
Sebuah tusukan yang kuat dilapisi oleh sihir elemen petir yang gila melesat menyerang Arnold yang baru saja menoleh.
Meski berhasil menghindar, sengatan dari petir itu berhasil mengenainya. Bukan hanya itu saja, bahkan serangan itu menghancurkan tanah dan menciptakan asap debu yang menyakitkan mata.
"Fiuh..... Tidak ku sangka..... Serangan keras seperti itu masih belum cukup untuk menumbangkan bocah sepertimu, ya".
Hendry menghembuskan nafasnya setelah melihat Arnold yang berhasil menghindar dan bertahan dari serangannya.
"Tapi, sekuat apapun kau.... Dirimu tetaplah manusia biasa..... Sedikit demi sedikit.... Rasa lelah dan luka yang kau terima..... Akan merenggut nyawa mu".
Nampak jelas di mata Hendry, kalau tubuh Arnold sudah mencapai batasnya. Itu terlihat dari wajahnya yang tampak lelah, keringat yang bercucuran dan nafasnya yang tidak beraturan. Dan Arnold membalasnya dengan menatap tajam kearah Hendry.
"Woi, woi..... Jangan menatapku dengan penuh amarah begitu, karena aku bertindak layaknya seorang pengecut".
"Tidak..... Aku tidak marah karena tindakan mu barusan..... Karena di sebuah pertarungan atau Medan perang sekalipun.... Pengecut adalah bagian dari kekuatan".
"Hou.....".
"Lagian, aku bisa tahu hanya dengan melihatmu..... Bahwa kau adalah seorang jenius yang bersembunyi dibalik sifat pengecutnya adalah dirimu yang sesungguhnya, Hendry-san".
Mendengar jawaban Arnold membuat Hendry terkesan bahkan sampai tersenyum. Tapi, itu tetap tidak menjawab alasan kenapa Arnold tampak marah dengannya.
"Heeee.... Begitu ya..... Terus kenapa kau tampak emosi sekarang".
"Itu karena aku tidak habis pikir..... Kenapa orang hebat dan jenius seperti mu..... Rela membuang sisi kemanusiaan mu dan merubah dirimu menjadi Chimera?".
Pertanyaan Arnold sukses membuat Hendry terkejut bukan main bahkan sampai membelalakkan kedua matanya.
Terjadi keheningan diantara ke duanya dan tempat yang sudah dingin dan lembab itu. Terasa semakin dingin, dan hal itu terjadi sampai Hendry kembali buka suara.
"Bagaiman kau bisa tahu?".
"Aku tidaklah sebodoh itu untuk tak menyadarinya".
Arnold kemudian berbicara sambil memperbaiki posisi berdirinya.
"Sejak kami di beri tugas untuk menyergap kalian dan menyelamatkan Claudia.... Aku memang sudah menduga, setidaknya ada beberapa ksatria yang pasti menghalangi kami.... Dan aku sangat yakin kalau para ksatria itu adalah mereka yang berhasil menjadi Chimera...... Sialnya, dugaan ku itu memang benar".
"Singkatnya, kau punya firasat..... Bahwa kau akan berhadapan dengan salah satu ksatria penjaga yang sudah menjadi Chimera, begitu?".
"Ya seperti itulah".
Hendry sangat terkesan dengan firasat dan intuisi yang dimiliki oleh Arnold yang dengan cepat paham tentang dirinya yang sudah menjadi Chimera.
"Kau memang hebat, Al...... Btw, apa kau mau dengar kenapa aku memutuskan untuk ambil andil dalam projek ICA ini?".
"Apakah itu cerita yang panjang?".
"Ya, begitulah.... Tapi tenang saja..... Itu tidak akan memangkas waktu kita".
Lalu keduanya menurunkan senjata mereka, dan mencari batu untuk duduk sejenak. Kemudian, Hendry mulai bercerita soal masa lalunya dan Arnold mendengar kan dengan seksama.
