Reborn As Villain

Reborn As Villain
Chapter 36 : Ekspedisi Dungeon part 3.


__ADS_3

"Dylan, Dylan, Dylan.... Buka mata mu, Dylan".


Suara itu terdengar samar-samar di telinganya. Matanya sangat berat untuk terbuka. Meski begitu, dia masih mencoba sekuat tenaga untuk membuka matanya.


Saat kedua matanya terbuka, pandangannya masih kabur dan pikirannya sedikit linglung. Tapi, setelah beberapa kali kedipan mata. Pandangan mulai jelas.


"Awin".


Itu adalah kata pertama yang dia ucapkan ketika melihat sosok laki-laki berambut burgundi yang ada di depannya.


"Ah, baguslah.... Akhirnya kau sudah sadar".


Awin menjadi lega melihat Dylan yang kembali tersadar dan segera duduk di sebelahnya. Sambil memegang kepalanya, Dylan mulai memperhatikan sekitarnya dan menyadari sesuatu.


"Hei, Awin... Jangan bilang----".


"Iya.... Kita terjatuh kedalam jurang Dungeon dan aku tidak tahu lantai berapa ini".


Keheningan terjadi diantara mereka berdua. Mereka hanya duduk sambil terus memperhatikan sekitarnya.


"Jadi..... Apa yang musti kita lakukan?".


Awin mencoba memecah keheningan dengan bertanya apa langkah mereka selanjutnya kepada Dylan.


"Sudah jelas.... Kita harus cari jalan keluar..... Tapi, ini tidak mudah".


"Iya, mengingat kita ada dilantai yang belum pernah di jelajahi, kan?..... Dan kita tidak tahu ada monster apa saja yang ada di lantai ini".


Dylan menganggukkan kepala kepada Awin sebagai tanda setuju.


"Yosh, kalau begitu tunggu apa lagi.... Ayo kita pergi sekarang".


"Sesuai keinginan mu, kapten".


Dylan dan Awin segera berdiri dan mulai menjelajah Lantai tempat mereka terjatuh untuk mencari jalan keluar.


Setelah berjalan cukup lama, langkah keduanya terhenti setelah melihat semacam kristal yang memancarkan cahaya yang indah menempel di langit-langit Dungeon.


"Woi, Dylan bukan kah itu.... Kristal Grants".


"Ha.... Sepertinya kristal itu menjadi sumber pencahayaan satu-satunya di dalam sini".


Keduanya tiba-tiba saja dibuat terkejut karena merasakan aura yang sangat kuat, ketika keduanya melirik kearah sumber Aura yang mereka berdua lihat adalah seekor kelinci yang berdiri dengan kedua kakinya menatap tajam kearah mereka.


"Awin".


"Aku tahu".


Keduanya segera mengambil sikap waspada. Meski hanya seekor kelinci, tapi Dylan dan Awin tahu bahwa kelinci itu bukan kelinci biasa pada umumnya.


Dan benar saja.


Dalam sekejap mata sosok kelinci itu menghilang dari pandangan keduanya. Saat keduanya mengalihkan pandangannya keatas.


Kelinci itu segera melesatkan sebuah tendangan yang dilapisi oleh sihir Angin yang kuat. Reflek, Dylan dan Awin segera melompat untuk menghindari serangan itu.


Sadar serangannya berhasil di hindari. Kelinci itu kembali melompat dan mengarahkan serangan yang bertubi-tubi kepada Dylan dan Awin.


Tentu saja, keduanya terus berusaha menghindari serangan yang gila itu sampai akhirnya Dylan berhasil menemukan sebuah celah dan memanfaatkan nya.


"Phantom Blade. Narrow Blade".


Tebasan pedang yang tipis dan tajam berhasil membelah kelinci itu menjadi 2.


"Fiuh.... Akhirnya".


"Serangan tadi itu.... Dia memang bukan kelinci sembarangan".


Belum bisa bernafas lega, keduanya melompat kesamping untuk mengindari sebuah serangan berupa tebasan dari arah belakang.


Ketika keduanya menoleh, rupanya yang melakukan itu adalah monster sejenis beruang besar dengan cakar nya yang besar dan sangat tajam.


Belum cukup sampai disitu saja, tiba-tiba muncul serangan petir yang entah dari mana. Dan setelah di perhatikan serangan itu datang dari beberapa ekor serigala.


"Woi, Dylan.... Kayaknya kita sudah dikepung ini".

__ADS_1


"Iya kau benar..... Kurasa bau darah dari kelinci dan luka yang kita miliki memancing mereka kesini".


"Lalu apa rencana mu?".


