Reborn As Villain

Reborn As Villain
Chapter 46 : Keputusan Lafia.


__ADS_3

Kejadian dimana Reiner ditampar oleh Lafia di depan umum membuat semua orang terkejut. Bagaimana tidak?


Sudah hal umum untuk tahu bahwa Lafia adalah tunangan dari Reiner. Bahkan semuanya tahu, betapa cinta dan setianya Lafia kepada Reiner meski dia sering mendapatkan ejekan dari pengikut Reiner yang tidak ragu sama sekali untuk membully nya.


Tapi, apa yang dilakukannya sekarang benar-benar diluar ekspektasi semua orang. Bahkan Vanessa dan Stella sampai membelalakkan matanya di depan kejadian itu.


"Lafia.... Kenapa?".


"Huh? Kenapa katamu?..... Sudah kuduga kau memang bodoh Reiner".


Dengan tatapan seperti melihat seonggok kotoran Lafia menjawab pertanyaan Reiner dengan nada yang sangat dingin.


Tanpa memperdulikan keterkejutan Reiner, Lafia segera mengalihkan pandangannya kearah semua siswa yang ada di bawah podium dan mulai berbicara.


"BEGITUPUN DENGAN KALIAN SEMUA YANG ADA DI RUANGAN INI!!!!".


Dengan suara yang keras, secara tidak langsung Lafia mengejek semua siswa yang ada di sana sama bodohnya dengan Reiner.


"Apa kalian pernah berpikir dengan otak kopong kalian itu..... Resiko apa yang akan kalian terima jika kalian masih dengan bodohnya menuruti apa yang dikatakan oleh orang bodoh ini dan si tuan Putri yang katanya paling baik dan tercantik di Kerajaan ini beserta pengikutnya?...... Jawabannya adalah..... Kalian akan mati".


Mereka seketika begidik setelah mendengar fakta yang dikatakan oleh Lafia. Kemudian dengan mempertahankan ekspresi wajahnya dia kembali menoleh kearah Reiner.


"Reiner..... Apa kau sadar bahwa apa yang kau katakan barusan hanyalah sebuah omong kosong semata..... Kau dengan bodohnya meminta bantuan dari sekumpulan orang lemah dan beban ini, untuk menolong Claudia-san tanpa tahu menahu kekuatan dari orang-orang yang menculiknya...... Aku sama sekali tidak mengerti, apa ucapan mu itu adalah bentuk dari "kepercayaan diri" atau sebuah "kebodohan"..... Kau bahkan tidak memikirkan resiko terburuk apa yang akan terjadi jika kalian gagal".


Semua orang seketika naik pitam dengan apa yang dikatakan oleh Lafia. Bukan karena dia yang mengejek Reiner. Tapi, perkataannya yang bilang bahwa mereka adalah orang-orang lemah dan beban.


"Woi.... Apa yang kau katakan".


"Dasar gadis tak tahu diri".


"Berani-beraninya dia meremehkan kita".


"Dia bilang kita beban..... Padahal dia beban sebenarnya".


"Dia cuma benalu bagi Reiner-san".


"Yah, Kalian benar..... Aku ini memang beban".


Seketika perkataan Lafia yang lantang kembali membuat semua orang terdiam. Dan dengan cepat dia beralih kearah para siswa itu.


"Memang benar aku ini beban..... Dan aku memang lemah..... Bahkan lebih lemah dari kalian yang ada disini..... Tapi...... Aku adalah beban yang tahu diri..... Tidak seperti kalian, para beban tapi tidak sadar diri".


"APA!!!!".


Semua orang langsung terkejut karena Lafia tidak ragu sama sekali untuk mengatakan bahwa mereka itu "beban yang tidak tahu diri".


"Itu benar sekali..... Coba kalian pikirkan baik-baik dengan otak kopong kalian semua..... Kalian diberitahu bahwa orang yang menculik Claudia-san adalah orang-orang dari Kerajaan Strost..... Dan kalian ingin menyelamatkan nya.... Bukan itu saja, kalian juga ingin mencegah orang-orang itu untuk menyerang kita......... Itu benar-benar aksi yang heroik..... Aku beri kalian sebuah tepuk tangan yang meriah".

__ADS_1


Sambil tersenyum lebar, Lafia bertepuk tangan dengan tekad Reiner dan yang lainnya. Yang ingin menyelamatkan Claudia dan menghentikan orang-orang Kerajaan Strost itu.


".... Tapi, pertanyaan sekarang...... Apa kalian benar-benar tahu dimana letak dari fasilitas yang mereka miliki itu?...... Berapa jumlah orang yang berjaga disana?...... Seperti apa kekuatan mereka?...... Dan resiko terburuk jika kalian gagal?....... Oh, aku lupa........ Kalian kan..... Tidak punya otak untuk berpikir...... Jadi wajar jika kalian semua mudah untuk di manipulasi".