"Kita mulai dari pertanyaan sederhana..... Al, kira-kira berapa usia ku?".
Arnold yang mendengar pertanyaan itu sempat kebingungan sesaat sebelum dia memutuskan untuk menjawab asal.
"Entahlah, mungkin sekitar antara usia 25-30 tahunan".
Mendengar jawaban Arnold, Hendry tersenyum sesaat lalu dia menggelengkan kepalanya.
"Salah".
"Hm?".
"Meski terlihat muda...... Sebenarnya, usia ku itu sudah di penghujung akhir 60 tahun".
__ADS_1
"...... Apa hubungannya antara usia dan cerita yang akan kau ceritakan padaku?".
Meski tersentak untuk sesaat, Arnold kembali bertanya kepada Hendry. Sambil tersenyum dan pikirannya kembali ke masa lalu, Hendry mulai menceritakan pengalaman hidupnya.
"Seperti yang kau bilang..... Dulu, saat aku masih muda.... Aku adalah ksatria paling berbakat di Kerajaan Strost, bahkan orang memanggilku dengan panggilan "jenius".... Bukan hanya dari skill bertarung saja.... Aku punya banyak prestasi dalam hal kemiliteran, memenangkan festival "Dewa Perang"....... Dan selalu menjadi ksatria andalan Kerajaan Strost...... Setiap musuh yang mengetahui atau mengenalku, pasti akan lari ketakutan hanya dengan mendengar nama ku di panggil...... Di saat itulah, aku merasa berada di puncak tertinggi sebagai ksatria..... Bahkan rasa superioritas waktu itu, masih bisa aku rasakan sampai sekarang".
Hendry bercerita sambil menatap telapak kanannya dan pikirannya yang membayangkan dia yang dihormati dan disegani oleh banyak orang.
Lalu entah mengapa dia tiba-tiba meremas tangannya itu kuat-kuat dan kembali melanjutkan ceritanya dengan menunjukkan emosinya.
"Tapi semua itu hancur 20 tahun yang lalu..... Di usiaku yang menginjak 49 tahun...... Saat aku menikmati puncak dari kejayaan ku, tiba-tiba dokter menfonisku dengan sebuah penyakit yang tidak bisa di sembuhkan..... Mengetahui kabar ini, Yang Mulia Ritcher memintaku untuk pensiun, bukan hanya karena faktor usia...... Penyakit ku jugalah yang menjadi alasan lainnya... Tapi, aku memohon padanya agar dia membiarkanku tetap berada di skuat Ksatria..... Dan sebagai bukti bahwa aku masih layak, aku memutuskan untuk ikut kembali dalam festival "Dewa Perang"....... Aku berhasil mencapai final dengan sangat mudah..... Tetapi...... Kemudian, aku dikalahkan dengan sangat memalukan oleh seorang ksatria muda dari Kerajaan Rachael...... Nama dari bajingan tengik yang mengalahkan ku tidak akan pernah aku lupakan..... Luke James Asher".
Hendry kembali teringat akan kekalahannya di final festival "Dewa Perang" di tangan ksatria dari Kerajaan Rachael yaitu ketua dari 10 Ksatria suci, yaitu Luke James Asher.
"Aku tidak akan pernah melupakan tatapan matanya yang merendahkan ku".
Momen ketika Hendry tersungkur kalah dan Luke yang menodongkan pedang sambil menatapnya, kembali muncul di ingatannya.
Hendry tampak sangat jengkel mengingat kejadian memalukan yang dia alami saat itu. Selang beberapa saat, Hendry kembali tenang dan melanjutkan ceritanya.