"Apa lagi, di situasi seperti sekarang ini hanya ada satu rencana.... Yaitu, rencana ESGB".


Mendengar hal itu, Awin sempat terkejut untuk sesaat. Ingatannya kembali ke masa lalu, ketika dia dan Kakak laki-laki sedang terpojok berhadapan dengan geng motor saat itu.


"Aniki, di situasi seperti ini apa rencana mu?".


"Bukankah sudah jelas.... Ayo kita gunakan rencana ESGB".


Awin tersenyum mendengar berencana itu. Lalu dia dan Kakak laki-laki nya itu segera melesat kearah para anggota geng motor itu sambil berteriak dan mulai mengajar mereka semua sampai tak tersisa.


[Note : ESGB adalah singkatan dari "Elu Senggol, Gua Bacok]


Di saat itu keduanya kembali melesat kearah monster yang ada didepan mereka dan mulai menghabisi mereka semua.


(---------------)


Entah berapa lama keduanya bertarung dengan para monster yang mengepung mereka. Selain rasa lelah yang luar biasa keduanya juga merasakan rasa lapar yang luar biasa.


Karena tidak punya pilihan lain, keduanya memutuskan untuk memakan daging dari para monster yang mereka bunuh.


Tapi, sebelum itu.


Keduanya mencari tempat yang aman untuk bersembunyi, karena khawatir nantinya aroma daging dan darah para monster yang mereka bunuh akan mengundang monster yang lainnya.


"Uwa.... Rasanya anyir banget".


Awin mengeluh setelah mengigit daging monster yang baru saja selesai di bakar.


"Mau bagaimana lagi..... Jika tidak memakan daging ini.... Kita dapat sumber tenaga dari mana?".


Dylan yang sebenarnya merasakan apa yang dikatakan Awin memilih untuk tetap menyantap daging itu, sambil meminum air.


Awin yang melihat itu sempat kebingungan, bukan karena Dylan yang masih dengan lahapnya menyantap daging itu. Melainkan dia kebingungan karena air yang di minum oleh Dylan.


"Air itu dari mana?".


Sambil mengunyah daging di mulutnya Awin mencoba untuk bertanya. Dan Dylan hanya menunjukkan sebuah batu Kristal yang berukuran besar berwarna biru transparan.


"Hou.... Apa aku boleh minta".


"Tentu saja".


Awin segera menodongkan gelasnya. Dan sesuai dengan apa yang dikatakan Dylan batu itu langsung mengeluarkan air yang bersih ke gelas milik Awin.


Begitu diminum sensasi rasa unik yang di rasakan membaut Awin terkejut dan daging yang dia makan menjadi tidak bau anyir lagi.


(Sebenarnya, rasa dari air ini mirip dengan minuman berenergi di kehidupan ku sebelumnya...... Jujur saja, aku penasaran batu apa ini sebenarnya.... Tapi, saat aku bertanya pada Sonia.... Dia justru bilang untuk tidak pernah menunjukkan batu itu kepada siapapun bahkan kepada Ayah dan Ibu sekalipun).


Sambil bergumam dalam hati, Dylan terus memperhatikan dan bertanya-tanya dari mana dan sebenarnya apa batu ini.


"Selagi kita istirahat..... Bagaimana kalau kita bahas yang sebelumnya".


Dylan kembali menatap Awin yang kali ini menatap dirinya dengan sangat serius. Tanpa di jelaskan pun sepertinya Dylan sudah tahu apa yang dimaksud oleh Awin barusan.


"Dylan.... Apa kau tidak merasa ada yang tidak beres dengan apa yang menimpa kita?".


"Iya.... Aku tidaklah sebodoh itu..... Aku juga merasa kalau kita ini memang di targetkan".


"Lalu menurutmu siapa yang "berpotensi" menjadi tersangka nya".


"Gimana ya..... Soalnya, terlalu banyak list nama di dalam otakku.... Tapi, yang jelas..... Orang yang menembak ku dan yang menembak mu adalah 2 orang yang berbeda".


"Hmm..... Lalu siapa yang "berpotensi" menjadi orang yang menyerang mu?".


"Kalau harus menyebutkan satu nama..... Maka, orang yang "berpotensi" menyerang ku saat di jembatan itu adalah...... Zuzan Fin Cifer".


Awin terdiam sesaat setelah Dylan menyebutkan nama Zuzan yang berpotensi sebagai pelaku dari penembakan sihir itu.


"Kenapa?".


"Simple saja..... Gadis itu Fans beratnya ibuku".