Semuanya semakin bertambah marah saat Lafia dengan entengnya mengejek mereka dengan. Namun, Lafia sama sekali tidak peduli dengan itu dan melanjutkan ucapannya dan kali ini dia mengalihkan pandangannya ke Reiner.


"Reiner..... Aku tahu kau ini orang baik...... Aku tahu kau tidak bisa melihat orang lain dalam kesulitan..... Tapi, apa kau sadar.... Kalau semua tindakan yang kau lakukan itu demi "menolong" orang lain, bukannya membawa kebahagiaan, melainkan malah penderitaan bagi yang lainnya".


"Lafia kau ini bicara apa? Aku sama sekali tidak mengerti".


Reiner yang masih kebingungan meminta Lafia untuk menjelaskan apa yang dia katakan.


"Apa kau ingat apa yang terjadi saat kegiatan Trail Running? Dan alasan kenapa kau dapat hukuman dari Alex-sensei?".


".... Itu karena aku menyerang sarang Serigala Tanduk".


"BUKAN!!!".


Jawaban Reiner segera di sangkal oleh Lafia. Dan tentu saja hal itu membuat Reiner dan semua orang yang ada disana terkejut.


"Reiner..... Tanpa kau beri tahu alasannya, aku sudah tahu kenapa kau menyerang para Serigala Tanduk itu..... Kau berpikir "Jika kita biarkan mereka, para binatang ini akan menyerang orang-orang yang melintas" karena itu makanya kau dan rekan satu tim, bersama si Putri Narsis itu menyerang mereka dengan membabi buta...... Tapi, apa kau tahu yang terjadi selanjutnya?".


Lafia segera menunjuk Reiner dan kembali berbicara.


"Para serigala tanduk yang ketakutan itu melarikan diri lewat lubang yang tidak sengaja kalian buat..... Dan hendak menyerang sebuah Desa kecil bernama Hage, yang kebetulan ada di jalur mereka".


"Eh?".


"Andai saja Dylan-san dan semua siswa kelas 1-S tidak mengambil rute Utara saat itu..... Aku yakin, kau pasti tahu apa yang terjadi selanjutnya..... Itulah, alasannya kenapa Alex-sensei memberikan hukuman kepadamu berserta semua para fans fanatik dan rekan setim mu".


Reiner hanya bisa tertunduk diam, dia benar-benar tidak bisa berkata apapun untuk menyangkal argumen dari Lafia.


Dia tidak bisa membantah perkataan Lafia karena dia tahu saat itu, Lafia satu tim dengan seluruh siswa kelas 1-S. Dan mereka yang baru kembali ke Akademi keesokan harinya.


Mengabaikan Reiner dalam keterkejutan, Lafia berjalan kearahnya Vanessa. Setelah dekat Lafia berhenti di depannya dan mulai berbicara.


"Dan kau Vanessa..... Apa yang kau lakukan setelah itu?...... Aku yakin kau sebenarnya sudah tahu alasan kenapa kau mendapat hukuman..... Tapi, apa selanjutnya...... Bukannya merasa bersalah, dan berusaha untuk meminta maaf kepada mereka yang menjadi korban dari tindakan konyol mu......... Kau dengan percaya dirinya masih bisa tersenyum dan bertingkah seolah-olah tidak terjadi apa-apa...... Sementara Ritzia-san..... Sampai detik ini selalu meneteskan air mata setiap kali dia mengingat orang-orang desa Hage yang menjadi korban dari kebodohan mu".


"A-apa?".


Vanessa terkejut bukan main, dia selama ini menganggap bahwa Lafia adalah gadis yang lemah dan tidak berani melakukan apapun tanpa bantuan Reiner. Dan dia yakin sekali, kalau gadis ini tidak akan pernah menentangnya.


Tapi, sekarang. Lafia dengan beraninya menyalahkan dirinya bahkan sampai mengarahkan jari telunjuknya dan membandingkan dirinya dengan Ritzia.


"Bahkan kau tidak merasa bersalah setelah kau, dengan seenaknya sendiri memberi perintah untuk menembak Nidhogg dengan sihir saat Dylan-san dan Awin-san masih ada disana".


"Lafia hentikan sikap tidak sopan mu kepada, Putri Vanessa".

__ADS_1


"Diam kau dasar penjilat".


Stella yang merasa perkataan Lafia sudah keterlaluan kepada Vanessa mencoba untuk menghentikannya. Hasilnya, malah Lafia berbalik membentak dirinya.


"Kata-kata ku itu berlaku juga untukmu, Stella-san..... Kau mengatakan bahwa kau adalah "pengawal Putri Vanessa"..... Tapi, apa yang kau lakukan saat di Dungeon waktu itu?..... Aku masih ingat dengan jelas bahwa kau meringkuk ketakutan saat berhadapan dengan para goblin.... Bukan itu saja, kau bahkan juga ikut menyalahkan seluruh siswa kelas 1-S yang sudah mau repot-repot membantu kalian...... Andai, Ritzia-san tidak menghentikan Dylan-san saat itu..... Kau sudah jadi seonggok mayat sekarang".