"Melihat bagaimana aku dikalahkan, Yang Mulia tetap kekeh pada perintahnya untuk menyuruhku pensiun..... Dia menilai, karena penyakit yang aku derita dan usiaku yang hampir 50 tahun itulah yang menyebabkan kekalahan ku..... Namun, aku tidak menyerah begitu saja..... Aku terus-menerus membujuk Yang Mulia agar dia tidak mempensiunkan diriku...... Sampai akhirnya, dia memberiku kesempatan lagi...... Yaitu, aku harus memimpin pasukan untuk melakukan invasi ke kota Algrand...... Saat itu, aku di tugaskan untuk memimpin sekitar 400 ksatria dan berjaga-jaga di luar kota sambil menunggu sinyal dari Thousand Faces".
Hendry kembali terlihat emosi.
"Setelah menunggu lama, sinyal itu sama sekali tidak pernah tampak.... Belum cukup sampai di situ, lokasi tempat kami bersembunyi berhasil di ketahui oleh para Ksatria Kerajaan Ingrid..... Dan tanpa basa-basi mereka langsung menyergap kami semua..... Semua kstaria yang berada di perintahku mati di tempat..... Sementara aku, kembali di kalahkan dan dipermalukan lagi..... Kali ini, oleh bocah lain bernama Rufus Dom Silva".
Terbayang momen pertarungan antara Hendry dengan Rufus yang tampak berat sebelah.
"Belum sampai di situ saja..... Aku juga dengar, bahwa Yang Mulia juga berhasil di tangkap saat itu..... Dan akhirnya, kami terpaksa harus menyerah dan pulang dengan kekalahan yang sangat memalukan...... Karena aku tidak bisa membuktikan kelayakan diriku, aku benar-benar merasa sangat putus..... Yang Mulia sudah kehilangan kepercayaan kepadaku..... Semua orang yang mengagumi ku.... Sekarang, malah merendahkan ku..... Andai saja..... Penyakit ini tidak menghalangi ku..... Maka aku akan menjadi ksatria terkuat sepanjang masa Kerajaan Strost".
Sambil mendecitkan gigi belakangnya, Hendry melanjutkan ceritanya.
"Lalu saat aku terpuruk dengan apa yang aku alami..... Tiba-tiba seorang utusan datang menemui ku..... Dia bilang Yang Mulia Ritcher ingin "bertemu" dengan ku..... Mendengar itu, perasaan was-was mulai muncul..... Dan dengan terpaksa pergi menemuinya..... Ketika aku datang ke hadapannya, lalu bertanya apa keinginannya..... Seketika, rasa was-was ku berubah menjadi rasa senang".
Ingatan tentang pertemuannya dengan Ritcher terbayang dalam pikiran Hendry. Dan itu membuat nya tersenyum lebar.
Hendry mulai tersenyum lebar bak orang gila yang tinggal selangkah lagi, semua keinginannya sudah tercapai.
"Hmmm.... Kau hanya diam saja, Al..... Apa ceritaku kepanjangan?".
Hendry yang merasa Arnold hanya menatap nya dengan diam bertanya apa dia terlalu lama bercerita. Butuh waktu sesaat, untuk Arnold menjawab pertanyaan itu.
"Entahlah, mendengar keseluruhan cerita mu..... Aku hanya tidak tahu harus bereaksi seperti apa?..... Tapi, aku bisa paham dengan apa yang kau rasakan...... Sudah susah payah berusaha mencapai posisi puncak.... Baru saja menginjakkan kaki, kau harus kembali jatuh ke dasar...... Itu adalah rasa yang paling menyakitkan".
"Hahaha..... Aku tidak menyangka kau akan tetap tenang seperti itu".
Hendry tertawa karena dia tidak menyangka setelah melihat reaksi Arnold yang tampak tenang.