__ADS_1


(Zuzan Fin Cifer adalah salah satu Heroine yang bergabung dengan Harem Reiner.... Dia adalah seorang Mage selain Filaret..... Dia adalah gadis aneh yang sangat membenci Dylan tanpa alasan yang jelas..... Tapi, seiring berjalannya cerita.... Terungkap fakta alasan di balik kebenciannya adalah karena rasa irinya kepada Dylan yang terlahir sebagai putra dari Pavline..... Zuzan menjadi fans berat Ibu bukan hanya soal sihir dan pengetahuan yang hebat.... Melainkan, dia pernah di selamatkan Zuzan yang berada di ambang kematian..... Sejak saat itulah dia menjadi fans berat dari ibu dan menjadi orang yang paling membenci Dylan di party pahlawan..... Untuk Filaret.... Awalanya, dia juga sangat membencinya.... Tapi, itu berubah karena Filaret adalah penyihir yang dianggap hebat).


"Huh? Apa-apaan itu?..... Jika yang kau ucapkan itu memang benar adanya..... Bukankah dia itu ngak waras".


"Tingkat kewarasan setiap orang itu berbeda-beda..... Dan alasan orang menjadi tak waras juga berbeda-beda".


Dylan kembali mengunyah daging monster yang dia pegang. Setelah beberapa kunyahan, Dylan mulai bertanya balik ke Awin.


"Kau sendiri..... Siapa orang menurutmu "berpotensi" menjadi orang yang menyerang mu?".


Awin sempat terdiam beberapa saat dan wajahnya tiba-tiba berubah menjadi sedikit sedih. Kemudian dia mulai menjawab pertanyaan Dylan.


"......... Stella fou Chamble".


Dylan sempat menghentikan aktifitas makannya dan pandangan nya beralih kearah Awin.


"Stella..... Maksudmu, Stella yang---".


"Iya, Stella yang berdebat dengan mu waktu itu".


"Alasannya?".


Awin sempat menengok keatas langit-langit Dungeon untuk sesaat sebelum akhirnya dia kembali menengok ke arah Dylan.


"Sebenarnya aku males banget yang cerita..... Tapi, berhubungan yang bertanya adalah kau..... Maka tidak ada salahnya kalau aku sedikit bercerita."


Dylan semakin penasaran dengan apa yang barusan Awin katakan. Dan tak berselang lama Awin mengungkapkan sesuatu yang membuat Dylan sendiri juga terkejut.


"Sebenarnya....... Stella fou Chamble........ Adalah...... Mantan tunangan ku".


"Huh?".


(--------------------)


"Kami bertunangan saat kami berusia 10 tahun.... Kau mungkin tidak percaya..... Tapi, saat itu aku aku anak yang punya kelebihan berat badan..... Saat pertama kali aku melihatnya..... Aku benar-benar terkesan dengan kecantikan dan keanggunannya...... Makanya, aku jatuh cinta padanya sejak pandangan pertama...... Kemudian, aku menyatakan keseriusan ku untuk menjadi tunangannya...... Tapi, dia malah mengajakku ke arena bertarung untuk saling beradu pedang..... Tapi, karena aku benar-benar tidak tahu apapun soal pedang saat itu..... Maka aku berakhir dengan kekalahan telak..... Melihatku yang terkapar di tanah saat itu..... Stella bilang "Kalau kau serius dengan perkataan mu, maka jadilah orang yang lebih kuat dariku"...... Sejak saat itu aku mulai latihan mati-matian..... Baik itu berpedang maupun soal sihir.... Semuanya aku pelajari".


"Hmmmm".


"Karena aku tahu wilayah Asford adalah penghasil buah-buahan di kerajaan Ingrid.... Aku mulai berpikir untuk membuat semacam perusahaan pembuatan manisan dan selai buah untuk meningkatkan ekonomi wilayah Asford..... Selain itu, juga aku ingin membuktikan pada Stella bahwa tunggangannya ini bukan hanya kuat dalam pertarungan saja..... Tapi, juga orang yang ahli dalam mengelola wilayah dan bisnis".


"Hee.....".


"..... Tapi, semua berubah 1 tahun yang lalu".


Awin seketika menunjukkan ekspresi sedih yang luar biasa. Dia sempat terdiam sesaat sebelum akhirnya dia kembali bercerita.


"Suatu hari, saat aku sedang berlatih dengan Mysterius Cleave milikku di taman.... Seorang pelayan buru-buru datang kepadaku dan memberi tahu bahwa Stella berkunjung.... Tentu saja aku sangat senang akan hal itu.... Makanya, aku segera ganti baju dan langsung menemuinya.... Saat aku bertanya apa alasannya kemari dengan harapan dia akan menjawab dengan penuh suka cita.... Namun, itu semua sia-sia".