Stella tidak bisa membalas apa yang dikatakan oleh Lafia. Mengabaikan itu semua, Lafia kembali menatap kearah siswa yang ada di depannya.


"Sepertinya yang kalian katakan.... Aku memang beban...... Bahkan bukan hanya untuk Reiner saja.... Tapi, semua rekan kelasku mengatakan hal yang sama..... Namun, aku terus terheran-heran kenapa Dylan-san masih menyambut ku dan bahkan mengajak ku untuk berkumpul bersama..... Saat aku tanya..... Dia menjawab.... "Siapa yang bilang kau ini beban, dengan kehadiran mu disini saja, sudah cukup untuk memberi dukungan moral kepada kami semua"..... Itulah yang dia katakan".


Lafia kemudian tertunduk sambil menunjukkan senyuman yang indah. Reiner benar-benar terkejut dibuatnya, karena baginya selama mengenal Lafia dia tidak pernah tersenyum seindah itu.


"Aku benar-benar tidak pernah menduga ada seseorang yang diluar sana yang akan mengatakan sesuatu sebaik itu kepadaku...... Bahkan tunangan ku sendiri saja tidak pernah mengatakannya.... Selain, Dylan-san.... Semua siswa kelas 1-S juga mengatakan hal yang serupa.... Hanya dengan diakui oleh mereka saja, sudah membuatku senang".


Lalu, Lafia kembali mengangkat kepalanya.


"Setelah semua ini, aku akan mengatakan 2 hal lagi sebagai tambahannya".


Lafia perlahan-lahan mulai menarik dan menghembuskan nafasnya. Mengatur emosinya agar bisa sedikit lebih tenang.


"Pertama, kalian tidak perlu repot-repot untuk menolong Claudia-san dan mengalahkan orang-orang dari Kerajaan Strost itu..... Karena, tuan Leon sudah menyuruh Frey-sensei, Dylan-san, Awin-san, Ritzia-san, Arnold-san, dan Filaret-san untuk pergi dan menyelamatkan Claudia-san...... Jika kalian ikut campur, maka kalian cuma akan jadi beban yang sesungguhnya untuk mereka....... Yang kedua, Reiner.....".


Lafia berbalik ke Reiner, sambil melepas sesuatu yang ada di jari manis kirinya. Setelah itu, dia meraih tangan kanan Reiner, dan menaruh benda itu.


Reiner yang melihat itu benar-benar terkejut, karena yang di kembalikan oleh Lafia adalah sebuah cincin yang menjadi simbol pengikat mereka dalam pertunangan.


"Reiner...... Selama ini alasan sesungguhnya kenapa aku masuk ke Akademi Estonia, tidak lain adalah agar aku bisa lebih dekat denganmu..... Namun, kau sama sekali tidak peduli akan hal itu..... Bahkan saat kau tahu aku dibully karena menjadi tunangan mu.... Kau bahkan tidak ada untuk menghiburku ataupun mendukung ku..... Kurasa yang mereka katakan memang benar..... Bahwa aku hanya benalu untuk mu...... Karena itu, supaya aku tidak menjadi penghambat mu dan aku tidak terus-menerus terluka..... Aku putuskan untuk lebih baik, kita sudahi saja pertunangan kita ini".


"Eh?".


Reiner tidak bisa berkata apapun otaknya seketika menjadi kosong setelah mendengar apa yang dikatakan Lafia.


"Aku sudah bicarakan ini kepada Ayah..... Beliau mengerti dan setuju akan keputusanku ini..... Dan karena pihak ku yang mengajukan pembatalan..... Maka, keluarga Flight akan tanggung semua kerugian yang di derita oleh keluarga Stenly".


Lalu Lafia melepas tangannya dari Reiner.


"Setelah hari ini..... Aku sudah bukan lagi tunangan mu maupun teman mu.... Dan kita hanyalah orang asing".


Mengabaikan Reiner yang masih dalam keterkejutan, Lafia berbalik dan menyentuh pundak dari Monica.


"Monica-sensei..... Ayo kita pergi dari sini..... Biarkan saja mereka melakukan apapun yang mereka mau..... Lagian mereka semua..... Cepat atau lambat akan tetap mati konyol".


Sambil mengajak Monica, Lafia segera pergi meninggalkan aula dan kembali ke kamarnya. Bukan untuk istirahat melainkan untuk berdoa agar Dylan dan yang lain bisa menyelamatkan Claudia.


"Ayo, Jason.... Kita pergi dari sini..... Lagian, aku ngak mau ngatur bocah yang emang ngak mau diatur".


"Iya, kau benar...... Selain siswa kelas 1-S..... Para siswa angkatan tahun ini..... Memang busuk semua".

__ADS_1


Sama halnya dengan Dominic dan Jason yang juga ikut meninggalkan aula itu begitu saja. Tanpa memperdulikan para siswa yang ada di sana.


__ADS_2