"Ya begitulah,..... Soalnya dulu, aku hanyalah anak naif, yang mudah percaya akan semua hal dan selalu berpikir positif tentang segala sesuatu...... Tapi kemudian semua berubah, di saat aku tahu bahwa aku bukanlah anak yang di "harapkan"..... Tidak peduli apa pencapaian maupun prestasi yang aku punya..... Kedua orang tuaku tidak pernah melirik ke arahku.... Dan seluruh pencapaian maupun prestasi ku akan selalu di klaim milik kedua adikku, Leonard dan Elna..... Menerima perlakuan seperti itu, akhirnya aku sadar betapa salahnya diriku melihat kehidupan ini...... Sejak saat itu, aku putuskan untuk hidup dengan cara memilah-milah apa yang penting bagiku dan membuang apa yang tidak penting...... Jadi aku bisa mencapai tujuanku, tanpa harus kehilangan apa yang berharga bagiku..... Itu semua tidak terlepas dari fakta seiring manusia itu hidup, akan semakin banyak hal yang menjadi penting untuk mereka seperti berteman, jatuh cinta, kekayaan dan lain sebagainya....... Tapi, aku berusaha untuk memotong semua hal itu....... Tidak butuh ini, buang yang itu...... Dan seiring aku menghapus semua hal yang penting bagiku..... Aku sadar akan beberapa hal yang tidak akan pernah bisa aku lepaskan".
Seketika wajah dari rekan-rekan kelas 1-S, Frey, Alex, Leon, Claudia, bahkan Lafia muncul dalam benak Arnold. Lalu dia kembali berdiri dari duduknya dan menggenggam pedang Siden miliknya.
"Aku hidup hanya demi hal seperti itu..... Tanpa peduli akan resikonya..... Tetapi, walaupun begitu..... Mendengarkan cerita mu yang menghalalkan segala cara agar kembali menjadi yang terkuat...... Dan menyalahkan orang lain karena kegagalan mu sendiri..... Bahkan dengan teganya membantai orang-orang tidak bersalah tanpa alasan yang jelas........Walau sedikit saja......... Kau..... Benar-benar....... Membuatku muak".
Ucap Arnold dengan nada penuh emosi dan aura yang mengerikan sambil mengarahkan pedangnya ke Hendry.
"Hmmmm..... Jadi, pada akhirnya..... Kita tidak akan saling mengerti, ya".
Hendry segera berdiri lagi sambil memegang tombak miliknya. Dan sekarang keduanya sudah siap melanjutkan pertarungan yang tertunda.
(--------------------)
Keduanya mulai kembali memasang kuda-kuda bertarung. Mata mereka saling fokus dan menatap kearah lawan yang ada didepan. Keheningan dan suasana dingin terjadi diantara keduanya.
Hanya terdengar suara dari air terjun yang terus mengalir begitu deras dan indahnya sambil disinari cahaya rembulan yang lembut menembus kegelapan malam dan dalamnya goa tersebut.
__ADS_1
Keduanya mulai menarik nafas dan menghembuskan nya dalam momen yang bersamaan.
Tak berselang lama, sosok kedua tiba-tiba langsung menghilang dan hanya menyisakan debu yang berterbangan.
Muncul suara dari 2 senjata yang saling bertabrakan dengan kecepatan tinggi sampai menciptakan percikan api setiap kali saling bersinggungan memecah keheningan di dalam goa.
Betrokan antara Arnold dengan pedang Siden dan Hendry dengan tombak Kapak nya terjadi begitu cepat, kuat, keras dan intens daripada sebelumnya. Tampak wajah yang menandakan bahwa salah satu dari keduanya tidak mau menyerah begitu saja.
Lalu saat Arnold menerjang maju, Hendry tiba-tiba mengarah kan serangan tombaknya ke arah bebatuan dan menghancurkan nya.
Arnold yang terkejut tidak punya pilihan lain selain untuk melompat mundur. Tapi, itu saja masih belum cukup.
Karena pecahan bebatuan yang di hancurkan oleh Hendry malah melesat kearahnya. Karena itulah, Arnold harus sebisa mungkin menghindarinya.
Berhasil menghindari bebatuan yang berterbangan itu, Arnold dibuat kebingungan karena dia tidak melihat sosok Hendry. Dan dia segera menyadari sesuatu.