"Hm?".


"Entah bagaimana dia tiba-tiba berdiri dari kursinya dan marah-marah tidak jelas kepadaku..... Dia bilang "karena kau berubah menjadi terlalu kuat, orang-orang mulai meragukan kehebatan ku sebagai calon ksatria..... Bahkan, keluarga Marquis Chamble yang di hormati karena gelar Ksatria nya di permalukan habis-habisan oleh ku yang notabennya hanya anak seorang Earl Asford yang tidak punya latar belakang militer..... Hampir setiap harinya, dia selalu mendapatkan kritikan dari banyak orang dan mereka selalu membandingkan antara aku dengan mu yang bagaikan langit dan bumi......."........ Setelah puas mengeluarkan keluh kesahnya, dia bilang bahwa pertunangan kita resmi di batalkan...... Jujur, aku tidak paham dengan semua itu..... Dan saat itu aku hanya berpikir bahwa emosinya sedang tidak stabil..... Makanya aku tidak mengejar atau meminta kejelasan lebih lanjut kepadanya...... Sayangnya, itu adalah awal dari nasib buruk yang aku alami".


"Hm?".


"Beberapa Minggu setelah pertemuan kami..... Aku dapat kabar bahwa pabrik tempatku memproduksi selai buah Dan makanan manis ludes terbakar sampai tak tersisa..... Belum lagi, kebun tempat para petani juga ikut terbakar....... Lalu, muncul sebuah rumor bahwa aku melakukan kerja rodi kepada para warga Asford sampai ada yang menjadi korban....... Tentu saja, keluarga dan para warga wilayah Asford tidak ada yang percaya..... Karena mereka tahu bahwa aku cukup baik dan dekat dengan mereka...... Tapi.....".


Awin menjadi semakin sedih.


"..... Suatu hari seorang utusan dari ibukota datang ke kediaman kami...... Dan meminta ayahku untuk menjatuhi hukuman berupa pengusiran kepadaku dari keluarga Asford...... Jika tidak melakukannya, seluruh aset-aset keluarga Asford akan disita dan kami akan diturunkan pangkatnya menjadi rakyat biasa..... Ayah, Ibu dan warga Asford tentu saja menolak hal itu, karena mereka tahu aku tidak melakukan kesalahan apapun dan hanya dituduh sepihak...... Namun, aku memutuskan untuk pergi dari keluarga Asford dengan tujuan untuk agar Ayah, Ibu dan warga wilayah Asford tidak terkena dampak dari tuduhan palsu itu".


"Lalu kenapa kau masih menggunakan nama Asford dibelakang namamu?".


"Ayah yang menyuruhku..... Meski aku bukan lagi bagian keluarga Asford secara hukum Kerajaan.... Tapi, dia bilang bahwa aku tetaplah putranya mau apapun itu..... Bahkan saat aku mendaftar kesini..... Dia sengaja mengirim seorang pelayan pribadi untuk membantuku selama aku belajar disini".


"Hee..... Naas juga hidupmu".


"Apa-apaan itu?..... Simpati sedikit ngapa kek..... Tapi, ya udah deh..... Hidup itu harus berlanjut.... Lagipula, aku bersyukur bahwa gadis itu menunjukkan sifat aslinya sebelum kami terikat dalam pernikahan".


"Lalu bagaimana dengan semua hal yang buruk yang menimpamu?..... Berdasar dari yang aku dengar..... Itu semacam ulah dari seseorang".


"Iya, dan dugaan ku 100% adalah ulah Stella dan keluarganya".


"Begitu, ya".


(Semua yang di ceritakan oleh Awin mengenai karakter Stella ini benar-benar sesuai dengan apa yang dideskripsikan dalam game...... Dia adalah gadis yang paling gila pujian setelah Vanessa di party pahlawan dan begitu pun dengan keluarganya..... Jika ada orang biasa atau bangsawan yang punya perhatian lebih dari masyarakat..... Mereka akan melakukan berbagai tipu muslihat untuk menjatuhkannya...... Bahkan berdasar info dari Ayah..... Pernah ada seorang bangsawan berpangkat Count berserta keluarganya yang dieksekusi mati karena tuduhan palsu yang dilayangkan oleh keluarga Chamble).

__ADS_1


Setelah saling bercerita dan menyantap daging monster yang terasa anyir. Dylan dan Awin segera keluar dari tempat persembunyian secara perlahan-lahan agar tidak memancing monster lain.


Memastikan tidak ada apapun, keduanya kembali melanjutkan perjalanannya mencari jalan keluar Dungeon.


__ADS_2