maksud oleh Dylan dan tindakan Awin, Arnold, Ornest, Garcia, Ritzia, Filaret, Olivia, Emilia dan Sylvia yang langsung mengambil sikap waspada sambil terus memperhatikan sekitarnya.


Kemudian------.


BOOM!!!.

__ADS_1


"Ledakan".


"Dari mana itu?".


Tiba-tiba terdengar suara ledakan yang sangat dahsyat. Sangking besarnya ledakan itu, gumpalan api ledakan itu sampai membumbung tinggi di langit. Dan tentu saja, ledakan itu membuat Dylan dan yang lainnya terkejut bukan main.


Karena tidak tahu dimana titik ledakan itu barusan, Arnold tiba-tiba mengambil semacam gulungan kertas dari dalam item box nya dan membukanya di tanah.


"Guys.... Kemarilah".


Tanpa pikir panjang mereka segera berkumpul mengelilingi Arnold. Dan mereka terkejut sesaat, karena gulungan yang dibawa Arnold adalah peta hutan Elbrand.


"Hei, Al.... Bagaiman kau bisa mendapatkan peta ini?".


Sylvia yang heran segera bertanya dari mana Arnold bisa mendapatkan peta ini yang bahkan tidak dimiliki oleh murid yang lain.


"Aku mencurinya dari ruang guru.... Buat jaga-jaga agar kita tidak tersesat".


"Huh?".


Sylvia hanya bisa menatap diam mendengar jawaban dari Arnold.


"Tidak penting peta ini di dapat dari mana...... Al, kira-kira kau tahu di mana titik ledakan itu berasal?".


"Etto.... Tunggu sebentar".


Arnold meminta Dylan untuk menunggu sebentar dan memeriksa melalui peta dan kompas yang dia bawa.


"Kita berada di titik koordinat lintang Utara : 7. 57897.... Dan titik ledakan kemungkinan ada di titik koordinat bujur timur : 7. 582637..... Yang berarti.... Titik ledakan berasal dari rute tengah tempat dimana sarang Monster berada".


"APA KATAMU?".


Mendengar pertanyaan dari Arnold seketika mereka semua terkejut bukan main. Bagaimana tidak, soalnya sumber ledakan barusan berasal dari sarang para monster.


Di tengah kebingungan itu, Dylan kembali bertanya kepada Arnold karena dia merasa ada sesuatu yang mengganjal.


"Al, apa di sekitar sini ada semacam pemukiman penduduk atau desa?".


"Etto...... Ah, ada di koordinat 7. 579097 yang jaraknya sekitar 450 meter dari lokasi titik ledakan".


"Cih, sialan kita tidak akan sempat meminta bantuan".


"Dylan apa maksudmu?".


Ritzia yang melihat Dylan mendecitkan lidah bertanya penyebab dari kejengkelan nya berasal. Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, Dylan segera memberikan sebuah jawaban yang mencengangkan semua orang.


"Begini.... Ledakan itu berasal dari rute tengah yaitu sarang para monster..... Sudah menjadi sifat alami bagi binatang, untuk melarikan diri saat merasa adanya bahaya..... Yang jadi masalah sekarang adalah rute yang di gunakan oleh para binatang itu untuk melarikan diri".


Ritzia memperhatikan baik-baik apa yang hendak di sampaikan oleh Dylan.


"Dan disinilah masalahnya.... Jika ledakan itu terjadi di selatan sarang.... Maka satu-satunya rute untuk mereka kabur adalah melalui rute Utara..... Dan sialnya, rute itu berpas-pasan langsung dengan sebuah desa.... Yang artinya.....".


"Para binatang itu akan menyerang desa yang mereka lewati".


"Tepat sekali".


Ritzia dan yang lain langsung tertunduk lemas mendengar kesimpulan dari Dylan.


"Sekarang kita musti gimana, Dylan?..... Kita tidak membawa Protas untuk meminta bantuan?..... Kalau pun kita kembali untuk meminta bantuan..... Jarak kita sudah sangat jauh dari titik start dan itu juga tidak akan sempat".


Dylan merenung sesaat dan tidak menjawab pertanyaan dari Awin. Saat ini, Dylan tahu bahwa dia sedang berpacu dengan waktu.


"Al.... Berapa jarak lokasi kita dengan desa itu".


"400 meter".


"Yosh, baiklah".


Dylan segera mengambil dua pedang katana dari item box nya dan menggantungnya di pinggang. Melihat tindakan Dylan


Awin juga mulai mengeluarkan senjata mirip gabungan bilah pedang dengan nunchaku yang dia beri nama Misery Cleaver. Ornest dengan Blade-tonfa, Garcia dengan Matilda-blade, Arnold dengan pedang Siden dan Armor besi lengan kirinya, Filaret dengan Sabitnya, Ritzia dengan Knuckle Blade, Emilia dengan Tombak Halberd Sylvia dengan Pedang Musketeer dan Olivia dengan Twin Kusarigama.


"Tunggu dulu?".


"Kalian mau kemana?".


Lafia dan Claudia yang kebingungan dengan Dylan dan yang lain tiba-tiba mengeluarkan senjata, segera bertanya.


"Bukankah sudah jelas..... Daripada menunggu bala bantuan...... Kami akan pergi menolong penduduk di desa itu".


Claudia dan Lafia segera terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Dylan. Bahwa dia akan pergi menyelamatkan penduduk desa yang mendapatkan serangan binatang akibat ledakan tadi.


"Yosh, kalau begitu....... Ayo semuanya!!".

__ADS_1


Dengan aba-aba dari Dylan mereka semua segera berlari sekuat tenaga menuju desa tersebut. Claudia dan Lafia juga ikut bersama mereka meski mereka tidak bisa bertarung, namun setidaknya mereka bisa memberi sedikit bantuan.


__ADS_2