(Dia menggunakan pecahan batu untuk membuatku kehilangan fokus padanya).
Setelah bergumam seperti itu, Arnold merasa ada seseorang yang saat ini terbang di atasnya. Begitu menoleh keatas, disana dia melihat sosok Hendry yang sudah bersiap menganyunkan tombak Kapak nya kearah Arnold.
(Dia memanfaatkan cahaya bulan yang tidak terlalu mencolok di dalam goa dan tidak akan menimbulkan bayangan..... Lalu menyerang titik buta ku).
"Kita mulai, Al!!!".
Dengan menggunakan kedua tangan dengan tujuan untuk meningkatkan kekuatan ayunannya, Hendry dengan brutal menyerang Arnold yang ada di bawahnya.
"Bloody Spear : Lighting Smasher Of Netherworld!!!".
Serangan ayunan yang kuat, cepat dan keras secara vertikal segera menerjang Arnold. Dan ketika serangan itu mencapai tanah, seketika muncul sebuah ledakan yang dahsyat dan diikuti dengan petir yang menyengat kemana-mana.
Hendry tersenyum puas saat melihat serangannya berhasil.
"Hahaha..... Lihatlah, Al..... Inilah kekuatan yang------ Eh?".
Belum bisa menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba muncul cipratan darah yang ternyata berasal dari badannya Hendry yang entah bagaimana bisa terkena tebasan.
"Ugh".
Kuatnya serangan itu membuat, Hendry terduduk sambil merasakan rasa sakit. Tak berselang lama, di balik debu yang berterbangan itu muncul sosok Arnold yang tenyata berhasil menghindari serangan tadi.
Tapi, dia juga bisa melakukan serangan balik bersamaan dengan dia yang menghindari serangan Hendry barusan.
"Siden Sword Technique : Absolute Hard Swing".
Kemudian Arnold menyebutkan nama teknik yang dia pakai untuk menyerang balik Hendry. Sebenarnya, apa yang terjadi?
Sebelum serangan Hendry berhasil mencapai nya, Arnold dengan sigap berhasil melompat menghindari serangan tersebut, dan dalam jeda waktu yang singkat, dia melihat celah diantara momentum sebelum tombak Hendry menabrak tanah.
Dengan memanfaatkan celah yang sangat cepat itu, Arnold tanpa ragu sedikitpun langsung menebasnya sambil melompat mundur.
Karena Hendry masih fokus kepada serangannya, maka dia tidak menyadari bahwa Arnold sudah menyerangnya.
"Teknik yang barusan kau gunakan........ Apa kau menebas titik vital ku, tadi?".
Sambil menahan rasa sakit, Hendry bertanya kepada Arnold tentang serangannya.
"Aku tidak melihatnya, aku hanya memprediksikan nya saja..... Semua itu berdasarkan kebiasaan berpikir, pola serangan yang hampir selalu sama, kuantitas dan kualitas otot, akurasi dan manipulasi kekuatan baik siji maupun fisik..... Atau semacam itulah..... Aku menganalisa, memproses dan menyimpannya di otakku".
Ucap Arnold sambil menunjuk kearah kepalanya sendiri. Lalu, Arnold kembali memperbaiki posisi bertarungnya dan menatap tajam kearah Hendry yang terduduk kesakitan.
"Kalau begitu, Hendry-san...... Bersiaplah..... Karena aku..... Akan mulai menyerang balik".
Mendengar perkataan Arnold yang terkesan sangat mengintimidasi dirinya. Membuat Hendry kembali teringat, akan kedua sosok Luke dan Rufus yang juga pernah melihat dirinya dengan tatapan seperti yang dilakukan oleh Arnold sekarang.
Mendapati fakta itu, Hendry mulai mendecitkan gigi belakangnya serangan mengeluarkan amarahnya.
__ADS_1
"Bajingan.... Kenapa kau mirip sekali dengan mereka".